Janitra

Janitra
Bab 34


__ADS_3

Baru saja akan beranjak dari kursiku untuk pergi makan di warung makan langganan karena kebetulan aku tidak membawa bekal, saat ponselku berdering dengan nyaring. Segera kuambil ponselku dari dalam tas.


Pakdhe Nug


Aku kembali menjatuhkan tubuh ke kursiku, dan dengan enggan mengangkat panggilan dari Pakdhe.


"Selamat siang, Pakdhe..." sahutku berusaha sopan.


"Nala, Pakdhe dengar kamu menggugat cerai Danang ya?"


"Iya Pakdhe."


"Kenapa harus cerai? Apa nggak bisa dibicarakan baik-baik. Ini karena Danang tidak bekerja? Yuk kita ketemuan, Pakdhe beri modal, cari tempat untuk Danang usaha."


"Nggak usah, Pakdhe. Terima kasih. Saya sudah cukup bersabar menghadapi Danang. Ijinkan saya mencari kebahagiaan bersama Dewa."


"Kamu jangan egois. Dewa butuh figur bapak juga. Kasihan kalau nanti jadi broken home."


"Aku nggak akan biarkan Dewa menjadi anak broken home, Pakdhe. Dewa tidak butuh figur bapak yang malas bekerja, hobi mabuk dan tega memukul ibunya."


"Kamu jangan fitnah suamimu sendiri, Nala."


"Maaf Pakdhe, Nala mau makan siang dulu, takut waktu istirahat habis."


Kututup panggilan sepihak. Kuatur nafas agar emosiku mereda.


"Pakdhemu lagi?" Sita bertanya hati-hati.


"Iya. Kenapa sih mereka selalu berpikir bahwa mempertahankan pernikahan tetap terbaik untuk anak. Padahal belum tentu semua rumah tangga yang utuh itu membahagiakan anak. Apalagi jika sudah ada kekerasan yang mewarnai."


Sita memelukku erat. Beruntungnya aku, Sita tahu yang kubutuhkan adalah sebuah pelukan.


"Kita makan dulu, yuk."


"Aku temani kamu saja ya. Sudah hilang laparku."


"Kamu harus makan. Kalau sakit, siapa yang mau urus Dewa?"


"Udah hampir jam masuk."


"Gapapa, kita bungkus aja. Makan disini. Sesekali nakal. Hahaha."


***


Suatu sore yang mendung, Santi menghampiriku yang baru saja sampai kost.


"Nala, ada surat dari pengadilan." Santi berbisik, memberiku sebuah amplop cokelat panjang.


"Makasih ya."


"Panggilan sidang cerai ya?"


Aku mengangguk ragu.


"Tenang aja, aku tutup mulut kok. Demi kebaikan kamu sama Dewa kan?"


"Makasih ya..."


"Semua disini tuh segan sama Bang Adit. Lebih ke takut sih. Cuma kamu aja yang kayaknya santai banget sama dia."


"Semenakutkan apa emang dia?"


"Yaa gitu lah pokoknya. Emang kamu nggak takut?"


"Enggak. Aku kenal Mas Adit kan sejak aku SMA, ya gitu-gitu aja sih. Baik menurutku."

__ADS_1


"Eh, duduk bareng temen-temen yuk. Ada Fadli tapi."


"Nggak papa kok. Yuk."


Aku mengikuti Santi untuk bergabung bersama teman-teman kost yang lain. Biasa memang sore begini mereka berkumpul sebelum masing-masing berangkat menjemput rejeki dengan cara masing-masing.


"Apa kabar Na? Lama nggak gabung ya." Fadli menyapaku ramah.


"Kabar baik, Mas. Iya nih, sering lembur, aku pas pulang, kalian sudah berangkat kerja."


"Ni diminum dulu, biar segeran." Fadli menyodorkan segelas minuman dingin yang kuyakini kali ini tidak memabukkan kecuali dia memasukkan sesuatu.


"Makasih mas." kuterima gelasnya, kuhirup sedikit lalu kuletakkan di meja depanku.


Cukup lama kami mengobrol macam-macam. Biasanya aku lebih banyak menjadi pendengar. Dari mendengar aku bisa mengetahui mereka lebih banyak.


"Pulang kerja jam berapa kamu?" sontak aku menengok arah si pemilik suara.


"Belum lama kok."


"Iya, jam berapa?"


"Mungkin setengah jam yang lalu." jawabku ragu karena memang aku tidak memperhatikan jam.


"Pulang dulu sana, ganti baju, Dewa juga. Ikut aku sebentar, sekalian makan malam."


Mas Adit mengulurkan tangan hedak menggandengku. Kuterima uluran tangannya demi menyempurnakan drama kami.


Bergegas aku dan Dewa berganti pakaian sementara Mas Adit menunggu di depan kamar.


"Mau kemana sih mas?"


"Ke kota sebelah. Ikut nggak apa-apa ya? Sekalian makan malam."


"Cerewet ih. Biar aku ada temennya aja."


"Oohh takut ya? Hahaha. Tattoo aja penuh, tapi takut."


"Ga takut. Orang kamu aja lebih nyeremin daripada kunti."


"Mas Adit rese banget sih."


Memasuki perbatasan kota sebelah, Mas Adit tampak lebih banyak diam.


"Na, kamu tau tentang anakku?"


"Tau, Mas. Benernya aku mau nanya tapi nggak enak sama kamu."


"Benernya aku nggak pernah menikah sama Mamanya Ocha. Kami pacaran selama 7 tahun. Saat dia hamil, sebenarnya aku mau bertanggung jawab tapi keluargaku tidak mengijinkan. Bak gayung bersambut, dia juga ternyata mau saja meninggalkan anaknya setelah lahir dan membiarkan aku mengurusnya."


"Kamu nggak memperjuangkannya Mas?"


"Susah Na... Berjuang sendiri tu berat. Kecuali kalau dia mau kuajak berjuang, walau keluargaku tidak merestui, aku akan tetap nekat menikahi dia."


"Kamu cinta dia Mas?"


"Jujur, iya. Aku nggak mudah jatuh cinta, Na."


"Sampai sekarang kamu masih cinta dia?"


"Sepertinya tidak." Mas Adit tertawa gamang.


"Tapi kayaknya kamu punya pacar kan Mas?"


"Iya, ada."

__ADS_1


Aku menepuk jidat.


"Heh kamu kenapa Na?"


"Kamu punya pacar, terus kamu bikin drama kalau kamu suamiku. Nanti pacarmu tahu, panjang deh urusannya."


"Hahaha. Dia nggak di Jogja kok. Lagipula sepertinya lagi-lagi nggak direstui keluargaku."


"Lho kenapa?"


"Ada seseorang yang selalu mengatur kehidupan keluargaku Na. Semua harus patuh dan tunduk. Katanya demi kebaikan masa depan kami."


"Kamu percaya?"


"Nggak."


"Pergi dari situ, Mas."


"Nggak semudah itu, Na. Heh Na, kok merem sih. Aku ceritain kok malah tidur."


"Mas..."


"Ketiduran?"


Aku menggeleng karena memang tidak ketiduran.


"Mas, semua keluargamu dibawah kendalinya kan? Sebenarnya saat ini kamu mulai sadar bahwa dia nggak beres. Aku tahu, kamu mau keluar dari situ susah. Dia tetap berusaha menguasaimu karena kalau kamu keluar, atau salah satu dari kalian keluar dari rumah itu, maka akan goyah semua. Berantakanlah apa yang sudah dia rencanakan."


"Kamu kenal dia, Na?"


"Kenal, barusan kenalan. Hahaha. Tingginya sekitar 165an kan? Yaa se aku lah. Rambutnya ikal cenderung keriting, kulitnya hitam, omongannya tinggi, dan selalu meyakinkan."


"Kok aku tiba tiba merinding ya. Ini Nala atau kunti sih?"


"Kunti, Mas... Aku kunti."


Tengah malam kami baru kembali sampai kost. Perlahan Mas Adit menidurkan Dewa di kasur.


"Makasih ya Mas, udah ditraktir, diajak jalan juga, makasih juga kamu percaya aku jadi tempat curhatmu."


"Aku yang makasih Na, kamu mau denger."


"Kamu tadi ajak aku, karena takut nggak fokus nyetir kan? Itu tadi kota mamanya Ocha dan banyak kenangan kalian disana."


"Na, kamu dukun ya?"


"Hahaha. Sudah sana pulang. Aku mau tidur. Selamat istirahat suami siriku. Hahaha."


"Eh iya, kita suami istri ya. Seharusnya kamu biarkan aku tidur disini dong." Mas Adit berbalik, seolah hendak masuk ke kamarku.


"Eeehh, awas aja kalau berani macem-macem!!" ancamku sambil mengangkat tangan bersiap menjewernya.


Mas Adit terbahak lalu beranjak pergi menjauh dari kamarku.


Kupandangi punggung Mas Adit yang semakin menjauh. Sejak awal aku mengenal Mas Adit, aku tahu dia orang baik. Tubuhnya bertattoo, yang bagi sebagian orang dianggap buruk, berandal, jahat. Namun bagiku tattoo adalah seni. Tidak ada korelasinya dengan baik buruknya seseorang.


Tring...


Sebuah pesan teks masuk ke ponselku.


[Sudah ada panggilan dari pengadilan kan? Ohya, jangan sering pergi dengan laki-laki. Kamu tahu kan, dari dulu aku nggak suka kamu dekat dengan teman pria?]


[Mau sampai kapan mata-matai aku. Tidurlah a'. Semoga besok pagi, kamu dapatkan wanita lain yang lebih pantas untuk kamu nikahi.]


Kukirim pesan lalu segera kunonaktifkan ponselku sebelum a'Ardan meneleponku.

__ADS_1


__ADS_2