
"Dulu kakekku adalah seorang dokter pengobatan tradisional. Dia bilang padaku, banyak orang yang merasa dokter sudah terbiasa melihat kejadian hidup dan mati. Namun, sebenarnya, saat menghadapi nyawa, setiap orang tidak bisa bersikap acuh tak acuh. Respon pertama orang biasa saat melihat orang yang sakit parah adalah merasa kasihan. Sedangkan dokter berpikir, apakah bisa di tolong, bagaimana cara menolongnya. Jika bisa di tolong, maka harus berusaha. Jika tidak bisa di tolong, juga harus berusaha". Ucap xiao li memberikan pencerahan.
"Jadi, dokter zhou, kamu sudah berusaha sebisamu. Perkataanku masih sama, di hatiku kamu sudah merupakan seorang dokter yang sangat baik. Namun, mungkin kamu ingin menjadi dokter yang lebih baik lagi. Jadi, sebelum menjadi dokter yang lebih baik, jangan sampai kamu jatuh. SEMANGAT". Xiao li menghibur dan memberi dukungan untuk zhou wei.
"Qin xiao li... Banyak orang yang memghiburku dengan banyak alasan. Namun, tidak ada yang sepertimu". Puji zhou wei dengan tingkah xiao li yang unik menurutnya.
"Benarkan. Bukankah aku ini punya ide yang sangat segar dan unik". Ucapnya mengangkat dagu dengan sombong.
"Biasa saja". zhou wei jadi nyesal sudah memuji.
"Siapa itu...". Teriak petugas keamanan kampus menyorot dengan lampu senter.
"Lari...". Seru xiao li langsung lari.
"Qin xiao li, kamu bilang panjat jendela itu budaya jurusan musik,kan?". Tanya zhou wei masih diam di tempat, membuat xiao li berhenti dari lari kembali ke tempat zhou wei masih duduk.
"Jika tertangkap, bisa potong nilai. Aku belum lulus". Ujar xiao li dengan gugup langsung menarik tangan zhou wei melarikan diri.
"Hei...Berhenti...". Teriak petugas kampus mengejar keduanya.
Mereka melarikan diri ke taman dan duduk disana sambil ngos-ngosan. Xiao li pergi beli minuman tinggal zhou wei duduk sendiri disana.
"Qin xiao li... Kamu baru saja terluka bisakah jalan yang benar?". zhou wei ngomel saat xiao li berlari habis dari beli minum.
"Untukmu". Xiao li memberi minuman kaleng yang baru dibelinya pada zhou wei.
__ADS_1
"Dokter zhou, sekarang sudah jam pulang kerja, tau?. Selain itu, aku yang terluka ini, audah memanjat jendela hari ini, juga sudah berlari. Untuk apa peduli ini?". Cibir xiao li melihat muka datarnya zhou wei.
"Ayo, biarkan aku senang dulu. CHEK.....". Xiao li membuka minuman kalengnya. "Ayo,minum cola dulu. BERSULANG...". xiao li mengangkat minumannya ke arah zhou wei, tapi zhou wei diam saja tidak membuka minumnya maupun menjawab.
"Kamu tidak minum, ya?. Kalau begitu, aku minum, minum duluan untuk menghormati. SRRUUP....Aaaaa..Enak. Cicipilah seteguk". Ucapnya menyenggol bahu zhou wei.
CHEK...Zhou wei membuka minuman kalengnya dan minum sedikit.
"Yang benar saja, dokter zhou". Protes xiao li melihat zhou wei cuma minum sedikit saja. Lalu, dia mengajak zhou wei meminum dengan tegukan besar.
UHUK....UHUK.... Zhou wei tersedak minuman sodanya membuat xiao li tergelak tawa.
"Hahaha...Bukankah rasanya sangat nyaman?". Tanyanya.
"Lumayan". Sahut zhou wei dengan muka merah habis tersedak dengan senyum malu.
"Dokter zhou, situasi berbalik". Ucapnya senang, tidak sadar apa yang di lakukan. Zhou wei kaget, tiba-tiba tangannya di genggam xiao li dengan erat. "Barusan guru kami mengirimiku pesan dan bilang bahwa aku boleh kembali dan jadi pemain Cello lagi. Asalkan aku terus rajin latihan, maka aku bisa ikut orkestra. Tidak sia-sia kepalaku di pukul tadi". Ucapnya dengan semangat 4 5.
"Qin xiao li, apa hubungannya kamu terluka dengan gurumu mengizinkanmu bermain Cello lagi". Kata zhou wei dengan kesal akan ucapan xiao li tidak sia-sia di pukul.
"Sangat berhubungan. Ini kompensasi yang diberikan langit. Metafisika, kamu pasti tidak paha metafisika, kan?". Ucapnya dengan bangga sambil menepuk tangan zhou wei yang di genggamnya.
"Benar, aku tidak paham. Lepaskan dulu tanganku". Ucap zhou wei menunjuk tangan yang di genggam xiao li dengan dagunya.
Xiao li langsung melihat tangannya megenggam tangan zhou wei, dan segera melepasnya dengan menunduk malu.
__ADS_1
"SORRY...Aku terlalu bersemangat". Ucapnya salah tingkah. "Tidak apa-apa, jika kamu mau mendesinfeksi, maka kamu lakukan". Ujar xiao li melihat zhou wei sudah mengeluarkan hand senitizer di tangannya. "Aku tidak akan merasa kamu meremehkanku lagi". Lirihnya. "Melihat sikapmu seperti ini, kelak bagaimana kamu bisa pacaran?. pegangan tangan pun tidak boleh". Sindir xiao li.
"Kamu bilang apa?". Tanya zhou wei menatapnya datar.
"Ti...Tidak bilang apa-apa. Tidak bilang apa-apa". Sahut xiao li gugup melihat muka datar zhou wei sedang menatapnya lekat, xiao li langsung menunduk.
Zhou wei tersenyum melihat wajah gugup xiao li. "Sebenarnya, pacaran juga ada caranya sendiri". Xiao li mengangkat kepalanya saat mendengar ucapan zhou wei dan melihat zhou wei tersenyum tipis, xiao li mengangguk kepala setuju dengan ucapan zhou wei. Lalu memasang headset ke telinga zhou wei dan memutar musik. Keduanya diam menikmati musik yang sedang di putar dengan pikiran masing-masing.
"All thing have cracks. That is where the light enters". Kata zhou wei setelah diam beberapa saat.
"Semua benda punya keretakan. Itu adalah tempat masuknya cahaya". Xiao li langsung menerjemahkan perkataan zhou wei. "Lihatlah, asalkan tidak menyerah, pasti akan ada keajaiban dalam hal apa pun. Benar,kan?". Ucap xiao li tersenyum pada zhou wei. Begitupun sebaliknya, zhou wei menatap balik sambil tersenyum. Zhou wei diam-diam melirik xiao li beberapa kali sampai ketauan sama xiao li. Zhou wei salah tingkah dengan berdehem tersenyum malu, xiao li ikut tersenyum juga.
**
Di dalam Bar, Sasa sama zhou yuan duduk bersama. Sudah ada 12 gelas alkohol di depan mereka.
"Kamu benar-benar mau mencoba sekali lagi?". Tanya Sasa menatap zhou yuan dengan senyum menyindir.
"Aku ini tidak akan pernah mengaku kalah dalam dua hal. Pertama, dalam hal pesona. Kedua, dalam kemampuan minum alkohol". Kata zhou yuan dengan sombong tersenyum mesum.
"Tidak menyesal Dungu?". Tantang Sasa.
"Tidak akan menyesal". Sahut zhou yuan dengan tegas.
Sasa baru mau mengambil gelas pertama untuk di minum, namun, di hadang oleh zhou yuan.
__ADS_1
"Tunggu dulu, biar kucicipi". Ujar zhou yuan mengambil gelas Sasa dan meminumnya sedikit. "Hmm, kenapa rasanya seperti ini?". Zhou yuan menaikkan alis merasakan minuman di gelas Sasa. "Biar aku cicipi lagi. Hmm, bukankah ini air soda". Ucap zhou yuan menatap bartender dan Sasa penuh tanya. Sasa hanya diam menunduk sudah ketauan bohong.