
Zhou wei diam melihat tingkah pak Qin dan Xiao li, menghela napas. Melihat jaket ditangannya, mengambil ponsel lalu menunjuk zhou yuan berlalu pergi. Zhou yuan dengan cepat ambil jaketnya menyusul kakak sepupunya keluar Bar.
"Kak…kak…kak,, apa yang terjadi. Aku baru pergi sebentar, duniamu langsung berubah". tanya Zhou yuan yang berhasil menyusul zhou wei.
"Kenapa bisa dikatai memanfaatkan gadis dan berbuat aneh?. Dia memarahimu sampai begitu, sebenarnya apa yang kamu lakukan pada gadis itu?". Tanya zhou yuan lagi penasaran.
"Jangan tanya apa yang seharusnya tidak ditanya". Jawab zhou wei datar dan kesal.
"Pokoknya, lain kali, jangan pernah bawa aku ketempat seperti ini lagi". Decak zhou wei.
Melihat xiao li di tarik paksa pak Qin menuju mobil, Sasa yang sembunyi memanggil xiao li dengan suara yang kecil, karena takut pak Qin mendengar. "LiLi…LiLi, sampai rumah telpon ya". bisik Sasa. Zhou wei yang melihat berkata "Orang aneh".
Bu Li yang ketiduran di ruang tamu, mendengar suara orang buka pintu, lalu bangun dan melihat suami dan putrinya sudah pulang. melihat jam sudah menunjukkan angka 11:45.
"Kalian baru pulang, sudah larut malam begini". "Lili, kamu cepat mandi dan tidurlah". Kata bu Li belum tau apa apa.
Xiao li yang mau masuk kekamar lengannya ditarik sama pak Qin dan di bawa ke ruang tamu. Dengan muka marah pak Qin duduk disofa. Bu Li menganga diam melihat yang dilakukan suaminya.
__ADS_1
"Pak Qin, bisakah kamu lihat sekarang sudah tahun keberapa?, sudah 3tahun sejak aku lulus SMA. Masih mau menghadapiku dengan trik lama". Kata xiao li dengan muka tidak bersalah.
"Sudahlah, cara bicara kalian tidak enak didengar. Ada apa dibicarakan besok saja". Kata bu Li.
"Kamu tau tadi dia pergi kemana?. Dia pergi ke Bar. Minum bir dan berbuat ulah, juga pakai riasan tebal. Sungguh konyol". Bentak pak Qin marah pukul meja. Bu Li sedih mendengar putrinya ke Bar dan minum bir.
"Kamu akan lulus kuliah setahun lagi, lihatlah semua temanmu sedang melakukan apa?". Marah pak Qin berjalan kearah putrinya. Bu Li memeluk xiao li, takut putrinya akan dipukul.
"Semuanya mencari kerja dan mendaftar S2. Lihat Ruyi, dia pun sudah mendapatkan tawaran pertukaran pelajar keluar negeri. Sedangkan kamu, masih saja bermalas-malasan, tidak pernah ada prestasi. Jika begini terus, kamu akan jadi sampah masyarakat". Marah pak Qin.
Xiao li sangat sedih mendengar ayahnya bicara begitu tentang dirinya. dengan mata berkaca-kaca merasa kenapa ayahnya membandingkan dirinya dengan orang lain. Ayahnya tidak pernah mendukung apapun yang dilakukannya. Xiao li suka main Cello, tapi ayahnya tidak pernah mendukung sekalipun.
Dengan air mata menangis xiao li berkata,
"Kenapa aku akan menjadi sampah masyarakat?".
"Ak…aku kuliah dengan cara yang benar dan terbuka".
__ADS_1
"Aku memainkan Cello, aku adalah seorang pemusik. Kenapa bisa aku menjadi sampah masyarakat, hah?". kata xiao li sedih.
"Hari ini aku ada orkestra musik. Aku sudah mengundang kalian berdua, benarkan!".
"Kalian bilang apa?
kalian bilang, akan datang melihatku hari ini".
"Jika permainanku bagus, kalian akan setuju aku jadi pemusik". Tapi, apakah kalian ada datang?,…Kalian tidak datang".
"Kalian bahkan tidak melihatku bermain".
"Bagaimana bisa tau permainanku bagus atau tidak, hah". Ucap xiao li mengeluarkan kekesalannya pada ayah dan ibunya.
"Lili… sebenarnya hari ini…". kata bu disela pak Qin.
"Kamu tidak usah menjelaskannya". kata pak Qin
__ADS_1