Janitra

Janitra
Bab 61


__ADS_3

Tuhan mendengar doaku, ada panggilan wawancara kerja untukku. Sekarang yang kupikirkan bagaimana caranya aku bisa ijin kerja, karena Mas Rio pasti tak akan berhenti bertanya sebelum mendapat jawaban yang tepat untuknya.


"Kenapa Na?" tanya Sita berbisik sambil melirik ruangan Mas Rio.


Iya, kami semakin jarang membicarakan hal-hal pribadi di kantor karena sepertinya, tembokpun memiliki telinga.


"Aku ada interview besok. Tapi gimana caranya ya ijin kerja?" jawabku juga berbisik.


Sita membelalakkan matanya.


"Kamu mau cari masalah, resign dari sini?"


"Aku nggak mungkin disini terus, Sit."


"Lagipula kalau kamu jadi menikah dengan Pak Rio kan nggak perlu kerja. Dulu kayaknya aku dengar, dia maunya kamu di rumah aja kan?"


"Hubunganku sama Mas Rio nggak bisa berlanjut, Sit."


"Hah? Kamu serius? Jangan ambil keputusan saat kamu marah, Na."


"Nggak Sit, udah kupikirkan..."


Sita mendekatkan kursinya ke arahku lalu memelukku dengan erat.


"Aku nggak tahu, masalah apa yang kamu hadapi, tapi doaku semoga kamu kuat jalaninya. Semoga kebahagiaan kan memelukmu, entah cepat atau lambat," Sita membisikiku.


Tok..tok...


"Nala tolong ke ruangan saya sekarang. Bawa berkas yang tadi saya minta sekalian," Mas Rio menatapku tajam.


Segera kuhapus airmata dan berjalan mengikuti Mas Rio dengan membawa berkas yang tadi diminta olehnya.


"Silakan duduk, Mbak Nala."


"Terima kasih, Pak."


Kusodorkan map pada Mas Rio. Sementara dia memeriksa, aku sibuk dengan pikiranku, bagaimana caranya aku bisa ijin tanpa drama. Sementara sejak Dewa tidak bersamaku, Mas Rio semakin posesive.


"Terima kasih," ucapan Mas Rio menyadarkanku.


"Sama-sama, Pak. Saya ijin kembali ke ruangan saya."


"Saya tunggu makan siang nanti."


Kuhela nafas panjang, lalu mengangguk mengiyakan.


***


Hari minggu pertama tanpa Dewa. Sepi. Kalau biasanya sedari pagi aku sudah mendengar celotehnya, kali ini hanya suara ayam yang membangunkanku. Hampa mulai merajai, namun mati-matian kutahan rindu ini. Kusibukkan diri dengan membereskan pakaian, dan membersihkan kamar. Kemarin ada panggilan kerja dan rencana minggu depan aku mulai bekerja disana. Surat pengunduran diri sudah kusiapkan dan rencana akan kuberikan besok. Perkara Mas Rio marah jika mengetahuinya juga sudah kupikirkan. Seminggu ini aku akan segera mencari kos baru yang lebih dekat dengan kantor baru.

__ADS_1


Drrttt...


Sebuah panggilan masuk dari Sita, segera kuangkat.


"Na, dimana?"


"Di kost. Kenapa?"


"Tunggu ya, aku mau kesitu. Belum makan kan? Kubawakan sekalian, kita makan bareng."


"Wah jadi merepotkan."


"Nggak kok. Tunggu ya. Aku berangkat sekarang."


Kupastikan sekali lagi, kamar sudah bersih dan layak untuk menerima tamu sebelum aku beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.


Tak lama setelah aku selesai mandi, Sita datang membawa bungkusan berisi bubur ayam dan es lemontea.


"Aku ganggu nggak Na?"


"Enggak, kalau nggak ada Dewa tuh aku nggak kemana-mana kok."


"Kangen ya?" Sita bertanya dengan tatapan menerawang.


"Kangen pasti Sit, tapi gimana lagi." lirihku.


"Na, maaf, hubungan kalian baik-baik saja kan?"


"Nggak Sit, sudah selesai. Mungkin aku egois, aku nggak mau berbagi cinta dengan perempuan manapun apalagi seseorang dari masalalu yang masih sangat dia cintai sampai saat ini."


"Maksudmu, perempuan yang kita lihat di restoran waktu itu?"


"Iya..."


Sita menghela nafas panjang.


"Sepertinya Tuhan belum mentakdirkan aku bahagia, Sit. Masih harus berjuang sendiri." Aku tersenyum getir.


"Kamu udah tanya dia?"


"Sudah. Dia mengakui, bahwa memang masih ada rasa cinta untuk wanita itu. Aku hanya pelariannya. Jika kami menikah, aku harus berbagi dengan wanita itu sekalipun aku yang resmi secara agama dan hukum."


"Lalu anak itu?"


"Dia belum menjawab tapi tebakanku, itu anak mereka. Ohya, kamu ingat beberapa hari yang lalu aku janji menjemputmu namun gagal karena aku menemaninya ke undangan pernikahan?"


"Iya, kenapa Na? Kalian berantem lagi?"


"Acara pernikahan adiknya suami wanita itu. Ternyata suaminya sudah mencium perselingkuhan mereka. Disitu aku dibutuhkan agar Mas Rio aman dari tuduhan perselingkuhan itu. Pak Surya sempat menyindir Mas Rio di acara itu. Namun dengan kehadiranku, Mas Rio berharap dapat mematahkan isu tersebut dan nama baik dia tetap bersih."

__ADS_1


"Pak Rio seperti itu, Na?"


"Kaget kan? Akupun demikian. Kukira dia tulus mencintaiku, lalu sempat kukira dia menginginkanku hanya ambisinya namun ternyata lebih jahat dari perkiraanku. Dia membutuhkanku hanya demi nama baiknya tetap bersih."


Sita menggenggam tanganku erat seolah menyalurkan kekuatan. Aku tersenyum untuk meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.


"Kamu jadi pindah?"


"Jadi, minggu depan aku sudah kerja disana. Tetap jadi temanku ya?"


"Pasti, Na. Kita masih bisa ketemu, hubungi aku kapanpun kamu butuh."


"Makasih, Sitaaa."


***


[Aku tunggu di mobil, SEKARANG!!!]


Kutarik nafas panjang, tiba-tiba dadaku terasa sesak setelah membaca pesan singkat dari Mas Rio saat mendekati jam pulang.


"Pak Boss udah tau aku mau resign, Sit. Aku disuruh kesana sekarang." lirihku.


"Kamu mau temui?"


"Emang bisa nolak?" tawaku getir.


"Ya sudah, semoga dia nggak marah."


Segera kubereskan mejaku, kusambar tas dan bergegas jalan menuju mobil Mas Rio.


"Bisa hargai aku?"


"Bisa, Mas."


"Kalau mau resign, kenapa nggak bilang aku dulu?"


"Kalau aku bilang, apa mas akan setuju aku resign?"


"Setuju, lalu kamu tinggal di rumah menjadi istri dan ibu dari anak-anakku."


"Yang kamu butuhkan hanya status, bukan benar-benar membutuhkan istri. Hanya agar Pak Surya berhenti mencurigaimu dan istrinya. Ya kan? Hahaha."


"Hentikan tuduhanmu yang nggak masuk akal, Nala!" bentak Mas Rio padaku.


"Bukan tuduhan, ini fakta, Mas. Dan mungkin, anak itu adalah anakmu dengan Riska. Sehingga kamu tidak bisa begitu saja pergi dari kehidupannya."


Mas Rio mengepalkan tangannya erat menahan emosi. Wajahnya semakin merah padam.


"Kalau itu anakku, lalu apa bedanya kita? Dewa anakmu dengan Ardan kan? Jawab, Nala!"

__ADS_1


__ADS_2