Janitra

Janitra
Bab 9


__ADS_3

Paginya, sesuai prediksi aku terbangun jam sembilan. Kucek gawaiku, beberapa sms dan panggilan tidak terjawab dari Bang Rico. Kutekan nomor Bang Rico.


"Bang, maaf aku baru bangun."


"Iya dek. Abang ada meeting. Kondisi adek bagaimana pagi ini?"


"Sudah agak enak sih Bang. Tapi masih pusing."


"Abang suruh teman untuk kirim makanan. Bubur ya? Nanti siang makan bareng abang, lalu kita periksa."


"Nggak usah periksa, Bang. Nggak usah kirim makanan juga. Adek habis mandi nanti keluar kost sebentar."


"Jangan bantah. Tunggu saja di kost. Nanti teman Abang kesana. Abang meeting dulu. Kabari kalau ada apa-apa atau butuh apa-apa."


"Ya Bang, terima kasih."


Tok tok tok...


Ketukan di pintu kamar terdengar lirih.


"Na...sudah bangun belum?"


Kubuka pintu, ternyata Mbak Lina membawa nampan berisi susu cokelat dan setangkup roti tawar dengan isian telur mata sapi.


"Ini dari Bu Kost. Untuk sarapan kamu, katanya."


"Duh repot-repot. Maaf ya mbak malah merepotkan."


"Enggak repot. Kita kan satu keluarga disini. Yuk sarapan dulu habis itu minum obat."


"Aku ke kamar mandi sebentar, Mbak."


"Ya sudah sana. Ini kasurmu biar kurapikan ya."


Aku mengangguk mengiyakan. Dalam hati aku bersyukur, sekalipun aku seperti kehilangan keluarga setelah Mama meninggal namun Tuhan selalu menempatkan orang-orang baik di sekelilingku.


Keluar dari kamar mandi, ada tamu yang mencariku. Ternyata teman Bang Rico mengantarkan bubur ayam. Bukan hanya satu porsi, namun lima porsi sesuai dengan jumlah penghuni rumah kost ini.


Kubawa bungkusan itu masuk untuk kumakan bersama teman-teman kost lainnya.


"Wah, Nala sakit malah kita yang dapat rejeki. Hahaha." Celetuk mbak Dwi, mahasiswi fakultas ekonomi.


Pagi itu kami menghabiskan sarapan dengan obrolan-obrolan santai penuh keakraban.


Gawaiku berdering. Tertera nama SITI di layarnya. Terpaksa kuangkat meskipun enggan.


"Ada apa, Ti?"


"Lagi dimana mbak?"

__ADS_1


"Di kost. Kenapa?"


"Anu mbak... Sms Budhe Ratih kok nggak dibalas?"


"Aku nggak enak badan, belum sempat cek pesan masuk. Memangnya ada apa?"


"Kalung eyang hilang. Kata eyang ditaruh di meja rias di kamarnya."


"Lho? Aku ya nggak tahu wong aku kemarin kesana cuma nyuci baju, lalu ambil baju eyang yang ada di tumpukan baju di meja setrika, nyapu, ngepel tapi nggak masuk ke kamar eyang. Coba diingat-ingat lagi taruh dimana. Yang jelas kemarin aku nggak masuk kamar eyang."


Kumatikan panggilan dari Siti. Lelah, sangat lelah. Ada rasa sesal kenapa aku waktu itu mengiyakan permintaan Eyang untuk menginap disana, hingga berujung masalah demi masalah yang sebenarnya tidak kulakukan.


[FLASHBACK OFF]


Mentari sudah menunjukkan wajahnya cerahnya, masuk ke kamar melalui sela-sela jendela. Kulihat Dewa masih terlelap padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Sebelum dia terbangun, aku berencana membuat sarapan nasi goreng margarin kesukaannya. Pelan-pelan aku keluar kamar agar Dewa tidak terbangun.


Aroma harum margarin dan bawang menguar, membuat Dewa terbangun dan langsung mencariku.


"Bunda masak apa?"


"Nasi goreng kesukaanmu. Tunggu sebentar ya. Sebentar lagi selesai, kita mandi lalu sarapan bersama."


Dewa mengangguk, dengan sabar menungguku di kursi yang kuletakkan di depan kamar.


Selesai mandi, kupakaikan seragam sekolahnya dan kusuapi. Hari ini rencananya mulai masuk sekolah lagi setelah beberapa hari ijin. Karena aku juga harus menemui klien. Sejak kecil, Dewa memang kutitipkan di full day school selama aku harus bekerja.


"Oke Bunda." Jawab Dewa sambil mengangkat kedua ibu jarinya.


***


Di sekolah


"Bu, nitip Dewa ya. Nanti saya yang jemput, mungkin agak sedikit terlambat setengah jam karena saya ada urusan penting."


"Baik, Bu. Tapi kalau bisa tolong jangan terlalu lama, Bu. Atau mungkin kalau ayahnya sedang tidak sibuk, bisa diminta tolong untuk menjemput Dewa."


"Maaf Bu, saya dan ayahnya sudah berpisah. Sampai ada keputusan pengadilan, Dewa akan terus bersama saya. Jadi saya mohon dengan sangat, Ibu mendukung demi kesehatan mental Dewa juga."


"Maaf bukan mau ikut campur, tapi apa tidak kasihan jika masih sekecil Dewa sudah kehilangan kasih sayang orangtuanya. Seharusnya kan dia bertumbuh dalam sebuah keluarga."


"Saya justru sangat kasihan jika dia harus melihat seorang pengangguran, pemabuk, pelaku KDRT dan peselingkuh lalu alam bawah sadarnya merekam dan kelak ketika dewasa dia melakukan hal yang sama pada anak istrinya. Saya permisi dulu."


Kutinggalkan Bu Eny yang tampak masih ingin bercerita panjang lebar tentang rumah tangga yang harmonis. Di halaman sekolah aku bertemu mas Aditya yang juga mengantar putrinya.


"Udah masuk sekolah?"


"Iya, Mas. Tapi ini aku nanti agak terlambat jemputnya. Mas bisa nggak nanti bantu awasin bentar. Aku habis ngobrol sama Bu Eny, malah disuruh nggak pisah. Nggak tau aja dia aku disundut rokok, ditabrak motor, ditendang, dilempar kursi sama helm."

__ADS_1


"Iya udah nanti kuawasi. Kamu mau berangkat sekarang? Kuantar yuk."


"Ngerepotin nggak nih?"


"Dari sejak SMA juga kamu selalu ngerepotin aku kan? Hahaha."


Mas Adit setengah berlari menuju mobilnya, menghindar dari cubitanku.


Di kantor


"Suami baru? Kenapa nggak dari dulu aja?" Sita langsung memberondongku dengan pertanyaan.


Bermaksud menggodanya, aku senyum-senyum sambil mengangkat alis.


"Wiihh Nala udah resmi cerai, barusan diantar suami baru lho." Teriak Sita memberi pengumuman untuk seluruh penghuni ruangan yang langsung disambut teman-teman lain.


"Resmi cerai? Cepet banget? Kan baru tiga hari yang lalu kayaknya masih drama. Hahaha." Celetuk Rini.


"Hish... Kerja kerja.. Ghibah aja kalian. Hahaha."


"Tuh kan, lihat aja deh auranya beda. Pasti lagi jatuh cinta." Sita masih saja terus penasaran.


"Itu tadi temen lama. Aku udah pisah sama suami. Drama kemarin semoga benar-benar yang terakhir dan ke depannya aku sama Dewa bahagia selamanya."


"Aamiin..." Serempak teman-teman mengamini.


"Eh, satu pertanyaan dong. Itu tadi calon suami?"


"Hahaha. Bukan. Itu tadi temen lama."


"Syukurlah..." Celetuk Pak Rio yang tiba-tiba keluar dari ruangannya mengejutkan kami.


"Eh Pak.. maaf saya agak kesiangan."


"Ya sudah nggak apa-apa. Selamat bekerja teman-teman semua. Nanti siang, kita makan siang bersama di restoran langganan saya."


"Acara apa Pak?"


"Syukuran..."


"Syukuran apa?"


"Mmm...syukuran saja lah pokoknya. Semoga kita semua selalu bahagia dan dalam lindungan Tuhan." Pak Rio menggaruk kepalanya yang kuyakin tidak terasa gatal dan tampak bingung menjawab.


Pak Rio kembali ke ruangannya sementara aku berjalan menuju mejaku. Entah mengapa, hari ini terasa ringan langkahku. Seperti tanpa beban dan bayangan ketakutan seperti hari-hari yang lalu.


Kunyalakan komputer di mejaku. Kupandangi foto Dewa yang sedang tersenyum manis. Ada sedikit perasaan tidak enak yang menyergap. Namun segera kutepis, semoga hanya ketakutanku saja. Aku yakin, Dewa baik-baik saja.


Tentang perpisahan ini, ada sedikit rasa sesal. Kenapa tidak kulakukan sedari dulu. Hanya karena ketakutan-ketakutan yang tercipta karena ancaman-ancamannya. Sekalipun stigma janda buruk di mata masyarakat, namun aku akan membuktikan bahwa aku bisa mendidik dan menghantarkan anakku meraih kesuksesannya.

__ADS_1


***


Aminin dong kalau ada doa baik... Semoga Dewa kelak jadi anak yang baik, cerdas, berbakti, bertanggung jawab dan setia...


__ADS_2