Janji Cinta Kita

Janji Cinta Kita
Niat awal


__ADS_3

"Dokter zhou, bagaimana keadaan anakku?". Tanya orang tua pasien. Dari luar pintu xiao li berseru sambil masuk.


"Bu Li...zhou itu....". Katanya terhenti saat melihat zhou wei ada di dalam. Semua orang yang ada melihat ke arahnya.


"Dokter zhou, ada disini". Sapa dengan risih.


"Xiao yan, cukup baik. Tidak perlu cemas, berikan dia makanan yang mudah di cerna". Kata zhou wei pada ibu dari pasien seorang anak kecil, dia tidak membalas sapaan xiao li.


"Baik"


"Xiao yan, istirahatlah dengan baik, paman dokter pergi dulu". Ucap zhou wei pada bocah lucu itu sambil menaikkan selimutnya.


Xiao li menghampiri xiao yan dengan sekantong camilan.


"Xiao yan, lihat apa yang kakak bawa untukmu". Kata xiao li membuka kantong berisi camilan.


"waw, camilan". Senang xiao yan mengambil sebungkus camilan itu. zhou wei yang melihat langsung mengambil camilan dari tangan xiao yan.


" Maaf, xiao yan, tidak boleh makan camilan".


"Kenapa?". Tanya xiao li


"Xiao yan, mengalami penyumbatan usus. Makanannya harus sangat di perhatikan".


"Maaf, dokter zhou, kami sungguh tidak tau!!". Ucap bu Li, melihat putrinya diam saja.


"O iya, bagaimana pertimbangan kalian tentang Gastroskopi?". Tanya zhou wei.


"Gastroskopi?. Kami merasa harus....". Bu Li menarik tangan anaknya ke belakang, agar anaknya tidak menyinggung dokter zhou lagi.

__ADS_1


"Emm, itu kami masih pertimbangkan dokter zhou". Kata bu Li. Pak Qin di rawat di ruangan yang sama dengan xiao yan.


zhou wei hanya mengangguk, melihat wajah pak Qin sebentar, dia berbalik pergi. Baru sampai di depan pintu, zhou wei sudah mendengar perkataan yang membuat zhou wei sakit hati.


"Ayo sini, bu Li, pak Qin, aku beritahu kalian. Dokter zhou ini tidak bisa di percaya. Dia ini pria yang mengandalkan wanita. Tadi kudengar dia andalkan hubungan untuk naik jabatan. Bahkan, lalai mengobati. Apakah kita bisa percayai orang ini?".


"Benarkah?"


"Benar, aku mendengar sendiri". Kata xiao li meyakinkan.


***


"Kepala perwakilan Han. Aku ingin tanya, kapan permohonan pindah departemenku bisa di setujui?". Tanya zhou wei soal permohonannya.


"Aku tau, kamu ingin pindah karena masalah mengenai Lao Gu. Aku hanya merasa sayang, kamu lebih jelas dari siapa pun. Dokter bedah yang berbakat sepertimu sangat langka".


"Aku menahan permohonanmu. Ku harap kamu bisa pertimbangkan lagi. Jika, kamu tetap bersi keras, maka aku akan serahkan surat permohonanmu pada bagian administrasi". Ucap kepala perwakilan Han menghela napas panjang.


"Menyelamatkan orang". Jawab zhou wei tegas.


"Ini adalah harapan Lao Gu padamu (Lao Gu adalah Gurunya zhou wei). Jika tau, kenapa kamu tidak terus bertahan?


"Terima kasih, kepala perwakilan Han". zhou wei membungkukkan badannya, kembali ke ruangannya.


Membuka laci, mengambil sebuah buku kecil (Catatan Departemen Bedah). zhou wei membuka buku kecil itu 'Dokter hidup demi orang lain, mengabaikan hidup dan nama. Berkorban, bertahan, ingat niat memilih menjadi seorang dokter.(Gu Liang)'.


Yang di pegang zhou wei adalah buku catatan gurunya, Gu Liang.


Zhou wei mengeluarkan sebuah kotak berisi alat bedah. Dengan tangan gemetar dia mengambil pisau bedah, jari tangan terus bergetar, pandangan jadi buram. Dengan cepat dia meletakkan pisau kembali dan menutup kotak tersebut. Dia sangat sedih, ketika ingat dengan gurunya.

__ADS_1


"Bagaimana kondisimu dua hari ini?". Tanya dokter Yun pada pak Qin.


"Lumayan"


"Apakah ada gejala muntah darah atau tinja menghitam?"


"Muntah darah.... tidak ada". Jawab pak Qin gugup.


"Baguslah kalau begitu. Jika ada, harus langsung beritahu padaku. Masih ada masalah lain tidak?"


"Ti...tidak, tidak masalah"


"Kalau begitu aku pergi dulu. Ingat istirahat ya".


"Terima kasih, dokter yun".


Melihat ayahnya menjawab pertanyaan dari dokter Yun dengan gugup, xiao li jadi curiga. Dia mengejar dokter Yun keluar.


"Dokter Yun"


"Ada apa?"


"Aku ingin bertanya sebentar. Jika ayahku punya gejala seperti yang dokter katakan, misalnya muntah darah dan tinja menghitam, ini..?". Tanyanya dengan suara kecil.


"Jika ada gejala seperti ini, maka kami harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut"


"Baik, terim Kasih dokter".


Wajah xiao li pucat, dia takut, panik, cemas campur aduk. Takut ayahnya kenapa-napa. Dia pergi ke atap rumah sakit menenangka diri. mengeluarkan ponsel menghubungi Sasa.

__ADS_1


"Halo..Lili...


__ADS_2