
Xiao li berusaha menahan air mata dengan mata yang sudah memerah. Dia memeluk ibunya dan menepuk punggungnya. Bu Li sudah tidak bisa menahan suara tangisannya lagi, dia menangis dengan keras memeluk putrinya. Xiao li berusaha agar air matanya tidak jatuh, dia tidak mau menangis di depan ibunya, yang akan menambah rasa sakit di hati bu Li.
"Sudah kubilang sejak awal, kan!. Aku yang paling tau kesehatanku sendiri. Aku tidak apa-apa, melakukan pemeriksaan ulang itu menyia-nyiakan sumber daya medis yang berharga dan membuang-buang uang. Benar, tidak?". Cerocos pak Qin merasa dirinya tidak apa-apa, bu Li yang menuangkan minum untuk pak Qin sangat sedih, berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Benar, kami sudah salah, cemas sembarangan. Sebagai kompensasi untukmu, kumasakkan sup untukmu hari ini, bagaimana?. Kumasakkan yang paling kamu suka". Ucap bu Li menahan rasa sedihnya. Mereka belum memberitahu pak Qin hasil pemeriksaan yang sebenarnya.
"Itu masih lumayan. Masih ada kamu,, Kalian berdua memaksaku menderita sekali lagi, kalian tidak ada bedanya". Tunjuk pak Qin pada xiao li dan istrinya.
"Hah... Benar, kami sudah salah, kami mengaku salah, sudah bisa, kan?". Ucap xiao li senyum tipis. "Kebetulan, kamu bisa gunakan masa pemulihan operasi kali ini untuk menyembuhkan tukak saluran pencernaan. Dokter akan mengawasimu, jika tidak, kamu pasti merokok lagi di belakangku dan bu Li, benar,kan?. Sambung xiao li berusaha bersikap biasa saja.
"Kamu asal bicara apa?. Kapan aku merokok?. Dasar". Decak pak Qin.
"Aku tidak asal bicara, aku sudah lihat semuanya. Kamu menyimpan permen mint dan ludo di dalam laci, kan?. Kuberitahu ya, mataku ini jeli". Ucap xiao li sambil membuka laci yang di maksud, bu Li juga melihat kearah laci yang sedang xiao li buka.
"Ini...permen mint pun tidak boleh kumakan lagi?".
"Eih, sebelumnya aku lihat kamu taruh disini, kenapa tidak ada?. Apakah sudah kamu pindahkan?". Tanya xiao li curiga.
"Ayuhh... tidak ada". Ucap pak Qin berbaring sambil pura-pura baca buku.
__ADS_1
Bu Li melihat suaminya ada yang aneh, dia menepuk lengan suaminya dengan kesal. "Bangun,, bangun..!".
"Kenapa?. Bukankah aku hanya berbaring?". Pak Qin gugup.
Bu Li menarik tangan suaminya dengan paksa, lalu dia mengangkat selimut dan kasur dengan muka kesal. Bu Li menemukan sebuah kotak yang di dalamnya ada rokok, bu Li langsung marah. " Qin Da Li...".
"Ha..hanya kutaruh disini, aku tidak merokok. Sungguh, aku hanya...". Ucap pak Qin terbata gugup melihat muka marah istrinya.
"Kamu tidak merokok?. Apakah kamu tidak tau buruk bagi kesehatan dan lambung?. Apakah kamu tidak tau?. Aku harus cari baik-baik hari ini, jika ketemu lagi, akan kuhabisi kamu Qin Da Li?". Murka bu Li, saking marahnya dia membuang kotak berisi rokok kelantai. Bu Li mencari ke setiap sudut ruangan pak Qin dengan muka merah.
"Aku sungguh tidak merokok. Aku hanya kecanduan melihatnya saja, hanya tukak saluran pencernaan saja kan. Aku..aku tidak merokok, apa yang perlu di hebohkan". Ucap pak Qin lihat istrinya mengobrak-abrik ruangan.
"Kak Lili, kamu kenapa?"
"Xiao yan, kakak tidak apa-apa". Xiao li menghapus air matanya.
"Ini, kutraktir kakak makan permen, makanan manis bisa memperbaiki suasana hati". Kata xiao yan perhatian memberikan loly pop nya pada xiao li.
"Baiklah, kakak akan makan permen. Xiao yan hebat sekali, kamu pintar sekali, sudah seperti dokter kecil saja. Kakak tidak apa-apa, kakak mau cari angin segar di luar, xiao yan main sendiri dulu disini bisa, kan?". Ucap xiao li mengusap kepala xiao yan dan berlalu pergi.
__ADS_1
Xiao li pergi ke atap rumah sakit dan menangis sesenggukan. Xiao yan yang mengikuti xiao li ke atap dari belakang, melihatnya menangis, lalu xiao yan turun lagi. Melihat zhou wei ada di depan kamar pasien, xiao yan berlari dan menarik tangan zhou wei.
"Xiao yan, ada apa?"
"Dokter zhou, aku sudah berbuat salah". Kata xiao yan cemberutkan bibir.
"Kenapa?"
"Aku menghilangkan obat. Aku tidak berani memberitahu ibu dan dokter Yun, mereka pasti akan memarahiku. Bisakah paman dokter bantu aku mencarinya". Bohong xiao yan menatap sedih.
"Xiao yan, jangan panik. Katakan pada paman, kamu pergi kemana saja?". zhou wei mengusap kepala kecil di depannya.
"Tadi aku pergi ke lantai atap!". Tunjuj xiao yan ke atas.
"Xiao yan, lantai atap sangat berbahaya. Kedepannya, tidak boleh kesana sendirian, tau tidak?"
"Sudah tau".
"Baik, kebetulan, paman pulang kerja, kucarikan obatmu. Kamu kembali ke kamar dulu, ya!.".
__ADS_1
"Baik..".