
Hari pernikahan semakin dekat namun aku semakin menjauhi Danang.
Diantara semua teman kantor, hanya mbak Hani yang tahu isi hatiku sebenarnya. Dia selalu menguatkanku. Aku yang kehilangan sosok ibu sejak kecil merasa nyaman saat bersamanya. Kuanggap Mbak Hani sebagai kakakku.
H-3
Catering dan segala sesuatunya sudah dipersiapkan dengan matang, aku sudah berada di rumah Eyang Sri. Tiba-tiba gawaiku berdering sesaat setelah aku mencuci piring bekas makan malamku. Nama Danang tertera disana. Dengan enggan aku mengangkatnya.
"Ya... Ada apa?"
"Na, sepertinya pernikahan kita nggak bisa diteruskan deh..."
"Becanda terus... Kemarin kamu yang ngebet, sekarang kamu tiba-tiba yang pengen mutusin. Sarap kamu!!"
"Aku serius Na..."
"Apa alasanmu? Ini tinggal tiga hari lagi..."
"Iya aku tahu tinggal tiga hari lagi. Tapi ibuku tiba-tiba berubah pikiran dan nggak merestui pernikahan kita."
Kuputuskan sepihak panggilan dari Danang. Entah saat ini aku harus senang atau sedih. Dengan menguatkan hati, kutemui Pakdhe Nug yang sedang duduk di teras.
"Pakdhe, Nala mau ngomong sebentar."
"Ohya, duduk sini.. mau ngomong apa ini calon pengantin?"
"Barusan Danang telepon Nala. Katanya, dia mau membatalkan pernikahan karena ibunya tiba-tiba tidak setuju dengan pernikahan ini, Pakdhe."
"Jangan becanda kamu, Nala."
"Untuk hal sepenting ini, mana mungkin aku bercanda, Pakdhe."
"Tapi sedari awal kan kamu yang bersikeras menolak pernikahan ini."
__ADS_1
"Tapi Nala nggak mungkin segila itu membatalkan pernikahan hanya kurang tiga hari, Pakdhe. Apalagi jika ini menyangkut kesehatan Eyang."
"Coba biar Pakdhe telepon Danang."
Setengah jam kemudian Pakdhe selesai menghubungi Danang.
"Gimana Pakdhe?"
"Pakdhe sama Budhe mau pergi dulu ketemu Danang dan mungkin juga dengan keluarganya."
"Aku siap-siap dulu, Pakdhe."
"Nggak usah. Kamu di rumah saja jagain eyang."
Setelah berkata demikian, Pakdhe Nug dan Budhe Ratih berpamitan.
Aku masuk mendekati Siti yang sedang asyik menonton acara televisi.
"Nala, tadi hanya kesalahpahaman saja. Tapi semua sudah beres. Kalian tetap akan menikah sesuai rencana."
Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata. Sejujurnya, aku lebih senang jika pernikahanku dengan Danang gagal. Entah kenapa, namun firasatku, Danang bukan orang yang tepat. Tapi untuk melarikan diri juga aku tidak berani. Lagi-lagi aku berandai-andai jika masih ada Mama, mungkin aku saat ini tidak berada disini. Mungkin aku masih bisa mengejar mimpi dan cita-citaku tanpa harus menjaga perasaan siapapun sampai mengabaikan perasaan dan masa depanku sendiri.
Hari pernikahanpun tiba, sedari pagi gelap rumah Eyang Sri sudah tampak ramai dengan aktivitas. Budhe Yayuk yang hendak mendandanikupun sudah siap.
Sementara Budhe Yayuk melukis wajahku, pikiranku berkelana jauh. Tak dapat kupungkiri, rinduku pada Bang Rico membuncah. Sejak aku mendatangi rumah kontrakannya dan Bang Rico tidak ada disitu, kebetulan beberapa hari kemudian gawaiku hilang, dengan terpaksa aku mengganti nomor ponselku dan hanya beberapa orang saja yang kuberitahu. Dalam hatiku masih berharap, ini semua hanya mimpi dan saat aku terbangun nanti, aku menjadi istri Bang Rico bukan Danang.
Sekalipun hatiku menolak keras, namun semesta seolah merestui pernikahan ini. Aku resmi menjadi istri Danang. Kulirik Danang yang tampak bahagia menyalami beberapa teman dekat yang hadir. Mungkin sangat kontras dengan wajahku saat itu. Tampak Papa ditemani kekasihnya juga sibuk menemui beberapa teman-teman dan keluarga lainnya. Mbak Hani yang saat itu juga hadir, memelukku erat. Tidak seperti lainnya yang mengucapkan selamat, Mbak Hani justru menghiburku, memintaku menerima takdir yang sudah Tuhan tetapkan. Tak lupa, Mbak Hani juga mendoakan untuk kebahagiaanku karena sudah membuat Eyang Sri bahagia, permintaannya menikahkanku kuwujudkan. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama saat Siti tiba-tiba berteriak,
"Eyang anfal, Pak, Bu, Mbak, Tolong..."
Sontak kami semua berlari ke arah Eyang yang sudah ambruk di pangkuan Siti. Pakdhe Nug langsung menghubungi ambulance sementara aku mencoba memberi oksigen menggunakan tabung oksigen portabel yang selalu tersedia di dekat Eyang Sri sejak kondisinya terus menurun.
Ambulance datang beberapa menit kemudian. Setengah memaksa, aku mendampingi Eyang di dalam ambulance. Kupegang terus tangannya, beribu doa kulafalkan agar Tuhan masih memberiku kesempatan berbakti pada Eyang Sri.
__ADS_1
Karena kondisinya, malam itu Eyang harus dirawat di ruang ICU lagi. Tubuhku lemas, seolah tulang tak sanggup menopang tubuhku lagi.
Tanpa meminta persetujuan Danang, aku memutuskan menunggu Eyang di ruang tunggu ICU. Jangankan meminta persetujuannya, bahkan aku tidak peduli saat ini dia dimana dan bagaimana. Aku hanya menghubungi Siti, memintanya membawakan pakaian ganti, handuk, dan peralatan mandi. Sesampainya Siti di rumah sakit, aku langsung membersihkan diri dengan dibantu Siti. Sementara Pakdhe Nug dan Budhe Ratih kuminta pulang saja, selain karena aku tahu mereka pasti lelah, malam ini aku ingin sendiri.
Semalaman aku dan Siti tidak bisa terpejam sama sekali.
"Mbak, aku kok keinget Bang Rico. Dia tahu mbak Nala menikah?"
"Hilang ditelan bumi..." jawabku datar padahal mati-matian aku menahan rindu.
"Kalau a'Ardan?"
"Sepertinya tahu karena aku dan dia kan masih berada dalam satu circle pertemanan yang sama."
"Dia nggak datang?"
"Enggaklah..."
"Mbak, mbak Nala tahu nggak, Bang Rico pernah nyari ke rumah Eyang? Waktu itu aku pulang dari pasar, aku lihat Bang Rico keluar dari Rumah Eyang. Sayangnya aku sama Bang Rico nggak papasan karena Bang Rico lewat gang satunya. Tapi sampai rumah, aku nanya Eyang katanya nggak ada yang datang. Padahal aku yakin banget Bang Rico sempat ketemu Eyang. Karena pas aku sampai rumah, Eyang di teras seperti baru menerima tamu."
"Kamu kenapa baru bilang?"
"Maaf mbak.. aku baru ingat."
Kusandarkan kepalaku ke dinding. Kunikmati dinginnya udara malam yang menusuk tulang, aroma obat-obatan khas rumah sakit yang memenuhi rongga penciumanku. Bagai film tanpa suara, penggalan-penggalan kisahku dengan Bang Rico di rumah sakit memenuhi ruang memoriku. Seakan menarik paksa aku ke waktu yang lalu. Tangan yang selalu digenggamnya, perhatiannya, pembelaan-pembelaannya atas ketidakadilan yang kuterima. Jika setelah Mama meninggal, kulalui hidupku sendiri, maka dengan Bang Rico-lah aku merasa memiliki seseorang tempatku bersandar yang sangat nyaman. Sayang, semesta tidak mengijinkan kami bersama lebih lama lagi.
"Bang, aku rindu..." bisikku lirih.
Siti menarikku ke dalam pelukannya.
"Aku tahu yang Mbak Nala rasakan. Kalau aku yang mengalami, mungkin aku nggak sekuat ini. Mbak, yang kuat ya. Kapanpun mbak Nala butuh teman cerita, aku siap."
Malam semakin larut, suasana semakin hening. Mungkin hanya tinggal aku dan Siti yang masih terjaga dengan pikiran kami masing-masing.
__ADS_1