Janji Cinta Kita

Janji Cinta Kita
Membujuk Zhou Wei Lagi


__ADS_3

"Apakah kamu benar-benar mau mengajak seseorang berkencan". Tanya zhou wei langsung.


"Tidak, tidak, dokter zhou, tolong kamu jangan salah paham soal ini. Aku tidak bermaksud begitu". Sela xiao li dengan cepat menjelaskan. "Aku hanya, soal masalah ini, ini agak sulit kukatakan. Naman, aku harus mengatakan. Yaitu soal....". Xiao lu menjeda ucapannya, menghela nafas sebentar dan berdiri dari duduknya. "Dokter zhou, tolong operasi ayahku. Terima kasih". Setelah berkata xiao li memberikan sebuah amplop ke tangan zhou wei dan dia berlari pergi. Zhou wei melihat isi amplop yang ternyata adalah uang. Zhou wei hanya menghela nafas dan tersenyum.


**


Di rumah sakit, ruang kedokteran zhou wei lagi lembur.


"Kak, kamu belum pulang, ya?". Tanya dokter Du masuk ke dalam keruangan.


"Xiao Du, pas sekali kamu datang. Sini, urus ini seperti biasa". Panggil zhou wei memberikan amplop yang diberikan oleh xiao li.


"Keluarga pasien selalu bersi keras melakukan ini baru bisa tenang". Ucap dokter Du seperti biasa udah di lakukan dan mengeluarkan isi amplop. "Kali ini dari siapa?". Tanya dokter Du santai.


"Qin xiao li".


"Qin xiao li". Kaget dokter Du. "Dia memberimu amplop uang, apakah artinya kamu tidak jadi pergi?. Kamu mau mengoperasi Qin Da Li?". Tanyanya antusias.


"Dia bukan berharap aku berusaha dalam operasi. Namun, salah paham soal alasanku tidak mau mengoperasi ayahnya". Ucap zhou wei menjelaskan. "Tidak apa-apa, lagi pula, dua hari lagi, izinku untuk pindah departemen akan diberikan". Sambung zhou wei. Dokter Du hanya mengangguk dan pergi dengan muka sedih, karena dia juga berharap zhou wei tidak jadi pergi.


Pagi harinya di ruang rawat pak Qin, xiao li sedang mengelap tangan ayahnya dan dia melihat ada tanda biru lebam di punggung tangan ayahnya.


"Apakah ini sakit". Tanya xiao li sedih.


"Tidak terlalu". Jawab pak Qin.

__ADS_1


"Aku sudah selesai bayar". Ucap bu Li saat masuk keruang rawat suaminya. "Lili..Kamu pergi bantu ibu beli barang. Keluarlah dulu, ibu beritahu kamu harus kemana". Kata bu Li mengajak putrinya keluar.


"Baik". Jawab xiao li keluar dengan ibunya. "Ada apa bu Li?". Tanya xiao li saat sudah di luar ruangan.


"Amplop uang di kembalikan". Ucap bu Li.


"Amplop uang?. Amplop uang dari dokter zhou?". Tanya xiao li menatap ibunya.


"Tadi aku pergi mengambil obat ayahmu, saat membayar, kulihat uang di kartu kesehatan bertambah". Lapor bu Li. "Begitu ibu periksa, itu nilai dari amplop uang. Jika bukan dia, siapa lagi?". Kata bu Li dengan lesuh.


"Dokter zhou mengembalikan amplop uang?. Menurutmu, apakah dia merasa uangnya kurang, atau karena yang lain". Tebak xiao li.


"Siapa yang tau, ibu rasa tekadnya sudah bulat dan tidak mau mengoperasi ayahmu". Ucap bu Li cemas.


"Sudahlah bu Li,kamu jangan mencemaskan masalah ini. Aku akan bujuk dia". Ucap xiao li menenangkan ibunya.


"Bu Li, tenang saja, biar aku yang urus, oke?". Kata xiao li menepuk pundak ibunya. "Sudahlah, kembali ke kamar". Setelah ibunya masuk ke dalam, xiao lu menghela nafas panjang dan pergi mencari zhou wei.


"Dokter zhou, kebetulan sekali". Seru xiao li dari belakang menepuk punggung zhou wei dan membuat sang empunya kaget akan kemunculan xiao li yang tiba-tiba. "Kebetulan aku mencarimu. Dokter zhou, aku merasa kamu adalah dokter baik yang bertanggung jawab". Puji xiao li. "Sebelumnya, aku tidak tau kenapa cemas, marah hingga keterlaluan, mengatakan padamu hal tidak jelas dan aneh. Aku salah, aku tidak akan berkata begitu lagi".Ucap xiao li mengakui kesalahannya sambil berjalan di depan menghadap zhou wei. "Dokter zhou adalah seorang.....". Xiao li kesandung kakinya sendiri hampir jatuh, untung zhou wei langsung menangkap kedua lengannya.


"Sangat bahaya berjalan seperti ini, berjalanlah dengan baik". Kata zhou wei lalu melanjutkan jalannya.


"Baik. Lihatlah, dokter zhou ini, begitu perhatian pada keluarga pasien". Puji xiao li tidak ada habisnya. "Dokter zhou, aku tau kamu pasti punya alasan tidak bisa operasi, tapi kamu katakan saja. Kamu katakan dan kita selesaikan bersama. Kamu tidak katakan.....". Cerocos xiao li terhenti saat zhou wei memanggil dokter Du.


"Xiao Du". Panggil zhou wei sengaja.

__ADS_1


"Dokter zhou, ada apa?". Tanya dokter Du.


"Oh, iya, pasien ranjang ke-25 mau ganti obat. Pasien ranjang ke-45 mau cabut infus. Pasien ranjang ke-46 mau urus prosedur pulang. Apakah sudah di urus?". Tanya zhou wei sengaja menghindari xiao li.


"Tentu saja, dokter zhou. Saat pagi ini periksa kamar, kamu sudah beritahu aku. Kamu pesankan harus cepat selesaikan. Aku sudah selesai mengurus semuanya. Catatan sudah diserahkan ke pos suster". Kata dokter Du panjang lebar membuat zhou wei memejamkan mata menghela nafas pelan.


"Ehem...Tentu saja aku tau pagi ini aku memberitahumu. Aku ini sedang mengingatkanmu, mencegah kamu lupa saja". Ucap zhou wei salah tingkah. Xiao li masih memperhatikannya dari samping. "Oh iya, apakah kamu sudah tulis indeks tesis yang kuminta?. Tidak hanya indeksmu salah, bibliografimu juga sangat banyak kesalahan".Kata zhou wei dengan serius. Xiao li yang berdiri disampingnya merasa kesal, kentara sekali kalau zhou wei menghindarinya.


"Semuanya sudah aku perbaiki. Kenapa denganmu hari ini?. Tidak tidur nyenyak?". Tanya dokter du tidak mengerti kenapa sikap zhou wei jadi aneh kayak gini. "Kemarin malam kamu sendiri yang bimbing aku memperbaikinya di kantor". Sambung dokter dengan bingung.


"Ehem,, bagus sekali". zhou wei berdehem mencairkan suasana. "Apa kamu sudah makan?. Apa yang kamu makan?". Tanya zhou wei membuat dokter Du bergidik ngeri.


"Kak, jangan menakuti. Apa aku melakukan kesalahan?. Kalau ada katakan saja". Ucap dokter Du dengan muka cemas menatap zhou wei.


"Menakutkan apa?. Aku hanya perhatian pada keseharianmu saja". Ucap zhou wei dengan tenang merangkul pundak dokter Du agar membelakangi xiao li. Lalu memainkan mata melirik kebelakang mengisyaratkan keberadaan xiao li dan meminta bantuannya. Dokter Du pun langsung mengerti apa artinya. Namun...


"Terima kasih perhatiannya dokter zhou. Tapi, aku sudah mau pergi membantu direktur chen. Harus segera bersiap untuk operasi, nanti tidak sempat lagi". Kata dokter Du merasa bersalah dan matanya mengisyaratkan bahwa dia tidak bisa membantu dan harus segera pergi sekarang juga.


"pergilah". Kata zhou wei menepuk pundak dokter Du dan menghela nafas pelan.


"Terima kasih, dokter zhou". Ucap dokter dengan muka bersalah dan berlalu pergi.


Setelah dokter Du pergi, zhou wei segera berahli ke suster xiao wei.


"Oh iya, xiao wei...". Ucapan zhou wei terhenti, karena xiao li langsung menyela.

__ADS_1


"Dokter zhou.....


__ADS_2