Janji Cinta Kita

Janji Cinta Kita
Zhou Wei Bimbang


__ADS_3

"Dokter zhou,, dokter Du sibuk tidak ada waktu. Aku ada waktu dokter zhou". Sela xiao li cepat.


"Qin xiao li, apakah hari ini ayahmu tidak perlu kamu jaga?. Apakah kamu sangat senggang?". Tanya zhou wei menatap dingin. "Jangan buang waktu denganku". Sambungnya berjalan pergi.


"Dokter zhou, keadaan pak Qin sangat bagus. Waktuku sangat banyak". Kata xiao li dengan tersenyum imut.


"Sangat senggang, ya?". Tanya zhou wei melipat tangannya di dada dengan senyum nyeringai.


"Hmm". Gumam xiao li.


"Sekarang aku tiba-tiba lapar. Berikan aku makanan". Ucap zhou wei.


"Aku beli tadi pagi, roti gandum utuh". Kata xiao li mengangkat kantong berisi roti di depan zhou wei. "Aku berikan pada dokter zhou". Ucapnya.


"Sekarang aku haus, tidak ingin makan". Ucap zhou wei sengaja mengerjai xiao li.


"Ini juga sudah aku siapkan. Gelasnya sudah ku sterilkan, di dalamnya ada Goji Berry, aku seduh sendiri". Jawab xiao li mengambil gelas minuman yang sudah di siapkannya dengan senyum bangga. Membuat zhou wei menatap datar padanya dan menghela nafas kesal.


"Sekarang aku tidak haus lagi". Kata zhou wei dengan kesal berlalu pergi.


"Jadi, kamu mau kemana?. Aku temani, dokter zhou". Seru xiao li dari belakang mengikuti zhou wei. "Dokter zhou, tunggu aku. Mau kemana?". Tanya xiao li saat sudah di samping zhou wei.


Zhou wei berhenti di depan toilet, menunjuk dengan dagunya. "Masih mau ikutkah?". Tanya zhou wei dengan muka dingin.


"Tidak, tidak, dokter zhou, silakan". Sahut xiao li canggung. "Aku tunggu di depan pintu dokter zhou, jangan buru-buru, pelan-pelan saja". Seru xiao li dari depan pintu, setelah zhou wei ke dalam toilet.

__ADS_1


Zhou wei menghela nafas panjang dan duduk menyender westafel menekuk wajah kesalnya.


"Halo..Direktur". Sapa xiao li, saat direktur rumah sakit mau masuk ke toilet. "Silakan". Kata xiao li dengan rasa malu berdiri di depan toilet pria. Direktur rumah sakit hanya mengangguk tersenyum tipis dan masuk ke dalam, merasa aneh kenapa xiao li bisa berada disini.


"Direktur". Sapa zhou wei di dalam toilet. Direktur hanya mengangguk dan masuk ke dalam melakukan ritualnya.


Di luar pintu , xiao li melihat ada dokter lain yang datang, dia pura-pura melihat ke atas, kesamping menghindari tatapaan aneh dari dokter tersebut.


"Xiao zhou, harus jaga batasan di rumah sakit". Tegur direktur saat sudah selesai dan mencuci tangam di westafel. "Apakah yang di luar iti adalah mantan pacarmu?. Aku lihat kamu menghindarinya". Tanya direktur chen dengan senyum meledek.


"Direktur, dia hanya keluarga pasien". Jelas zhou wei. "Aku tidak bisa mengoperasi ayahnya. Dia terus menanyakan alasannya, barulah aku bersembunyi di sini". Aku zhou wei menunduk kepala.


"Keluarga pasien?. Tidak perlu setakut itu kan?". Ejek direktur chen.


"Selain kamu, masih ada dokter bedah lain di rumah sakit kita. Sebenarnya, kamu tidak wajib mengoperasi pasien yang spesifik". Ucap direktur chen dengan senyum santai. "Lagi pula, dulu saat kamu sibuk, setiap hari menolak begitu banyak pasien. Kenapa?. Kenapa hari ini begitu bimbang?. Tanya direktur chen menatap muka galau zhou wei. "Kamu takut mengoperasi pasien itu atau ingin operasi?. Tapi, takut tidak bisa melakukannya dengan baik?. Kamu pikirkan baik-baik". Nasehat direktur chen menepuk pundak zhou wei tersenyum ramah. Zhou wei balas dengan mengangguk kepala dengan senyum tipis.


"Dokter zhou....Dokter zhou, aku tau kamu masih di dalam". Panggil xiao li setelah melihat direktur chen sudah keluar, suara xiao li menyadarkan zhou wei dari lamunannya tentang perkataan direktur chen tadi.


"Tidak masalah, aku tidak mendesak. Kamu pelan-pelan saja". Sambung xiao li. "Aku hanya mau bilang, nanti kita tetap akan bertemu lagi. Sampai jumpa". Ucap xiao li berlalu pergi dari toilet pria.


Setelah xiao li pergi, zhou wei masih merenungkan kata-kata direktur chen. Menatap dirinya sendiri di cermin toilet.


**


"Hua..hua...hua...Aku tidak mau dengan dokter Yan. Aku mau dokter zhou, dokter zhou paling baik. Hua....". Rengek xiao yan menangis tidak mau di operasi oleh dokter Yan. Xiao li yang sampai ke ruangan mendengar tangisan xiao yan, dia merasa sedih melihatnya.

__ADS_1


"Dokter Yan, juga baik, xiao yan". Bujuk ibu xiao yan dan ibunya xiao li. "Dokter Yan, sangat baik, patuhlah!". Bujuk ibu xiao yan.


"Aku tidak mau!. Dokter zhou tidak datang, aku tidak mau operasi". Kekeh xiao yan menangis.


"Dasar anak ini". Bentak ibunya xiao yan, karena xiao yan tidak mau menurut.


"Bibi, jangan begini". Kata dokter Du yang juga ikut membujuk xiao yan.


Zhou wei yang kebetulan melewati ruang rawat xiao yan, mendengar xiao yan menangis dan memanggil namanya. Lalu, dia mengambil ponsel dan menghubungi dokter Yan.


"Halo...Dokter Yan, ini aku zhou wei". Ucap zhou wei dari depan pintu ruang rawat xiao yan. "Aku mau minta bantuanmu untuk satu hal. Di operasi xiao yan nanti sore, bolehkah aku ikut masuk ke ruang operasi?". Tanya zhou wei sambil melihat ke dalam ruangan xiao yan. "Aku tau hal ini agak rumit, jadi, khusus datang minta bantuanmu". Ucap zhou wei menatap sedih melihat xiao yan yang masih menangis memanggil namanya.


"Xiao yan, tenang saja. Tidak masalah dokter Yan yang mengoperasimu. Paman dokter akan terus menemanimu sampai operasi selesai, ya!". Janji zhou wei pada xiao yan saat masuk ke dalam ruang rawat xiao yan.


"Apakah paman dokter zhou sudah datang?". Ucap xiao yan dalam hati saat sudah berada di dalam ruang operasi dan sudah di kasih obat bius. Perlahan xiao yan menutup mata tertidur.


Di dalam ruang operasi, zhou wei terus memperhatikan xiao yan yang sedang di operasi. Sampai operasi selesai dia baru keluar.


"Buku ini ada 899 lembar. Semua harus kuhafal, sulit sekali".keluh dokter Du pada xiao wei.


"Kak zhou wei". Panggil dokter Du saat melihat zhou wei dan menghampirinya. "Kamu datang tepat pada waktunya. Bantu aku, isi buku ini yang harus kuhafal sangat banyak. Bantu aku tandai poin pentingnya". Ucap dokter Du memberikan buku yang di pegangnya pada zhou wei. Zhou wei menerima buku itu dan membuka beberapa halaman buku itu. "Bagaimana?". Tanya dokter Du dengan senyum.


"Menurutmu, apakah pasien akan sakit sesuai poin pentingnya?". Cibir zhou wei menatap tajam pada dokter Du. "Pasien menyerahkannya padamu, karena mereka percaya padamu. Sebagai seorang dokter, tidak boleh ada optimisme bias. Harus bersiap untuk segalanya". Kata zhou wei menatap dingin dokter Du. "Hafal semuanya, senin depan aku periksa". Hardik zhou wei mengembalikan buku ke tangan dokter Du.


"Baik". Lirih dokter Du merasa takut dengan tatapan zhou wei.

__ADS_1


__ADS_2