
"Hmm, kenapa rasanya seperti ini?". Zhou yuan menaikkan alis merasakan minuman di gelas Sasa. "Biar aku cicipi lagi. Hmm, bukankah ini air soda". Ucap zhou yuan menatap bartender dan Sasa penuh tanya. Sasa hanya diam menunduk sudah ketauan bohong.
"Haruskah kulaporkan hal ini ke asosiasi konsumen?". Ancamnya pada bartender yang menatapnya acuh tak acuh. "Kita main yang sungguhan. Berani tidak?". Tantang zhou yuan balik pada Sasa.
KRIK...KRIK...Sasa menjentik jarinya pada bartender ganteng itu.
"Bukakan sebotol WISKI baru". Perintah Sasa pada bartender. Dia menerima tantangan zhou yuan dengan senyum manisnya, di balas zhoi yuan dengan senyum lebay.
Pagi harinya zhou wei berkunjung ke rumah gurunya. Sampai di depan pekarangan rumah zhou wei berhenti, dia ragu mau masuk atau tidak. Ketika bu gurunya buka pintu melihat zhou wei berdiri disana, bu gurunya tertegun sebentar dan memanggilnya.
"Xiao wei...".
"Bu guru". Jawabnya sendu. Lalu bu guru mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Ini minum teh dulu". Bu guru memberikan secangkir teh padanya.
"Terima kasih, bu guru". Balasnya, lalu duduk di sofa.
"Xiao wei, kamu sudah lama tidak duduk di rumah ini. Sebenarnya, aku tau, kamu sering datang melihatku dari luar pekarangan rumah. Kamu hanya tidak mau masuk saja". Sindir bu guru sambil tersenyum.
"Xiao wei, rencana operasimu itu tidak masalah, itu hanya kejadian tidak terduga. Jika, gurumu ingin memberitahumu sesuatu, dia pasti tidak mau kamu merasa bersalah dan sedih karena hal ini". Bu guru memberi pengertian pada zhou wei, bahwa apa yang terjadi pada gurunya itu bukan salahnya. Dia berharap zhou wei bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
"Bu guru, aku ingin melihat ruang guru". Zhou wei meminta izin masuk ke ruangan gurunya.
"Masuklah". Ujar bu guru. Setelah zhou wei masuk ke dalam, bu guru menghela nafas pelan dan pergi meninggalkan zhou wei sendiri disana.
Setelah masuk ke dalam zhou wei melihat buku-buku gurunya. Ada piagam penghargaan gurunya (Simposium Penelitian JIANG SU 2010 Tentang GASTROENTEROLOGI), foto gurunya yang terpajang di meja dan kaligrafi gurunya (TIDAK MELUPAKAN NIAT AWAL). Melihat kaligrafi itu zhou wei ke ingat ucapan sumpahnya pada sang guru.
"(Aku bersumpah, aku akan mengusahakan yang terbaik dalam melakukan tindakan medis yang kurasa bermanfaat bagi pasien. Tidak boleh membawakan penderitaan dan bahaya bagi pasien. Aku akan praktik dan hidup dengan cara yang bersih)".
Zhou wei masih ingat nasehat sang guru saat masih ada di dunia ini.
'(Mulai saat ini, kalian harus selalu ingat. Nyawa dan kesehatan banyak orang berada di tangan kalian. Namun, juga jangan lupa, kedokteran bukanlah ilmu pengetahuan yang sempurna. Melainkan sistem pengetahuan yang dapat berubah setiap saat dan sulit di pahami. Di tengah usaha dan tujuan kita, pasti akan ada sebuah jarak. Namun, kalian harus menganggap jarak ini sebagai motivasi kalian, bukan pemutus harapan, karena kedokteran bukan perjuangan satu orang saja, melainkan kemajuan yang berlanjut dengan manusia sebagai pusatnya. Aku harap kalian tidak melupakan niat awal selamanya dan terus berusaha hingga ada hasil)'. Itulah petuah sang guru sewaktu masuh hidup.
__ADS_1
"Pak Qin, waktunya makan". Ucap xiao li memasuki ruangan ayahnya sambil menenteng rantang makanan.
"Katanya kamu terluka secara terhormat?". Tanya pak Qin.
"Oh, hal sepele, tidak perlu dibahas, tidak perlu dibahas". Ujarnya sambil mengeluarkan makanan dari rantang sama bu Li. Bu Li melotot mendengar ucapan putrinya yang menganggap enteng lukanya.
"Dimana lukamu?". Tanya pak Qin cemas.
"Tidak ada luka, hanya benturan kecil saja". Ujarnya santai.
"Biar kulihat sebentar". Kekeh pak Qin.
"Tidak ada yang perlu dilihat". Kekeh Xiao li juga.
"Kulihat sebentar". Tegas pak Qin.
"Baiklah". Xiao li ngalah ,lalu menaikkan poninya melihatkan lukanya pada pak Qin dan bu Li. "Lihat tidak, hanya sekecil ini, tidak apa-apa".
"Kenapa?".
"Semua kekurangan fitur wajahmu terekspos". Ledek pak Qin.
"Eh, pak Qin aku ini anak kandungmu, tau?. kekuranganku berasal darimu. Kita sama saja, jangan saling mengejek, bisa?". Balas xiao li gak terima.
Bu Li hanya tersenyum melihat keduanya. Bu Li seperti menonton TOM And JERRY, kalau keduanya sudah mulai saling mengejek dan hanya bisa menggeleng kepala.
"Namun, tidak semua jelek, kan?. Apakah lesung pipi di wajahmu itu, kamu lubangi sendiri". Pak Qin gak mau kalah.
"Hmm, kamu yang melubanginya, ini berkat kamu, sudah bisa, kan!". Kata xiao li membuat semua tertawa.
"Dokter zhou". Sapa xiao li saat melihat zhou wei sudah berada di belakangnya.
"Hmm, aku datang memeriksa xiao yan". Ujar zhou wei dengan senyum. Xiao li mengangguk dan menggeser ke dekat pak Qin.
__ADS_1
"Xiao yan, ayo, paman dokter periksa dulu lukamu. Apakah masih sakit?". Tanya zhou wei sedikit menekan perut xiao yan.
"Tidak sakit lagi". Jawabnya.
"Pemulihan lukanya bagus, operasi juga sangat sukses. Jika aktif kerja sama dengan perawatan kami, dua pekan lagi boleh lepas jahitan dan pulang". Ucap zhou wei pada ibunya xiao yan.
"Kali ini sungguh berkat bantuan dokter zhou. Sungguh terima kasih banyak". Ucap ibu xiao yan dengan tulus penuh syukur pada zhou wei sudah membantu biaya operasi xiao yan. Pak Qin dan bu Li ikut senang mendengarnya.
"Sudah kewajibanku". Kata zhou wei.
"Xiao yan, setelah ini, kamu sudah pulang dengan sehat. senang tidak?. Tanya xiao li tersenyum. "Namun, apakah tugas rumahmu sudah selesai". Ejek xiao li, namun jawaban xiao yan menggeleng sambil memegang kepalanya membuat semuanya ketawa.
"Kenapa anak ini sangat malas". Sahut ibu xiao yan tersenyum malu.
Saat mata xiao li bertemu tatap dengan mata zhou wei, zhou wei mengajaknya ketemu di luar dengan menggeleng sedikit kepalanya ke arah luar, xiao li mengerti dan langsung mengangguk.
Kalau begitu, aku pergi dulu". Pamit zhou wei pada ibu xiao yan, bu Li dan pak Qin.
"Baik, sampai jumpa". Sahut pak Qin.
Zhou wei keluar dan menunggu xiao li di depan pintu. Xiao li keluar setelah melihat pak Qin sedang makan sama bu Li.
"Bagaimana?. Apakah kepalamu masih sakit?". Tanya zhou wei menyentuh dahi xiao li ketika sudah di depannya.
"Tidak apa-apa. Dagingku tebal, sudah tidak sakit lagi". Jawabnya nyengir. "Beberapa hari lagi, jika aku lulus tes dan boleh ikut orkestra, aku undang kamu menghadiri orkestraku". Ucap xiao li.
"Hmm, kalau begitu, beberapa hari lagi, ingat cari aku untuk lepas jahitan". Ucap zhou wei mengingatkan.
"Baik. Janji, ya?". Ujar xiao li.
"Janji".Kata zhou wei lalu diam.
"Hm, aku pergi dulu, ya!". Kata xiao li melambai tangan, karena tidak tau harus bicara apa lagi, sedang zhou wei juga diam
__ADS_1