Janji Cinta Kita

Janji Cinta Kita
Membujuk Zhou Wei


__ADS_3

"Ini sangat baik, shampo perawatan anti rontok impor dari luar negeri. Selain itu juga dapat hadiah cairan penumbuh rambut". Celoteh xiao li panjang kali lebar. "Aku sungguh tidak membohongimu, setelah pakai ini, semua rambut digaris rambutku tumbuh. Bukan, maksudku bukan garis rambutmu terlihat mundur, dokter zhou. Aku hanya merasa kamu boleh mencegah sebelum terjadi, benar tidak!". Celotehnya tetap tidak di tanggap oleh zhou wei. Tidak sampai disitu, xiao li masih terus berusaha membujuk zhou wei. "Melihat ekspresimu, kamu tidak terlalu suka yang ini. Tidak apa-apa, aku ada yang lebih bagus lagi. Dokter zhou, apakah sekarang kamu merasa energimu seperti terkuras?". Tanya xiao li tanpa lelah.


"Sebagai dokter, kalian kelelahan sepanjang tahun. Selain operasi, juga harus lakukan konsultasi dan diagnosis. Konsentrasi dan tenaga fisikmu pasti tidak bisa mengimbanginya. Aku mengerti, aku sudah cari tau di internet soal ini". Cerocos xiao li mengambil sesuatu dari kantong belanjanya. "Barang ini bisa melengkapi nutrisimu, terutama bagi pria yang berusia sekitar 30 tahun sepertimu". Ucapnya meletakkan sekotak Teripang (Penambah Energi Pria) di depan zhou wei dengan berbisik, " Semangat dokter Zhou".


Melihat apa yang ada di depannya, zhou wei menghela nafas panjang, dengan wajah kesal menatap xiao li. "Nona Qin, aku sangat sibuk". Sambil berdiri zhou wei mengambil kotak tersebut dan mengembalikannya pada xiao li. "Aku ada konsultasi siang ini. Masalah operasi, kusarankan kamu diskusi dengan dokter Yan. Aku sudah menerima niat baikmu". Ucap zhou wei mengambil semua barang yang di bawa xiao li dan menyuruhnya membawa pergi.


"Menurutku, bukankah obrolan kita cu..cukup baik!". Kata xiao li sudah diusir keluar pintu. "Dokter.....". Ucapnya melihat zhou wei menutup pintu dengan keras. PONG... "Ada apa ini?. Mana yang salah?". Gumamnya memikirkan ucapan dan tindakannya barusan, aku sudah melakukan sesuai dengan kata ibu dan dokter Yun?. Sedang di dalam ruangannya zhou wei mengambil ponsel dari sakunya dan mengaca melihat rambut depannya, setelah itu dia tersenyum sendiri dengan tingkahnya.


Xiao li masih menunggu di depan pintu zhou wei. Beberapa saat kemudian yun xi datang, melihat xiao li ada di luar pintu yun xi bertanya.


"Dia tidak setuju?".


"Dokter Yun, dia tidak setuju".


"Begini saja, kamu kembali dulu, aku akan tanya dia". Saran yun xi.


"Baiklah, terima kasih, dokter Yun".


Yun xi mengetuk pintu, Zhou wei mengira itu adalah xiao li. Setelah membuka pintu dia langsung berkata. "Qin xiao li, bukankah sudah kubiang...". Ucapnya berhenti saat melihat yun xi yang ada di depan pintu.

__ADS_1


"Aku suruh Qin xiao li kembali dulu". Kata yun xi sambil masuk ke dalam. Xiao li belum pergi, dia masih berdiri di samping pintu ruangan zhou wei.


"Lalu apakah kamu ada urusan mencariku". Tanya zhou wei sambil menutup pintu.


"Apakah masalah ini benar-benar tidak bisa di diskusikan lagi?. Kamu lah yang mendiagnosis paaien itu!". Bujuk yun xi.


"Yun xi, jangan membujukku lagi soal masalah ini". Kata zhou wei menatap yun xi dengan serius.


"Baiklah, aku tidak akan membujukmu lagi. Selama kamu suka, melakukan riset ilmiah juga bagus". Ucap yun xi setelah diam beberapa detik. "Jika kamu segera mendapat prestasi di lingkup riset ilmiah, sebaiknya kerja di laboratorium unggul tiongkok saja, aku temani kamu pergi". Kata yun xi beralih duduk di samping zhou wei.


"Kenapa aku tidak pernah tau kamu berencana belajar spesialis?". Tanya zhou wei sedikit menyindir tanpa melihat yun xi yang sedang menatapnya penuh kasih.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, xiao li membuka pintu ruangan zhou wei, matanya membulat kaget melihat dua dokter lagi genggaman tangan. "Maaf ganggu, aku tidak melihat apa pun". Ucapnya malu langaung berbalik badan. Saat mau pergi, zhou wei memanggilnya.


"Qin xiao li, masuk". Ucap zhou wei melepas tangannya dan berdiri. "Bukankah tadi kamu bilang mau bicara denganku?. Sekarang kita bicarakan baik-baik". Kata zhou wei menatap mata xiao li. Melihat tatapan mata zhou wei, xiao li seakan tau maksudnya. "Ayo masuklah". Ucap zhou wei, lalu xiao li pun berjalan masuk dan duduk di kursi yang sebelumnya di duduki yun xi.


"Maaf, dokter Yun, aku dan Qin xiao li masih harua bicarakan pekerjaan. Kamu pergilah kerja dulu". Kata zhou wei mengusir yun xi secara halus.


"Aku belum selesai bicara!". Ucap yun xi menatap tajam pada xiao li yang sedang duduk. Xiao li melihat tatapan yun xi yang seakan mau menelannya, seketika berdiri dan mau keluar dari situ.

__ADS_1


"Duduk". Perintah zhou wei, saat melihat xiao li berdiri dan berjalan kearah pintu.


"Maaf untuk yang tadi. Tapi, kuharap kamu bisa pertimbangkan dengan baik". Kata yun xi menatap zhou wei dengan wajah kecewa. Zhou wei hanya mengangguk kepala saja, lalu yun xi menatap xiao li dengan tajam dan berjalan keluar dengan wajah kesal.


"CKCKCK, mantan pacar kan?". Ucap xiao li meledek zhou wei tersenyum nyengir. "Aku sudah sering melihat hubungan yang seperti kalian ini di kampus. Saling cinta, tapi tersiksa. Namun, setelah putus, dia mau berbaikan, tapi kamu tidak mau. Kamu mau menyiksanya lagi, benar tidak?". Tanya xiao li sok tau


"Kamu sungguh kaya akan imajinasi". Ucap zhou wei geleng kepala sambil tersenyum.


"Bukan, ya. Kalau begitu, dia menyukaimu, tapi kamu tidak menyukainya. Jika ini juga salah, apakah mungkin kalian berdua pacaran diam-diam, namun, kamu malah menyukai.....".Tebakan xiao li terputus


"Hentikan... Kamu sudah boleh pergi sekarang". Usir zhou wei malas mendengar imajinasi xiao li lagi.


"Yang benar saja, dokter zhou. Kamu tega sekali, bagaimana pun, tadi kamu sudah memanfaatkanku". Kata xiao li menatap tidak percaya, di usir begitu saja setelah dimanfaatkan.


"Terima kasih, kamu sudah boleh pergi". Ucap zhou wei dengan senyum datar.


"Dokter zhou, jika hari ini kita tidak selesaikan pembicaraan soal operasi ayahku, maka aku tidak akan pergi dari sini". Ancam xiao li. "Kamu jangan selalu menyebutkan alasan pribadi untuk membodohiku. Apakah kamu tidak suka hadiah yang aku berikan?. Tanya xiao li yang sudah mulai kesal dengan sikap zhou wei. "Kalau begitu, kamu katakan saja apa yang kamu sukai. Aku akan belikan untukmu, bukankah begitu sudah bisa". Kata xiao li menatap muka datar zhou wei.


"Bukan begitu, sebenarnya seperti ini. Aku benar-benar sangat suka hadiah yang kamu belikan". Jawab zhou wei melihat muka sedih xiao li.

__ADS_1


__ADS_2