Janitra

Janitra
Bab 11


__ADS_3

[FLASHBACK ON]


Mataku terasa berat, kepala terasa sangat sakit. Kali ini bukan karena sakit demamku, namun karena airmata yang enggan berhenti berderai sekalipun aku berusaha menahannya.


Dulu kukira keluarga adalah sebuah rumah tempat aku pulang saat lelah ataupun hilang arah. Namun ternyata aku salah, keluarga ada hanya saat kita masih memiliki seorang ibu. Setelah sosok ibu tiada, tiada pula fungsi keluarga bagi seluruh anggotanya.


Kupeluk erat guling, kubenamkan wajahku disana lalu kuteriakkan nama Mama berkali-kali. Berharap Mama hadir memelukku dan membelaku di depan eyang dan keluarga lain.


Entah sudah berapa jam aku mengunci diri di kamar dan menangis. Lampu kamar sengaja tidak kunyalakan. Aku senang begini. Gelap, sepi.


Tok...tok...


Ketukan pintu terdengar berkali-kali.


"Ya mbak?" Jawabku setelah menghapus air mata.


"Dicari Bang Rico."


"Ya mbak. Tolong suruh tunggu sebentar. Aku mau ke kamar mandi dulu."


Kubuka pintu kamar. Setelah kupastikan tidak ada teman yang akan melihat sembabnya mataku, aku berlari kecil menuju kamar mandi. Untung saja kamarku berada dekat dengan kamar mandi.


Kubasuh muka berkali-kali. Berharap Bang Rico tidak menemukan sisa tangisku disana.


"Tuh sana ke depan. Abangmu udah kubikinin teh sama kusuguh gorengan. Kebetulan tadi beli." Ucap Mbak Dwi yang kebetulan berpapasan denganku di depan dapur.


"Makasih banyak ya Mbak. Malah jadi ngerepotin."


"Nggak repot kok. Eh, kamu nangis? Kenapa?"


"Enggak mbak..."


"Nanti cerita ya... Jangan dipendam sendiri." Mbak Dwi memelukku hangat. Mati-matian aku menahan agar airmataku tidak luruh lagi.


"Bang, maaf lama."


"Eh dek. Gimana kondisi adek? Kita periksa yuk. Eh adek nangis ya?"


"Sudah agak enakan kok Bang. Engga, nggak nangis. Tadi sakit kepala aja."


"Ya sudah ayo kita periksa."


"Ini udah enakan bang."


"Tapi masih demam lho."


"Masuk angin mungkin, biasa tidur tanpa AC kan, kemarin pas di Rumah Sakit adek langsung kena AC. Hahaha."


"Ah, ada-ada saja adek ini. Ayo kita ke dokter."


Enggan berdebat, kuikuti saja maunya Bang Rico.


Setengah jam kemudian kami sampai di depan klinik dokter langgananku. Kebetulan antrian tidak terlalu banyak. Aku duduk di ruang tunggu sementara Bang Rico membelikan air mineral di minimarket sebelah klinik.


"Dek, diminum dulu. Duh adek pucat sekali."


"Terima kasih, Bang..."


Setelah meminumnya, disandarkannya kepalaku ke bahunya. Tangannya terus menggenggam tanganku. Sepele mungkin, namun sikapnya membuatku merasa nyaman dan terlindungi.


Sekitar lima belas menit menunggu, namaku dipanggil. Bang Rico membawakan tas dan air mineralku. Tangannya melingkar di bahuku. Sebuah kenyamanan yang selalu kurindukan.


Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa aku terkena gejala thypus dan diminta beristirahat total. Bang Rico terus memaksaku rawat inap di rumah sakit. Setelah perdebatan alot akhirnya aku lagi-lagi kalah dan harus rawat inap.


Bang Rico yang mengurus segalanya termasuk menghubungi Mbak Dwi, meminta tolong menyiapkan pakaian gantiku.


Pukul sebelas malam, aku masuk ruang rawat inap. Bang Rico memilih ruang VIP, katanya agar aku bisa istirahat tanpa gangguan sehingga lekas pulih.


"Dek, tidur ya. Abang jaga disini. Bukan hanya temani lho ini. Tapi abang jaga. Hahaha."


"Iya iya... Tapi abang juga harus tidur. Nanti malah gantian abang yang sakit."


"Kalau abang sakit, adek yang rawat kan?"


"Iya lah bang... Kecuali...."


"Kecuali apa?"


"Kecuali ada yang lain..."


"Ah mana ada. Hanya adek satu di hati abang."


"Gombal... Hahaha."


Tawaku terhenti karena kecupan singkat di bibirku.

__ADS_1


"Tidurlah.. atau ada yang mau adek ceritakan tentang hal yang bikin adek menangis seharian tadi, mungkin."


Mendengar ucapannya, airmataku luruh kembali. Kugigit erat bibirku, mencoba menahan agar airmata tidak semakin berderai.


"Cerita dek. Jangan dipendam."


Akhirnya kuceritakan semuanya, bermula sejak mama meninggal saat aku berusia empat belas tahun, sampai kejadian yang sedang kuhadapi saat ini.


"Besok pagi tanya Siti dek, sudah ketemu belum kalungnya. Suruh geledah seluruh rumah. Kalau ketemu, suruh mereka minta maaf ke kamu. Kalau tetap tidak ketemu, kuganti lima kali lipat harganya."


"Bang, nggak perlu sampai segitunya." Aku mengelus tangan Bang Rico dengan maksud meredakan emosinya.


"Harus. Abang nggak suka adek direndahkan seperti itu. Sama saja dengan merendahkan abang."


"Ya sudah abang istirahat dulu ya. Jangan emosi dulu."


"Besok adek telpon Siti ya. Setelah selesai semuanya, secepatnya kita urus pernikahan ya dek?"


"Bang, apa harus secepat ini?"


"Kenapa? Adek pikir, abang nggak serius kah dengan hubungan ini?"


"Bukan begitu bang..."


"Atau adek yang tidak serius dan hanya jadikan abang pelarian dari a'a siapa itu?"


"Bukan juga bang..."


"Keluargamu tidak setuju?"


Aku mengangguk lemas.


Bang Rico berdiri dan tampak beberapa kali mengusap kasar wajahnya.


"Akan abang buktikan, adek tidak akan pernah menyesal memilih abang menjadi suami adek. Tolong kasih kesempatan abang untuk membuktikannya, dek. Abang akan berjuang untuk mendapat restu itu. Walau sebenarnya abang heran, dengan semua perlakuan mereka itu, apakah masih pantas mereka disebut sebagai keluarga?"


"Kita berjuang bersama, Bang..."


Kuberikan senyum termanisku. Ada rasa hangat yang menjalar di dadaku. Kuharap, dialah jawaban dari Tuhan atas semua doa-doaku.


Bang Rico mencium keningku lembut.


"Tidur ya? Sudah larut malam. Jangan minta abang nyanyikan lagu pengantar tidur, bisa-bisa diusir langsung kita. Hahaha."


"Abang tidur mana nanti?"


"Ya sudah sekarang abang juga tidur. Abang juga lelah kan?"


Bang Rico merebahkan tubuhnya di sofa bed yang disediakan untuk penunggu pasien. Tubuhku lelah, lemas namun mata tak kunjung dapat terpejam.


"Bang, sudah tidur?"


"Hmm...kenapa dek?"


"Abang yakin mau nikahi aku? Kalau misal tetap tidak direstui bagaimana Bang?"


"Abang yakin menikahimu. Ya, kita usaha saja dulu. Misal tetap tidak direstui, keputusan ada di tanganmu. Kalau adek berani lanjut ya ayo. Kalau tidak, ya mungkin kita bukan jodoh."


"Gampang banget ngomongnya."


"Ya gimana? Abang berjuang mati-matian kalau adek pengen dilepas kan susah juga. Sudahlah, besok kalau adek sembuh kita bahas lagi."


Bang Rico duduk dan berjalan mendekatiku.


"Tidur ya dek. Biar lekas sehat."


Tangannya tak henti mengelus rambutku sampai aku benar-benar terlelap.


Sudah sebulan kepulanganku dari rumah sakit. Aku sudah kembali beraktifitas seperti biasanya. Hubunganku dengan Bang Rico semakin dekat walau di tengah kesibukannya yang semakin padat.


Sejak tuduhan-tuduhan yang menyakitkan itu, aku juga tidak pernah menginjakkan kaki atau bahkan sekedar bertukar kabar dengan Eyang Sri ataupun keluargaku lainnya.


Hidupku semakin terasa sendiri dan terasing.


Seperti biasa, Sabtu malam Bang Rico mengajakku jalan sekedar makan malam sepulang aku kerja. Tentu setelah mendapat ijin dari ibu kost karena kostku merupakan kost ketat dan sarat dengan peraturan.


"Dek, nikah yuk."


"Yuk..."


"Serius dikit lah... Abang serius ini."


"Adek juga serius, abang..."


"Besok kita ke rumah keluargamu ya?"

__ADS_1


"Sama keluarga abang?"


"Belum lah dek... Kalau sudah dapat lampu hijau, baru abang jemput keluarga abang untuk melamarmu."


"Tapi kalau tetap tidak direstui?"


"Kita coba dulu dek."


Aku mengangguk penuh keraguan. Tapi aku tidak mau mematahkan semangat Bang Rico.


Keesokan harinya, sesuai rencana setelah beribadah dan sarapan, aku dan Bang Rico menuju rumah eyang Sri.


"Sudah, tenang dek..."


Bang Rico menggenggam tanganku, mencoba menenangkanku.


Rumah Eyang Sri seperti biasa sepi. Kutekan bel rumah beberapa kali sampai Siti membukakan pintu.


"Eyang ada?"


"Ada mbak. Masuk mbak."


Aku dan Bang Rico duduk di ruang tamu rumah Eyang Sri. Sepuluh menit menunggu, Eyang Sri keluar dengan air muka yang tidak dapat ditebak.


"Kamu kok lama nggak kesini?"


"Iya Eyang, lagi banyak kerjaan. Eyang sehat?"


"Banyak kerjaan atau sibuk dengan pacarmu?"


Pertanyaan eyang membuat suasana menjadi tidak nyaman. Namun ternyata Bang Rico menggunakan kesempatan ini untuk langsung mengutarakan maksud kedatangan kami.


"Eyang, maaf, langsung saja kami utarakan maksud dan kedatangan kami. Saya berencana ingin melamar Nala menjadi istri saya."


"Apa Nala belum memberitahu kalau saya tidak merestui hubungan kalian?"


"Sudah eyang. Tapi saya berharap, eyang bisa mempertimbangkannya lagi melihat kesungguhan saya mempersunting Nala."


"Tidak. Saya tetap dengan keputusan saya. Ya sudah, saya mau istirahat dulu. Nala, eyang harap kamu tidak melakukan hal yang bisa merusak nama baik keluarga hanya demi membersamai pacarmu ini."


Setelah eyang masuk, Bang Rico menarikku ke pelukannya.


"Sudah, adek tenang dulu. Mau berjuang bersama untuk mendapatkan restu?"


"Abang masih mau memperjuangkan?"


"Mau, kalau kamu mau."


Bang Rico membawaku ke pantai di selatan Jogja. Dia tahu, pantai selalu bisa membuatku tenang.


"Terus, kita besok gimana Bang?"


"Ya nggak gimana-gimana. Tetap beraktifitas seperti biasa. Abang akan bekerja lebih keras, mungkin bisa mendapat restu setelah abang menjadi orang kaya. Hahaha."


"Sepertinya bukan harta, Bang."


"Lalu?"


"Suku kita."


"Tapi sekarang sudah modern, dek."


"Nggak semua orang berpikiran semodern kita, Bang."


Kulihat rahang Bang Rico mengeras, tampak sedang menahan emosinya. Kubelai rambutnya dengan lembut.


Senja mulai turun, air laut mulai naik.


"Bang, masih mau disini?"


"Pulang, dek."


"Yuk... Adek lapar."


"Oh iya, kita makan dulu ya. Mau makan apa? Mau ke restoran seafood dekat sini?"


"Boleh."


Bang Rico membantuku berdiri. Berdua kami berjalan ke tempat parkir. Tangannya tidak pernah lepas menggenggamku, bahkan kurasakan lebih erat daripada hari-hari sebelumnya.


Pukul sepuluh malam kami sampai kostku.


"Selamat istirahat, dek."


Keningku diciumnya berkali-kali sebelum aku turun dari mobilnya.

__ADS_1


Setelah membersihkan diri, kuhempaskan tubuhku ke kasur. Hari yang sangat melelahkan.


__ADS_2