Janitra

Janitra
Bab 40


__ADS_3

Pagi itu baru saja aku meletakkan tas di meja, Sita mendekatiku.


"Na, hari ini aku ada jadwal ketemu klien sama Ghani. Tapi barusan aku di telepon gurunya anakku, katanya anakku sakit. Jadi aku harus ijin. Kamu bisa nggak gantiin aku?" ucapnya dengan tatapan penuh harap.


"Jam berapa emang? Boleh deh."


"Jam sembilan. Makasih banyak ya Na."


Setelah memberi tahu beberapa hal, Sita berpamitan padaku dan Pak Rio, tentunya.


Tak lama kemudian aku dan Ghani juga pergi. Sengaja kami berangkat pagi agar tidak terlambat. Lebih baik kami yang menunggu daripada kami yang ditunggu.


Pertemuan pagi itu berjalan dengan lancar, diakhiri dengan makan siang bersama atas permintaan Pak Jhoni dan kawan-kawannya, klien kami. Awalnya aku dan Ghani sudah menolak, namun karena terus dipaksa akhirnya kami mengiyakan, menerima ajakan makan siang bersama di sebuah rumah makan bernuansa alam yang menyajikan menu ikan bakar.


Sesampainya di kantor, ternyata Sita juga sudah kembali.


"Lho, kukira ijin hari ini." tanyaku terkejut ketika mendapati Sita sudah berada di balik mejanya sedang menikmati semangkuk bakso yang dipesannya dari penjual keliling.


"Enggak. Sudah kuperiksakan, aman kok." jawab Sita sambil terus mengunyah bakso dengan nikmat.


Aku mengangguk paham.


Ponselku bergetar tanda pesan masuk.


[Terima kasih, sudah menerima ajakan makan siang kami. Kapan-kapan, kita makan siang berdua ya?]


Aku mengernyitkan dahi membaca sebuah pesan dari nomor baru yang tidak tersimpan dalam kontakku.


"Ini siapa ya ngirimin aku pesan ucapan terima kasih sudah menerima ajakan makan siang."


"Pak Jhoni paling. Kan tadi kamu kasih kartu namamu ke dia." Ghani menjawab dari balik mejanya.


"Bisa jadi sih. Kutanya ah biar lebih jelas."


[Sama-sama. Maaf ini dengan siapa ya? Karena nomornya tidak tersimpan dalam kontak saya.]


Tak perlu menunggu lama, pesanku segera berbalas. Sepertinya si pengirim memang sedang menunggu balasan pesanku.


[Jhoni. Simpan nomorku ya Mbak. Terima kasih.]


"Benar Ghan, Pak Jhoni. Kamu dikirim pesan gitu juga nggak?" tanyaku tampak bodoh.


"Nala bego atau pura-pura bego? Hahaha." suara tawa Ghani menggema yang lalu diikuti oleh suara tawa beberapa temanku lainnya.


"Ya, kirain kan Pak Jhoni juga ucap makasih, Ghan." aku membela diri sambil tertawa.


"Nala baru berapa hari menyandang status baru, sudah ada yang deketin aja. Auranya tu emang beda sih ya. Hahaha." Ghani menggodaku lagi.


Enggan menanggapinya, aku hanya menjulurkan lidah ke arahnya lalu kembali sibuk berkutat dengan pekerjaanku yang sedikit tertunda karena tadi pagi harus menggantikan Sita.

__ADS_1


Sejak hari itu, Pak Jhoni hampir setiap hari mengirimiku pesan. Beberapa kali juga mengajakku makan siang bersama, namun selalu kutolak dengan halus.


Namun ternyata Pak Jhoni pantang menyerah, dia mendatangiku di kantor di jam makan siang. Jadi mau tidak mau, aku terpaksa menerima ajakannya untuk makan siang bersama.


"Nala anaknya berapa?" Pak Jhoni membuka percakapan sambil kami menikmati makan siang.


"Satu, Pak."


"Saya panggil Nala saja ya, nggak usah pakai 'Mbak'."


"Silahkan, Pak."


"Karena Nala kan usianya tiga tahun di bawah saya. Ya kan? Ohya, panggil saya 'Mas' saja. Biar kita lebih akrab."


Aku mengernyitkan dahi, bingung, darimana dia tahu umur.


"Pasti bingung kan kok saya tahu umur Nala. Saya juga tahu, Nala baru saja bercerai."


Uhuukkk...


Aku tersedak mendengar ucapannya barusan. Buru-buru aku mengambil es lemontea yang kupesan tadi sebelum Pak Jhoni yang mengambilkan.


"Maaf, saya membuatmu kaget sampai terkejut ya?" Pak Jhoni meminta maaf namun tanpa ada raut penyesalan sama sekali.


"Nggak apa-apa." jawabku datar.


Aku mengangguk mengiyakan sambil terus mengunyah makanan di depanku. Pantang bagiku membuang makanan. Bukan karena takut nasinya nangis, namun aku tahu bagaimana rasanya saat tidak memiliki apapun untuk dimakan.


"Saya boleh bertanya?"


"Silahkan, Pak." jawabku dengan malas.


"Apakah Nala sudah memiliki kekasih?"


"Kenapa memangnya, Pak?" aku bersikukuh memanggilnya, 'Pak'.


"Saya tahu bagaimana rasanya jika sedang tidak ada pasangan. Saya tuh sejak melihat Nala pertama kalinya, ada getaran dalam dada. Saya yakin, Nala adalah jawaban doa dari Allah." ucapnya dengan merem melek menghayati setiap kata yang dia lontarkan.


Sementara aku meringis namun terus menatap sesosok manusia ajaib di hadapanku. Aku menahan diri untuk berkomentar, ingin mendengar bualannya lebih lanjut. Walau sejak gadis dulu sering bertemu dengan pria playboy, namun yang seperti ini bentuk dan cara pendekatannya terlalu berlebihan baru Pak Jhoni ini.


"Nala tahu kan, status Nala saat ini tuh rentan terkena gosip? Jadi saya berniat untuk menyelamatkan Nala dari gosip buruk. Sejak saya bertemu Nala, saya selalu berdoa agar Tuhan mempersatukan kita, jadi Nala bisa terhindar dari segala fitnah dan omongan buruk. Setiap detik yang berdetak, setiap nafas yang berhembus hanya Nala yang selalu ada dalam hati dan pikiran saya."


Aku masih menahan diri untuk tidak berkomentar walau mulai merasa jengah mendengar bualan playboy kelas rebon ini.


"Saya nggak mau berpanjang-panjang, langsung saja saya sampaikan ya? Saya berniat menikahi Nala. Menjadikan Nala sebagai permaisuri hati saya."


Aku ternganga mendengar ucapannya barusan. Walau sebenarnya sejak awal dia membual, sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini, namun kukira dia tidak mengajakku menikah.


Aku menarik nafas dalam, menghembuskannya perlahan. Berulang kali, berusaha mengatur emosi agar tidak salah dalam menjawab karena saat ini kantorku masih terikat kerja sama dengannya.

__ADS_1


"Terima kasih atas penawarannya, Pak Jhoni. Namun mohon maaf untuk saat ini saya sedang tidak memikirkan pernikahan. Saya ingin fokus membahagiakan putra saya, dan mempersiapkan masa depannya. Dan mohon maaf sepertinya jam istrirahat sudah hampir berakhir, saya harus segera kembali ke kantor."


"Saya tidak meminta jawaban saat ini. Mungkin bisa dijadikan pertimbangan. Karena tentunya akan sulit mendapatkan laki-laki yang serius dan bertanggung jawab terlebih dengan status janda. Laki-laki seperti saya, yang berani serius dan pastinya bertanggung jawab itu sangat jarang lho."


Kujawab ucapannya dengan senyuman, karena bagiku tidak selalu setiap ucapan, kuberi kata-kata. Biarlah dia bahagia dengan bualannya itu. Setidaknya aku mendapat satu pelajaran berharga dari playboy kelas rebon di hadapanku ini.


Gegas aku berdiri dan berjalan menuju tempat motor kuparkirkan, tentunya setelah aku membayar makanan yang kumakan tadi walau Pak Jhoni melarang, namun aku tetap membayarnya sendiri.


"Dari mana tumben nggak makan di warung sebelah?" tanya Sita sesaat setelah aku menjatuhkan tubuh di kursiku.


"Diajak makan siang sama klienmu." jawabku berbisik.


"Wuih... Kencan. Ganteng? Kaya? Berwibawa?"


"Ish. Ngeselin tau."


"Kenapa?"


Lalu kuceritakan semua yang diucapkan oleh Pak Jhoni lengkap dengan titik koma maupun cara dia menyampaikannya.


"Hahaha. Emang pesonamu tuh luar biasa ya." Sita tertawa terbahak-bahak setelah kuselesaikan ceritaku.


"Diem nggak? Aku ngambek nih." aku pura-pura mengancamnya.


"Hahaha. Oke oke. Maaf. Sumpah lucu banget sih tuh orang? Bener katamu playboy kelas rebon yang langka."


"Terus kamu rencana mau pikir-pikir lagi atau tetap menolaknya?"


"Tolak lah."


"Biasa sama playboy kelas kakap sih ya, masa sekarang sama playboy kelas rebon. Jatuh dong harga diri. Hahaha."


Aku menjulurkan lidah pada Sita, sembari menyalakan komputer di mejaku. Namun baru saja aku akan meneruskan pekerjaan, ponselku berbunyi tanda pesan masuk.


[Nala, saya harap kamu mau mempertimbangkan ucapan saya tadi. Toh semua demi kebaikanmu juga. Ohya, jika Nala sedang butuh kehangatan, lampiaskan saja pada saya. Biarkan saya saja yang memberikannya dengan sepenuh hati daripada Nala harus dengan laki-laki lain yang belum kamu tau bagaimana ketulusannya. Saya hanya takut Nala hanya dimanfaatkan saja. Percayalah, saya tidak akan mengecewakan Nala.]


"Gila ini orang!" umpatku sambil melempar ponsel ke laci meja kerja setelah menonaktifkan nadanya.


"Siapa lagi?" tanya Sita tanpa melepaskan pandangan dari layar monitor di depannya.


"Pak Jhoni."


"Kenapa emang?" mendengar nama itu kusebut lagi, Sita langsung mencondongkan tubuhnya ke arah mejaku.


Kuambil ponselku, kubuka lagi pesan dari Pak Jhoni tadi lalu kutunjukkan pada Sita.


"Sakit nih orang. Kamu kayaknya harus hati-hati deh Na." Sita mengernyitkan kening membaca pesan dari Pak Jhoni tadi.


Kusandarkan tubuhku, kupijat lembut keningku. Buaya buntung pergi, sekarang datang playboy kelas rebon.

__ADS_1


__ADS_2