
Setelah beberapa hari Dewa harus ikut ke kantor, akhirnya aku menemukan sebuah tempat yang cocok dan nyaman untuk Dewa. Kesibukankupun bertambah. Pagi sebelum berangkat kerja, aku harus mengantar Dewa yang lalu dilanjutkan menitipkan makanan ringan ke beberapa warung yang sudah buka sedari pagi. Baru setelahnya aku ke kantor. Rasah lelah terkalahkan oleh bayangan akan kebutuhanku dan Dewa setiap harinya, juga biaya untuk menggugat cerai Danang. Ya, aku harus segera menyelesaikannya. Bukan karena aku ingin segera menikah lagi, namun aku merasa harus segera bebas dari Danang agar dia tidak dapat mengusikku lagi.
Sekalipun Dewa sudah tidak ikut ke kantor, namun Pak Rio masih saja berusaha mendekatiku. Hal ini juga diketahui oleh teman-teman kantor. Aku sendiri tidak terlalu mempedulikannya, selagi Pak Rio tetap menghormatiku dan tidak melewati batas.
Seperti pagi itu...
"Pagi Nala... Ini sudah saya buatkan kopi. Secangkir kopi hitam tanpa gula. Pahitnya kopi tentu akan dinetralisir oleh manisnya parasmu."
"Makasih Pak.. bapak salah makan apa? Pagi-pagi sudah ngegombal?" tanyaku sambil mengernyitkan kening.
"Bukan menggombal ini, Nala. Saya berbicara sesuai fakta. Untuk saat ini memang hanya senyum dan wajahmu yang manis, namun sebentar lagi kehidupanmu akan sangat manis. Kita berdua akan bergandengan tangan menyongsong masa depan yang penuh dengan keindahan dan segala hal yang manis. Lalu kita akan membesarkan dan mendidik Dewa bersama-sama."
"Pak, plis deh... Saya jadi kenyang nih dengerin bapak. Padahal ini saya baru mau sarapan. Tapi nggak nyangka, ternyata bapak seorang pujangga ya." ujarku sambil terkikik.
"Ah kamu nggak romantis, Nala." lirihnya seraya duduk di kursi sebelahku.
"Romantis itu nggak bisa bikin kenyang, Pak." ujarku lagi sambil membuka bekal nasi yang kubawa dari kost.
"Kamu mau sarapan, Nala?"
"Menurut Bapak gimana?"
"Maksud saya, kok nggak nawarin saya gitu." jawabnya dengan wajah memelas.
"Oh. Hahaha... Bapak mau makan? Kebetulan saya bikin nasi goreng."
"Boleh, Nala. Nasi goreng buatanmu pasti enak karena memasaknya dengan cinta dan senyuman."
"Dih... Mulai deh nggak jelas lagi. Hahaha."
Aku mengambil piring dan sendok di pantry lalu membagi dua nasi gorengku dengan terpaksa. Kasihan juga kalau ternyata pak boss belum sarapan.
"Nah benar kan, ini nasi goreng terenak yang pernah saya makan." pujinya sambil terus mengunyah.
"Gombal terus." sahutku jengah.
Satu persatu teman-teman kantor mulai berdatangan. Untung saja kami sudah menyelesaikan sarapan dan aku sudah membereskan bekasnya.
"Wah, Pak Rio sama Nala dateng barengan nih?" celetuk Fifah yang diikuti candaan-candaan teman-teman lainnya.
"Enggak, ini saya juga baru datang kok."
Pak Rio menjawab dengan tergagap. Sementara aku hanya mengulum senyum dan segera menyalakan komputerku.
Sambil menunggu, aku iseng mengecek ponselku. Ada beberapa pesan masuk.
[Pagi Dek.. boleh nanti aku mengajakmu menikmati senja di kedai kopi biasanya?]
__ADS_1
[Dek, proses ceraimu sampai mana? Kubantu saja ya biar segera selesai. Mama sudah ingin kita segera menikah]
[Aku mau booking kamu dong. Perjam berapa? Aku tunggu di hotel kampret jam 7 malam ya.]
Untuk pesan yang terakhir, aku tahu sekali ini ulah Danang. Sejak aku memutuskan berpisah, bukan kali ini saja dia mengirimiku pesan dengan berganti-ganti nomor yang semuanya jelas tidak kurespon. Sakit emang manusia itu. Terkadang memohon meminta maaf, namun kadang berulah dengan cara yang tidak masuk akal.
***
Malam itu Dewa sudah terlelap. Dia tampak sangat lelah, bahkan nampak terkantuk-kantuk sejak tadi saat menghabiskan makan malamnya. Kuciumi pipi dan keningnya berkali-kali dengan gemas. Kulirik jam, masih jam 7 malam. Berbeda dengan Dewa, mataku justru tumben tidak dapat segera terpejam.
Perlahan aku keluar kamar. Tujuanku adalah ke kos bagian depan yang biasanya selalu ramai. Benar saja, tampak beberapa teman yang sedang berkumpul.
"Permisi, boleh gabung nggak?"
"Eh Nala. Sini ayo duduk." Mega menggeser tubuhnya agar aku bisa duduk.
"Kamu nggak kerja?" tanyaku pada Mega.
"Enggak mbak. Libur dulu. Dewa udah tidur Mbak?"
"Sudah. Tumben hari ini tidur cepat, sepertinya tadi lelah bermain."
Aku melirik meja kecil yang berada tepat di depanku. Ada beberapa bungkus rokok, dua botol minuman import, sebuah botol minuman berkarbonasi, dan beberapa bungkus makanan ringan salah satunya kacang. Tak sadar aku tersenyum, seperti wisata masa lalu.
"Kok senyum, Na?" Fadli ternyata memperhatikanku.
Malam semakin larut, hawa dingin terasa semakin menusuk. Beberapa kali kurapatkan jaketku yang awalnya kupakai dengan maksud menutupi daster.
"Dingin banget ya Na, malam ini." Fadli lagi-lagi ternyata memperhatikanku.
"Iya, dingin." jawabku singkat.
"Bang Fadli daritadi perhatiin Nala terus kayaknya." Mega berkomentar.
"Hahaha. Kebetulan saja." Fadli berkilah. Padahal aku tahu beberapa kali dia tampak memperhatikanku.
Pukul sepuluh malam, bukan hanya sekedar mengobrol namun juga bernyanyi diiringi petikan gitar Fadli. Sedikit aku bisa melupakan penatnya masalahku dengan Danang.
Kesekian kalinya aku merapatkan jaket.
"Minum Na, biar hangat." Fadli menyodorkan segelas minuman yang sedari tadi tidak kusentuh.
Kuambil gelas dari tangan Fadli. Kuputar-putar di tanganku.
Hanya segini sepertinya tidak akan membuatku kenapa-napa. Tapi kan aku sudah lama tidak meminum ini. Ah, sekali ini tidak apa-apa, biasanya bisa langsung tidur nyenyak, sedikit melupakan masalah.
Di bawah tatapan Fadli, Yusak, Mega dan Jaka aku menenggaknya dengan sekali teguk, lalu meletakkan gelas kembali di meja.
__ADS_1
Kulihat Fadli tersenyum tipis lalu kembali asyik memetik gitarnya.
"Na, kamu nggak pusing?" Mega bertanya.
"Enggak."
"Panas nggak di tenggorokan? Atau pahit gitu?" Jaka menyambung bertanya.
"Enggak juga."
"Nih, biar makin hangat. Anginnya semakin dingin, takutnya kamu masuk angin." Fadli kembali menyodorkan gelas minuman padaku dengan tatapan seolah menantangku.
Kuambil lalu menenggaknya lagi. Namun ternyata tidak berhenti di gelas kedua saja. Tubuhku mulai terasa hangat. Seharusnya tidak akan bereaksi berlebih. Namun perhitunganku salah, kepalaku terasa agak berat.
"Na, mau kuantar ke kamar?" Mega menawarkan diri.
"Sebentar lagi. Aku baik-baik saja kok."
"Ternyata benar dugaanku, kamu nggak sekalem penampilanmu." Fadli tersenyum penuh kemenangan.
"Jadi kamu tadi yang kasih dia minum?"
"Bang Adit..." Mega, Yusak, Jaka dan Fadli tampak terkejut.
Wajar saja, karena tadi Bang Adit bilang tidak bisa kesini karena ada urusan. Namun tiba-tiba dia datang.
"Bukan gitu Bang..." Fadli mulai membela diri.
Kulihat Mas Adit mengangkat tangannya, tanda menyuruh Fadli diam.
Mas Adit mendekatiku.
"Yuk ke kamar. Dan jangan pernah meminum apapun yang Fadli kasih, terlebih kalau tidak ada aku."
"Maaf Bang, kukira dia bukan siapa-siapamu..." kudengar suara Fadli lirih meminta maaf namun Mas Adit tidak mempedulikannya.
Mas Adit meraih pinggangku dan mengantarku ke kamar.
"Aku harap kamu ingat pesanku. Sekarang tidur ya. Aku ke depan dulu. Jangan buka pintu kalau ada yang mengetuk, siapapun itu."
Aku mengangguk paham.
Segera kututup dan kukunci pintu kamarku. Kurebahkan tubuhku di sebelah Dewa.
Kupijat lembut keningku yang terasa berat sambil berjanji, ini terakhir kalinya. Semoga bukan janji palsu.
Kali ini Nala agak mengecewakan ya... 😥
__ADS_1