Janitra

Janitra
Bab 49


__ADS_3

"Nala, Sita, tolong ke ruangan ya."


Kuteguk lemontea hangat kesukaanku sebelum berdiri mengikuti Sita masuk ke ruangan Mas Rio. Cuaca yang tidak menentu akhir-akhir ini, membuat daya tahan tubuhku menurun. Seperti pagi ini, mulai terasa sakit untuk menelan.


"Barusan fans berat Nala telepon saya. Minta kita menangani proyeknya lagi."


Kutatap tajam Mas Rio yang cengengesan berdua dengan Sita.


"Terus?" Kulipat kedua tanganku dan memasang wajah cemberut.


"Kamu yang pegang." jawabnya enteng dengan wajah tak berdosa.


"Plis deh, Pak."


"Plis deh, Na... Mereka maunya sama kamu."


Mas Rio dan Sita memandangku harap-harap cemas. Dengan terpaksa, kuiyakan.


"Heran akutuh, kenapa yang ngejar aku jenis-jenis buaya semua."


"Sabar Na, semoga suatu saat ada laki-laki baik hati, setia, tanggung jawab yang meminangmu." Sita mengelus pundakku.


"Semua Na?" tanyanya sambil membelalakkan mata.


Aku mengulum senyum karena sejujurnya aku lupa, status kami tetap sepasang kekasih hanya bedanya saat di kantor kami tetap bersikap biasa.


"Pak Rio kenapa nanyanya gitu?" Sita berusaha menyelidik.


"Tanya aja sama Nala." Mas Rio mengedikkan bahu.


Buru-buru aku menggelengkan kepala. Awalnya aku hendak menjawab tidak ada hubungan apa-apa, namun melihat raut wajah Mas Rio segera kuurungkan.


"Iya, aku sama Pak Rio ada hubungan spesial, tapi kamu nggak usah bilang siapa-siapa ya, Sit." ujarku lirih.


"Waaaahh kok nggak bilang-bilang sih??? Selamat yaaa... Semoga kalian cepet nikah."


Mendengar Sita berteriak, spontan aku dan Pak Rio meletakkan telunjuk di depan bibir kami masing-masing.


"Ssstt..."


"Eh iya, maaf. Seneng banget aku." Sita menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah sana kalian kembali ke ruangan, nanti pulang kantor ikut saya, kita makan dulu."


"Serius pak? Asiiiikkkk..."


Aku mendorong Sita untuk segera keluar dari ruangan Pak Rio dan kembali melanjutkan pekerjaan kami masing-masing.


***


"Mas Rio... Kamu bener Mas Rio kan?"


Seorang perempuan langsing bermakeup tebal mendatangi meja kami.


"Iya. Maaf siapa ya?"


"Aku Karin, masa mas lupa sih."


"Oh iya. Karin. Bukannya kamu di Jakarta ya?"


"Iya Mas. Tapi kemarin aku pulang karena Papi sakit."


"Oh." Mas Rio menjawab dengan singkat.


"Kamu kesini sama siapa Mas?"


"Kenalkan. Ini Nala, calon istriku dan ini Sita, sahabatnya."


Perempuan yang bernama Karin menghadapkan wajahnya ke arahku dan Sita. Lalu kami sama-sama terkejut.


"Nala..."


"Karin..."


"Ehm... Kalian sudah saling kenal?"


"Iya Mas. Jadi dulu kita sering ke cafe yang sama. Dulu juga kayaknya Nala pernah kerja sama Pak Baroto. Ohya kabar calon suami kamu gimana, Nala?" Rentetan jawaban mengalir dari bibir berwarna merah menyala milik Karin.


Kuhela napas panjang. Tidak heran dengan sikap dia karena sejak dulu, dia tampak tidak suka padaku bahkan beberapa kali berusaha menarik perhatian dari a'Ardan.


"A'Ardan? Bukannya kamu juga punya nomor ponselnya? Coba tanya aja sendiri." kuberikan senyum termanis dan bersikap setenang mungkin walau ada kemungkinan dia akan berusaha menjatuhkanku di depan Mas Rio.


Seorang pelayan datang membawakan makanan dan minuman pesanan kami sehingga percakapan kami terhenti.


"Karin, kami mau makan dulu." Mas Rio mengusir Karin dengan halus. Untung kali ini dia memahami dan segera berlalu.


Kami makan dalam diam. Bukan menikmati, namun sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa kali Sita mencoba mencairkan suasana, namun tak lama keheningan menyelimuti kami lagi. Kupergoki Mas Rio tampak menatapku dengan tatapan yang tak dapat kuartikan.


Akhirnya acara makan berakhir. Kami berpisah di parkiran. Sita langsung pulang menggunakan motor kesayangannya, sementara aku diantarkan pulang oleh Mas Rio.


"Jemput Dewa dulu?" Mas Rio bertanya namun matanya tetap fokus pada jalan di depannya.


"Nggak, Mas. Tadi dia ikut temannya pulang. Katanya mau diajak makan, acara ulangtahun nanti diantar pulang ke kost."


"Masih ada waktu untuk ngobrol?"

__ADS_1


Kulirik jam di pergelangan tanganku. Setengah enam sore.


"Masih, Mas. Mau ngobrol dimana?"


Mas Rio hanya melirik, tidak menjawab pertanyaanku namun laju kendaraan melambat lalu berhenti di sebuah lahan kosong yang kami lalui.


"Setahuku, Baroto adalah salah satu pemilik hotel dan juga bisnis lendir yang berkedok tempat pijat, biasa memasang iklan di koran lokal sekian tahun yang lalu. Benar itu Baroto yang tadi Karin maksud?"


Mobil baru saja berhenti saat Mas Rio memberiku pertanyaan yang sulit kujawab. Lidahku terasa kelu. Bertahun-tahun aku mencoba menutup lembaran kelam hidupku, kini tiba-tiba aku harus kembali mengoreknya.


"Jawab, Na!" Mas Rio menggenggam erat setir di hadapannya sampai kukunya tampak memutih.


"Pertanyaan kedua, siapa Ardan?"


Dadaku semakin terasa sesak.


"Pertanyaan ketiga, benar kamu dan Karin dulu sering bertemu di cafe? Dugem? Mabuk?"


Gelap sudah menyapa, namun aku tetap diam membisu. Bukan tidak ingin jujur, namun semua pertanyaan itu akan membuka semua lembaran kisah laluku di saat aku ingin menutupnya rapat-rapat dan menjalani hidupku yang sekarang dengan Dewa, putraku semata wayang.


"Na, jawab!! Aku bisa mencari tahu sendiri namun aku ingin mendapat jawaban dari kamu sekarang."


"Untuk apa, Mas? Sepenting apa masa laluku?"


"Seperti yang pernah kuucapkan pada Karin, kamu calon istriku. Aku berhak tau semua tentangmu."


"Cukup kamu tau tentang kehidupanku saat ini. Aku hanya karyawan biasa, ibu dari seorang anak, aku nggak pernah macam-macam apalagi sampai bohongi kamu."


"Aku juga berhak tau tentang masa lalumu, Nala."


"Aku juga berhak untuk tidak menjawab."


"Baik. Aku akan mencari tahu sendiri. Dan jangan salahkan aku jika aku lebih percaya info dari informanku tanpa aku kroscek ke kamu lagi."


"Lebih percaya orang lain daripada aku?"


"Na, saat ini aku memberimu kesempatan. Aku lebih percaya kamu, Na. Tolong jawab. Hanya agar aku bisa membelamu jika suatu saat nanti Karin menjelekkanmu. Tolong jawab, Na. Hanya itu saja yang kutanyakan."


Mas Rio menghadapkan tubuhnya ke arahku lalu memaksaku menatap matanya.


"Jawab, Na. Benar Baroto yang itu? Siapa Ardan? Benar kamu dulu sering ke cafe?"


"Iya, Baroto yang itu. Ardan hanya seseorang di masa laluku. Aku dan Karin dulu beberapa kali bertemu di cafe. Sudah kujawab semua. Tolong antarkan aku pulang. Kalau mas nggak mau, biar aku pulang sendiri. Besok mungkin aku ijin tidak masuk atau jika harus mengundurkan diri, akan kukirimkan surat pengunduran diri secepatnya lalu menghilang dari hidupmu selamanya."


"Ngelantur kamu! Urusan kita belum selesai, Na."


"Apalagi Mas? Aku sudah menjawab pertanyaanmu."


"Berapa lama kamu bekerja dengan Baroto? Sedekat apa kamu dengan Ardan? Seberapa sering kamu mabuk?"


"Mas tadi bilang, hanya butuh jawaban dari tiga pertanyaan yang tadi. Sudah kujawab, kan? Sekarang aku mau pulang."


Kubalikkan tubuhku berniat membuka pintu, namun aku kalah cepat. Mas Rio lebih dulu mengunci sebelum aku berhasil membuka pintu mobilnya.


"Kuantarkan pulang, Na."


"Makasih, maaf merepotkan."


"Na, tolong bersikaplah biasa."


"Aku siap kok jika Mas mau mengakhirinya."


"Siapa yang mau berakhir, Na? Kita tetap bersama. Tapi maaf, jika mungkin sikapku akan sedikit berubah."


"Maksud mas?" aku memicingkan mata.


"Sepertinya aku akan lebih menjaga kamu daripada sebelumnya."


"Menjaga bagaimana Mas? Toh kamu tau keseharianku. Kurang apa lagi?"


" Setiap hari aku yang akan mengantar jemput kamu dan Dewa."


"Aku keberatan, Mas. Gimana kalau kamu masih ada pekerjaan sementara aku harus segera menjemput Dewa. Sesekali saja kamu antar jemput aku, tapi nggak perlu antar jemput Dewa juga."


"Sepertinya kamu keberatan jika aku mulai mendekati Dewa. Sudah ada kandidat lain?" Mas Rio tersenyum sinis.


"Ya ampun. Baru tau sepenggal masa laluku saja kamu sudah seposesif ini. Pokoknya aku nggak mau kamu antar jemput setiap hari."


"Aku nggak menerima penolakan, Na."


"Kalau mas nggak bisa percaya aku lagi, untuk apa kita teruskan? Kita pisah saja."


"Aku nggak suka diputuskan."


"Oke. Putuskan aku kalau begitu."


"Keras kepala, kamu!"


"Carilah perempuan yang bisa kamu atur dan memiliki masa lalu yang baik. Tolong bukakan pintu, aku mau pulang. Kasihan anakku."


"Kuantar pulang sekarang."


Mas Rio melajukan mobilnya dengan cepat. Kebisuan menyelimuti kami.


Sesekali kulirik pria tampan berkacamata di sampingku.

__ADS_1


'Andai aku boleh memilih, aku akan meminta lahir di sebuah keluarga harmonis, memiliki jalan hidup yang mulus bukan penuh onak dan airmata, Mas. Bukan aku menutupi masa laluku, namun aku sendiri muak dengan kehidupanku di masa lalu. Maafkan aku, Mas.' bisikku dalam hati.


Kugigit bibir menahan butiran bening yang hendak mengalir. Kubuang pandanganku ke jendela sebelah kiriku, menatap lampu-lampu jalan yang semakin mempercantik tampilan kotaku di malam hari.


Lirih kudengar lagu dari radio yang selalu didengarkan untuk menemani perjalanan kami. Pelan kuikuti liriknya.


Tak ada kisah tentang cinta yang bisa terhindar dari airmata.


Namun kucoba menerima hatiku membuka, siap untuk terluka.


Tanpa kusangka, Mas Rio melanjutkan liriknya.


Cinta tak mungkin berhenti, secepat saat aku jatuh hati.


Jatuhkan hatiku kepadamu, sehingga hidupku pun berarti.


Mobil berhenti di depan kostku tepat saat Mas Rio menyelesaikan lirik itu.


"Makasih, Mas sudah antar aku. Aku turun dulu."


"Besok kujemput jam enam, Na. Aku nggak menerima penolakan."


"Terserah Mas."


"Istirahat ya, Na."


Mas Rio meraih kepalaku, dan mencium keningku.


***


Tok tok tok...


Sayup kudengar suara ketukan di pintu kamar yang semakin keras.


"Na..." Suara Santi pelan menyapa gendang telingaku.


Perlahan aku membuka pintu.


"Ada apa?"


"Ada yang nyari kamu."


Santi berlalu menuju kamarnya. Sosok a'Ardan ternyata berdiri di belakang Santi.


"Ada apa a? Jam berapa ini?"


"Dek, Mama sakit. Mama nyari kamu. Tolong, dek ikut a'a ketemu Mama sekarang."


"Besok pulang kerja aku jenguk Mama. Malam ini nggak bisa, Dewa sudah tidur lagipula ini sudah malam sekali."


"Baru jam sembilan lewat, dek. A'a mohon, temui Mama sekarang."


Kulirik jam di dinding kamarku. Benar baru jam sembilan lebih, berarti belum ada satu jam aku terlelap.


"Mama sekarang di rumah sama siapa?"


"Mama di rumah sakit."


"Jam besuk sudah lewat. Besok saja aku jenguk."


"A'a mohon, dek." a'Ardan mengacak rambutnya frustasi.


"Ya sudah, aku ganti baju dulu." putusku kemudian.


Beberapa menit kemudian, kami sudah sampai di sebuah ruangan VVIP yang ditempati Mama Euis. Selang infus dan oksigen terpasang di tubuhnya. Sesekali terdengar Mama Euis memanggil namaku. A'Ardan menarikku mendekat pada brankar Mama Euis.


"Ma, ini Nala disini." Aku berbisik di telinganya.


"Na, kamu kemana aja? Nggak pernah ke rumah lagi."


"Iya, Ma. Maaf, Nala agak sibuk akhir-akhir ini. Mama lekas sehat ya."


"Kapan kalian menikah? Biar kamu nggak usah kerja lagi, Na. Biar a'a yang cari uang, kamu di rumah saja temani Mama."


Mama Euis meraih tanganku dan a'a, lalu menyatukannya di atas perutnya.


Kutatap a'Ardan, berharap dia mau membantuku menjawab pertanyaan dari Mama Euis.


"Mama harus sembuh dulu baru bahas lain-lain." A'Ardan menjawab setelah sekian lama kami sama-sama diam.


"Iya deh, Mama bakal cepet sembuh."


"Ma, sudah malam. Nala pulang dulu ya?"


"Nala nggak temani Mama disini?" Mama Euis tampak kecewa.


"Biar Nala pulang dulu Ma. Kasihan kalau disini nanti kecapekan. A'a saja yang jaga Mama malam ini ya?" Lagi-lagi a'Ardan yang memberi jawaban.


Kucium kedua pipi Mama Euis dan punggung tangannya sebelum melangkah keluar ruangan.


"Aku pulang sendiri saja, a'. A'a temani Mama saja."


"Ini sudah malam, dek. Biar a'a antar."


"Nala biar saya yang antar." Sebuah suara yang tidak asing menyapa telingaku.

__ADS_1


__ADS_2