Janji Cinta Kita

Janji Cinta Kita
DUA KALI SETAHUN


__ADS_3

"Xiao zhou, kamu sudah pulang?". Kata ibu zhou yuan saat melihat putranya masuk ke rumah.


"Keluarga mereka terlalu canggung. Zhou wei makan setengah langsung pergi, meninggalkan aku dengan bibi saling bertatapan. Aku belum makan kenyang". Adu zhou yuan pada ibunya.


"Aaa...Cepat minta bibi masak makanan untukmu. Malam begini harus makan sampai kenyang". Ujar ibunya sambil tersenyum.


"Benar". Sahut zhou yuan sambil makan buah yang ada di meja ruang tamu.


"Bibi, kamu buatkan makanan yang mudah dicerna untuknya". Kata ibu zhou yuan pada pembantunya.


"Baiklah". Ucap bibi pembantu.


"Sudahlah, lebih baik aku yang masak. Ibu buatkan untukmu". Kata ibu zhou yuan langsung berdiri berjalan ke dapur untuk masak.


"Ibu, aku ikut". Kata zhou yuan manja mengikuti ibunya.


"Berhenti,, duduk kembali". Ucap ayah zhou yuan tiba-tiba. Zhou yuan dan ibunya langsung berhenti melihat ayah zhou yuan sebentar. Zhou yuan duduk kembali dan ibunya ke dapur.


"Kenapa kamu tidak melakukan pekerjaan yang aku atur untuk?". Tanya ayahnya tanpa melihat ke arahnya.


"Aku tidak mau, tidak menarik". Jawab zhou yuan dengan santai.


"Tidak menarik?. Kalau begitu, apa yang kamu bisa?". Ucap ayahnya kesal meninggikan suaranya.


"Tidak tau, belum kupikirkan". Ujar zhou yuan dengan enteng.


"Aku lihat kamu tidak bisa apa-apa. Dari kecil, sudah berapa banyak uang yang kuhabiskan untukmu. Sudah mencari banyak relasi. Setiap hari tidak serius bekerja. Hanya tau bergaul dengan para gadia". Marah ayahnya sambil melihat ponsel.


"Aku belajar dengan ayah,kan?". Jawab zhou yuan dengan enteng.


"Asal bicara!". Bentak ayahnya.


"Aku tidak asal bicara". Ucap zhou yuan tenang tanpa rasa takut mentap ayahnya. "Dua hari yang lalu, temanku kirim foto ayah di klub malam. Bahkan kirim pesan wechat padaku. Aku perlihatkan". Ujar Zhou yuan mengeluarkan ponselnya berjalan ke ayahnya.


"Sudahlah, aku bicara serius denganmu. Duduklah". Ucap ayahnya dengan panik sambil melihat ke belakang arah dapur.


"Baiklah". Zhou yuan duduk kembali sambil senyum nyeringai.

__ADS_1


"Simpan ponselmu". Pinta sang ayah.


"Sudah kusimpan, sudah kusimpan". Ucap zhou yuan santai.


"Kamu juga baru keluar dari rumah pamanmu. Kamu lihat zhou wei, masih muda sudah dapat gelar dokter. Dia bahkan sebagai dokter pengurus dan asisten profesor. Kamu lihat dirimu, sama-sama bermarga zhou, kenapa perbedaannya begitu besar?". Gerutu ayahnya kesal, membandingkan zhou wei dan zhou yuan. "Apakah kamu tidak bisa belajar dari zhou wei, kakakmu?". Tanya ayahnya.


"Aku belajar darinya?". Sengit zhou yuan. "Usia 30 tahun belum punya pacar. Terisolasi dengan lawan jenis. Ayah seharusnya bersyukur, ayah tidak tau betapa khawatirnya bibiku. Jika aku benar belajar darinya, jangan setiap hari mendesak aku menikah. Mengatakan dirimu selamanya tidak bisa menggendong cucu". Sindir zhou yuan.


"Heh...Aku tidak takut tidak dapat cucu. Mungkin beberapa hari lagi, cucuku akan sangat banyak". Sindir ayahnya balik.


"Eh, itu tidak akan terjadi. Aku sangat hati-hati. Aku malah takut suatu hari nanti kamu bawa adik-adik pulang". Ucap zhou wei tidak mau kalah dengan senyum mengejek.


"Kamu...". Ucap ayahnya terhenti.


"Lao zhou..Apakah kamu melakukan sesuatau di luar sana?. Apa maksud perkataan anak kita tadi?". Tanya ibu zhou yuan dengan tatapan tajam, yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


"Sembarangan saja. Dia asal bicara. Pergilah". Ucap ayah zhou yuan menyuruh istrinya kembali ke dapur. Ibu zhou yuan menatap tajam pada suaminya dan berbalik ke dapur.


Setelah ibunya pergi, ayahnya menatap tajam pada zhou yuan yang tersenyum nyengir.


"Aku bicara masalah pekerjaan padamu. Jangan asal libatkan yang lain. Aku beritahu kamu, jika aku tidak mengurusmu, kamu sudah tidur di jalanan. Tidak ada kemampuan apa pun. Hanya tau asal melibatkan hal lain". Marah ayahnya menghina kemampuan zhou yuan.


"Sejak kecil, bertemu dua kali setahun. Ayah sama seperti lemari pakaian pria. Kamu mengurusku?". Gerutu zhou yuan dengan kesal.


"Aku tidak mengurusmu?. Makanan, pakaian, keperluan, semua pemberianku". Sertak ayahnya gak kalah kesal.


"Bukankah hanya beberapa uang saja?. Perlukah seperti itu?". Ujar zhou yuan meninggikan suaranya.


"Baik. Aku tutup kartu kreditmu. Aku lihat kamu butuh uang atau tidak". Ancam ayahnya sambil menunjuk muka zhou yuan.


"Tutup. Tutup saja semua. Aku tidak kekurangan uangmu!. Baru pulang langsung memarahiku, menyebalkan". Teriak zhou yuan sambil berdiri. "Bahkan tidak berikan aku makan. Bertemu dua kali setahun, cocok untuk kita, tidak perlu lebih lagi. Cih". Ucap zhou yuan marah berjalan pergi.


"Kenapa ini?". Tanya ibunya yang baru keluar dari dapur.


"Jika tidak mau melihatku, pergi saja. Pergi". Teriak ayahnya saking marah sampai wajahnya merah.


"Pergi ya pergi". Teriak zhou yuan berbalik melangkah keluar.

__ADS_1


"Kenapa bertengkar?. Anakku, kamu masih belum makan". Kata ibunya mencegah anaknya pergi dengan memegang tangan zhou yuan.


"Biarkan dia pergi". Bentak ayahnya.


Mendengar itu, zhou yuan melepas tangan ibunya dan berbalik pergi.


"Bukan, kenapa denganmu?. Dia hanya seorang anak. Tidak bisakah kamu mengalah padanya?". Ucap ibu zhou yuan dengan kesal, lalu menyusul zhou yuan keluar.


Zhou yuan sudah duduk di dalam mobilnya sambil menunggu kedatangan ibunya. Tak berapa lama ibunya sudah datang.


"Ibu...Aku sudah lama menunggu ibu". Ucap zhou yuan dengan manja.


"Lihatlah kamu. Jika ayahmu memarahimu, kamu sabar saja. Kenapa kamu ribut dengannya?. Ini sudah malam, kamu mau kemana?". Ucap ibunya menasehati dengan lembut.


"Aku akan tinggal dua hari di hotel". Lirih zhou yuan.


"Apakah kamu punya uang?". Tanya ibunya.


"Aku...Aku...". Gumam zhou yuan sambil memggaruk kepalanya.


"Ini...". Ibunya menyodorkan sebuah kartu padanya. "Ambillah". Ucap ibunya tersenyum, melihat putranya yang malu-malu tapi mau karena gengsinya.


"Aku tidak meminta, ya". Ucap zhou yuan mengambil kartu dari ibunya dengan malu-malu.


"Dasar...". Ujar ibunya ketawa dengan tingkah putranya ini. "Setelah masuk kamar, beritahu ibu. Lalu, pesan makanan. Jangan kelaparan, tidak bisa tidur nyenyak nanti". Ucap ibunya.


"Baikalah, terima kasih ibu". Ucap zhou yuan menghidupkan mesin mobil.


"Hati-hati menyetirnya". Kata sang ibu.


"Kalau begitu, aku pergi dulu, ibu". Ucap zhou yuan pamit dengan ibunya.


"Pergilah". Ucap ibunya melambai tangan pada putranya. Setelah zhou yuan pergi, ibunya baru masuk ke dalam rumah.


**


"Setelah sampai di rumah sakit, zhou wei, xiao li dan pak Qin masuk ke dalam bersama. Tiba-tiba bu Li muncul dan mendorong tubuh pak Qin ke belakang sambil menangis, untung xiao li memegang lengan ayahnya.

__ADS_1


"Untuk apa kamu pulang?. Untuk apa kamu pulang kembali?". Ucap bu Li dengan kesal. "Jangan kembali, pergilah jauh-jauh. Pergilah jauh-jauh". Bentak bu Li dengan tangis pilunya.


__ADS_2