
"Aku mengerti maksud kalian. Tapi, mungkin kalian akan merasa kecewa soal ini. Dokter zhou, dia...". Yun xi menjeda ucapannya sambil melihat ibu dan anak di depannya yang sudah merasa sangat cemas. "Bagaimana, jika kalian bujuk dia sebagai keluarga pasien?". Sambungnya mengusulkan dengan ragu. "Begini, dokter zhou wei memang merupakan salah satu dokter Bedah paling kompeten di rumah sakit kami. Aku mendukung pemikiran kalian, bicaralah dengannya, selama dia sendiri setuju, maka ini tidak akan jadi masalah". Sambungnya juga berharap zhou wei mau melakukan operasi.
"Baik, baik, terima kasih,dokter Yun". Ucap bu Li dengan senang.
"O, iya, biasanya dokter zhou sangat sibuk. Aku sarankan kalian coba bujuk dia dengan baik. Tunjukkan ketulusan kalian!". Saran Yun xi.
"Mengerti, mengerti". Kata bu Li dan xioa li bersama dengan senyum senang. "Baiklah, kalau begitu, surat ini kami taruh disini dulu. Kami diskusikan dulu dengan dokter zhou". Sambung bu Li penuh semangat.
"Baik". Jawab Yun xi mengangguk.
"Terima kasih dokter Yun, sampai jumpa". Kata xiao li. Setalah keluar dari ruangan dokter Yun, bu Li langsung menarik tangan xiao li ke samping dan mengambil dompet dari tasnya mau kasih uang pada xiao li.
"Sekarang ibu kembali ke kamar untuk menemani ayahmu. Jika tidak, dia akan curiga. Sekarang kamu segera berikan aku barang di Mall. Ibu beri kamu 2000 yuan". Ucap bu Li mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Untuk apa?". Tanya xiao li tidak mengerti.
"Kamu beli barang dan antarkan pada dokter zhou". Ucap bu Li.
__ADS_1
"Kenapa?". Tanya xiao li lagi tidak mengerti apa yang mau dilakukan ibunya.
"Apa yang kenapa?. Ini ambil". Sewot Bu Li melihat wajah bingung putrinya. "Apakah kamu tidak paham maksud dokter Yun tadi?. Tau maksudnya 'Tunjukkan Ketulusan'". Tegas bu Li.
"Ketulusan yang dokter Yun adalah menunjukkan ketulusan kita saat berbicara. Apakah ibu salah paham?". Jawab xiao li yakin.
"Kamu memang pantas disebut anak kecil". Semprot bu Li. "Etika beginipun kamu tidak tau?. Sekarang kamu dengarkan aku, pergi beli barang dan antarkan pada dokter zhou, mengerti tidak?". Sentak bu Li melihat wajah lugu putrinya.
"Baiklah, aku mengerti". Lirih xiao li.
"Sekarang urusan ayahmu yang terpenting, jangan tunda lagi. Kenapa melamun?. Cepat pergi?". Desak bu Li.
"Cepatlah, lari..". Teriak bu Li, dan xiao li menurut dengan segera berlari.
Setelah membeli semua barang yang di pesan ibunya, xiao li kembali ke rumah sakit mencari zhou wei dan mengikutinya sampai keruangannya.
"Qin xiao li, kamu terus mengikutiku, apakah ada urusan?". Tanya zhou wei sambil duduk di kursinya.
__ADS_1
"Dokter zhou, aku serius, sekarang kamu adalah dokter kepercayaan keluarga kami. Kami sangat berharap kamu bisa melakukan operasi untuk ayahku". Kata xiao li memegang tangan zhou wei dan menatapnya dengan serius.
"Nona Qin, dokter bedah utama ayahmu adalah dokter Yan. Jadi, aku sarankan, jika ada masalah, diskusikan saja dengannya". Ucap zhou wei melepaskan tangannya.
"Aku tau, dokter Yan sangat baik. Namun, dokter yan bilang, jika dia yang melakukan operasi ini, maka dia harus memotong seluruh lambung ayahku. Coba kamu pikir, dokter, apakah menurutmu masih ada rencana lain...". Ucap xiao li.
"Soal rencana operasi, aku sudah bilang barusan, kusarankan kamu diskusikan dengan dokter yan". Sela zhou wei datar.
"Lalu kamu, apa alasannya?. kenapa kamu tidak bisa melakukannya?" Tanya xiao li menatapnya serius.
"Ada alasan pribadi". Jawab zhou wei datar tanpa melihat xiao li.
"Aaa, aku mengerti". Katanya mengingat pesan ucapan ibunya dan yun xi. "Aku paham, dokter yun sudah bilang padaku, harus ada ketulusan". Ucapnya meletakkan sekantong plastik berisi jeruk di meja. "Buah kaya akan vitamin. Orang sepertimu seharusnya makan lebih banyak buah jeruk. Kamu tunggu sebentar, aku cuci dulu dan bawa kembali". Kata xiao li mau pergi mencuci jeruk.
"Tidak perlu". Cegah zhou wei.
"Tidak suka makan buah jeruk?. Tidak apa-apa, hadiah utamaku ada setelah ini". Ucap xiao li mengira zhou wei tidak suka dengan jeruk, lalu dia mengambil sesuatu dari tas belanjanya. "Dokter zhou, apakah sebagai dokter kalian merasa sangat lelah?. Apakah itu yang kamu rasakan?". Tanya xiao li. Zhou wei tidak menghiraukannya, dia terus menunduk memeriksa laporan medisnya tanpa melihat ataupun menjawab ucapan xiao li.
__ADS_1
"Aku paham perasaan seperti ini. Di malam sebelum ujian universitas, aku tidak bisa tidur". Curhat xiao li. "Aku merasa cemas, rambutku rontok. Rambutku terus rontok dalam jumlah yang besar. Tapi, aku pakai ini, lalu rambutku tidak rontok lagi". Ucap xiao li menunjukkan sekotak shampo perawatan rambut anti rontok yang di peganggnya di depan zhou wei, yang hanya melihat sekilas benda yang di pegang xiao li lalu melanjutkan kerjaannya.