Janitra

Janitra
Bab 56


__ADS_3

"Dewa, mau nggak kalau Om jadi Papa Dewa?" Mas Rio bertanya pada Dewa sambil menyuapi nasi nasi ayam goreng.


Aku membelalakkan mata pada Mas Rio namun tak ditanggapinya.


"Mau kalau bunda mau." jawab Dewa singkat.


"Mulai sekarang panggil Papa ya? Dewa sekarang kalau mau apa-apa, bilang ke Papa ya?"


"Oke Om, eh Papa..."


Andai saja tidak ada Dewa, mungkin Mas Rio sudah kuhadiahi piring terbang. Seketika nafsu makanku menghilang. Kujauhkan piring berisi nasi dan lele bakar yang baru kumakan sesuap.


"Bunda, dimakan dong. Nggak boleh buang makanan lho."


"Perut Bunda tiba-tiba sakit. Nanti dibungkus saja. Dewa habiskan makannya ya? Bunda suapin ya? Biar Om Rio makan juga." ucapku seraya memberi penekanan pada kata Om Rio.


"Engga ah, aku disuapin Papa aja. Nggak apa-apa kan Pa?"


"Iya, Papa aja yang suapin Dewa, Bun."


Kubiarkan Dewa menyelesaikan makannya disuapi Mas Rio. Kalau saja kejadian tadi tidak pernah ada, mungkin saat ini aku akan melihatnya dengan senyum bahagia. Namun saat ini, adegan yang tersaji di hadapanku justru membuatku teriris perih.


**


Mobil mas Rio berhenti tepat di depan kosku. Dewa meminta turun duluan dan langsung kuijinkan karena ada yang harus kubicarakan dengan Mas Rio.


"Mas, jangan permainkan perasaan Dewa. Cukup aku saja yang mas bikin sakit hati!!"


"Siapa yang mau permainkan perasaan Dewa, dek? Aku serius ingin menikahimu. Kemana aku harus melamarmu?"


"Nggak kemana-mana karena aku nggak akan pernah mau kamu nikahi."


"Kamu lebih memilih mantan kekasihmu itu?!"


"Terserah anggapan mas. Capek aku bilang kalau aku sama dia udah nggak ada hubungan apapun!"


"Kalau gitu, kita menikah secepatnya."


"Untuk melihat seberapa dalam cintamu pada mantanmu? Nggak, mas. Aku nggak mau terjebak dalam rasa sakit yang harus kunikmati seumur hidup."


"Na, aku akan belajar mencintaimu."


"Telat, mas. Seharusnya sejak mas menjadikanku kekasih, saat itu juga mas mencintaiku. Atas dasar apa dulu mas memintaku menjadi kekasihmu jika bukan karena cinta?"


"Dek, kasih mas kesempatan."


"Selesai, mas... Aku capek."


Aku segera turun dari mobilnya dan berjalan cepat menuju kamarku. Kudengar Mas Rio menginjak gas dalam dan melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sampai di kamar ternyata Dewa sudah membersihkan diri dan sedang menungguku dengan mata terkantuk-kantuk.


"Jagoan Bunda sudah mau tidur ya?"


"Iya. Aku bobok duluan ya bunda? Papa nggak tidur disini sama kita?"


Aku menggeleng lemah mendengar pertanyaannya. Kucium lembut keningnya. Tak lama kemudian, terdengar dengkuran halus.


Kuambil ponselku, kutekan sebuah nomor.


"Nad, dimana?"


"Habis makan. Kenapa Na?"


"Pergi yuk. Tapi tolong jangan bilang a'a."


"Oke oke. Tunggu ya. Sepuluh menit sampai kosmu."


"Kutunggu di kamar ya?"


"Oke."


Kumatikan panggilanku. Kubersihkan wajah, lalu memolesnya lagi dan berganti pakaian.


Tok tok

__ADS_1


"Masuk..."


Nadya melongokkan kepalanya.


"Yuk. Sekarang aja."


Kubetulkan selimut, lalu perlahan keluar kamar. Setelah menitip pada Mega yang kebetulan hari ini di kos, aku pergi bersama Nadya.


"Mau ngopi dimana?" tanya Nadya padaku namun matanya tak lepas memperhatikan jalanan di depan.


"Lagi nggak pengen ngopi."


"Pengen cerita aja?"


"Belum."


"Hmm.. kayaknya aku tau, mau ke klab malam?"


"Boleh deh."


Nadya melajukan mobilnya ke sebuah kelab malam yang cukup terkenal di kotaku.


Satu jam berlalu, saat Nadya tiba-tiba mengajakku pulang sesaat setelah dia menerima telepon.


"Pulang sekarang, Na."


"Kenapa emang?"


"Udah, ayo pulang."


Namun baru saja akan beranjak, pergelangan tanganku dipegang oleh seseorang lalu ditarik keluar.


"Bagus, dek!!!"


"Lepasin!!"


"Semakin nggak bisa diatur kamu ya?!"


"Aa, udah deh. Aku tahu apa yang aku lakukan, aku tau batasannya. Aa nggak perlu banyak atur aku. Aku bukan tanggung jawab aa lagi."


"Nggak! Aku datang sama Nadya, aku pulang juga sama dia."


"Ok. Nad, antar Nala pulang. Sekarang!!!"


Dengan enggan, aku segera masuk mobil Nadya di bawah tatapan tajam a'Ardan.


"Huh, kamu kasih tau dia?"


"Dia tadi telepon aku, karena liat mobilku. Dia tadi telepon kamu juga katanya."


Segera kucek ponselku. Benar saja ada beberapa panggilan tak terjawab dari a'Ardan dan juga mas Rio di jam yang hampir sama. Kucek kotak pesan, ternyata ada pesan dari Mas Rio juga beberapa menit yang lalu.


[Dimana dek?!]


Sengaja tidak kubalas.


"Kenapa dia selalu menghantuiku?" keluhku pada Nadya.


"Dia masih sayang kamu Na. Ini dia tadi baru sampai. Udah beberapa minggu keluar kota."


"Kalian dekat, kenapa nggak sama kamu aja Nad?"


"Hahaha. Enggak lah. Cintanya buat kamu."


Kuhela nafas panjang.


"Beli makan dulu yuk."


"A'a ngikutin di belakang Na." kata Nadya sambil melirik spion.


"Biarin aja."


Nadya menghentikan mobilnya di sebuah warung kaki lima. Baru saja kami hendak turun, a' Ardan menghampir kami.


"Lapar? Mau order apa?"

__ADS_1


"Aku turun aja sendiri, nggak mau ngrepotin kamu."


"Udah lupa caranya bersikap sopan?! Mau makan apa? Biar kupesankan."


"Aku pengen turun a'."


"Dengan aroma alkohol seperti ini biar dikira orang kamu perempuan murahan?!"


Aku mendengus kesal. Nadya segera menengahi.


"Tolong pesankan terserah aa saja. Pasti kita makan."


"Nad, pulang sekarang yuk." kataku setelah a'Ardan cukup jauh dari kami.


"Gila kamu! Cari masalah."


"Nad, aku capek..." lalu kutumpahka airmataku di pelukan Nadya. Tak kupedulikan a'Ardan yang masuk mobil dengan membawa tiga porsi makanan.


"Maaf kalau aa terlalu keras ya dek."


Kubiarkan a'Ardan membelai rambutku sementara aku masih tetap membenamkan wajahku di pelukan Nadya.


Setelah agak tenang, kuurai pelukan Nadya.


"Minum dulu." a'Ardan mengulurkan segelas lemontea hangat padaku.


Kutatap lelaki tampan yang katanya masih mencintaiku. Kucari ketulusan dalam matanya.


"Makan dulu." a'Ardan menyodorkan sepiring nasi berisi lauk kesukaanku.


***


Sudah dini hari saat aku sampai kost. Nadya memutuskan menginap, katanya ingin menemaniku namun aku yakin, a'Ardan yang memintanya.


"Dek, bisa bicara sebentar?" a'Ardan mengetuk kaca mobil Nadya.


"Boleh. Kita masuk aja a'. Bisa ngobrol di lantai atas. Gimana?"


A'Ardan mengikutiku dan Nadya masuk ke kosku. Setelah membersihkan diri, Nadya langsung masuk kamar sementara aku dan a'Ardan menuju lantai dua. Disana ada balkon yang biasa digunakan untuk bersantai.


"Mau ngomong apa a?"


"Aa mau minta maaf kalau selama ini bikin adek nggak nyaman dan sikap aa yang terkesan memaksa."


"Aku juga minta maaf, a'."


"Adek nggak salah. Mungkin sikap aa yang selama ini bikin adek sakit hati. Kalau adek bahagia dengan Rio, aa ikhlas kok. Aa nggak akan ganggu adek lagi. Aa cuma bisa doakan semoga adek dan Dewa bahagia dengan pilihan adek. Kalau boleh jujur, aa masih cinta adek. Tapi nggak bisa memaksakan perasaan adek juga kan? Pesan aa, jangan minum lagi, jangan dugem, kurangi rokok. Kalau ada masalah tu cerita, jangan dipendam sampai masalah selesai baru mau cerita. Kalau dunia terasa begitu jahat, aa masih ada buat dengar semua ceritamu."


A'Ardan membuka kedua lengannya lalu aku menghambur ke pelukannya. Masih terasa hangat seperti dulu, saat kami masih bersama. Masih terasa nyaman seperti saat dia masih kumiliki. Lagi-lagi airmataku tumpah tanpa dapat kutahan.


"Jangan pergi..." lirihku.


"Apa dek?" tanyanya terkejut.


Kugelengkan kepala dan semakin membenamkan wajahku ke dadanya. Mungkin sudah saatnya kuyakinkan lagi perasaanku. Apakah cintaku pada a'Ardan benar-benar sudah mati atau hanya sebatas menghargai hubunganku dengan Mas Rio. Mengingat namanya, tangisku semakin kencang. Lagi-lagi ragu meraja, adakah laki-laki yang pantas dipercaya? Atau memang tidak ada seorangpun laki-laki yang sanggup hidup hanya dengan satu perempuan saja.


Kunikmati elusan a'Ardan pada rambut panjangku. Kembali rasa nyaman menguasai diri.


"Aa nggak akan pergi kalau kamu yang meminta."


Kutengadahkan kepalaku, tampak seraut wajah yang dulu sangat kurindukan tersenyum menatapku.


Kuurai pelukanku pada a'Ardan.


"Sudah lega nangisnya?"


"Makasih..."


"Yaudah adek sekarang istirahat dulu."


A'Ardan menggenggam tanganku dan baru dilepas setelah sampai depan kamarku.


"Adek istirahat ya. Aa pulang dulu. Nanti kalau udah sampai, aa kabari."


Sebuah kecupan mendarat di keningku.

__ADS_1


Kutatap punggungnya yang semakin menjauh sampai benar-benar menghilang di balik tembok.


__ADS_2