Janji Cinta Kita

Janji Cinta Kita
Kakak Senior


__ADS_3

"Ada banyak pemain Cello dalam grup musik. Namun, pemain Triangle hanya satu. Jadi, kamu sangat khusus". Hibur zhou wei membuat xiao li ketawa.


"Kamu bisa menghibur dengan ini juga. Aii...Aku tidak masalah, tidak perlu hibur aku".Ucap xiao li tersenyum menepuk lengan zhou wei. "Sejak kecil, aku tidak menganggap Cello sebagai sebuah keahlian, sehingga tidak latihan dengan keras. Setelah SMA, aku baru mulai tekun, lagi pula aku tidak berbakat. Tidak begitu dihargai di sekolah, aku sudah terbiasa. Tenang saja, aku tidak akan sedih terlalu lama atau menyerah karena ini. Bagiku, tidak ada hal yang tidak bisa di obati oleh sekaleng cola ini". Curhatnya tersenyum sembari menyesap cola di tangannya. "Waa... Enak sekali, suasana hatiku mendadak jadi bagus". Katanya ketawa, zhou wei menatapnya dengan senyum.


"Sebaliknya kamu, dokter Zhou. Kemarin kamu ceritakan masalah gurumu padaku. Jika percaya padaku, kamu boleh ceritakan padaku". Kata xiao li melihat zhou wei di sampingnya. "Tentu saja, jika kamu tidak mau, aku tidak akan memaksa". Sambungnya sebelum zhou wei menjawab.


"Apa yang tidak bisa di katakan dari ini?. Kira-kira sebulan yang lalu, guruku Liang Gu, di rawat karena kanker pankreas. Aku yang bertugas mengobatinya". Cerita zhou wei mengingat kembali tentang gurunya.


"(Guru, rencanaku adalah Laparoskopi bagian badan dan ekor pankreas di tambah Splenektomi. Luka kecil, pemulihan cepat. Menurut saya, ini lebih cocok dengan anda)". Kenang zhou wei saat gurunya masih di rawat dulu.


"Xiao zhou, Bagaimana keadaan Lao Liang?)". Tanya istri gurunya.


"(Bu guru, tenang saja, operasi guru Liang sangat berhasil)". Ujar zhou wei memberitahu hasil operasinya.


"Beberapa hari kemudian, kondisinya terua memburuk". Kata zhou wei pada xiao li dengan wajah sendu melihat ke atas langit mengenang kepergian gurunya.


"(Dokter zhou, sudah lebih dari 30 menit, dokter zhou...)". Seru dokter Du coba menghentikan zhou wei yang terus menekan dada guru Liang yang sudah tidak ada lagi detak jantung.


"(Minggir...)". Teriak zhou wei yang masih terus menekan dada gurunya. Namun, bunyi TIT..........dari monitor menunjukkan garis lurus. (Kembali.....Kembali.....Kembalilah.....)". Teriak zhou wei histeris, sampai beberapa dokter menenangkannya. "(Guru, tenang saja. Saya tidak akan mengecewakan anda)". Zhou wei mengingat ucapannya pada sang guru.

__ADS_1


Dari kejadian gurunya, zhou wei tidak bisa lagi melakukan operasi. Tangannya akan gemetar kalau memegang alat bedah. Dia berpikir kepergian gurunya adalah kesalahannya.


"Jadi, sebenarnya apa yang salah dalam pengobatan pak Liang?". Tanya xiao li setelah mendengar cerita zhou wei.


"Pendarahan parah, setelah operasi". Jawab zhou wei singkat.


"Pasti banyak yang menghiburmu bahwa ini bukan salahmu, kan?. Kenapa kamu bisa punya gangguan psikologis?". Tanya xiao li penasaran.


"Apakah karena kamu tidak yakin?. Karena tidak yakin, jadi, tidak bisa memutuskan apakah rencana operasimu itu bermasalah atau tidak. Karena itu, kamu barulah ada gangguan psikologis". Cerewet xiao li karena zhou wei diam saja. "Fix, tebakanku benar. Memang begitu". Sambungnya menjentikkan jari bahwa perkataan nya tentang zhou wei benar adanya.


"Hari itu melihatmu menyelamatkan pasien di kamar, aku sudah tau, kamu pasti orang berbakat yang mengendalikan semua hal. Orang seperti kalian, merasa bisa mengubah dunia ini dengan mengandalkan diri sendiri. Jadi, saat muncul masalah, rasa tanggung jawab kalian akan semakin besar, bahkan rasa tidak berdaya juga akan lebih kuat dari kami". Cerocos xiao li gak berhenti, dalam hati zhou wei membenarkan apa yang dikatakan oleh xiao li. Sambil tersenyum melihat xiao li cerewet kembali. "Sebenarnya, setelah kamu lewati rintangan itu, dan melihat kembali lagi, itu sungguh bukan masalah besar". Ucap xiao tersenyum manis menatap mata zhou wei.


"Lihatlah...Menurutku, pukulan yang kamu terima sejak kecil terlalu sedikit. Orang seperti kami dan sejak kecil, hati kami sudah kebal pada pukulan. Sekarang bagiku, setiap kegagalan adalah motivasiku untuk maju". Ucap xiao li tersenyum menunjuk semangat untuk maju.


"Benar, ini perkataan yang seharusnya di katakan anak seusiamu". Ledek zhou wei senyum tipis.


"Ck, apa maksudmu?. Kenapa menyerang secara fisik?. Siapa yang anak kecil?". Decak xiao li. "Aku adalah wanita dewasa, oke!". Ucap xiao li mengulum senyum.


"Sekarang kamu mahasiswa di universitas xx, kan?". Tanya zhou wei.

__ADS_1


"Yes". Jawab xiao li mantap.


"Dulu aku juga di situ, Sarjana kedokteran tahun 2006". Kata zhou wei.


"Kakak senior, ya?". Ucap xiao li menatap kagum. "Senang bisa bertemu". Xiao li mengulurkan tangannya, dan di sambut jabatan tangan zhou wei sembari tersenyum. "Angkatan tahun 2006?. Ckck, jauh lebih tua dariku. Tidak keliatan, kamu terlihat muda. Haha". Ledeknya tertawa nyenggol lengan zhou wei.


"Benarkah?". Balas zhou wei dengan gelak tawa juga.


"Setidaknya, garis rambutmu kuat. Jika kamu pakai shampo yang kuberikan, pasti bisa akan tahan lebih lama". Sindir xiao li sengaja mengungkit shampo anti rambut rontok berhasil membuat tawa zhou wei berubah dengan wajah datar. "Kamu ini, tidak bisa di ajak bercanda. Kenapa tiba-tiba langsung marah?. Jangan marah, aku hanya bercanda". Ucap xiao li mengedipkan matanya, dan menepuk lengan zhou wei dua kali, membuat zhou wei mengulum senyum dengan tingkah xiao li.


"Dokter zhou, apakah kamu tau?. Sebenarnya aku sangat iri denganmu. Sungguh!". Xiao li mengeluarkan dua jarinya bentuk V. "Aku merasa kamu punya bakat sebagai dokter Bedah. Bakat seperti ini sulit di dapatkan orang". Pujinya. "Jika aku punya bakat bawaan sepertimu, aku pasti mau berdiri di panggung dunia. Sesulit apa pun aku harus tetap berdiri. Pokoknya, semakin sulit semakin di tantang. Intinya, segala sesuatu pasti bisa di atasi/ di luruskan. Kalau tidak lurus, akan aku luruskan". Ucapnya sengaja memberi dukungan pada zhou wei secara tidak langsung. KRING......KRING......Ponsel xiao li berdering. "Pak Qin". Ucap xiao li memberitahu zhou wei.


"Halo...pak Qin".


"(Kamu dimana?)".


"Aku hanya kembali ke kampus sebentar. Kenapa begitu galak?. Bisakah lebih menghormatiku?. Aku sudah pulang sekarang, tunggu aku".


"(Cepat kembali)".

__ADS_1


"Aku sudah tau, sampai jumpa". Xiao li memutuskan sambungan telpon, dan melihat zhou wei. "Kamu paham pak Qin, kan?. Aku pergi dulu. Semangat". Kata xiao li berjalan pergi meninggalkan zhou wei duduk sendiri si atap rumah sakit. Namun, dia berhenti di tengah jalan dan berbalik. "Dokter zhou...". Teriak xiao li memanggil. "Kamu adalah dokter yang sangat baik di mataku. Meskipun kamu tidak bantu pak Qin operasi, kamu juga jangan menyerah. Aku pergi dulu". Xiao li memberikan semangat dan melambaikan tangan pada zhou wei. Zhou wei balas melambaikan tangannya sambil tersenyum.


__ADS_2