Janitra

Janitra
Bab 16


__ADS_3

Paginya aku terbangun dengan tubuh yang terasa sakit di beberapa bagian. Semalam hujan turun dengan derasnya, membuat lantai yang kutiduri terasa dingin menusuk hingga ke tulang. Tadi malam Danang sudah meminta haknya sebagai suami, walau kutolak mati-matian namun Danang tetap berhasil memaksaku melayaninya. Kulihat Danang masih tidur dengan nyenyaknya. Perlahan aku keluar kamar untuk mandi dan bersiap pergi ke kantor.


Setengah jam kemudian aku sudah siap berangkat kerja. Kugoyangkan tubuh Danang untuk membangunkannya.


"Mas, aku mau kerja."


"Hmm ya... Bisa berangkat sendiri kan?"


"Bisa.. Udah biasa hidup sendiri." sindirku.


"Bikinin aku kopi dulu sama belikan sarapan. Itu ada dapur yang bisa digunakan bersama dengan penghuni lainnya."


"Hmm... Mana uangnya?"


"Pakai uangmu lah. Aku nggak ada uang. Atau kalau kamu keburu ke kantor, tinggalin saja uang, biar aku beli sendiri." katanya tidak tahu diri.


"Hah? Nggak salah denger? Harusnya kamu lah yang kasih aku uang. Bukan kamu minta ke aku."


"Istri nggak tahu diri!! Rejeki suami istri itu sama-sama. Kalau rejekiku lagi seret, berarti rejekinya lagi lewat kamu."


"Gimana nggak seret kalau jam segini aja kamu masih molor! Kerja jam berapa kamu?"


"Nanti siang. Lagian gajiku disitu juga nggak seberapa. Untuk kopi sama rokokku sendiri saja habis. Lebih besar gajimu kan?"


"Kalau tahu gaji nggak cukup kenapa maksa nikahin aku? Kenapa nggak cari pekerjaan lain yang gajinya lebih memadai?"


"Halaahh cerewet kamu! Sini mana uang untuk aku sarapan!" Danang menarik tasku, membuka dompetku lalu melemparnya dengan kesal.


Aku tersenyum, karena memang di dompetku tidak ada selembar uangpun. Kebetulan kemarin aku lupa mengambil uang di ATM. Rencana aku berangkat kerja menumpang Rina, kebetulan rumahnya tidak jauh dari sini. Tadi pagi-pagi sekali aku sudah menghubunginya dan dia tidak keberatan kutumpangi sekalian mengambil uang dan sarapan bersama. Kuambil lagi tasku yang dilempar Danang lalu berangkat tanpa berpamitan dengannya.


Tidak terasa sudah jam pulang kantor. Enggan rasanya aku kembali ke kost itu. Dengan malas aku membereskan peralatan kerjaku. Rina menghampiri mejaku.


"Pulang bareng kan? Lumayan nih aku jadi ada teman ngobrol."


"Aku mampir beli makan dulu tapi ya?"


"Oke. Aku juga biasanya beli makan dulu kok sebelum pulang."


Berdua Rina, aku menghabiskan senja di sebuah kedai kopi yang juga menyediakan beberapa menu makanan seperti nasi goreng, nasi rames ayam, dan beberapa menu lainnya.


Kuhirup aroma kopi di hadapanku. Ada efek menenangkan yang kurasakan. Dulu aku tidak terlalu suka dengan kopi hitam ini. Namun dengan seringnya membuatkan kopi hitam tanpa gula untuk Bang Rico, aku perlahan mulai menyukainya.


"Dari kopi kita belajar menikmati rasa pahit dalam hidup, mengolahnya sedemikian rupa agar menjadi nikmat, Dek." Katanya dulu.

__ADS_1


"Kamu ada masalah berat ya?" tanya Rina tampak berhati-hati.


"Kenapa emang?" tanyaku balik sambil tersenyum.


"Nala yang kukenal tu ceria, tapi sejak kabar kamu akan menikah dengan Danang, ceriamu meredup. Sekalipun kamu berusaha untuk tampak seperti biasa, tapi tetap berbeda. Kalau kamu berat menikah dengan Danang, kenapa kamu nggak pergi Na?"


"Nggak semudah itu Rin, aku masih memikirkan Eyangku. Sejak Mama meninggal, lalu aku ikut Tanteku, adik bungsu Mamaku. Disana banyak kejadian Rin. Aku difitnah macem-macem. Katanya aku jual diri, suka dugem dan lain sebagainya. Disini, aku sedang membuktikan bahwa aku tidak seburuk yang mereka dengar dulu. Aku masih menjaga harga diri dan kehormatanku sebagai wanita. Aku nggak seliar yang mereka dengar dari Tanteku."


"Jadi hanya karena kamu ingin membuktikan, kamu korbankan kebahagiaan dan masa depanmu Na?"


"Aku bodoh ya?" aku tertawa gamang.


"Kamu kehilangan Mamamu kapan, Na?"


"Saat aku kelas dua SMP. Setelah itu aku juga kehilangan Papa. Papa sibuk dengan kesedihannya hingga lupa bahwa aku juga berduka, bahwa aku juga kehilangan Mama. Sosok terpenting bagi setiap keluarga. Sumber kasih sayang bagi setiap anaknya. Bukan merangkulku, Papa justru membuat benteng tinggi antara kami. Hingga akhirnya Papa dekat dengan seorang rekan kerjanya, gadis yang berjarak usia 14 tahun lebih muda dari usia Papa. Lalu membuatnya semakin lupa denganku dan adikku yang saat itu masih balita. Ada satu kesalahpahaman yang membuatku lalu diusir dari rumah oleh Papa dan aku memutuskan tinggal di rumah tanteku, adik Mama sementara adikku dirawat adik Papa."


"Aku paham sekarang. Berat hidupmu, Na..." Rina menggenggam tanganku, seolah menyalurkan kekuatan padaku.


"Tapi aku juga selalu dikelilingi oleh orang-orang baik, kok. Seperti kamu, mbak Hani dan teman-teman kantor lain."


"Ini kamu nggak dimarahin Danang pulang malam?"


"Nggak tahu. Nggak peduli juga Rin. Tapi mungkin setiap hari aku akan sarapan dan makan sore sebelum sampai kost. Kamu keberatan nggak temani aku makan?"


"Enggak keberatan. Sesekali kamu makan di rumahku juga boleh. Kukenalkan dengan orangtuaku juga, mungkin bisa sedikit mengobati kerinduanmu pada hangatnya sebuah keluarga."


Betapa beruntungnya aku, sekalipun hidupku tidak selalu berjalan indah, namun Tuhan mengirimkan banyak orang-orang baik di hidupku.


Sesampainya di kost, kulihat Danang sedang asyik memainkan gitar di kursi depan kamar. Di dekatnya ada kopi susu yang sudah dingin dan tinggal setengah gelas.


"Jam segini baru pulang, habis jalan sama selingkuhanmu?"


Tidak kupedulikan pertanyaan bodohnya. Aku masuk kamar, mengambil baju ganti dan handuk yang kujemur di depan kamar lalu menuju kamar mandi untuk mandi.


Selesai mandi, kulihat Danang masih di depan kamar. Dia menatapku tajam.


"Ditanya suami diam saja. Nggak punya mulut kamu?"


"Aku tadi lembur. Biasa kan lembur. Dulu kita sekantor, masa kamu nggak paham?"


"Lembur sama lelaki mana?" desaknya lagi.


"Aku capek, mau tidur. Males debat nggak jelas sama kamu. Kamu suamiku seharusnya tau kalau aku masih menjaga kehormatanku."

__ADS_1


Kurebahkan tubuhku di kasur tipis milik Danang. Terasa dingin dan keras, namun aku tidak ada niat untuk membeli kasur baru yang lebih layak untuk alasku tidur.


Aku hampir saja terpejam karena lelah, Danang membuka pintu kamar dengan kasar.


"Aku lapar!"


"Makan..."


"Kamu nggak masak."


"Biasanya sebelum aku ada, kamu jajan kan? Atau masak sendiri? Lakukanlah itu. Aku nggak akan minta kok."


Braaakkk...


Danang keluar kamar dengan membanting pintu. Kuharap semoga pintunya tidak rusak hingga kami harus memberi ganti rugi pada pemilik kost.


Malam berlalu begitu saja. Aku tidak tahu semalam Danang pulang jam berapa karena saat aku terbangun jam 1 dini hari, Danang belum kembali ke kamar namun aku tidak peduli. Kuteruskan tidurku setelah dari toilet. Tidurku lebih nyaman tanpa dia, karena tidak perlu berbagi kasur tipis nan sempit ini dengannya.


Paginya aku terbangun karena deringan gawai Danang yang sangat mengganggu. Kuambil gawainya, kubaca nama si pemanggil 'Cinta'.


Kubangunkan Danang, kulempar gawai ke arahnya.


"Cintamu telepon!"


Lalu aku meninggalkannya ke kamar mandi. Berharap air dingin dapat menjaga kewarasan otakku dalam menghadapi drama Danang pagi ini.


Kusapukan tipis bedak ke wajahku dengan tenang sambil mendengar Danang terus berceloteh menyalahkanku yang tidak pernah menjadi istri yang baik, makanya dia mencari pelampiasan pada wanita lain.


"Tidak pernah ada pembenaran bagi peselingkuh. Apakah kamu merasa sudah menjadi suami yang benar?"


Plak...


Tamparan keras mendarat di pipiku. Tak berapa lama, kurasakan ada rasa anyir di sudut bibirku. Kulap dengan tissue yang selalu tersedia di tas. Darah. Aku tersenyum.


"Terima kasih. Semakin kuat tekadku untuk berpisah dari kamu."


Setelah berkata begitu, kutinggalkan Danang begitu saja karena Rina sudah menunggu di depan kost.


Saat melihatku keluar, tanpa kuberitahu, Rina sudah paham. Dia memelukku dengan satu tangannya.


"Yuk sarapan sambil cerita... Lukamu tapi kuobati dulu di rumahku."


"Nggak usah Rin.. nanti saja di kantor."

__ADS_1


"Di rumahku saja. Ibuku perawat. Dia pasti bisa mengobati luka di bibirmu...........dan juga hatimu." tiga kata terakhir diucapkan Rina lirih, namun aku tetap mendengar.


Lagi-lagi aku bersyukur, Tuhan mengirimkan orang-orang baik di hidupku.


__ADS_2