Janitra

Janitra
Bab 22


__ADS_3

Pagi itu aku terbangun dengan segar. Dewa tertidur di antara aku dan Mbak Rosi.


Sayup kudengar keributan di luar kamar. Kubuka pintu kamar mbak Rosi. Ternyata Danang dan ibu sedang mencariku dan Dewa. Aku keluar menemui mereka.


"Aku menumpang tidur di kamar Mbak Rosi. Semalaman Dewa rewel, aku lelah beberapa hari kurang tidur."


Penghuni kost yang tadi berkerumun mulai membubarkan diri.


"Istri nggak tahu diri!!! Sekarang menumpang di kamar Rosi, besok jangan-jangan menginap sama lelaki lain bawa anak!!"


Baru aku membuka mulut akan menjawab, Budhe Ratih datang.


"Danang, Dewa sudah ketemu?"


"Dibawa Nala tidur di kamar temannya, Budhe." Danang si manusia drama mulai beraksi.


"Lho kenapa? Apa nggak pamit?"


"Ya makanya itu lho Budhe.. saya nggak habis pikir. Padahal ibu kesini kan niatnya membantu Nala. Tapi sikap Nala seperti ini kan seolah merasa terganggu dengan kehadiran Ibu. Saya tersinggung."


"Nala!! Keterlaluan kamu! Budhe malu."


"Sejak melahirkan, aku sama sekali belum istirahat dengan layak.. baru semalam aku bisa tidur. Bukan nggak menghargai Ibu, tapi aku juga berhak jaga kesehatanku sendiri. Aku cuma numpang tidur di kamar temen kost. Dan semalam aku baru bisa merasakan tidur nyenyak karena Mbak Rosi bantu mengurusi Dewa."


"Ya namanya jadi ibu tuh gitu. Kurang tidur wajar saja, jangan manja."


"Maaf, saya baru bisa kasih tempat sempit seperti ini untuk Nala dan Dewa."


"Nggak perlu minta maaf, Nala yang seharusnya bisa menerima kondisi suami. Nala memang dari dulu nggak bisa prihatin. Keterlaluan!"


Aku mendengus kesal, lalu pamit, beralasan mau memandikan Dewa. Membiarkan mereka terus berceloteh. Sesekali menulikan telinga sepertinya lebih baik daripada kondisi kesehatan jiwaku yang jadi taruhannya.


Selesai memandikan Dewa, ibu berpamitan. Katanya ada acara di desa. Kuiyakan saja, dalam hati aku bersyukur, waktu istirahatku jadi tidak banyak terganggu.


Danang mengantarkan ibu dan Pita pulang. Segera aku memesan makanan untukku sendiri, lalu tidur setelah menghabiskannya. Ibu menyusui harus cukup istirahat dan bahagia.


Minggu kedua setelah aku melahirkan, aku mulai mencari pekerjaan lagi karena di kantor lama sudah tidak ada posisi yang kosong. Sambil menunggu panggilan kerja, aku membungkusi makanan-makanan ringan dan kutitipkan ke warung-warung. Dewa selalu ikut kemanapun aku pergi.


Beruntungnya aku, seminggu setelah memasukkan lamaran ada panggilan wawancara dan langsung diterima bekerja. Beberapa teman kost menawarkan diri untuk membantu menjaga Dewa selama aku bekerja.


***


Tak terasa Dewa sudah berusia enam bulan dan sama sekali tidak pernah rewel merepotkanku atau teman-teman yang membantu mengurus Dewa.

__ADS_1


Danang entah masih hidup atau tidak karena sudah jarang sekali pulang ke kost.


Suatu hari Pakdhe Nug meneleponku. Setelah berbasa basi menanyakan kabarku, Pakdhe menawarkanku menempati rumah Eyang yang kosong sejak Eyang meninggal. Aku meminta waktu untuk mempertimbangkannya terlebih dahulu. Mungkin di pikiran pakdhe, aku mempertimbangkannya dengan Danang. Padahal sebenarnya yang kupertimbangkan adalah biaya kost bisa kutabung untuk biaya cerai. Semakin cepat bercerai, semakin baik. Toh dia juga tidak ada andil apapun dalam pernikahan ini.


Setelah memantapkan hati, mempertimbangkan biaya dan lain sebagainya, aku menerima tawaran Pakdhe untuk menempati rumah Eyang. Dibantu teman-teman kost, aku pindahan kesana. Danang datang seminggu setelah aku pindah dengan mengajak beberapa teman yang diakui sebagai teman kerjanya.


"Kamu kok nggak masak sih?"


"Cuma buat makan aku sendiri juga biasanya nggak masak. Laper? Sana beli sendiri."


"Makin kurang ajar kamu. Beliin sana. Sekalian untuk teman-temanku."


"Males. Capek. Nggak ada uang juga. Kamu nggak pernah pulang, sekalinya pulang jadi beban buat aku."


Tangan Danang terangkat bersiap memukulku. Namun urung karena tiba-tiba temannya masuk untuk menumpang ke kamar mandi.


Kugendong Dewa dan kuajak berjalan-jalan keliling kompleks daripada harus mendengar omong kosong Danang di depan teman-temannya.


Hari demi hari berlalu. Sejak menempati rumah Eyang, Danang semakin sering pulang. Bahkan ibu, kakak dan keponakannya pun ikut tinggal di rumah ini. Bebanku justru semakin banyak. Aku terpaksa mengambil pekerjaan tambahan selain berjualan cemilan yang masih kulakukan. Pagi buta aku harus bangun, memasak untukku, Dewa dan seluruh penghuni rumah setelahnya aku mencuci baju, menjemur, membersihkan seluruh rumah, memandikan Dewa, menyuapinya lalu aku sendiri mandi dan bersiap mengantar Dewa ke penitipan anak sekalian aku berangkat kerja.


Di hari libur, biasanya sore hari aku mengajak Dewa main ke rumah tetangga yang berjualan gorengan. Sementara Dewa asyik bermain, aku membantu melayani pembeli. Sengaja memang, karena aku tidak betah berada di rumah. Berkali-kali aku menanyakan pada Danang, sampai kapan keluarganya berada di rumah ini, berkali-kali pula Danang mengadu pada keluargaku, katanya aku mengusir dia dari rumah itu. Lagi-lagi kusabarkan diri, masih harus menunggu bukti kuat untuk maju ke pengadilan memasukkan gugatan cerai.


***


"Mas, aku mau cerai."


"Nggak. Aku nggak mau ada cerai."


"Masih belum puas nyiksa aku?"


"Kamu saja yang keterlaluan."


"Pokoknya aku mau cerai. Nggak usah halangi aku lagi."


Setelah berkata demikian, aku membalikkan tubuh meninggalkan Danang.


Praaaang...


Belum jauh melangkah, Danang melempar gelas berisi kopi instant yang masih panas. Tidak hanya terkena cipratan kopi panas, kakiku juga terkena pecahan gelas kaca itu. Aku hanya melirik sepintas, dan terus berjalan ke belakang.


Tak kupedulikan Danang yang terus marah. Dengan tenang aku melanjutkan aktivitasku membungkus makanan ringan dengan plastik kemasan kecil-kecil lalu kurekatkan dengan cara memanaskannya dengan lilin.


Ibu mertuaku tergesa keluar dari kamar mandi dan menemuiku.

__ADS_1


"Kenapa Danang?"


"Nggak tau, Bu."


Namun sepertinya beliau tidak percaya begitu saja, beliau menemui Danang di ruang keluarga. Selang lima belas menit kemudian, beliau ke dapur lagi, mengambil sapu dan pengki. Entah seberapa besar kekacauan yang dilakukan oleh Danang.


Selesai membereskannya, ibu mertua mendekatiku, menarik sebuah kursi di depanku.


"Kamu minta cerai ke Danang?"


"Iya."


"Kenapa?"


"Siapa yang kuat Bu, begini terus. Saya kerja mati-matian sementara Danang hanya sibuk makan, tidur, ngerokok, ngopi, main game, nanti sekalinya pergi, pulangnya subuh, mabuk."


"Yang stress bukan cuma kamu. Dia juga stress hadapi istri yang nggak bisa bersyukur seperti kamu."


"Saya bersyukur kok, Bu. Bersyukur masih bisa nafas, punya anak seperti Dewa, bersyukur masih bisa mencari uang untuk menghidupi seluruh penghuni rumah ini. Tapi saya juga manusia biasa, yang bisa merasakan lelah dan menyerah."


"Sebagai istri seharusnya melakukan segala sesuatu dengan ikhlas. Rejeki itu nggak cuma dari suami. Tapi bisa jadi dari istri. Jalani dengan ikhlas biar berkah."


"Lalu bagaimana tanggung jawab sebagai suami untuk menafkahi anak dan istri? Bukannya saya nggak ikhlas, Bu.. tapi kalau harus peras otak dan tenaga mati-matian sendiri, sementara Danang tidak ada semangat hidup, hanya makan, tidur, ngerokok, pergi kumpul-kumpul dengan teman lalu pulangnya mabok, ya saya lelah."


"Dia seperti itu karena stress menghadapi istri seperti kamu!! Istri tidak tahu diri!! Padahal dulu keluargamu sampai ke rumah untuk meminta Danang menikahimu padahal Danang sudah kularang karena belum mapan dan tidak ada pekerjaan dengan gaji yang mencukupi namun keluargamu menjanjikan kehidupan kalian akan enak dan di support oleh keluargamu. Itu yang membuat Danang akhirnya mau menikahimu. Tapi justru begini sikapmu."


Selesai berkata begitu, Ibu berlalu sementara aku jatuh terduduk memegang dada. Ada rasa nyeri yang kurasakan. Sakit, benar-benar sakit.


Segera kubereskan plastik dan makanan ringan yang memenuhi meja makan. Suara Dewa terdengar memasuki halaman rumah. Aku segera mencuci muka dan menyambutnya. Kugendong Dewa kecilku yang tampak ceria sehabis jalan-jalan sore. Kubersihkan tangan, kaki dan berganti pakaian, lalu kuajak menonton acara televisi di kamar karena Danang masih berada di ruang tengah.


Aku hampir terlelap saat gawaiku berdering. Biasanya aku selalu mematikan nada dering saat tidur, namun kali ini aku lupa karena lelah yang mendera. Tanpa melihat si penelepon, segera kuangkat karena takut Dewa terbangun.


"Halo selamat malam..."


"....."


"Selamat malam..." Kuulangi lagi karena tidak ada jawaban.


Klik


Panggilan diakhiri tanpa ada percakapan.


Aku terhenyak saat melihat nomor si pemanggil. Nomor ponsel yang berasal dari daerah Sumatera. Bayangan Bang Rico lalu memenuhi pikiranku. Kutimang ponselku beberapa saat. Tidak ada panggilan lagi, untuk menghubunginya pun aku tak ada keberanian. Kuputuskan untuk mematikan nada dering, lalu menyimpan ponselku di bawah bantal. Kucoba pejamkan mataku lagi walau sulit karena bayangan Bang Rico terus menggangguku.

__ADS_1


Entah berapa jam aku terjaga, sebelum akhirnya aku terlelap setelah lelah berandai.


__ADS_2