Janji Cinta Kita

Janji Cinta Kita
Pemeriksaan ulang patologi


__ADS_3

"Apa ruang operasi sudah siap?"


"Sudah.."


"Segera bawa ke ruang operasi, cepat!". perintah Zhou wei.


"Baik..".


Para dokter dan suster mendorong ranjang pasien ke ruang operasi dengan cepat, untuk melakukan operasi darurat. Karena tidak ada dokter yang bisa mengoperasi, mereka meminta zhou wei untuk melakukannya. Setelah operasi selesai, zhou wei keluar dari ruang operasi dengan wajah pucat, dia berlari ke westafel karena merasa mual. Tangannya gemetar memikirkan dia baru saja melakukan operasi darurat dengan sukses.


"Kenapa kamu ada disini?". Tanya zhou wei saat melihat Yun xi ada di luar pintu.


"Aku dengar kamu baru saja melakukan operasi darurat ya?"


"Hmm"


"Apakah itu berarti, kamu tidak perlu lagi?. Kamu bisa melakukan operasi..."


"Hanya aku yang tau keadaanku"


"Zhou wei, sebenarnya kita tau jelas, kamu tidak bermasalah. Bagaimana, jika kamu pikirkan lagi". Bujuk Yun xi.


"Maaf, sekarang aku mau pergi ganti baju, aku masih harus memeriksa kamar pasien". Ucap zhou wei berlalu pergi.


Di meja kasir, pak Qin mengetuk meja dan meminta selembar kertas dengan wajah kesal, karena xiao li memintanya untuk periksa ulang.


"Beri aku selembar kertas, aku mau menulis surat permohonan pulang". Ucap pak Qin jutek.


"Tapi, pengobatan anda belum selesai, pak".


"Aku bisa diskusikan hal ini dengan dokter. Kamu cukup beri aku kertas dan pena saja, jangan urus hal yang lain". Sindir pak Qin.

__ADS_1


Mau gak mau suster memberikan selembar kertas dan pena pada pak Qin.


Pak Qin mengambil kertas dan pena langsung menulis di meja kasir suster. Melihat zhou wei lewat, suster melambaikan tangannya dan menunjuk pak Qin yang sedang menulis. Lalu zhou wei menghampirinya.


"Pak Qin...". Sapa zhou wei.


Melihat zhou wei pak Qin langsung kesal. " Gara-gara kamu!. Kamu asal bicara sampai membuat semua keluarga kami gelisah. Kamu bilang apa lagi pada Qin xiao li, bahkan diapun memaksaku untuk periksa ulang?". Cecar pak Qin.


"Pak Qin, tolong tenang dulu sebentar. Aku sangat bisa memahami perasaanmu sekarang. Aku juga pernah bertemu banyak pasien berpemikiran sama denganmu. Kamu merasa sedang memikirkan keluarga sendiri, tidak mau mereka mencemaskanmu' kan?". Ucap zhou wei dengan tenang.


"Heh, selalu merasa dirimu benar". Sinis pak Qin meneruskan tulisannya.


"Tapi, pernahkah kamu berpikir?.Jika, terjadi sesuatu padamu suatu hari ini nanti, keluargamu akan menyesal seumur hidupnya. Karena mereka akan merasa mereka tidak memaksamu sekarang, sehingga kamu celaka. Marah tidak bisa mengatasi masalah apa pun, tadi aku melihat putrimu menangis. Apakah kamu ingin dia hidup sambil merasa ragu dan cemas setiap hari?". Ucap zhou wei agak kesal dengan sifat keras kepala pak Qin dan berlalu pergi.


Pak Qin memikirkan ucapan zhou wei barusan, merasa apa dikatakan ada benarnya juga. kalau sampai terjadi sesuatu padanya, istri dan putrinya pasti akan sangat sedih. Melihat ada keraguan di mata pak Qin, suster bertanya.


"Pak...Ini,, apakah masih mau diisi?". Tanpa menjawab pak Qin meletakkan pena dan pergi dengan kesal.


"Ada apa?"


"Ibu beritahu kamu, barusan saat aku kembali, ayahmu bilang padaku, dia mau melakukan Gastroskopi lagi. Menurutmu, apakah ayahmu merasa sangat sakit?". Ucap bu Li cemas.


"Dia bilang padamu mau di periksa lagi?"


"Benar"


"Tidak apa-apa, tadi aku membujuknya". Kata xiao li menenangkan.


"Kenapa hari ini dia mendengarkanmu?. Kejadian langka mulai muncul". Bu Li merasa ada yang aneh.


"Aku juga tidak tau, saat aku membujuknya tadi, dia tetap tidak mau di periksa ulang. Mungkin sekarang dia sudah mengerti".

__ADS_1


"Sifat ayahmu memang aneh. Ibu mau beli barang dulu, sebentar lagi kembali". Ucap bu Li.


"Baik, pergilah".


**


Besok paginya, xiao li dan ibunya menemani pak Qin untuk periksa ulang ke Pusat Endoskopi Pencernaan.


"Kalau begitu, kalian tunggu disini dulu". Kata suster yang di depan pintu ruang pemeriksaan.


"Baik". Kata xiao li memeluk ibunya dari belakang, lalu mengajaknya untuk duduk.


Setelah hasil pemeriksaan patologi biopsi pak Qin keluar, Yun xi dengan panik mencari zhou wei di ruangannya.


"Apa kamu sudah tau kondisi pasien Qin Da Li".


"Sudah tau". Jawab zhou wei tenang.


"Para direktur juga sangat menyetujui tindakanmu kali ini". Ucap Yun xi smabil tersenyum.


"Dilihat dari sudut pandang pasien, di diagnosis mengidap penyakit kanker, bukan hal yang menyenangkan". Ucap zhou wei dingin melihat muka senyum Yun xi.


"Kamu salah paham padaku. Maksudku, bisa di diagnosis tepat waktu, juga merupakan hal menguntungkan bagi pasien. Aku sungguh turut senang, dia bisa bertemu dokter yang hebat sepertimu". Jelas Yun xi.


"Maaf, penggunaan kataku salah, aku tau kamu tidak bermaksud begitu".


"Tidak apa-apa. Kalau begitu, apalah kamu bisa pertimbangkan..."


"Yun xi, aku tidak bisa mengoperasinya. Wakil kepala Han sudah serahkan surat pengajuan pindah departemenku. Dalam dua hari ini, seharusnya akan ada dokter baru disini". Ucap zhou wei tegas.


Bu Li menangis sesenggukan menutup mulutnya, bahunya naik turun bergetar menahan suara tangisannya setelah mendengar hasil pemeriksaan suaminya. Xiao li melihat ibunya begitu sedih, dia menahan air matanya yang sudah berlinang di mata merahnya.

__ADS_1


__ADS_2