
Kutatap kepergian Danang dari jendela. Rasa benciku padanya semakin besar. Niatku untuk berpisah semakin bulat. Aku tidak mungkin menghabiskan sisa usiaku dengan laki-laki sebrengsek Danang. Tanpa terasa airmataku menganak sungai. Lagi-lagi, aku merindukan sosoknya, Bang Rico.
***
Hari ini menurut dokter aku diijinkan pulang. Seminggu aku di rumah sakit, seminggu pula teman-temanku bergantian menjagaku.
Kucoba beberapa kali menghubungi Danang namun nihil. Tidak satupun panggilanku diresponnya.
"Rin, bisa tolong temani aku ke bagian keuangan?"
"Mau ngapain?"
"Bayar rumah sakit lah..."
"Sudah, tenang saja. Sudah lunas."
"Jangan becanda, kamu."
"Ada orang baik yang melunasinya."
"Siapa? Aku harus bilang makasih lho."
"Katanya cukup doakan saja dan teruskan kebaikan itu pada orang lain."
Semua barang sudah dibereskan oleh Rina, kami tinggal menunggu dijemput oleh Mbak Hani.
"Kuantar ke kost kan?" tanya Mbak Hani setelah kami semua berada di mobilnya.
"Enggak mbak.. ke kostku saja. Aku punya kost sendiri kok. Tapi tolong jangan bilang Danang ya?"
"Na, maaf, mau sampai kapan kamu seperti ini? Kamu berhak bahagia."
"Aku sudah memikirkannya mbak, secepatnya aku akan berpisah."
"Sabar ya Na, yang ikhlas jalani hidupmu." Mbak Hani menguatkanku.
Setelah makan malam bersama Rina dan Mbak Hani, aku diantarkan ke kostku. Jika dibandingkan dengan kost yang kutempati bersama Danang, jauh sekali perbandingannya. Disini sudah disediakan kasur yang layak, lemari, ada pesawat televisi dan juga dapur umum lengkap dengan kulkas dan peralatan masak yang lengkap.
Sepulangnya Mbak Hani dan Rina, kunonaktifkan gawaiku. Aku sudah berpesan pada mereka, jika Danang mencariku, bilang saja tidak tahu. Aku ingin tenang mungkin sehari atau dua hari ini.
***
Hari ketiga aku keluar dari rumah sakit, aku masih berada di kostku. Rencana pagi ini aku akan berangkat kerja walau badan masih terasa lemas namun tidak enak karena sudah banyak ijin.
"Nalaaaa...udah sehat? Kok udah masuk?" Rina menyambutku saat melihatku turun dari taksi.
"Mendingan sih... Kangen juga suasana kantor."
Kuaktifkan gawaiku, tidak satupun pesan atau panggilan dari Danang masuk. Aku tersenyum miris. Masih sering terpikirkan olehku, kenapa dulu Danang ngotot menikahiku, jika setelah menjadi istrinya, dia tidak pernah memperlakukanku selayaknya seorang istri.
***
Seminggu berlalu, tubuhku masih sering lemas dan pusing.
"Kamu masih lemes aja Na.." tegur Mbak Hani saat kami keluar dari ruangan meeting.
__ADS_1
"Nggak tahu, mbak. Efek haid mungkin ya. Aku seminggu ini flek-flek terus."
"Flek aja Na? Nggak keluar seperti biasa?"
Aku menggeleng. Percakapan terhenti karena kami sama-sama masih memiliki pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
Jam pulang kerja, Rina menghampiriku. Katanya aku dipanggil Mbak Hani, disuruh menunggu sebentar karena akan diajak ke suatu tempat.
Setengah tujuh malam, kami sampai ke sebuah klinik. Mbak Hani mendaftar pasien atas namaku. Tak lama menunggu, namaku dipanggil. Mbak Hani dan Rina juga ikut menemaniku masuk.
Dari serangkaian pemerikaan, aku dinyatakan positive hamil. Spontan aku menangis kalut. Dokter wanita yang seusia Mamaku, Mbak Hani dan Rina berusaha menenangkanku. Rusak semua rencanaku untuk segera menggugat cerai Danang. Ah bodohnya aku, tidak meminum pil kb dan percaya begitu saja bahwa Danang menggunakan pelindung.
Jam di tanganku menunjukkan pukul sembilan malam saat kami keluar dari klinik tersebut. Aku minta diantarkan langsung ke kosku, bukan kos Danang.
Kuhabiskan waktu semalam suntuk untuk menangisi nasibku, dan merutuki kebodohanku. Di satu sisi aku menyesali kehamilanku, sementara di sisi lain aku bahagia akan memiliki seorang anak dari rahimku.
Sejak saat itu aku mulai memperhatikan asupan nutrisiku, semua vitamin dari dokter kuminum rutin.
***
Danang pulang di minggu ketiga setelah aku keluar dari rumah sakit. Aku sedang menghabiskan susu kehamilan saat Danang pulang.
"Kamu hamil?"
"Iya..."
"Anak siapa?"
"Kamu pikir aku serendah itu sampai kamu nanya ini anak siapa?"
"Mengabari kamu? Untuk apa? Kamu paling nggak angkat teleponku. Sibuk dengan pacarmu kan?" tanyaku sinis.
"Jadi itu anak siapa?"
"Anak kamu lah!!!"
"Gugurkan! Aku belum siap punya anak."
"Siap nggak siap, anak ini sudah hadir. Aku nggak mau menggugurkannya."
Bruk...
Kaki Danang melayang mengenai pipiku sampai aku jatuh ke belakang. Untung saja aku duduk di lantai dan belakangku ada bantal besar. Namun perutku tiba-tiba terasa nyeri, dan mataku seperti ada kilatan saat Danang menendangku tadi.
Setelahnya Danang pergi lagi entah kemana, meninggalkanku sendirian menahan sakit. Kuatur posisi tidurku senyaman mungkin.
Sejam kemudian Danang kembali dengan sikap yang seolah tidak terjadi apapun tadi.
Sejak hari itu, Danang jarang bepergian sampai berhari-hari. Saat kutanyakan, dia bilang ingin menemaniku saja. Jujur jawabannya justru membuatku curiga. Terlebih dia tidak pernah membahas kehamilanku lagi. Malah kadang dia mengingatkanku meminum vitamin. Padahal sebelumnya dia menolak kehadiran anak ini.
***
Semalaman perutku nyeri hebat, tidak hanya itu, keluar bercak darah juga di pakaian dalamku.
Perasaanku mengatakan ada yang tidak beres. Namun jika aku meminta tolong Danang sepertinya bukan solusi yang baik. Tertatih aku memaksakan diri berjalan ke ujung gang lalu menghubungi Rina, memintanya menjemputku. Melihat kondisiku, Rina langsung melarikanku ke rumah sakit. Dan lagi-lagi aku harus istirahat total karena kondisi kandunganku lemah. Dokter memberiku beberapa pertanyaan tentang aktivitas yang kulakukan, makanan dan minuman yang ku konsumsi. Kecurigaanku mengarah pada Danang. Sepintas aku ingat, semalam aku sangat lelah hingga lupa meminum vitamin dari dokter. Entah pukul berapa, Danang membangunkanku untuk minum vitamin. Kuambil vitamin dari tangannya tanpa mengecek lagi apakah benar itu vitamin milikku dari dokter. Lalu menjelang subuh, aku merasa perutku sangat sakit.
__ADS_1
Setelah dokter selesai memeriksaku, aku menghubungi Danang.
"Kenapa Na?"
"Aku di rumah sakit."
"Ya sudah..sabar saja.. mungkin Tuhan memang belum mengijinkan kita memiliki anak."
"Maksudmu?"
"Kamu keguguran kan?"
"Enggak..kandunganku baik-baik saja tapi aku harus istirahat total. Aku mau hubungi Pakdhe dan Budhe dan menceritakan semua kondisi rumah tangga kita termasuk kamu yang menolak anak ini dan berusaha mengganti vitaminku dengan obat peluruh kandungan. Aku juga akan meminta cerai secepatnya."
"Jangan gegabah kamu! Sebentar lagi aku kesana. Kita bisa bicarakan baik-baik."
Tidak sampai setengah jam, Danang sampai depan ruanganku.
"Kamu sudah telepon pakdhe?"
"Belum. Nunggu kamu sampai sini biar kamu juga dengar."
"Ya sudah kita besarkan anak ini, Na. Tapi aku sekarang sudah tidak kerja."
"Kenapa? Dipecat?"
"Bukan. Aku mengundurkan diri. Bosan kerja."
"Kapan kamu bisa dewasa sedikit?"
"Maksudnya?"
"Kamu sudah jadi seorang suami, tanggung jawabmu besar. Sebentar lagi kamu juga jadi seorang Bapak. Kamu harus jadi panutan yang baik. Cukuplah bermalas-malasannya."
"Nggak usah ajari aku tentang tanggung jawab, Na... Keluargamu saja tidak ada tanggung jawabnya. Dulu sebelum aku menikahimu, katanya mereka akan membantu masalah biaya hidup kita sehari-hari. Katanya hidup kita akan enak dibantu mereka. Nyatanya apa? Aku tetap harus bekerja keras kan sekalipun hanya untuk makanku sendiri."
Aku terkejut mendengar ucapan Danang barusan. Jadi keluargaku menjanjikan semua pada Danang??
"Brengsek kamu!!!"
"Bukan aku yang minta tapi keluargamu yang menawarkan!!" Danang masih berusaha membela diri.
"Secepatnya aku minta cerai!"
"Kupastikan kita tidak akan bercerai!"
Aku kalut, kulempar beberapa barang yang bisa kuraih ke arah Danang.
Ah, perutku terasa nyeri sekali. Kucari bel untuk memanggil perawat. Tak lama dua orang perawat masuk ke ruanganku.
"Mbak, tolong usir orang ini. Perut saya sakit sekali. Tolong mbak. Dia jahat, Mbak..."
Melihat kondisiku, seorang perawat memelukku, berusaha menenangkanku sementara rekannya berusaha meminta Danang untuk meninggalkan ruangan.
Aku menangis sejadi-jadinya. Namun semakin aku menangis, semakin terasa sakit perutku. Sampai mataku tiba-tiba terasa berat dan aku tertidur dengan lelap. Melupakan rasa sakit di hati dan perutku.
__ADS_1