Janitra

Janitra
Bab 20


__ADS_3

Aku semakin menyibukkan diri dengan berjualan makanan-makanan. Namun karena perutku semakin membesar, sekarang aku hanya membeli snack dalam kemasan besar lalu kubungkus kecil-kecil lalu kutitipkan ke warung-warung di sekitar kost. Lumayan hasilnya untukku makan sehari-hari. Aku semakin tidak peduli dengan Danang. Dia matipun mungkin aku justru akan mengadakan syukuran.


Pakdhe Nug masih rutin mengirimiku sembako dan uang yang langsung diterima oleh Danang dengan sukacita. Melihatnya aku semakin tidak respek.


Suatu sore aku baru selesai menyeduh susu kehamilan saat gawaiku berdering. Zia, anak pakdhe Nug yang seumuranku menelepon. Firasatku langsung tidak enak karena tidak biasanya dia menghubungiku.


"Na, kamu dimana? Lagi apa?"


"Lagi habis bikin susu. Kenapa Zi?"


"Duduk dulu deh."


"Iya, ini aku duduk kok. Ada apa Zi?"


"Bisa ke rumah Eyang nggak Na?"


"Ada apa memangnya?"


"Yaa ada hal penting. Sebentar lagi kujemput ya?"


Tak sampai setengah jam Zia menjemputku dengan mobilnya. Kulihat matanya sembab namun berusaha tetap tenang di depanku.


Aku terus mencecar pertanyaan, namun dia terus berusaha menghindarinya.


Semua pertanyaanku terjawab saat masuk ke perumahan Eyang terdapat bendera tanda berduka. Semakin yakin saat Zia mengajakku turun di depan gang.


"Eyang, Zi?"


Zia tidak menjawab namun memegangku semakin erat, seolah takut aku terjatuh atau kenapa-kenapa.


Tampak di depan rumah Eyang sudah siap tenda dan beberapa kursi yang disediakan untuk para pelayat.


Setengah berlari aku masuk ke dalam rumah. Beberapa putra putri dan cucu cucu eyang yang tinggal di kota ini sudah berkumpul mengelilingi peti jenazah Eyang. Aku berteriak histeris memanggil Eyang sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.


Danang, si pria penuh drama yang kulihat pertama kali saat aku membuka mata.


"Sabar ya sayang." kata Danang, namun kuabaikan.


Tertatih aku berjalan keluar kamar, kudekati peti jenazah Eyang.


Aku tidak mimpi, Eyang Sri sudah berpulang menyusul Mamaku. Duniaku seakan runtuh. Aku terpekur di depan peti. Kuabaikan rasa nyeri di perutku yang semakin lama semakin terasa seperti diremas. Zia datang menyodorkan segelas air mineral. Kuterima tanpa melihatnya.


"Na...ikhlas ya. Biar Eyang tenang di surga." bisiknya sambil mengelus perutku.


"Aku mau ikut Eyang sama Mama, Zi. Aku mau ikut Eyang sama Mama..." Aku menangis sambil terus mengulangi kalimat itu. Beberapa kakak sepupuku memeluk berusaha menenangkanku.


Karena masih harus menunggu putra putri Eyang yang berada di luar kota, pemakaman Eyang rencana akan dilaksanakan esok hari.


Malam harinya aku tidur di kamar Eyang Sri bersama dengan Zia. Kucium aroma khas Eyang yang masih menempel di bantal, guling dan kasurnya.


Sesuai rencana, jenazah eyang dikebumikan setelah semua putra putrinya berkumpul.

__ADS_1


Malam harinya, setelah doa bersama kami masih berkumpul di rumah Eyang. Kepergian Eyang yang mendadak tentu menjadi pukulan bagi kami - putra putri dan cucu-cucu Eyang.


Aku terus mengelus perutku yang terasa kencang.


"Kamu kenapa Na?" tanya Zia yang rupanya sedari tadi memperhatikanku.


"Capek kayaknya jadi agak kenceng."


"Tidur duluan aja sana. Mau tidur sama aku lagi di kamar Eyang?" Zia menawarkan dan langsung kuiyakan. Daripada aku harus tidur bersama Danang, pikirku.


Tiga hari aku menginap di rumah Eyang. Di hari keempat kepergian Eyang, aku pulang ke kost diantar Zia.


"Kamu benar nggak mau periksa dulu?"


"Bener kok. Nggak apa-apa ini, kecapekan saja."


Memang benar, aku merasa sangat lelah. Begitu sampai kost, aku langsung tertidur nyenyak dan terbangun tengah malam saat terasa ingin buang air kecil, namun dasterku sudah terasa basah. Kucium dasterku, tidak berbau pesing.


Kuambil gawaiku. Kucoba menghubungi Danang berkali-kali namun tidak diresponnya.


Kuganti dasterku, dan kukenakan jaket. Perlahan aku berjalan ke tempat kerja Danang. Jika sesuai jadwal, seharusnya malam ini jadwal Danang masuk kerja. Beruntung, ada Mas Toro, atasan Danang di dekat pos satpam.


"Lho mbak, ada apa?" tanyanya sambil mendekatiku.


"Perutku sakit, Pak. Danang kerja malam kan?"


"Hah? Sebentar kupanggilkan Danang. Kamu duduk disini dulu ya Mbak." Mas Toro menarik kursi dari dalam pos satpam untuk diberikannya kepadaku.


"Kenapa kamu?"


"Perutku sakit. Antar aku ke bidan."


Danang mengambil motornya lalu mengajakku pulang ke kost. Kukira hanya mengambil tas yang sudah kusiapkan, namun ternyata aku salah. Danang justru merebahkan tubuhnya di kasur, tak lama kemudian kudengar dengkuran halus.


Malas ribut, kuambil kunci motor, kulajukan motor Danang sambil menahan nyeri di perutku. Tujuanku adalah rumah Mbak Lia, anak budhe Ratih yang tak jauh dari kostku.


Kuketuk perlahan pintu rumah mbak Lia. Untungnya suami mbak Lia mendengar ketukanku.


"Kenapa Na?"


"Perutku sakit, Mas... Sepertinya mau melahirkan."


"Hah.. tunggu sebentar ya. Kupanggilkan Lia."


Mbak Lia keluar membawa segelas air putih hangat.


"Minum dulu dek. Kamu istirahat dulu, nanti dua jam lagi kita ke bidan ya."


Mbak Lia mengantarkanku ke kamar tamu yang sudah disiapkan oleh pembantunya.


Beruntung rasa sakit yang kurasakan tadi berangsur mereda. Aku bisa tidur walau sejenak.

__ADS_1


"Na, kamu pecah ketuban ya?" Mbak Lia membangunkanku.


"Apa itu mbak?"


"Ini basah daster dan seprei. Sejak kapan keluar ketubanmu?"


"Oh tadi jam setengah satu aku kerasa mau pipis, tapi dasterku sudah basah. Nggak tahu air apa soalnya nggak pesing. Berarti itu tadi ketuban, Mbak?"


"Duh, sekitar 4 jam yang lalu ya?"


Raut wajah Mbak Lia berubah panik dan langsung berlari memanggil suaminya.


"Ayo kita ke rumah sakit." ajak Mbak Lia.


"Bidan langgananku saja, Mbak."


"Ini di bidan kemungkinan ditolak, Na.. ketubanmu sudah banyak yang keluar. Sudah ayo kita ke rumah sakit."


Suami mbak Lia menyopir dengan kecepatan tinggi dan berhenti tepat di depan pintu masuk IGD rumah sakit langganan keluarga kami.


Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, aku didorong ke ruang bersalin.


Jika ibu hamil lain ditemani suaminya, aku harus bersyukur karena ditemani Mbak Lia dan suaminya.


Aku harus diinduksi, namun jika tetap tidak dapat lahir spontan maka opsi selanjutnya adalah persalinan secara operasi caesar.


Mas Widi, suami mbak Lia berkali-kali mencoba menghubungi Danang, namun tidak diangkat. Budhe Ratih, Pakdhe Nug dan keluargaku yang lain sudah berkumpul di rumah sakit. Hari sudah semakin siang, namun anakku masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera keluar. Aku sudah pasrah jika memang operasi merupakan jalan yang terbaik.


Senja hampir berganti petang, saat tiba-tiba perutku sangat sakit dan terasa ada yang akan keluar dari jalan lahirku. Aku berteriak memanggil bidan jaga. Ternyata benar, kepala bayiku sudah tampak.


Tak lebih dari sepuluh menit, lahirlah seorang bayi laki-laki tampan dengan suara tangis yang sangat kencang. Seluruh keluarga yang menunggui mengucapkan selamat padaku. Namun tak kulihat Danang berada di antara mereka. Tapi apa peduliku.


Setelah observasi beberapa jam, aku diperbolehkan pindah ke ruang rawat inap. Namun bayiku tidak bisa rawat gabung karena harus masuk ke inkubator terlebih dahulu.


"Danang mana ini? Anak pertama kok nggak nungguin?" tanya Budhe Ratih.


"Barusan kutelpon, katanya sedang dinas luar kota. Tapi besok sudah sampai sini kok." Pakdhe Nug yang menjawab.


"Oalah... Ya sudah namanya tuntutan kerja. Kamu jangan marah sama suamimu ya, Na..." Budhe Ratih menasehatiku.


Aku, mbak Lia dan Mas Widi saling melempar pandang. Karena mereka tahu, sebenarnya Danang sedang tidur seharian di kost.


"Sudah siapkan nama?" Kali ini Zia yang bertanya.


"Sudah... Dewandaru. Artinya Tuhan yang memberi wahyu dan kebahagiaan."


"Wah bagus namanya. Budhe doakan semoga kelak jadi laki-laki yang bertanggung jawab, sukses dan selalu membanggakan orangtua."


Kami semua mengaminkannya. Lalu mas Widi membisikiku,"Semoga tidak seperti bapaknya..."


Kali ini hanya aku dan Mbak Lia yang mengaminkannya. Karena tidak mungkin berkata begitu di depan Budhe Ratih dan Pakdhe Nug yang masih menganggap Danang sebagai laki-laki yang sangat baik, dan bertanggung jawab.

__ADS_1


__ADS_2