Janji Cinta Kita

Janji Cinta Kita
MYSOPHOBIA


__ADS_3

"Makan, makan apanya?. Kamu selalu bilang aku tidak dewasa, tidak bertanggung jawab. Bagaimana denganmu?". Tanya xiao li dengan mata merah.


"Apakah kamu sudah jadi ayah teladan?. Apakah kamu tau ibu panik di rumah sakit sampai jatuh. Sekarang lututnya pun sudah memar. Ayah keluar sendirian, kan?. Ayah merasa sangat bebas, kan?. Apakah ayah merasa keras kepala menebus penyesalan masa mudamu yang terlalu taati aturan?". Ujar xiao li marah mengeluarkan kekesalannya. Pak Qin hanya diam mendengarkan kemarahan xiao li.


"Menonaktifkan ponsel dan pulang ke rumah lama. Bahkan meninggalkan surat, sekarang malah mau makan. Apakah perlu makan?". Setelah mengeluarkan semua amarahnya, xiao li kembali diam, mengatur nafasnya yang menggebu-gebu. Pak Qin mengembalikan hamburger ke dalam kotaknya. Zhou wei yang duduk tidak jauh dari mereka hanya diam mendengarkan.


"Saat kecil, kamu sangat suka makan ini. Bukankah kamu sudah menulisnya dalam harapanmu?". Ucap pak Qin melihat muka kesal putrinya. "Kamu ingin makan KFC bersama ayah". Ujar pak Qin.


"Apa yang kutulis di dalam harapanku?". Tanya xiao li masih kesal tidak tau apa yang dikatakan pak Qin.


"Saat kamu kelas 3 SD. Guru kalian yang meminta kalian tulis. 100 hal yang ingin di lakukan dengan ayah. Kamu bahkan menggambar beberapa bunga kecil. Kamu lupa?". Ujar pak Qin lembut mengingatkan xiao li.


"Sudah begitu lama, sudah lupa". Kata xiao li dengan mata merah berlinang air mata. Dia tidak menyangka ayahnya masih mengingat tentang harapannya di masa kecil.


"(Hari ini saat di kelas, guru meminta kami menulis 100 hal bersama ayah. 100 hal yang ingin di lakukan dengan ayah. Main layangan bersama ayah, mendaki gunung bersama ayah, makan KFC bersama, makan es krim bersama. Pergi makan KFC bersama. Ayah, bolehkah aku gantung ini di dinding?. Dengan begini, ayah bisa melihatnya setiap hari)". Ucap xiao li kecil pada ayahnya.


"Itu ditempel di dinding rumah lama. Lalu pindah rumah, lupa di ambil. Seharusnya harus kubawa. Aku ingin pulang ambil sebelum operasi". Ucap pak Qin alasannya pulang ke rumah lama. "Aku sudah tidak ingat, masih ada apa lagi?". Pak Qin mengingat-ingat apa lagi yang ditulis xiao li dalam harapannya. "Selain itu, sepertinya makan es krim, melihat pertunjukkan. Masih ada apa lagi?". Tanya pak Qin melihat mata xiao li sudah menganak sungai. Pak Qin memberinya tisu.

__ADS_1


"Aku sudah tidak ingat, aku lupa". Ketus xiao li mengambil tisu dari pak Qin dan menghapus air matanya dengan kasar.


"Aku tau aku mengidap kanker. Aku sudah dengar. Sebenarnya dengar atau tidak, juga tidak jauh beda. Aku paling tau keadaan tubuhku sendiri. Operasi sulit dikatakan, ada ketidak pastian yang sangat besar". Ucap pak Qin dengan apa yang sudah didengarnya. Xiao li sudah tidak bisa menahan air matanya lagi ketika mendengar ucapan pak Qin.


"Kepala sekolah tua yang di sekolah kita, Lao Chen, dia naik ke meja operasi.....,dan tidak turun lagi". Ujar pak Qin takut dirinya akan seperti Lao Chen.


"Lili, selama ini ayah selalu sibuk bekerja, tidak menemanimu melakukan keinginanmu. Lihatlah, dalam sekejap, sekarang aku sudah tidak tau kamu suka makan apa. Jika kamu, jika kamu tidak suka makan ini, bagaimana jika kita lakukan hal lain". Tanya pak Qin pada xiao li yang menangis di depannya.


"Aku mau pergi ke toilet". Kata xiao li berlari keluar, langsung menangis tersedu-sedu. Zhou wei ikut keluar menyusul xiao li, melihatnya menangis tersedu dari belakang.


"Jangan menangis. Pak Qin tidak mau melihatmu begini". Ujar zhou wei. Mendengar suara zhou wei, xiao li menghapus air matanya dan berbalik menghadap zhou wei dengan mata merah.


"Ka...Kamu jangan menangis". Ucap zhou wei bingung harus bagaimana. "Eh..ketika orang menangis, perubahan suasana hati akan besar. Ini akan meninggikan tekanan darah, jadi menurutku, lebih baik kamu kendalikan emosimu". Ujar zhou wei asal-asalan.


"Apa yang kamu katakan?. Aku sama sekali tidak memahami perkataanmu". Ucap xiao li dengan suara serak.


"Lihat kamu sekarang. Karena tekanan darah terus meningkat, warna wajahmu berubah menjadi merah. Badanmu terus kejang, bahkan wajahmu...Wajahmu juga semakin lama semakin seram, sangat menakutkan". Ucap zhou wei dengan muka tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Huaa.....Kamu ini manusia atau bukan?. Kenapa kamu menghibur orang seperti ini. Kamu bilang aku jelek, jika kamu merasa aku jelek, kamu bisa tidak menghiburku". Ujar xiao li dengan tangis semakin menjadi. "Hiks...Hiks...Kenapa kamu menyebutku jelek dan menghinaku disini?. Hiks...". Ucap xiao li dengan tangis terisak-isak, membuat zhou wei semakin bingung, karena dia tidak tau bagaimana menghibur orang yang sedang menangis.


Dengan pelan-pelan zhou wei jalan mendekati xiao li dan meletakkan kepala xiao li pada dadanya, lalu memeluknya dengan canggung.


"Jangan menangis lagi". Ucap zhou wei lembut sambil mengelus rambut xiao li dengan pelan. "Sudahlah, jangan menangis lagi, aku disini. Ada aku disini, jangan menangis". Kata zhou wei masih mengelus rambut xiao li pelan-pelan. Xiao li yang melihat zhou wei memeluknya merasa ada yang aneh.


"Dokter zhou.....". Panggil xiao li masih dalam pelukan zhou wei.


"Hmm". Sahut zhou wei dengan gumam.


"Bagaimana dengan 'MYSOPHOBIA' mu?". Tanya xiao li.


"Apa?". Ucap zhou wei melepaskan pelukannya. Xiao li menunjuk baju zhou wei yang terkena air matanya, saat zhou wei memeluknya. "Sudah kamu sembuhkan. Jangan menangis lagi". Ujar zhou wei memberikan tisu pada xiao li.


"Ayo, cepat kembali. Bibi Li, masih menunggu kita di rumah sakit. Lap dulu wajahmu, jangan sampai pak Qin lihat". Ucap zhou wei dan di angguki xiao li setuju.


Xiao li langsung menghapus air matanya dan merapikan rambutku. Zhou wei melihat rambut xiao li belum rapi, dia mengulurkan tangannya merapikan rambut xiao li bagian depan dengan canggung.

__ADS_1


"Sudah selesai". Ujar zhou wei, lalu mengajak xiao li masuk menemui pak Qin.


Dalam perjalanan pulang ke rumah sakit, zhou wei menyetir duduk di depan, xiao li dan pak Qin duduk di belakang. Semua diam tidak ada yang berbicara. Dalam diam xiao li terus menatap pak Qin yang tertidur. Xiao li membuka mulutnya memanggil pak Qin 'Ayah' tanpa ada suara. Lalu, dengan pelan-pelan menyenderkan kepalanya di bahu pak Qin dan tangannya melingkar di lengan pak Qin dengan senyum bahagia. Pak Qin membuka matanya melihat xiao li, lalu kembali menutup matanya. Zhou wei melihat dari spion, mengulum senyum dan kembali fokus menyetir.


__ADS_2