
Rasanya baru beberapa menit terlelap saat terdengar ketukan di pintu kamar.
Dengan mata yang masih agak terpejam, kubuka pintu. Sosok Mas Rio berdiri tegak dengan wajah penuh emosi. Spontan kulirik jam di dinding, masih pukul enam pagi.
"Pagi sekali, Mas? Duduk dulu, kubuatkan kopi ya?"
"Terlalu pagi untuk orang yang menghabiskan waktunya sampai dini hari ya? Siapa itu di dalam?"
"Nadya, semalam tidur disini."
"Semalam? Bukannya kalian pulang pagi?"
Sengaja tak kutanggapi, aku tetap meneruskan pekerjaanku membuatkan kopi untuk Mas Rio.
"Kopinya diminum, Mas."
"Semalam kemana? Kenapa nggak pamit? Kamu calon istriku. Nggak bisa hargai aku?"
"Aku calon istrimu?? Kamu aja nggak bisa hargai aku, kok minta dihargai. Hubungan kita hanya sebatas atasan dan bawahan. Tidak lebih. Mulai sekarang nggak perlu repot-repot antar jemput aku dan Dewa."
"Kamu nggak bisa memutuskan sepihak gini. Aku udah bilang ke keluargaku. Mereka akan secepatnya melamarmu."
"Lamar Riska saja. Jangan aku."
Mas Rio tampak terkejut mendengar aku menyebut namanya.
"Kaget, aku tau namanya? Suaminya namanya Surya kan? Karena suaminya di luar kota, jadi kamu bebas menemuinya setiap malam. Pantas, setelah mengantarku, kamu sulit kuhubungi. Selalu saja ada alasan. Dan bodohnya aku selalu saja mempercayaimu."
"Na, ini nggak seperti yang kamu tuduhkan."
"Sudahlah Mas. Ini pilihanmu. Jalani saja. Aku sudah katakan, aku nggak bisa berbagi cinta."
__ADS_1
***
Seminggu berlalu, aku masih bekerja di kantor Mas Rio walau hubungan kami semakin bersitegang. Mas Rio semakin gencar mendekati Dewa, sementara aku semakin berusaha untuk mundur.
Setiap hari, Mas Rio masih mengantar jemput kami. Jika dulu setelah mengantarkan kami ke kos, bisa dipastikan Mas Rio akan sangat sulit kuhubungi bahkan pesan teks yang kukirim saja, tak sempat ia balas. Sekarang justru Mas Rio yang rajin menghubungiku. Sayangnya, kepercayaanku sudah terlanjur luntur. Sekeras apapun usahanya, masih terasa sulit untuk mengembalikannya utuh lagi.
"Dek, kasih aku kesempatan sekali lagi. Lihat, aku berhasil luluhkan hati Dewa."
"Untuk apa, Mas? Kalau di hatimu masih bertahta cinta untuk perempuan itu? Kalaupun aku menerima lamaranmu, kita menikah, selamanya aku akan terus mencurigaimu. Pernikahan kita jadi tidak sehat, Mas."
"Aku akan terus meyakinkanmu."
"Meyakinkan bahwa kehadirannya di hatimu tidak akan mengusik posisiku sebagai istrimu? Maaf, aku nggak akan pernah bisa."
***
Kutuang sesendok bubuk kopi hitam ke dalam cangkir lalu kujerang dengan air mendidih. Uap panas beraroma kopi menguar, memberikan efek menenangkan bagiku. Kubawa cangkir berisi kopi dan piring kecil berisi dua potong fudgy brownies buatanku ke lantai dua.
"Na... Ngelamun terus. Mikirin apa sih?"
Lamunanku seketika buyar mendengar suara Mas Adit. Segera kuhapus airmata dengan kedua tangan.
"Lagi kangen Mama aja kok, Mas. Kok tau aku di atas?"
"Aku tadi ke kamarmu, bikin kopi, nih." jawabnya sambil mengangkat cangkir yang sedari tadi dipegangnya.
"Mas, aku mau pindah dari sini. Dewa rencana kutitipkan dulu, aku cari pekerjaan lain, dan kalau udah ada tempat tinggal yang layak, aku akan menjemput Dewa lagi."
"Titip aku? Boleh."
"Bukan, sepertinya ke Panti Asuhan. Tapi bukan untuk diadopsi. Aku nggak akan lepas tangan, aku akan tetap memberi susu dan uang setiap bulannya."
__ADS_1
"Kamu yakin? Dipikir dulu deh. Jangan ambil keputusan saat kamu lagi ada masalah. Tenangin diri dulu. Besok jalan yuk. Ke pantai mau?"
"Sama anak-anak kan?"
"Iya dong. Lama banget kita nggak jalan-jalan bareng kan?"
"Boleh, Mas. Duh aku nggak sempat bikin bekal."
"Nggak usah, besok beli aja. Gimana?"
"Boleh deh."
"Sekarang, temenin aku bentar yuk, ke rumah pakdhenya temenku."
"Boleh deh. Aku juga belum ngantuk."
"Bukan belum ngantuk kamu tuh, tapi banyak hal yang lagi kamu pikir. Yaudah, yuk berangkat sekarang biar nggak kemalaman."
Mas Adit menggandengku menuruni tangga sementara tangan satunya lagi memegang nampan berisi cangkir dan piring kecil.
**
"Nah kan, kalian masih bersama. Mau diresmikan? Tapi ingat, sikap manis mbak Nala akan berakibat banyaknya pelita yang menyala. Ada yang redup, ada yang terang."
"Berteman saja, pakdhe." tukas Mas Adit.
"Iya, Pakdhe." buru-buru aku mendukung jawaban Mas Adit yang lalu disambut dengan tawa Pakdhe Broto.
Sementara Mas Adit berbincang, aku memilih menikmati suasana malam di pedesaan. Suara jangkrik dan kodok bersahutan sesekali memecah keheningan malam. Lalu anganku berkelana dengan liar. Membayangkan, suatu saat nanti aku memiliki seorang suami yang tulus mencintaiku, menerimaku dan Dewa apa adanya. Kami tinggal dalam sebuah rumah yang penuh dengan kehangatan, ramai dengan suara tawa anak-anak, sesekali terdengar celotehku memarahi mereka untuk kesalahan-kesalahan kecil. Sementara malamnya, kami akan duduk di teras, menikmati suasana malam ditemani dua cangkir teh dengan perasan lemon atau air jahe sambil berbincang tentang semua hal yang kami lalui sehari itu. Tentunya aku yang akan banyak berkisah sementara dia akan menjadi pendengar terbaikku, lalu sebuah kecupan dan pelukan hangat akan menutup cerita malam itu.
Kurapatkan cardigan rajut milikku saat kurasa dingin terasa semakin menusuk. Kulihat Mas Adit sudah berpamitan dan bersiap untuk pulang. Akupun berdiri untuk berpamitan juga. Kembali ke kos, menikmati suasana malam yang lebih riuh.
__ADS_1
Kuedarkan sekali lagi pandanganku ke sekeliling rumah Pakdhe Broto sebelum naik ke mobil Mas Adit. Kunikmati perasaan yang entah apa namanya, menyusup ke dalam hati. Sebait doa kupanjatkan, semoga kelak, Tuhan mempersatukanku dengan laki-laki baik yang bisa menerimaku dan Dewa apa adanya, dan memperlakukan kami dengan baik juga. Hembusan angin terasa kencang, seolah alampun mengamini doaku. Dengan senyum yang terus terukir, kutinggalkan desa tempat kediaman Pakdhe Broto berdiri kokoh.