
"Dokter zhou, matamu indah sekali". Ucap xiao li tanpa mengalihkan mata nya.
"Tidak sakit lagi, ya?". Sindir zhou wei.
"Kamu jangan salah paham, aku tidak bermaksud lain. Aku hanya melihat dari sisi keindahan". Kata xiao li menjelaskan. "Apakah ada yang perlu aku perhatikan lagi?". Tanyanya ketika zhou wei sudah selesai menjahit lukanya.
"Jangan kena air 3 hari. 2 hari ganti perban sekali, setelah 5 hari aku buka jahitannya. Jangan makan makanan pedas. Tidak sakit, kan?". Jawab zhou wei memakaikan perban di dahi xiao li.
"Tidak, terima kasih, dokter zhou. Kalau begitu, aku pergi dulu, sampai jumpa, bye". Ucap xiao li melambaikan tangannya.
"Perhatikan lukamu". Kata zhou wei sebelum xiao li keluar. Xiao li mengangguk dan berlalu pergi.
Setelah keluar dari ruangan zhou wei, tidak terlalu jauh tiba-tiba xiao li berhenti.
"Balon anak ayamku!". Xiao li teringat balon pemberian zhou wei lupa di ambil, lalu berbalik jalan ke ruangan zhou wei. Sampai di depan pintu, xiao li berhenti, melihat zhou wei berdiri membelakanginya dalam diam. Tangan zhou wei bergetar hebat di atas meja. Xiao li mundur beberapa langkah, pura-pura tidak melihatnya. Xiao li memanggil zhou wei, seolah baru datang.
"Dokter zhou...Apakah sudah selesai bekerja?". Panggil xiao li, zhou wei langsung berbalik melihat xiao li di depan pintu, dia langsung memasukkan tangan gemetarnya ke dalam saku jas dokternya.
"Hmm". Jawab zhou wei dengan gumam.
"Aku bawa kamu ke suatu tempat". Ajak xiao li antusias.
"Sudahlah, aku tidak mau pergi. Aku...". Lirih zhou wei tanpa melihat xiao li.
"Tolonglah...Aku adalah penyelamatmu. Hargailah sedikit". Sela xiao li sambil tersenyum.
__ADS_1
Xiao li membawa zhou wei pergi ke kampusnya dan membuka jendela dari luar.
"Katakan lagi, apa yang kamu ingin aku lakukan?". Tanya zhou wei aneh saat xiao li membuka jendela dari luar, apa lagi ini malam hari.
"Masuk lewat jendela". Jawab xiao li dengan enteng.
"Masuk lewat jendela?". Tanya zhou wei mengerutkan alis tidak percaya.
"Kamu tenang saja. Ini adalah tradisi jurusan musik kami. Pada dasarnya, setiap murid pernah masuk dari jendela untuk berlatih". Kata xiao li dengan santai. "Yang benar saja, dokter zhou. Kamu tidak pernah melanggar aturan saat maaih kuliah?". Olok xiao li melihat muka datar zhou wei.
"Menurutku, tugas kuliah jurusan musik kalian terlalu sedikit". Sindir zhou wei.
"Dasar kuno. Tunggu sebentar, lihat aku". Cibir xiao li berbalik menghadap jendela dan langsung melompat masuk ke dalam. Reflek zhou wei langsung mengulurkan tangannya di atas kepala xiao li, agar tidak ke bentok besi jendela.
"Masuklah". Panggil xiao li melihat zhou wei masih berdiri diam di tempat. "Dokter zhou, kamu ini sungguh menarik. Kamu bisa masuk dengan satu kaki, untuk apa kamu bimbang di luar?. Sudahlah, aku juga tidak memahami pelajar teladan sepertimu". Cibir xiao li mengerutkan bibirnya. "Kamu tunggu aku di pintu depan, aku bukakan pintu". Kata xiao li berjalan ke depan untuk membuka pintu agar zhou wei bisa masuk. Namun, CEKLEK....Zhou wei membuka pintu lebih dulu dari luar dan terbuka. Xiao li hanya menatap aneh.
"Qin xiao li, bukankah pintunya tidak di kunci?". Tanya zhou wei dengan datar.
"Aku juga tidak tau hari ini tidak di kunci". Tukas xiao li dengan muka polosnya.
"Apakah kamu di pukul sampai Dungu?". Ucap zhou wei lembut mengelus dahi xiao li yang di jahitnya.
"Seharusnya tidak". Jawabnya lugu.
"Jalan tidak?". Tanya zhou wei, dan xiao li lamgsung berjalan masuk ke dalam membuka pintu ruang musik dan mengajak zhou wei untuk masuk.
__ADS_1
"Bagaimana?. Sekarang tidak ada siapa pun disini. Bukankah terasa sangat ada suasana?". Tanyanya ketika berada di dalam ruang musik, zhou wei mengikuti dari belakang. "Dulu saat sekolah, prestasiku sangat buruk. Aku juga tidak tau apa yang bisa kulakukan. Aku juga tidak tau, apakah aku bisa masuk universitas atau tidak, pada dasarnya sudah menyerah. Sampai aku bertemu seorang kakak senior, dia memotivasiku, dia memberiku arah". Cerita xiao li tersenyum senang. "Aku masih ingat hari itu dia membawaku masuk dari jendela itu, lalu dia naik ke atas sini, membuat perjanjian denganku". Sambungnya menunjuk jendela dan panggung di depannya mengingat janji kakak seniornya. '(Lili,, setelah kamu di terima di universitas, kita akan main musik bersama disini)'.
"Lalu, kamu sungguh di terima?". Tanya zhou wei.
"Hmm, berhasil di terima". Jawab xiao li mengangguk. "Lalu, apa pun masalah dan kesulitan yang aku hadapi, aku akan datang kemari. Semua akan membaik dalam sekejap". Ucapnya dengan senyum. " Jadi, dokter zhou, aku mau membagikan hal ini denganmu".
"Hmm, bukankah kamu juga harus bermain musik untukku?". Goda zhou wei melipat tangan di dada.
"Hmm, tunggu sebentar". Ujar xiao li naik ke atas panggung. "Terima kasih, dokter zhou, membuat pak Qin diobati tepat waktu. Aku pilih lagu ini khusus untukmu, kamu harus dengarkan baik-baik. Siap-siap". Celoteh xiao li di atas panggung dan memposisikan tangannya seolah sedang memegang Cello. Dia mulai memainkan dengan menggesek perlahan Cello sesuai bayangannya, padahal kosong gak ada apa-apa. Dia melirik zhou wei yang melihatnya tersenyum.
PROK...PROK...PROK.....
Zhou wei tepuk tangan setelah xiao li menurunkan tangannya, tanda sudah selesai lagunya.
"Bagaimana?". Tanya xiao li dari atas panggung.
"Tidak buruk". Sahut zhou wei masih dengan tepuk tangan.
"Dokter zhou, apakah kamu tau, orang seperti apa kamu di mataku?". Zhou wei menggeleng tanda gak tau. "Sebenarnya, awalnya salah pahamku padamu sangatlah besar. Meski sekarang belum sepenuhnya memahamimu, tapi ada satu hal yang sangat kuyakini, yaitu, Kamu adalah seorang dokter yang sangat baik". Ucap xiao li menatap yakin.
Zhou wei menghela nafas pelan dan duduk si samping xiao li.
"Dokter seharusnya adalah profesi yang menolong nyawa. Sejak aku jadi seorang dokter magang sampai sekarang, total ada 15 pasien yang telah pergi dari tanganku. Sampai sekarang pun aku masih ingat setiap wajah mereka". Ujar zhou wei suara sendu. "Namun sekarang, aku bahkan tidak bisa menolong guru yang paling aku hormati. Apakah kamu masih merasa aku dokter yang baik?". Tanua zhou wei menatap mata xiao li lekat
"Tentu saja". Jawab xiao li mengangguk yakin dengan muka serius. "Dulu kakekku adalah seorang dokter pengobatan tradisional. Dia bilang padaku, banyak orang yang merasa dokter sudah terbiasa melihat kejadian hidup dan mati".
__ADS_1