Janitra

Janitra
Bab 44


__ADS_3

"Na, Nala..." Sita berteriak memanggilku.


Kuurungkan menyuapkan nasi goreng bekalku hari ini.


"Kenapa? Nggak jadi beli makan?"


"Enggak... Anu, ada yang nyari kamu." ucapnya tergesa.


"Siapa sih?"


Terpaksa aku menutup kembali kotak bekal berisi nasi goreng, telor mata sapi setengah matang dan nugget. Mirip bekal anak sekolah, namun ini salah satu bekal favoritku. Kuikuti Sita ke depan kantor.


"Hah? Ngapain sih kesini segala?" gumamku sambil menepuk jidat setelah melihat siapa tamu yang mencariku.


Kutarik nafas panjang, kuhembuskan perlahan. Kulakukan berkali-kali sampai aku merasa tenang untuk menemuinya sementara Sita menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.


"Bapak cari saya?"


"Hanya kamu yang akan saya cari karena hatiku telah tertambat padamu."


Sita menautkan kedua alisnya mendengar jawaban dari Pak Jhoni, lalu menunduk dan menutup mulut untuk menahan ketawanya.


"Apa yang bisa saya bantu, Pak?"


tanyaku tetap berusaha ramah walau sebenarnya hati enggan beramah tamah sambil mempersilahkan Pak Jhoni duduk di lobby. Akupun menarik Sita untuk duduk di sebelahku, karena rasanya tidak nyaman jika harus duduk berbincang berdua saja dengan Pak Jhoni.


"Maukah makan siang bersamaku? Ah bukan hanya hari ini namun untuk selamanya dan bukan hanya makan siang namun juga sarapan dan makan malam." bersamaan dengan ucapannya, Pak Jhoni mengeluarkan setangkai mawar merah yang sudah tampak layu seperti dirinya.


"Wah maaf Pak. Kalau harus selalu sarapan, makan siang dan malam bersama Bapak, kapan kerjanya. Hidup kan nggak cuma untuk makan saja, Pak." jawabku mengulum senyum. Kuterima bunga darinya namun lalu kuletakkan di atas meja.


"Biarkan saya yang bekerja. Nala di rumah saja, duduk manis di rumah. Saya akan sarapan di rumah, pada jam makan siang saya akan pulang untuk makan bersama dan makan malam juga demikian. Saya tidak akan biarkan Nala bekerja dan membiarkan semakin banyak laki-laki yang tergoda dan berpikiran negative pada Nala."


"Maksud bapak apa ya? Sejak kita pertama kali bertemu, pakaian saya selalu sopan lho. Saya selalu menggunakan celana panjang dan baju saya juga tidak press body dan mengumbar lekukan. Makeup saya juga tidak pernah berlebih, hanya lipstik tipis berwarna soft dan bedak yang tidak tebal. Kalaupun saya menggunakan rok, pasti selalu di bawah lutut. Bagian mana yang menggoda laki-laki? Kalau dengan pakaian begini sopan, tetap ada yang berpikiran m*sum, berarti otaknya saja yang bermasalah. Bukan karena pakaian dan penampilan saya. Maaf, saya ada urusan penting. Terima kasih atas kunjungannya. Selamat siang."


Aku menarik tangan Sita untuk berdiri namun Pak Jhoni segera menahanku.


"Nala, bukan begitu maksud saya. Saya hanya ingin menjadikan Nala sebagai istri saya, melahirkan selusin anak-anak saya dan kita hidup bahagia selamanya."


"Saya masih sangat menikmati kesendirian saja. Yaaa setidaknya sampai Tuhan mengirimkan seorang laki-laki yang baik dan tidak berpikiran aneh-aneh."


"Saya tidak berpikiran aneh-aneh lho, Nala." Pak Jhoni masih membela diri.


Kusilangkan tanganku di dada.


"Ohya? Tapi dari ucapan bapak tadi menyiratkan bahwa bapak menyamakan semua laki-laki seperti itu. Padahal saya yang pernah disakiti laki-laki saja masih meyakini bahwa tidak semua berpikiran ke ranjang."


Enggan menguras emosi lebih banyak, segera kutarik tangan Sita untuk meninggalkannya yang masih berorasi seorang diri.

__ADS_1


"Bawa kunci motor kan Sit?"


"Bawa. Mau kemana kita?"


"Makan. Tapi pinjam uangmu dulu ya. Dompet dan ponselku tertinggal di ruangan. Aku mau ngambil dulu kayaknya nggak mungkin deh."


"Iya. Tenang aja, yang penting bebas dari dia dulu. Hahaha." Sita tertawa kencang.


Sejak bertemu pak Jhoni siang tadi, belum ada hal baik yang kutemui terlebih pekerjaanku dan Sita sedang banyak-banyaknya jadi energiku semakin terkuras.


Kuparkirkan motorku di tempat biasa, kubiarkan Dewa berlari mendahuluiku untuk mandi dan berganti pakaian.


"Na, baru pulang?" Mas Adit yang ternyata duduk di sebuah kursi kayu yang terletak di tengah parkiran motor.


"Iya Mas. Tumben sore disini."


"Mau kasih tau kamu, temanku nanti mengajak bertemu di cafenya. Bisa?"


"Boleh. Setelah Dewa tidur, bisa?"


"Oke. Aku pergi dulu ya, masih ada kerjaan."


~


Jam sembilan malam, Dewa baru saja terlelap. Pelan aku turun dari kasur, mengganti daster dengan dress berwarna navy selutut, kupoles sedikit wajah dengan bedak dan lipstik tak lupa menyemprotkan sedikit parfum. Bagiku berdandan itu untuk menghargai orang yang akan kutemui, bukan untuk menarik perhatian lawan jenis. Toh selama ini aku tidak pernah berlebihan memoles wajahku. Setelah memastikan rapi dan pantas, berjingkat aku keluar kamar karena aku mau menunggu Mas Adit di depan kos saja.


Suara Fadli mengejutkanku karena sedari tadi aku sibuk menunduk berbalas pesan dengan Mas Adit dan Mbak Ida.


"Eh, aku?"


"Iya, siapa lagi?"


"Oh, mau pergi sebentar sama Mas Adit."


"Oh. Lalu kapan pergi sama aku?"


"Belum tahu, Mas." jawabku sehalus mungkin agar tidak menimbulkan salah persepsi.


"Iya iya. Semoga Bang Adit nggak marah kalau istrinya kuajak pergi."


"Aku permisi dulu, Mas Adit sudah di depan sepertinya."


Bergegas aku jalan ke depan kos untuk menghindar pertanyaan demi pertanyaan yang mungkin masih akan dilontarkan Fadli.


"Nunggu lama ya? Maaf tadi ngobrol bentar sama Fadli."


"Barusan sampai, baru mau kirim pesan ke kamu. Ngapain Fadli?" tanya Mas Adit dengan nada tidak suka.

__ADS_1


"Basa-basi aja kok, Mas."


Tidak terdengar jawaban lagi dari pria yang sulit tersenyum di sampingku. Kubuang pandanganku ke luar jendela. Aku selalu suka dengan suasana malam. Terkadang, saat penat meraja, kulajukan kendaraanku sekedar mencari angin dan menikmati suasana malam. Tidak menyelesaikan masalah memang, namun setidaknya pikiranku sedikit lebih tenang dalam menghadapi penatnya hidup.


"Yuk turun."


Mas Adit memarkirkan mobilnya di sebuah cafe yang malam itu cukup ramai. Kuikuti langkahnya masuk ke dalam bangunan itu.


"Na, kenalin ini Gibran. Gib, kenalin ini Nala." Mas Adit memperkenalkan kami.


Kusambut uluran tangan lelaki di depanku. Kutaksir usianya kisaran empat puluhan tahun, namun ditilik dari caranya berpakaian, tampak masih berjiwa muda.


Pembicaraan berjalan lancar dan terjadi kesepakatan. Mulai minggu depan aku mengisi live music disitu.


"Makasih ya Mas. Akhirnya aku bisa dapet duit tambahan deh."


"Sama-sama. Nggak apa kan kamu kerja di cafe tadi?"


"Nggak apa. Emang kenapa Mas?"


"Takutnya kamu down kalau denger omongan orang yang negative."


"Hahaha. Hidupku, tanggung jawabku. Dengerin omongan orang mah nggak akan ada habisnya Mas. Segala sesuatu yang biasa juga bisa nampak salah. Yang penting aku nggak ngapa-ngapain. Eh Mas, pakaianku masih sopan kan ya?"


"Sopan kok. Kenapa? Ada yang protes? Pacarmu?"


"Bukan pacar, tapi ada orang aneh yang bilang kalau pakaianku terbuka dan mengundang pikiran negative. Emang gitu Mas?"


"Menurutku enggak. Biasa saja. Kukira pacarmu. Tapi seharusnya kalau kita memacari seseorang ya sudah terima saja asal nggak diluar batas ya."


"Jujur aku lagi males berhubungan dengan pria manapun. Nyaman begini, bebas berteman dengan siapa saja, kemana-mana nggak ada yang melarang."


"Cari yang sefrekuensi biar kamu nyaman jalani rumah tangga. Katanya sih begitu. Cinta aja percuma karena biasanya manis di awal doang. Kalau sefrekuensi, kalian akan sama-sama sejalan, sevisi dan minim pertengkaran."


"Susah padahal cari yang sefrekuensi. Hahaha."


"Nah iya. Hahaha."


Percakapan terus mengalir sampai Mas Adit memarkirkan mobilnya di depan kos.


"Hati-hati di jalan, Mas."


Setelah mobil Mas Adit tampak menjauh, kulangkahkan kaki ke dalam.


"Jam segini pulang diantar laki-laki. Darimana kamu?"


Kubalikkan tubuhku saat mendengar suara yang dulu akrab di telingaku.

__ADS_1


__ADS_2