Janji Cinta Kita

Janji Cinta Kita
DARAH


__ADS_3

"Qin xiao li, apa lagi yang kamu lakukan?". Tanya pak Qin sambil makan saat xiao li sudah kembali ke ruangannya dan sedang fokus main ponselnya.


"Terus menjerat, tidak akan menyerah. Lao Qin, kamu makan dulu, ya!". Ucap xiao li berjalan keluar ruangan.


"Kenapa keluar lagi?". Tanya pak Qin sambil mengunyah makanan di mulutnya, namun di abaikan xiao li.


Ketika sudah di depan pintu ruangan ayahnya, xiao li menyender ke dinding dan mengetik di ponselnya.


"". Xiao li mengirim pesan pada guru musik di kampusnya panjang lebar agar pak Jin mau mengembalikannya ke bagian Cello.


Di ruangannya, zhou wei memegang patung boneka yang di lilit perban oleh xiao li dan sebuah memo tulisan xiao li (BERJUANGLAH DOKTER ZHOU). Zhou wei mengingat kembali semua perkataan xiao li padanya.


"(Menurutku, pukulan yang kamu terima sejak kecil terlalu sedikit. Sebenarnya, setelah kamu lewati rintangan itu, dan melihat kembali lagi, itu sungguh bukan masalah besar)". Zhou wei tersenyum sendiri. "(Setiap kegagalan adalah motivasiku untuk maju. Semangat dokter zhou)". Senyum di wajah zhou wei terus merekah setiap dia megingat perkataan xiao li.


"Kak, keluarlah sebentar. Ada masalah". Kata dokter Du ketika masuk ke dalam ruangan zhou wei dengan muka panik.


"Anakku sudah sesakit ini, kalian tidak memedulikannya. Dokter apa kalian ini?". Ngamuk seorang ayah pasien di post suster rumah sakit.


"Berdarah setelah operasi itu adalah hal wajar tuan. Dokter zhou sudah menanganinya". Seru suster xiao wei. Xiao li yang kebetulan lewat mendengar ada yang marah-marah, dia menghampirinya.


"Minggir kamu, aku bicara dengannya, untuk apa kamu ikut campur". Ayah pasien mendorong suster xiao wei dan menunjuk zhou wei.


"Kamu tenang dulu". Ucap zhou wei.


"Ternyata kamu adalah zhou wei. Kamu baru saja melakukan malapraktek, mencelakai gurumu sampai mati". Teriak ayah pasien menuduh zhou wei.

__ADS_1


"Hei...Mohon jaga perkataanmu". Bentak suster xiao wei saat melihat raut muka zhou wei berubah sendu saat mendengar tentang gurunya.


"Aku tidak mengerti, kenapa kamu yang menangani anakku?". Marah ayah pasien menggebu-gebu pada zhou wei.


"Suamiku, anak kita sudah pingsan". Teriak ibu pasien memanggil suaminya.


"Cepat pikirkan cara untuk anakku!. Aku akan menuntutmu". Teriak ayah pasien mendorong zhou wei dan memukul zhou wei dengan papan di tangannya. Xiao li yang melihat dari belakang zhou wei langsung maju menghadang di depan zhou wei. Dan hasilnya dia sendiri yang kena pukul di dahinya.


"Qin xiao li...". Panggil zhou wei panik melihat xiao li di depannya.


"Dokter zhou, kamu baik-baik saja, kan?". Tanya xiao li membalik badan melihat zhou wei.


"Xiao li..". Lirih zhou wei khawatir melihat dahinya xiao li berdarah. Merasa tatapan zhou wei agak aneh, dia memegang dahinya.


"Sshhs, astaga, DARAH..". Ucapnya langsung matanya memburam. Zhou wei membawanya ke ruangannya untuk di obati.


"Aku masih belum mulai. Jangan bergerak". Kata zhou wei satu tangan megang wajah xiao li, satunya lagi megang kapas.


"Shhss, pelan-palan". Xiao li meringis perih.


"Kamu masih tau sakit?. Aku tidak tau harus memujimu atau memarahimu. Situasi tadi begitu mendesak, kamu langsung terobos tanpa pedulikan apa pun. Untung saja lukanya tidak dalam". Omel zhou wei.


"Eh,, bagaimanapun aku adalah penyelamatmu. Aku terima pukulan ini demi siapa?". Ngoceh xiao li menunjuk dahinya. "Betapa bagusnya jika seseorang mau mengoperasikan ayahku, karena aku terluka demi kamu". Sindir xiao li mengerucut bibirnya.


"Apakah sangat sakit?". Tanya zhou wei.

__ADS_1


"Sebenarnya tidak juga". Gengsi mau mengakui sakit, padahal tadi belum di sentuh saja sudah meringis. "Saat kecil, ayahku merawatku seperti anak laki-laki. Jika kepala gadis lain yang terbentur, ayah ibunya langsung menggendongnya, menghibur dan menciumnya. Ayahku akan seperti ini, Qin xiao li, dimana pun kamu jatuh, bangkit sendiri dari sana. Seperti di tempat pelatihan". Ucap xiao li menirukan pak Qin sambil tertawa. " Dokter zhou, apakah akan sangat sakit saat di jahit nanti?". Tanya xiao li gugup.


"Kamu begitu takut sakit?". Tanya zhou wei berbalik mengambil sesuatu dan meniupnya. Xiao li penasaran apa yang di lakukan zhou wei membelakanginya. Zhou wei berbalik dan memegang sebuah balon. "Bagaimana?". Tanya zhou wei menunjuk balon itu.


Xiao li terdiam sejenak, lalu menepuk tangan. "Menggemaskan, sapi ini sangat menggemaskan". Ucap xiao li dengan senyum paksa.


"Sebenarnya ini adalah anak ayam". Kata zhou wei dengan santai, membuat xiao li membeku.


DEG...KRIK...KRIK...


"Saat bertugas, suster di kamar anak-anak yang mengajariku". Sambungnya.


"Tadi aku merasa ini seperti ayam, aku malu mengatakannya. Ayam yang menggemaskan". Cicit xiao li malu.


"Kalau begitu, yang patuhlah". Ucap zhou wei memberikan balon bentuk ayam versi zhou wei pada xiao li.


"Terima kasih, dokter zhou". Ucap xiao li menerima balon ayam yang aneh menurut xiao li. Lalu dia melihat balon itu berkata dalam hati, 'Dari mana mirip anak ayam, jelas-jelas ini bentuk anak sapi'. Ucap menautkan kedua alisnya.


"Kalau begitu, aku akan mulai. Siap-siaplah". Kata zhou wei memegang jarum untuk menjahit luka.


"Tunggu sebentar, dokter zhou. Ini di jahit langsung?. Bukankah sebelumnya harus di bius dulu?". Tanya Xiao li dengan wajah cemas karena takut.


Qin xiao li, sekarang kamu buat pilihan. Jika mau di bius, harus empat jahitan. Tidak di bius, dua jahitan. Pilihlah!.". Ucap zhou wei memberi pilihan melihat wajah gugup xiao li.


"Dua jahitan". Pilih xiao li ragu-ragu.

__ADS_1


"Kemari. Aku usahakan pelan-pelan. Akan sedikit sakit, bertahanlah". Ucap zhou wei mulai menjahit dahi xiao li. Xiao li menutup matanya menahan sakit. "Sudah hampir selesai, tahan sebentar lagi". Kata zhou wei. Xiao li membuka matanya dan menatap lurus ke mata zhou wei dengan senyum terpesona.


__ADS_2