
"Kak, MDT itu apa?". Tanya zhou yuan penasaran.
"Mountain Daylight Time, waktu musim panas pegunungan". Jawab zhou wei asal, membuat yun xi dan ibunya menertawakan zhou yuan.
"Kamu...Kamu kira aku Dungu, ya?. Tiga dokter bicara zona waktu disini?. Kesal zhou yuan, karena hanya dia yang tidak mengerti.
Ibu zhou wei melirik putranya dan yun xi sambil tersenyum.
"Xiao xi, Bibi selalu menyukaimu. Di usia kalian ini, karier memang penting. Masalah berkeluarga lebih harus diperhatikan. Kamu dan zhou wei sudah kenal bertahun-tahun, kalian berdua juga cocok saat mengobrol. Jangan selalu bicarakan kerjaan, kalian semestinya juga harus sering bicarakan masalah hidup". Ibu zhou wei mau mencomblangi putranya dengan yun xi.
Zhou wei menatap datar pada ibunya. Yun xi bisa melihat kalau zhou wei menahan kesal pada ibunya. zhou wei baru membuka mulut mau mengatakan sesuatu, sudah di potong ibunya.
"Zhou wei tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Saat sibuk, dia sama dengan ayahnya, sama sekali tidak bisa jaga kesehatan. Tolong bantu Bibi perhatikan dia". Ucap ibu zhou wei pada yun xi, tanpa peduli dengan wajah datar putranya.
"Kamu tenang saja, Bibi". Sahut yun xi sangat senang mendapat dukungan calon mertua.
Ponsel zhou wei berdering...KRING...KRING...
"Ibu, aku terima telpon dulu". Ucapnya, lalu berjalan ke ruang tamu.
"Halo...". Jawab zhou wei.
"(Halo, dokter Zhou. Pasien ranjang ke-10 pergi dari rumah sakit tanpa izin. Kini tidak bisa di hubungi)". Kata dokter Du, saat zhou wei baru bilang 'Halo'. "(Biarkan keluarga pasien yang menjelaskan rinciannya)". Dokter Du menyerahkan telpon pada xiao li.
"(Halo, dokter zhou, ini aku Qin xiao li. Maaf mengganggumu saat sudah malam. Jadi, seperti ini, .....)". Xiao li menceritakan bagaimana ayahnya pergi dari rumah sakit.
"Qin xiao li, dengarkan aku. Kalian jangan panik dulu, rumah sakit sangat besar, jangan cari asal-asalan. Minta dokter Du buat surat permohonan dan ajak kalian periksa kamera pengawas. Aku kembali ke rumah sakit sekarang juga. Kira-kira 15 menit lagi sampai. Ceritakan hal lainnya saat aku tiba saja". Kata zhou wei dengan suara tenang.
"Baik, terima kasih, dokter zhou". Ucap xiao li menutup telpon.
"Dia bilang apa?". Tanya dokter zhou ikut panik.
__ADS_1
"Begini, dokter zhou, minta kamu buatkan kami surat permohonan untuk lihat kamera pengawas". Ujar xiao li dengan cepat.
"Baik, pergi sekarang". Ucap dokter Du cepat.
"Baik"
"Ayo pergi". Dokter Du mengajak xiao li dan ibunya pergi.
"Yun xi, pasien ranjang ke-10 Qin Da Li, pergi tanpa izin. Ada tanda bunuh diri dalam pesannya". Ucap zhou wei dengan panik.
"Aku ikut kamu kembali kesana. Bibi, kalian makan saja pelan-pelan. Aku pamit dulul". Ujar yun xi pada ibu zhou wei dan zhou yuan yang menatap bingung.
"Ibu, aku pergi dulu, ya!". Pamit zhou wei pada ibunya, dengan cepat berlari keluar.
"Se...Sekarang, ha...hanya ada aku yang menemanimu makan". Ucap zhou yuan terbata karena takut pada sang bibi.
"Hm...Makanlah". Ucap sang bibi.
"Apa yang terjadi?. Apakah dia bisa dihubungi?". Tanya zhou wei menatap xiao li dan ibunya.
"Awalnya Lao Qin tidak angkat telpon. Tapi, selanjutnya langsung tidak aktif". Kata bu Li cemas.
"Kami sudah lihat kamera pengawas, pasien ranjang ke-10 memang keluar. Namun, sekarang entah kemana!". Ujar dokter Du menjelaskan.
"Rumah sakit ada prosedur ketat bagi pasien yang pergi tanpa izin. Yun xi, segera laporkan ke pusat sif kerja". Perintah zhou wei.
"Baik, aku pergi sekarang". Yun xi dan dokter Du pergi bersama.
"Kalian jangan panik. Pikirkan baik-baik pak Qin bisa pergi kemana!". Ucap zhou wei pada ibu dan anak di depannya.
"Dia bisa pergi kemana?". Lirih bu Li dengan cemas. "Bagaimana, jika aku lihat ke rumah?". Tanya bu Li pada putrinya.
__ADS_1
"Baik, kamu pulang ke rumah, aku cari di dekat sini. Kita saling kabari terus". Kata xiao li sambil mengusap lengan ibunya.
"Baik, baik". Ujar bu Li langsung pergi.
"Kalau begitu, dokter zhou, aku juga pergi cari dulu". Ucap xiao li setelah ibunya sudah pergi, Zhou wei mengangguk.
Xiao li berlari keluar rumah sakit mencari kesana kemari, sampai mobil zhou wei menghampirinya. "Naiklah, aku bawa kamu pergi cari". Kata zhou wei, xiaobli langsung naik kemobil zhou wei.
"Dokter zhou, kamu sudah kerja seharian, bukankah sangat lelah?. Maaf, sudah begitu larut.....". Ujar xiao li merasa tidak enak sudah banyak merepotkan.
"Tidak apa-apa. Pak Qin adalah pasienku, aku adalah dokter bedah utamanya. Aku punya tugas mengawasinya". Potong zhou wei masih fokus menyetir.
"Terima kasih. Aku terima telpon dulu". Ucap xiao li saat ponselnya berdering.
"Halo..Ibu bagaimana?". Tanya xiao li.
"(sudah kucari, ayahmu tidak ada di rumah)". Ucap bu Li dengan nada panik.
"Apakah dia tidak pulang?. Jangan panik bu Li, pak Qin bukan orang yang tidak bertanggung jawab. Percayalah padaku, ya?. Aku pasti bisa menemukannya, kamu jangan panik, tunggu kabar dariku. Kututup dulu telponnya". Ucap xiao li menenangkan ibunya yang panik sendirian di rumah.
"Pak Qin tidak pulang ke rumah?. Menurutmu, dia bisa kemana?". Ucap xiao li pada zhou wei di dalam mobil, zhou wei hanya diam fokus menyetir. "Dia sudah begitu dewasa, untuk apa pergi keluar di tengah malam?. Apakah dia tidak tau kami mencemaskannya?. Dia pergi sendirian, bagaimana jika sampai maag?. Dia tidak bisa urus diri sendiri. Bahkan tinggal pesan begitu, dia mau apa?. Dia sebenarnya mau berbuat apa?". Omel xiao li kesal, juga sangat mencemaskan ayahnya.
"Qin xiao li. Ada apa, Qin xiao li?". Tanya zhou wei khawatir melihat xiao li membungkuk memegang perutnya.
"Tidak apa-apa. Perutku hanya mendadak agak sakit". Lirih xiao li memegang perutnya.
"Hah, kamu tunggu sebentar. Nanti aku cari tempat untuk menepi. Tahan sebentar". Kata zhou wei khawatir.
"Kamu tunggu sebentar disini". Kata zhou wei ketika menghentikan mobilnya di sebuah minimarket. "Kamu pakai jas ini dulu". Zhou wei melepas jasnya dan memberikan pada xiao li, Lalu masuk ke dalam minimarket. Saat berada di dalam, zhou wei pergi ke area pembalut. Dia berdiri diam disana, bingung dengan harus mengambil merk yang mana. Sampai ada satu pembeli melihat zhou wei sedang bingung, wanita itu bertanya.
"Apakah kamu mau membeli untuk pacarmu?. Ambil yang ini saja, yang ini kecil dan mudah dibawa. Belakangan ini juga cukup popular". Tanya wanita itu memberikan sebungkus pembalut yang lagi popular.
__ADS_1
"Terima kasih, ya". Ucap zhou wei gugup, dan membawanyanke kasir untuk membayar.