Janji Cinta Kita

Janji Cinta Kita
Ruang istirahat


__ADS_3

"Jadi, kamu yang menyentuh gelasku...?"


"Aku bersumpah, aku tidak menyentuh gelas itu. Bukan aku sendiri yang mau datang, tapi dokter Du memintaku....."


"Tindakan dokter Du melanggar aturan rumah sakit. Dia sangat mungkin akan di hukum. Silakan keluar". Sela zhou wei mengusir xiao li.


"Hanya menantu wakil kepala rumah sakit saja, menganggap tempat ini sebagai miliknya". Sindir xiao li.


"Apa yang kamu katakan?"


"Aku tidak bilang apa-apa. Kamu jangan marah dokter zhou". Ucap xiao li takut melihat mata melotot zhou wei. " Aku pergi sekarang". Bukannya langsung pergi, dia malah berjalan ke meja memutar gelas zhou wei.


"Ku bantu putar kembali gelasmu"


"Kamu memiringkannya lagi!". zhou wei memutar kembali gelasya.


"Kamu jangan pernah menyalahkan dokter Du. Dokter Du, hanya berniat baik saja. Dia hanya memperhatikan keluarga pasien saja. Apakah semua harus sedingin kamu?. Kamu bahkan tidak punya rasa simpati pada keluarga pasien. Bagaimana aku bisa percaya kamu bertanggung jawab pada pasien?". Celoteh xiao li panjang lebar.


"Jika, aku tidak bertanggung jawab, untuk apa aku minta ayahmu periksa ulang lagi?". Tanya zhou wei balik.


"Tapi,, siapa tau perkataanmu benar atau tidak? Tadi aku sudah cari di internet, keadaan ayahku sekarang kemungkinan besar bukan tumor". Ucap xiao li memperlihatkan hasil cariannya di internet pada zhou wei.


"Kelak, jika kamu sakit, cari tau di internet saja, jangan cari dokter". Jawab zhou wei datar.

__ADS_1


"Kami bukan ahlinya. Kalian tidak tau arti kata santai dari dokter bagi kami. Aku khawatir dengan ayahku, jadi, aku tentu harus cari tau di internet.......".


"Cukup. Berhenti, silakan keluar". Sela zhou wei akan mulut cerewet xiao li yang gak bisa berhenti.


"Keluar ya keluar. Aku juga gak mau disini". Ucap xiao li gak mau kalah dengan cemberut. Ponselnya berdering...


"Halo, bu Li, tenang saja. Sebentar, aku keluar bicara denganmu". Ucapnya berjalan ke depan pintu.


"Benar, pak Qin sudah tidur. Tenang saja, aku cukup baik, tidak lelah, tenang saja ya". ibunya bertanya keadaan suami dan putrinya.


"Bu Li, cepatlah tidur, disini ada aku. Baik, bye bu Li".


Zhou wei mendengar obrolan ibu dan anak di depan pintu, ikut prihatin dengan xiao li. Dia jadi gak enak sudah mengusir xiao li.


"Tidak mau". Gengsi xiao li.


"Terserah kamu saja". Kata zhou wei berlalu pergi. Setelah zhou wei pergi, xiao li masuk ke dalam ruangan itu lagi. Dia mengambil buku zhou wei yang ada di atas meja dan mulai membacanya(medis onkologi), sampai dia ketiduran.


Paginya zhou wei datang keruangan istirahat, apakah xiao li ada di dalam atau tidak. Dia membuka pintu, melihat xiao li sedang tidur di meja dengan buku yang masih terbuka.


Zhou wei menulis sebuah catatan di kertas kecil untuk xiao li.


"Xiao li bangun dari tidurnya, merenggangkan kedua tangan. Melirik ke kiri ada sebuah catatan kecil dan buku. '(Medis onkologi, tidak cocok untukmu. Pencegahan dan pengobatan tumor lebih membantu)'. Xiao li membuka buku dan membacanya sebentar.

__ADS_1


Setelah keluar dari ruangan istirahat dia mencari dokter Du.


"Dokter Du". Panggil xiao li.


"Xiao li"


"Terima kasih ya, ini ku kembalikan". Xiao li mengembalikan kunci ruangan istirahat pada dokter Du.


"Tidak apa. Malam ini, jangan lupa untuk minta izin dulu ya"


"Aku tidak akan lupa. Selain itu, terima kasih untuk catatan dan bukunya". Ucap xiao li berlalu pergi ke ruangan ayahnya. Dia mengira orang yang memberi catatan dan buku adalah dokter Du.


"Hah...buku dan catatan?". Dokter Du bingung, dia tidak merasa pernah memberikan catatan dan buku pada xiao li.


Di ruangan pak Qin, bu Li sedang menyuapi suaminya makan, di temani xiao li duduk si samping ayahnya. Zhou wei melihat dari luar pintu, sekeluarga itu sedang bersenda gurau dan ketawa, sampai ponselnya di dalam saku bergetar.


"Halo..."


"Kak,, aku menelponmu dari semalam, kenapa tidak kamu jawab?"


"Tadi malam terlalu sibuk, aku tidak mendengarnya. Ada apa?. Heh, zhou yuan, aku segera pindah departemen, kamu juga tau itu. Kamu minta bantuan orang lain saja!". Kata zhou wei dengan muka lelah.


"Jangan begitu kak. Pasien ini sepertinya di rumah sakit kalian. Namanya Qin Da Li". Setelah mendengar nama pasien di sebut, zhou wei menyetujui permintaan zhou yuan.

__ADS_1


__ADS_2