Janitra

Janitra
Bab 8


__ADS_3

Bruk...


Aku menabrak seseorang karena sedari tadi aku berjalan sambil menunduk. Tubuhku oleng selain karena menabrak, rasa sakit di kepalaku semakin terasa.


"Maaf..."


"Nala.. kamu Nala kan?"


Aku mengangkat wajahku ternyata Mama Euis, mamanya a' Ardan. Tapi kenapa bisa disini?


"Mama kenapa disini?"


"Ini Mama teh baru sampai siang tadi. Si Papa kayaknya kecapekan jadi deh langsung drop, jadi dibawa kesini. A' Ardan mana? Eh, kamu nangis? Ada masalah apa sama si a'a? Maafin Mama waktu itu juga bingung a'a menghilang. A'a hanya beberapa kali menghubungi Mama. Itu juga tidak memberi tahu lokasi a'a dimana."


Mama Euis memberondongku dengan pertanyaan. Belum sempat kujawab, Mama Euis menyambungnya lagi.


"Neng, si aa mana?"


"Aku nggak tahu, Ma. Ohya kata dokter Papa sakit apa Ma?"


"Biasa, darah tingginya kumat. Paling besok sudah bisa pulang kalau kata Mama. Neng mau jenguk Papa?"


"Aku mau periksa dulu, Ma. Besok saja jenguk Papa."


"Oh ya udah atuh hayuk Mama antar. Eh itu si a'a. A'a habis daftarin Neng periksa ya?"


A' Ardan mendekati kami lalu mengelus rambutku. Aku tidak mungkin menghindar karena ada Mama Euis.


"Iya ini a'a habis ambil antrian untuk Nala. A'a temani Nala periksa dulu ya, Ma? Mama masuk sana, nanti dicariin bayi gede. Hahaha."


A' Ardan menggandengku menjauh dari Mama Euis.


"Kita periksa dulu lalu cari tempat untuk ngobrol. Aku juga butuh penjelasan."


"Aku mau pulang saja a'."


"Kondisimu sakit. Kamu harus periksa. Nanti kuantar kamu pulang."


"Nggak usah. Biar aku diantar Bang Rico saja."


"Kamu berubah, dek."


"Kamu yang memaksaku seperti ini."


Kuambil gawaiku, kutekan aplikasi pesan.


"Abang dimana? Masih sibuk nggak? Malam ini aku tidur di kost. Ini baru mau pulang dari rumah sakit. Kalau abang nggak sibuk, tolong besok pagi ke kost ya?"

__ADS_1


Lalu kumasukkan lagi ke dalam tas. Tujuanku saat ini hanyalah pulang ke kost dan meluapkan semua sesak dadaku disana. Satu-satunya tempat ternyaman yang kumiliki saat ini.


"Adek nangis? Rico menyakitimu?"


"Bukan. Sejauh ini, dia nggak pernah menyakitiku."


"Lalu apa yang bikin adek menangis?"


Kugigit erat bibirku dengan maksud menahan airmata yang nyaris tumpah. Aku menggeleng dan mempercepat langkah. A' Ardan menyamai langkahku lalu menarik lenganku.


"Kamu kenapa? Cerita sama a'a. Aku kenal kamu sudah lama. A'a tahu saat ini kamu sedang tidak baik-baik saja. Cerita!!"


Aku tetap menggeleng dan berusaha melepaskan cekalannya di tanganku.


"Dek, tolong cerita. Atau kalau kamu mau marah ke a'a, marahlah. Jangan seperti ini, sikapmu ini justru menyiksa a'a."


"Aku mau pulang, a'."


"A'a antar. A'a nggak bisa biarkan kamu pulang sendiri dengan keadaan seperti ini."


"Jangan... Aku pulang sendiri saja."


"Kenapa? Takut dia marah? Kita belum ada kata pisah, dan a'a tidak akan melepaskan adek begitu saja. Apalagi Mama sudah sayang sama adek."


"A'a tolong ngerti, aku sekarang udah sama dia. Aku harus jaga perasaan Bang Rico. Sudahlah, kita sudah selesai. Toh secara tidak langsung, kamu yang mengakhirinya."


"Aku minta maaf. Memang salahku. Waktu itu posisiku benar-benar sedang kalut. Tolong pahami aku."


Kusentakkan tangan sampai cekalannya terlepas dari tanganku. Setengah berlari aku menuju pintu keluar rumah sakit. Bukan a' Ardan namanya jika menerima begitu saja. A' Ardan tetap mengejarku sampai ke halaman rumah sakit.


"Ini sudah malam. A'a tidak akan biarkan kamu pulang sendirian."


"Nggak usah sok peduli. Aku sudah terbiasa kemana-mana sendirian. Misalkan aku butuh diantar, kupastikan bukan kamu yang mengantarku."


"Kamu berubah, dek."


"Iya, manusia tidak statis. Bisa berubah tergantung bagaimana orang itu memperlakukan kita."


"Nala tidak pulang sendiri. Ada aku yang siap mengantarkannya, dan jelas tidak akan meninggalkannya tanpa kabar begitu saja."


Aku menoleh ke arah suara itu.


"Abang..."


"Yuk pulang..." Bang Rico mengulurkan tangannya dan segera kusambut.


Di mobil

__ADS_1


"Adek kenapa nangis?"


"Kangen Mama..." lalu pecahlah tangis yang sedari tadi mati-matian kutahan.


Bang Rico merengkuhku dalam pelukannya. Semakin deras airmata yang mengalir. Entah berapa lama aku menangis dalam pelukan Bang Rico. Setelah tangisku mereda, Bang Rico menyodorkan sekotak tissue dan air mineral.


"Sudah lega? Tadi belum jadi makan kan? Kita beli makan, makan di mobil saja ya?"


Setelah memesan makanan, Bang Rico kembali ke dalam mobil.


"Kalau sudah siap cerita, adek boleh cerita. Abang siap mendengarkan."


Meluncurlah semua yang terjadi di rumah sakit tadi dengan Budhe Ratih.


"Jangan pernah merasa sendiri. Ada Tuhan yang sayang adek. Ada abang yang akan jagain adek."


Selesai makan, Bang Rico mampir apotek membelikanku beberapa obat dan vitamin sebelum mengantarkanku pulang ke kost.


"Besok abang jemput pagi, kita periksa ya? Jangan kerja dulu. Abang mohon." pintanya sebelum aku turun dari mobil.


"Iya Bang. Besok abang sms dulu ya? Takutnya aku masih tidur. Sepertinya pengen bangun siang. Besok aku ke dokter sendiri juga nggak apa-apa kalau abang sibuk."


"Besok akan tetap abang antar. Kita atur waktulah besok ya. Sekarang adek minum obat, lalu istirahat. Jangan nangis lagi. Tuhan berkati adek selalu."


Bang Rico mencium keningku dengan lembut.


Aku berjalan lesu memasuki halaman kostku.


"Nala, kamu baru pulang?" sapa pemilik kost yang sedang duduk di teras rumahnya.


"Iya, Bu. Beberapa hari nunggu eyang di rumah sakit."


"Oalah. Eyang sudah sehat sekarang?"


"Belum, Bu. Tapi aku agak pusing jadi malam ini tidur kost."


"Wah Ibu ambilkan obat dulu."


"Sudah ada, Bu. Saya permisi dulu, Bu.."


"Ya istirahat ya. Nanti kalau ada apa-apa, ketuk saja rumah ibu."


"Terima kasih, Bu."


Baru saja berjalan beberapa langkah, kubalikkan lagi tubuhku.


"Bu, aku boleh minta peluk Ibu? Aku kangen Mama..."

__ADS_1


Tanpa menjawab, Bu Kost merentangkan kedua tangannya dan berjalan mendekatiku. Lagi-lagi aku menangis di pelukan Bu Kost.


Ah, andai Mama masih ada. Mungkin nasibku tidak akan seburuk ini. Dituduh mencuri di rumah eyang sendiri. Aku ingin pergi, aku ingin ikut Mama, terbang bersama malaikat di surga.


__ADS_2