
Sudah hari ketiga aku di Rumah Sakit. Hari ini aku sudah diijinkan pulang oleh dokter. Saat aku sedang bersiap dibantu oleh Mbak Lia, Danang masuk ke ruanganku.
"Lho mau kemana?" tanyanya bingung melihatku dan Mbak Lia sedang berkemas.
"Pulang." jawabku singkat.
"Emangnya udah boleh pulang? Kamu jangan sok ambil keputusan sendiri."
"Ya pasti karena dokter sudah ijinkan pulang makanya Nala bisa pulang..." kali ini Mbak Lia yang menjawab.
"Maaf aku kemarin sibuk, ada pekerjaan yang nggak bisa ditinggal."
Aku ternganga mendengarnya meminta maaf, pasti karena ada Mbak Lia dan Mas Widi.
"Ohya? Padahal kemarin Mas Toro dan beberapa teman kerjamu menjengukku. Kata mereka, kamu ambil cuti beberapa hari untuk menemaniku melahirkan."
Kulihat Danang tampak salah tingkah.
"Ibu sudah siapkan kamar." Danang mengambil tas yang sudah kusiapkan.
"Aku pulang ke kost." jawabku singkat.
"Jangan gitu. Jangan bikin malu keluargaku. Lagipula biar ada yang bantu kamu."
"Aku terbiasa hidup sendiri. Lagipula rasanya lebih nyaman istirahat pasca melahirkan di tempat sendiri, bukan bersama orang-orang baru, dengan adat yang belom kuketahui."
"Kamu harus belajar menerima adat keluargaku."
Mbak Lia menggamit lenganku menjauh dari Danang.
"Dek, daripada berantem, dipukul lagi, turutin aja dulu. Sehari kamu nggak kuat, telepon aku nanti kujemput."
"Bener lho ya?" tanyaku menuntut janji pada Mbak Lia.
"Iya... Janji."
__ADS_1
Akhirnya, aku dan Dewa diantar Mbak Lia dan Mas Widi ke rumah orangtua Danang menggunakan mobil. Sementara Danang mengikuti menggunakan motornya. Rumah orangtua Danang berada di sebuah kota kecil yang letaknya sebelah barat kotaku.
"Mbak, bisa nggak mampir ke swalayan dulu?"
"Boleh..."
Mas Widi menghentikan mobilnya di halaman parkir sebuah minimarket kecil tak jauh dari perbatasan kota.
Setelah menitipkan Dewa pada Mbak Lia, aku bergegas masuk untuk membeli beberapa keperluan.
Kuambil satu kemasan besar popok sekali pakai ukuran bayi baru lahir, satu kotak kemasan susu formula khusus bayi baru lahir, botol dot ukuran kecil, beberapa cemilan kesukaanku dan juga beberapa botol besar air mineral dalam kemasan. Sengaja aku membeli sendiri air mineral, karena dulu pernah aku sekali kesana, hanya ada air putih rebusan dengan jumlah sedikit hanya sekitar satu botol kaca bekas kemasan syrup. Padahal aku selalu minum air putih dengan jumlah banyak. Daripada aku harus menahan minum, maka kuputuskan aku membeli air mineral dalam kemasan saja.
Selesai berbelanja, kami melanjutkan perjalanan. Ternyata Danang sudah sampai sana. Melihat kami datang, Danang beserta keluarga dan beberapa tetangganya menyambut kami dan membantu membawakan barang yang kutaruh di bagasi mobil.
"Wah malah dibeliin macam-macam. Makasih lho Mbak Lia, Mas Widi."
Aku, Mas Widi dan Mbak Lia saling melirik. Belanjaan tadi aku beli sendiri menggunakan uang yang kusimpan tanpa sepengetahuan Danang. Namun kudiamkan saja, kubiarkan dia berasumsi bahwa belanjaan itu dibayari oleh kakak sepupuku itu.
Selepas maghrib, Mbak Lia dan Mas Widi berpamitan. Akupun segera masuk kamar yang katanya sudah disiapkan untukku dan Dewa.
Rumah ini hanya ada dua kamar. Satu kamar berukuran 2 x 1.5 yang ditempati oleh Danang dan satu kamar berukuran 3 x 2.5 ditempati oleh Ibu dan Pita, keponakan Danang yang masih duduk di bangku TK.
Kuletakkan Dewa di antara aku dan Ibu, sementara Pita di ujung dekat tembok. Kutarik selimut untuk menghangatkan tubuh kecil Dewa karena disini sangat dingin. Selain memang karena di desa di kaki pegunungan, rumah ini tidak menggunakan eternit. Jadi udara langsung masuk ke dalam rumah melalui celah-celah genting.
Semalaman Dewa sangat rewel dan hanya aku berjaga sendirian. Akhirnya kuputuskan memakaikan popok sekali pakai yang tadi kubeli. Setelah itu, Dewa tampak lebih nyenyak tidurnya.
Pagi masih gelap, namun kesibukan di dapur sudah terdengar. Jujur aku merasa terganggu karena rasanya baru saja aku bisa tidur nyenyak, namun sudah harus terbangun lagi. Aku berusaha memejamkan mataku, namun tetap tidak bisa. Dengan terpaksa aku keluar kamar, menyiapkan air untuk aku mandi.
Selesai aku mandi, segera kusiapkan air hangat untuk mandi Dewa. Sambil memandikan, aku bertanya dalam hati, kalau semua kulakukan sendiri, untuk apa aku dibawa kesini.
Danang bangun saat Dewa selesai kumandikan.
"Na, minta uang untuk beli gas sama sarapan pagi ini."
"Nggak ada."
__ADS_1
"Bohong. Emang kemarin Mbak Lia nggak ngasih uang? Tau gitu minta uangnya aja daripada beli barang-barang kemarin."
Aku mendengus kesal. Kutinggalkan Danang di kamar. Kugendong Dewa ke teras depan untuk mencari udara segar. Beberapa tetangga mengelilingi kami, memuji Dewa yang kulitnya tampak bersih. Kebetulan ada penjual nasi pecel keliling. Kupanggil dan kupesan tiga porsi, untukku, ibu dan Pita.
Matahari semakin tinggi, mataku terasa semakin berat.
Kutidurkan Dewa setelah dia puas menyusu. Akupun merebahkan diri di sampingnya. Namun baru saja terpejam, beberapa tetangga datang untuk menjenguk. Begitu terus sampai sore hari dan aku tidak jadi tidur. Emosiku mulai tidak stabil karena kurangnya istirahat. Saat aku sedang mencoba mengendalikan emosi, Danang masuk ke kamar.
"Na, nanti malam bapak-bapak jagongan disini lho. Kita nggak ada suguhan. Gimana?"
"Ya kamu lah mikir. Masa aku. Lagian siapa yang minta aku kesini? Jadi repot kan?"
"Kamu tu ngerti adat nggak?"
"Ya udah kamu aja yang beliin."
"Aku lagi nggak enak badan. Minta tolong teman saja nanti. Mana uangnya?"
Kusambar dompet Danang dan kunci motor yang tergeletak di meja tv. Tanpa berganti daster, kulajukan motor menuju swalayan terdekat yang jaraknya setengah jam perjalanan dari rumah Ibu.
Kuambil satu bungkus besar kopi, teh, gula, kacang kulit, permen, biskuit, kacang sukro dan beberapa makanan ringan lain. Di kasir, aku buka dompet Danang. Ternyata isinya lumayan. Selesai dari swalayan, kuarahkan ke penjual nasi goreng yang tampak ramai, tak jauh dari swalayan. Kupesan seporsi untukku dan langsung kumakan disitu. Belum puas menghabiskan uang Danang, kucari penjual gorengan. Kubeli dua plastik besar beraneka macam gorengan. Aku tersenyum puas.
Danang terkejut melihatku membawa belanjaan sebanyak itu. Kukembalikan dompet dan kunci motor ke tempat semula. Danang yang baru tersadar kalau dompetnya kuambil juga, langsung memarahiku namun kali ini dia tidak berani memukulku. Kuabaikan ocehannya, kutinggalkan dia meratapi dompetnya yang kosong.
Keesokan harinya, Mbak Lia dan Mas Widi menjemputku karena semalaman aku merengek meminta dijemput. Mungkin ada khawatir aku terkena baby blues, Mbak Lia mengalah, menjemputku.
Kukira hanya aku dan Dewa saja yang akan kembali ke kost, ternyata Ibu dan Pita juga diminta Danang untuk ikut. Impianku tidur nyenyak sirnalah sudah.
Seminggu sudah Ibu berada di kost. Rasa lelahku sangat menumpuk. Pagi sekali aku harus bangun untuk mencuci dan memasak, siang tidak bisa tidur karena Pita keluar masuk kamar. Malam hari aku menemani Dewaku begadang. Rasanya seperti zombi. Kurang tidur, kurang duit, masih harus mikir mencari uang sendiri untuk biaya hidup banyak orang.
Berkali-kali aku meminta Danang untuk mengantar pulang ibunya, tapi diabaikan. Di ujung rasa lelahku, suatu malam, mengendap-endap kugendong Dewa dan kuketuk pintu mbak Rosi.
"Mbak, boleh aku tidur disini?"
Melihatku tampak kelelahan, Mbak Rosi mempersilahkan aku masuk.
__ADS_1
"Tidurlah.. malam ini Dewa kujaga. Tolong siapkan saja susu dan popoknya."
Malam itu pertama kali sejak melahirkan aku merasakan tidur nyenyak. Ternyata masalah baru dengan Danang sudah menantiku.