Janji Cinta Kita

Janji Cinta Kita
ROTI PANJANG


__ADS_3

"Apakah kamu mau membeli untuk pacarmu?. Ambil yang ini saja, yang ini kecil dan mudah dibawa. Belakangan ini juga cukup popular". Tanya wanita itu memberikan sebungkus roti panjang (pembalut)yang lagi popular.


"Terima kasih, ya". Ucap zhou wei gugup, dan membawanya ke kasir untuk membayar.


"Tuan, sekerang lagi ada promo di toko , beli tipe ini bisa dapat hadiah kecil. Aku bantu kamu bungkus ya". Ucap kasir saat melihat merk roti panjang (pembalut) yang dibeli zhou wei.


"Terima kasih. O iya, biasanya saat gadis sakit perut, kalian butuh...Kalian butuh apa saja". Tanya zhou wei canggung.


"Kamu bisa beli penghangat perut saja". Ucap sang kasir mengerti yang dibutuhkan zhou wei.


"Terima kasih masukkan saja. O iya, beli minuman hangat juga". Kata zhou wei.


"Kamu baik sekali pada pacarmu. Aku sangat iri pada pacarmu". Ucap wanita yang memilihkan roti panjang (pembalut) untuk zhou wei dengan tatapan iri pada wanita yang akan menjadi pacar zhou wei.


Setelah selesai membayar, zhou wei segera kembali ke mobilnya, dan memberikan minuman hangat pada xiao li.


"Terima kasih". Ucap xiao li menerima minuman hangat itu.


"In...Ini untukmu". Zhou wei memberikan kantong plastik berisi roti panjang (pembalut) dan penghangat perut pada xiao li dengan canggung.


"Xiao li membuka plastik dan melihat isinya. "Se...Sekarang aku sudah jauh lebih baik. Sudah tidak apa-apa, ayo, kita pergi cari pak Qin". Kata xiao li tak kalah canggung.


"Sekarang kamu seperti ini, mau pergi cari kemana?. Taukah kamu biasanya pak Qin pergi kemana?". Tanya zhou wei menatap xiao li yang menggeleng tidak tau. "Sekarang yang haria kamu lakukan adalah rileks. Redakan emosimu yang tegang. Rasa tegang bisa menyebabkan,...Menyebabkan perutmu semakin sakit". Ucap zhou wei dengan perhatian.

__ADS_1


"Apakah dokter tidak punya saran medis yang profesional soal sakit perut (Tamu bulanan)?". Tanya xiao li asal.


"Soal ini, sepertinya aku tidak seahli dirimu. Jika kamu serius bertanya padaku, aku hanya bisa menjawab, minumlah lebih banyakvair hangat , habiskan semuanya". Ujar zhou wei menunjuk minuman hangat yang di pegang xiao li.


Xiao li hanya tersenyum dan langsung minum air hangatnya. Zhou wei membuka bungkus penghangat dan menaruhnya di perut xiao li.


"Istirahatlah dengan baik. Setelah istirahat, kita lanjut cari lagi". Xiao li diam menerima perhatian dari zhou wei. Dia merebahkan dirinya di kursi mobil zhou wei.


"Qin xiao li, kenapa aku tidak pernah mendengar kamu memanggil pak Qin 'Ayah'?". Tanya zhou wei penasaran.


"Saat kecil, di sekolah, aku kabir memanjat dinding dan main diluar, akhirnya ketauan. Sekolah memberiku hukuman, jadi, aku memohon pada ayahku. Aku bilang 'Ayah', namun, pak Qin malah bilang padaku, jangan panggil aku 'ayah', panggil aku pak Qin". Cerita xiao li memandang ke depan, mengingat kejadian masa lalu.


"Aku ingat hari itu, bahkan dekan penilai pun ikut memohon untukku. Dia bilang, cukup berikan peringatan saja, Namun, pak Qin tidak mau. Di bawah tuntutannya yang keras, aku membaca surat introspeksi diri saat upacara bendera di hadapan semua teman sekolah. Sejak saat itu, aku tidak pernah memanggilnya ayah lagi. Selalu memanggilnya pak Qin". Ujar xiao li tersenyum tipis.


"Bukan hanya ketat, ini jelas-jelas sangat keras. Taukah kamu apa hal yang paling menakutkan bagi anak kecil?". Tanya xiao li menatap zhou wei yang menjawab menggeleng kepala. "Yaitu bersatunya guru dan ayah". Ucap xiao li yang membuat zhou wei langsung ketawa.


"Pak Qin memang seperti itu. Jika aku telat bangun saat di rumah, dia akan memarahi aku dulu di rumah. Saat aku sampai di sekolah, statusnya langsung berubah menjadi Dekan Pendidikan, lalu, menghukumku lagi. Bukankah sangat menakutkan?". Ujar xiao li tersenyum mengingat sikap pak Qin dulu.


"Aku ingat, pernah sekali, harapan ulang tahunku adalah aku berharap ayah kandungku datang dan memgakuiku sebagai anaknya. Lalu, memberitahuku 'Qin Da Li' bukan ayah kandungmu. Aku ingat, sepertinya itu harapanku saat berusia 9 tahunm Lalu, hari itu aku juga pergi dari rumah". Ucap xiao li menatap ke atas langit malam.


"Kenapa?". Tanya zhou wei penasaran.


"Sepertinya karena pak Qin sibuk kerja. Tidak merayakan ulang tahunku dan bahkan memarahiku". Kata xiao li mengingat-ingat kembali. "Karena emosi aku pergi dari rumah. Aku ingat, aku terus berjalan, terus melangkah, sampai tiba di sebuah tepi sungai. Saat itu, aku menumpuk tanah dan membentuknya menjadi kue. Lalu, membuat harapan untuk diriku sendiri". Ceritanya mengenang masa lalu.

__ADS_1


"Kamu masih kecil, tapi sudah pergi dari rumah. Saat itu, orang tuamu pasti sangat panik". Tanya zhou wei tidak percaya.


"Seharusnya mereka panik. Apakah kamu rasa saay pak Qin menemukanku, seharusnya memelukku?. Memelukku sambil menangis, lalu meminta maaf padaku dan bilang tidak seharusnya marah padaku, begitu. Sejak itu juga akan lebih baik padaku?". Ujar xiao li dengan senyum tipis melihat ke zhou wei.


"Apakah bukan begitu?". Tanya zhou wei lagi. Xiao li menggeleng kepala pelan.


"Aku ingat saat dia menemukanku, dia langsung menyerbu dalam sekejap, dia langsung menendang kakiku, lalu menunjuk hidungku sambil berkata, ' Qin xiao li, jika kamu berani kabur lagi, akan kupatahkan kakimu'". Kata xiao li menirukan ucapan ayahnya dengan mata berlinang.


"Sejak saat itu, di rumah kami ada larangan keluar. Setelah pukul 18:00 malam, tidak boleh pergi kemanapun. Dia akan mengawasiku setiap hari". Ucapnya dengan suara gemetar.


"Setelah aku menemukannya, aku harus mengatakan semua ini padanya tanpa di ubah sedikitpun. 'QIN DA LI', jika kamu berani kabur lagi, akan aku patahkan kakimu'!". Ucapnya dengan suara serak dan air matanya mengalir turun tidak bisa di tahan.


Dengan pelan-pelan tangan zhou wei memegang pergelangan tangan xiao li.


"Kita pasti bisa menemukannya". Kata zhou wei dengan lembut menenangkan xiao li. Xiao li balas dengan anggukan kepala. Setelah beberapa detik, ponsel xiao li berdering, itu telpon dari ibunya .


Xiao li menghapus air matanya dan menghela nafas pelan, baru mengangkat telpon dari ibunya.


"Halo..Ibu bagaimana?". Tanya xiao li setelah menekan tombol hijau.


"(Lili, Ak..Aku beritahu, aku sudah tau ayahmu ada dimana?)". Ucap bu Li panik di telpon.


"Dia ada dimana sekarang?". Tanya xiao li ikut panik.

__ADS_1


"(Barusan aku menerima notifikasi pembayaran seluler ayahmu yang terhubung dengan kartuku, dia membeli tiket kereta api. Sekarang di stasiun kereta api, harusnya mau pulang ke kampung. Keretanya berangkat 45 menit lagi)". Ucap bu Li. Xiao li menyuruh ibunya jangan khawatir, dia dan zhou wei sudah di jalan menuju stasiun kereta api.


__ADS_2