
Di dalam stasiun, Pak Qin sedang duduk dan mengeluarkan sebungkus rokok.
"Disini tidak boleh merokok?". Tegur seorang pria yang duduk disamping pak Qin.
"Aku tau. Aku hanya hirup aromanya saja untuk melepas candu rokok". Ucap pak Qin menjelaskan dan menyimpan kembali rokoknya setelah mencium sebentar aromanya. Pria di sampingnya hanya tersenyum mengangguk.
Zhou wei dan xiao li sudah sampai di stasiun kereta api dan sudah melewati tempat pemeriksaan.
"Halo, aku mau tanya. Apakah tadi anda melihat pria usia pertengahan, lalu...". Tanya xiao li pada seorang security yang ada disana.
"Usianya kira-kira 55 tahun, tingginya kira-kira 170-180 cm, beratnya sekitar 78 kg. Agak kurus, dia memakai baju.....". Timpal zhou wei melihat xiao li sedang panik mencari foto ayahnya di ponselnya.
"Eeeh, dia memakai baju polos, lalu luarnya memakai jaket berwarna biru gelap. Rambutnya pendek, memakau kacamata. Dia......". Sambung xiao li menerangkan ciri-ciri ayahnya pada pak security itu.
"Tidak ada, kalian bisa cari lagi. aku tidak melihatnya". Ucap pak security.
"Terima kasih, terima kasih". Ucap zhou wei dan xiao li bersama.
Lalu mereka berjalan masuk ke dalam untuk mencari pak Qin.
"Aku sungguh tidak menyangka, aku bahkan tidak punya foto pak Qin di ponselku". Ujar xiao li dengan rasa menyesal.
"Jangan panik, kita cari lagi". Ucap zhou wei mengusap pelan lengan xiao li.
"Aku cari disana". Xiao li menunjuk ke arah kiri, lalu berjalan mencari pak Qin. Sedang zhou wei mencari ke arah kanan.
"Apakah anda berwisata, dinas, atau mau pulang". Tanya pak Qin basa basi pada pria disampingnya.
"Oh, aku mau pulang. Pulang melihat istri, istriku akan melahirkan". Sahut pria itu dengan senyum bahagia.
"Benarkah...Selamat ya!". Ucap pak Qin turut senang.
__ADS_1
"Terima kasih".
"Apakah kamu tau anak laku-laki atau anak perempuan?. Tanya pak Qin kepo.
"Aku tidak tau". Jawab pria itu jujur.
"Aku punya seorang putri". Kata pak Qin.
"Benarkah. Sudah berapa usianya?". Tanya pria itu.
"Tahun depan lulus kuliah. Dia belajar musik, bermain Cello". Ucap pak Qin sambil memperagakan menggesek Cello. "Dia bermain dengan bagus, kelak dia mau menjadi pemain musik internasional. Bahkan mau ke eropa sana, itu...musik Verein, dia mau tampil disana". Cerita pak Qin dengan bangga.
"Benarkah. Putrimu hebat sekali". Ucap pria itu dengan kagum.
"Hahaha....Anak gadis yang bermain musik, lembut dan patuh. Lebih baik punya putri". Ujar pak Qin tertawa senang. "Putri lebih perhatian, sikapnya juga hangat. Semoga kamu dapat anak perempuan". Puji pak Qin pada putrinya xiao li.
Dari jauh xiao li merasa mendengar suara pak Qin, dia melihat ke depan deretan orang duduk, ternyata benar ada pak Qin disana. Sedang asyik bercerita tentang dirinya pada seorang pria yang duduk di sampingnya. Perlahan xiao li menghampiri pak Qin dengan zhou wei berjaln di belakangnya.
"QIN DA LI.....". Teriak xiao li saat berjalan setengah jalan. Semua orang melihat ke arahnya, termasuk pak Qin, xiao li berjalan cepat ke depan pak Qin.
"Gawat..". Bisik pak Qin pada pria di sebelahnya.
"Ini siapa?". Tanya pria di sebelahnya.
"Putriku". Bisik pak Qin saat xiao li sudah berada di depannya.
"Sedang apa kamu disini, Qin Da Li?". Marah xiao li langsung menyebut nama lengkap pak Qin yang membuat nyalinya langsung menciut memeluk tas bajunya. "Aku beritahu kamu, Qin Da Li, Jika kamu kabur lagi, percaya tidak aku akan...". Xiao li memarahi pak Qin dengan emosi membuncah.
"Baguslah, sudah ketemu. Kamu bicara baik-baik, aku kabari rumah sakit". Sela zhou wei menghentikan marah-marah xiao li.
"Sekarang ikut aku kembali ke rumah sakit. Ayo". Ucap xiao li merendahkan suaranya memegang tangan pak Qin. Namun, pak Qin tak bergeming sama sekali. "Mau apa kamu?. Apa lagi yang kamu mau?". Emosi xiao li tersulut lagi melihat sikap pak Qin.
__ADS_1
"Halo...Xiao Du, pak Qin sudah di temukan. Kalian jangan khawatir". Ucap zhou wei memberitahu kalau pak Qin sudah di temukan dari telpon.
"Aku lapar...Aku mau makan dulu baru kembali". Ucap pak Qin tidak berani melihat muka marah xiao li, sekaligus juga malu pada pria di samping. Tadi sudah puji-puji putrinya baik, lembut dan patuh.
"Kamu lihat sekarang jam berapa?. Mau makan dimana?". Ucap xiao li dengan marah menunjuk jam tangan di tangannya.
"KFC masih buka. Aku sudah lihat tadi". Ujar pak Qin dengan mimik muka tidak bersalah.
"Apakah kamu tau besok kamu harua apa?. Kamu harus operasi, sekarang kamu tidak boleh makan. Makan KFC apanya?". Ucap xiao li masih emosi, tidak peduli dirinya dilihat oleh banyak orang.
"Kalau begitu, tidak operasi lagi". Ucap pak Qin dengan enteng. "Apakah kalian akan ikat aku di meja operasi!". Ujar pak Qin seperti anak kecil merengek membuat xiao li kesal.
"QIN DA LI...". Teriak xiao li membuat semua orang di dekat mereka kaget.
"Bagaimana bicara dengan orang tua?". Ucap pak Qin juga meninggikan suaranya karena kesal.
"Biarkan dia makan". Ucap zhou wei menengahi. "Dengan keadaan ini, besok juga tidak bisa di operasi. Aku kabari rumah sakit untuk menunda operasi". Ujar zhou wei menepuk pundak xiao li agar jangan marah lagi. Pria yang duduk di samping pak Qin hanya diam menonton drama ayah dan anak di depannya.
Pak Qin melipat tangan di dada, merasa sudah menang dengan perkataan zhou wei yang membolehkannya makan
"Ayo..". Ucap xiao li kesal, langsung berlalu pergi meninggalkan zjou wei dan pak Qin di belakang. Pak Qin pamit pada pria di sampingnya, dan pergi dengan zhou wei menyusul xiao li yang masih marah.
"Masih bilang putrinya lembut. Ck". Cibir pria itu setelah pak Qin pergi.
Sampai di KFC, Zhou wei membelikan hamburger pada pak Qin dan xiao li.
"Kalian makanlah". Ucap zhou wei meletakkan makanan di meja dan berlalu duduk di meja lain. Memberikan waktu untuk pak Qin dan xiao li bicara.
Ayo, makanlah". Ucap pak Qin membuka hamburger yang di beli zhou wei. "Biasanya aku tidak suka makanan cepat saji ini!". Ujarnya mulai memakan makanannya. "Hmm, sesekali makan, memang terasa enak. Kenapa kamu tidak makan?". Tanya pak Qin melihat xiao li duduk diam di depannya sambil melihatnya.
"Makanlah, bukankah kamu suka makan hamburger?. Ayo". Pak Qin memberikan hamburger pada xiao li, tapi langsung di tepis oleh xiao li.
__ADS_1
"Makan, makan, makan apanya?". Decak xiao li marah. "Kamu selalu bilang aku tidak dewasa, tidak tanggung jawab. Bagaimana denganmu?". Tanya xiao li dengan mata memerah.