Janji Cinta Kita

Janji Cinta Kita
Geser gelas 60° kekanan


__ADS_3

Sasa dan temannya sedang minum di Bar ditemani dentuman musik yang keras. Ponsel temannya berbunyi.


"Sasa, aku harus kembali ke perusahaan"


"Pergilah"


"Kamu tau kan, kami yang bekerja di keuangan sering bekerja malam".


Sasa tidak menjawab, dia malah melihat kebelakang temannya dengan senyum manisnya pada zhou yuan yang ada di belakang punggung temannya itu.


"Aku pergi dulu, nanti kita buat janji lagi". Kata temannya beranjak pergi.


"Kamu bahkan tidak menyukai direktur arogan?. Lalu kamu suka tipe yang seperti apa?. Kamu lihat aku cocok tidak". Kata zhou yuan mendekat ke bibir mungil merah muda sasa. Aksi terhenti oleh deringan ponsel sasa.


"Halo Lili...". Xiao li yang menelpon.


"Sasa, sekarang aku sangat khawatir. Menurutmu, mau minta pak Qin periksa ulang atau tidak?" Tanya xiao li di telpon. Zhou wei yang baru sampai di tempat itu mendengar xiao li bicara. Dia berada di belakang xiao li.


"Kamu tau tidak, hari ini saat konsultasi dengan dokter, Pak Qin biasanya tidak bisa membohongivaku dan bu Li. Saat ditanya, tatapannya terus menghindar, bahkan menjawab dengan terbata-bata, sangat tidak biasa. Aku curiga dia membohongi kami".

__ADS_1


"Bukankah, belum ada apa-apa?. Kamu jangan menakuti diri sendiri".


"Kau juga merasa dia baik- baik saja kan!. Pak Qin pasti baik-baik". Kata xiao li menghibur dirinya sendiri.


"Aku merasa dokter itu sangat tidak bisa di andalkan. Aku tidak bisa dengarkan dokter itu sepenuhnya. Begini saja Sasa, kamu bantu aku melakukan sesuatu". zhou wei sudah pergi dari situ, dia tidak mau menguping pembicaraan orang.


"Bantuan apa?. Baik, aku pasti akan membantumu menemukan dokter yang lebih baik. Tenang saja".


"Baik, aku tutup dulu ya". Xiao li menutup telpon.


" Kamu mau mencari dokter ya?. Aku ada kenal". Kata zhou yuan.


Setelah duduk sebentar, xiao li kembali ke ruangan ayahnya. Sampai di depan pintu dia tidak langsung masuk. Berdiri di depan pintu, menghela napas beberapa detik baru masuk. Melihat ayahnya sudah tidur dan ibunya sudah pergi. Xiao li duduk di kursi sampaing ranjang, menatap wajah ayahnya, ada rasa sesak.


"Itu.. Sudah lewat waktu jenguk pasien, harus minta izin dulu".


"Baik. Itu bukankah harus diganti". Xiao li menunjuk botol infus.


"Nanti akan ada suster yang datang".

__ADS_1


"Baik".


Xiao li jalan keluar dengan dokter Du. Dia tidak langsung pergi, dia sembunyi di lorong, mengintip sudah tidak ada orang, dia melangkah pelan-pelan ke depan ruangan pak Qin. Dia jalan bolak balik, sesekali melihat ke dalam ruangan, sampai tengah malam dia duduk di depan ruangan ayahnya.


"Eh, kenapa kamu masih ada disini?". Kata dokter Du melihat xiao li duduk di lantai depan ruangan ayahnya.


"Dokter Du, ayahku pertama kali rawat inap. Aku sangat khawatir. Bagaimana kalau begini, dokter Du, aku...aku tidak akan ganggu pasien lain, aku hanya akan berdiri disini. Aku tidak masuk, jika malam ini terjadi sesuatu pada ayahku, aku masih bisa menjaganya. Bagaimana dokter Du, bolehkah?". Tanya xiao li dengan wajah memelas.


Melihat xiao li yang khawatir dengan ayahnya, dokter Du tidak tega mengusirnya. Dia menawarkan xiao li untuk istirahat di ruang istirahat dokter. Zhou wei yang baru saja selesai dengan tugasnya, masuk ke dalam ruang istirahat.


Xiao li yang lagi tiduran di kasur melihat zhou wei masuk, dia menutup diri dengan selimut.


"Du jun, kamu menggeser gelasku 60 derajat ke kanan sejauh 2cm, ya?. Apakah kamu ingin kulempar keruang sterilisasi untuk di sterilkan lagi". kata zhou wei membetulkan posisi gelasnya. Dia kira yang ada di kasur itu dokter Du.


Xiao li mengintip dari celah selimut, melihat zhou wei membuka bajunya, dia menutup matanya kaget. Saat zhou wei lagi fokus ganti baju, dia diam-diam mau melarikan diri, tapi terlambat.. Zhou wei menarik belakang bajunya, hingga jatuh ke dada bidang zhou wei yang polos. Melihat siapa yang ada di pelukannya zhou wei terkejut.


"Aah...Aku tidak melihat apa-apa, tidak lihat apa pun". teriak xiao li berbalik badan sama terkejutnya.


"Kenapa bisa kamu disini?". Tanya zhou wei sambil memakai bajunya.

__ADS_1


"Iya, memang aku"


"Jadi kamu yang menyentuh gelasku?". Tuduh zhou wei.


__ADS_2