
Suara tawa Pakdhe Broto menggema ke seluruh ruangan membuatku sedikit bergidik ngeri dan mendekatkan tubuhku pada Mas Adit.
"Namamu siapa tadi? Nala? Hmm... Boleh Pakdhe beritahu sesuatu?"
Aku mengangguk ragu. Lebih tepatnya penasaran namun juga ragu.
"Hmm... Kamu itu suka menyalakan pelita. Walau mungkin kamu tidak sadar, namun orang lain menganggapnya itu sebagai sebuah kode."
"Maksudnya gimana sih Pakdhe?" tanyaku tidak paham.
"Ya, pokoknya sepanjang hidupmu banyak pelita yang menemani. Hahaha."
Aku menyenggol bahu Mas Adit.
"Nala masih bingung maksudnya, Pakdhe." Mas Adit membantuku bertanya.
"Nggak usah dipikir. Dijalani aja. Tapi ya kalau bisa, Mbak Nala jangan terlalu banyak menyalakan pelita. Satu aja yang disampingmu itu sudah cukup, kok."
Pakdhe Broto tersenyum penuh arti, sementara aku dan Mas Adit mengernyitkan dahi berusaha memahami kalimat Pakdhe Broto.
Setelah mengobrol sebentar, kami memutuskan pulang karena sudah larut malam. Aku takut Dewa bangun dan mencariku, Mas Adit memahami itu.
Di mobil
"Mas, maksudnya Pakdhe tadi apa sih? Dia orang pintar ya?"
"Hahaha. Nggak tahu aku juga. Wong kesana cuma anter pesenan aja."
"Lagian maksudmu ajak aku kesana tuh apa Mas?"
"Iseng aja, kamu kesurupan nggak disana. Hahaha."
"Sial..."
Aku cemberut mendengar jawabannya.
Lalu kami sama-sama terdiam menatap jalan gelap di depan yang tak berujung. Seperti hidupku yang entah berada dimana ujung kebahagiaan itu kan kutemukan.
***
Satu panggilan dari nomor tidak dikenal masuk saat aku sedang mengobrol dengan teman-teman kostku.
"Selamat malam..." jawabku walau sebenarnya sudah hampir berganti hari.
"Mbak, tadi siang surat panggilan untuk Mas Danang datang. Kebetulan aku yang terima. Sudah kusampaikan ke Mas Danang. Sebenernya pas panggilan pertama dulu dia tahu, mbak. Tapi dia bilang salah alamat, karena waktu itu dia pakai helm full face dan masker."
"Hmm..aku tahu kok liciknya dia. Terus dia tadi respon apa dek?"
"Awalnya kertasnya dia remas lalu dibuang. Mulai emosi dia. Tapi lalu aku bilang macem-macem lah. Akhirnya dia bilang, mau hadir. Kayaknya udah mau kok cerai."
"Syukurlah. Semoga dia nggak berubah pikiran lagi. Terima kasih informasinya ya Dek. Ini kamu telepon aku, nggak dimarahin dia?"
"Dia nggak tau, mbak, lagi pergi sama temannya."
Aku mematikan panggilan lalu kembali bergabung dengan teman-teman yang masih asyik bermain gitar sambil bernyanyi. Tak lama Mas Adit datang membawa beberapa plastik berisi makanan yang diletakkannya di atas meja untuk dinikmati kami semua.
"Ini untuk Dewa. Nanti bawa masuk, untuk sarapan besok." katanya menyodorkan satu plastik terpisah dari lainnya.
"Makasih mas."
__ADS_1
"Belum ngantuk?" walau Mas Adit melirik ke Fadli, namun aku tahu pertanyaan itu ditujukan untukku.
"Belum, Mas. Sebentar lagi, mungkin. Tapi nanti ada yang mau kuomongin bentar, Mas."
"Ya sekarang saja. Yuk." tanpa memberiku kesempatan berpamitan, Mas Adit menarik tanganku.
"Mas, tadi Nisa, pacar Danang telepon aku. Dia bilang, surat panggilan sudah diterima Danang. Kata Nisa lagi, Danang akhirnya mau hadir."
"Bukannya kalau hadir malah lama ya?"
"Hadir sekali sih Mas yang kutahu. Untuk mediasi saja."
Mas Adit mengangguk-angguk.
"Aku deg-degan..."
"Kenapa? Ragu?"
"Dih bukan gitu. Takut dia mempersulit."
"Doa lah. Katamu, doa mengubah segala hal. Minta tolong siapa lagi coba? Keluargamu? Mereka katamu nggak ada yang setuju kamu cerai sama Danang kan?"
"Iya sih. Doakan aku semoga lancar prosesnya ya Mas?"
"Iya. Amin. Dah sana masuk kamar, tidur. Besok kerja kan?"
"Iya. Aku tidur duluan ya Mas."
"Pintu kunci, jangan lupa."
Mas Adit berjalan menjauh dari kamarku untuk kembali berkumpul dengan beberapa teman yang masih terjaga. Sementara aku segera membaringkan tubuhku di samping anak semata wayang yang selalu kubanggakan.
***
"Dewa mana? Aku kangen Dewa. Seharusnya kamu ajak kesini biar ketemu aku."
"Bukan tempat yang baik untuk anak-anak. Kalau mau ketemu kan kamu bisa menghubungiku."
Untung kami segera dipanggil, jadi tidak perlu banyak berinteraksi.
Mediasi berjalan lancar dan sesuai harapanku. Aku mengucap syukur berkali-kali karena Danang tidak mempersulit.
Aku tinggal mempersiapkan saksi yang harus kuhadirkan pada persidangan berikutnya. Untuk mencari saksi, kuakui tidak mudah. Karena tidak banyak orang yang mau direpotkan dengan hal-hal seperti ini. Lagi-lagi keberuntungan berpihak padaku. Ponselku berbunyi tanda panggilan masuk.
"Ya Nisa?"
"Gimana tadi mbak? Mas Danang nggak berulah kan?"
Aku tertawa geli mendengar pertanyaan Nisa. Sepertinya dia paham bahwa Danang sering berulah.
"Aman kok. Lancar. Ini aku lagi nyari orang buat saksi."
"Aku saja gimana Mbak?"
"Bohong dong?"
"Enggak dong. Kan aku tahu sikap dia gimana ke Mbak."
Aku menghela napas panjang.
__ADS_1
"Ya sudah, boleh minta fotokopi KTP mu dek?"
"Boleh, mbak. Besok kuantar ya? Atau mau ketemu dimana?"
"Besok jam makan siang ketemu di rumah makan serba enak aja ya?"
"Oke mbak."
Aku menutup panggilan dengan perasaan agak lega. Tinggal mencari satu orang lagi untuk saksi. Yang terpikirkan adalah Mas Adit. Ya, dia juga melihat secara langsung bagaimana perlakuan Danang kepadaku. Akan kucoba nanti meminta bantuan dari Mas Adit. Semoga dia mau, harapku.
***
Setengah sepuluh malam, perlahan aku keluar kamar menuju kamar Santi dengan maksud ingin menemui Mas Adit.
"Mas, sibuk nggak?"
"Enggak sih. Ini mau pulang. Ngantuk banget ini tumben. Kenapa Na? Kangen?" Mas Adit mengedipkan matanya menggodaku.
"Mau minta tolong sih. Bukan kangen." aku cemberut.
"Ya sudah ayo ke kamar."
Mas Adit berdiri lalu menggandengku berjalan kembali menuju kamar.
"Ada apa?" tanyanya setelah duduk di kursi teras kamar kosku.
"Aku butuh saksi untuk sidang ceraiku. Mas mau nggak jadi saksi?"
"Hmm.. saksi ya?"
Mas Adit mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam kantung kemejanya, mengambil sebatang lalu meletakkannya di meja. Setelah itu menyalakannya dan menghisapnya dengan nikmat.
"Mau ya? Tolong aku." pintaku memohon.
"Aku sih mau. Tapi takut akan jadi masalah untukmu ke depannya. Tahu sendiri kan Danang kayak gitu."
"Tapi kan kamu juga menyaksikan gimana sikap dia ke aku. Masa iya dia akan mempermasalahkan?"
"Iya sih. Ya sudah aku mau."
Aku menarik nafas lega, akhirnya Mas Adit mau menolongku.
"Makasih ya Mas."
Kuambil rokok milik Mas Adit yang masih tergeletak menggoda di atas meja. Kunyalakan lalu menghisapnya dengan nikmat.
Malam itu kami habiskan dengan mengobrol tentang banyak hal. Termasuk masa lalu ketika aku belum menikah dan kami sering menghabiskan waktu bersama.
Percakapan kami terhenti saat jam menunjukkan pukul dua belas tepat. Mas Adit segera pamit karena esok pagi-pagi sekali ada kegiatan yang tidak dapat dia tinggalkan.
Malam ini aku agak sedikit bernafas lega karena salah satu beban pikiranku berkurang. Semoga satu persatu segera selesai dan aku bisa memulai hidup baru bersama Dewa. Kupeluk erat Dewa dan segera menyusulnya ke alam mimpi.
Tok tok tok..
Sayup kudengar suara ketokan di pintu kamar kos. Kutajamkan pendengaranku. Suara ketukan itu terdengar lagi. Kulirik jam di dinding. Pukul dua, artinya baru sekitar satu setengah jam aku tertidur. Suara ketukan masih terdengar, namun aku semakin ragu untuk membukanya. Beruntung lampu kamar selalu dalam keadaan mati, jadi gerakanku saat ini tidak dapat terlihat jelas oleh si pengetuk pintu. Kuputuskan untuk mengabaikan saja ketukan itu.
Tok tok tok tok...
Kali ini ketukan terdengar semakin keras.
__ADS_1
Mengendap aku mendekati jendela untuk mengintipnya....