Janji Cinta Kita

Janji Cinta Kita
Mengetahui penyakitnya


__ADS_3

"Hm, aku pergi dulu, ya!". Kata xiao li melambai tangan, karena tidak tau harus bicara apa lagi, sedang zhou wei juga diam.


"Tunggu sebentar". Panggil zhou wei saat xiao sudah berbalik. "Ada satu hal yang mau kukatakan padamu". Kata zhou wei dengan muka serius.


"So...Soal apa?". Tanya xiao li dengan gugup melihat muka serius zhou wei.


"Aku sudah putuskan menjadi dokter Bedah utama ayahmu". Ucap zhou wei lalu tersenyum.


"Menjadi...Menjadi dokter Bedah utama ayahku?". Ujar xiao li senang. "Tapi...Tapi, bukankah kamu punya gangguan mental?". Tanya gugup sekaligus merasa senang.


"Aku tidak pernah bercanda dengan nyawa pasien". Ucap zhou wei tegas, lalu mengulurkan tangannya pada xiao li. Xiao li langsung menjabat tangan zhou wei.


"Te...Terima kasih banyak, dokter zhou. Terima kasih, dokter zhou". Ucapnya menggoyang-goyangkan jabatan tangan mereka saking senangnya.


"Eham..". Zhou wei berdehem meminta tangannya dilepas. Xiao li langsung melepas tangannya.


"ooh, mak...Maksudnya, ingin aku melihat tanganmu, ya?".Kata xiao li mengambil kembali tangan zhou wei. "Ini sangat stabil, stabil sekali, tidak gemetar sedikitpun. Bagus". Ucapnya dengan tingkah konyol memijat telapak tangan zhou wei.


"Beberapa waktu ini, aku juga terus memastikan hal ini. Kamu tenang saja, aku pasti akan berusaha sebaik mungkin". Ucap zhou wei dengan serius setelah tangannya di lepaskan.


"Dokter zhou, aku percaya padamu. Dan terima kasih". Ujar xiao li penuh keyakinan.


"Aku akan segera menjadwalkan operasi Gastrektomi Distal Radikal. Bagian bedah harua disesuaikan dengan situasi saat operasi. Namun, kamu tenang saja, aku akan berusaha sebisanya untuk sisakan jaringan sehat". Zhou wei menjelaskan tentang proses operasi.


"Aku mengerti. Namun...Namun, bagaimana pun, ini operasi kanker. Jika melakukan operasi ini, apakah akan ada bahaya bagi kesehatan Lao Qin?". Ucap xiao li mengungkapkan kecemasannya.


"Operasi apa pun ada resikonya. Apa lagi dalam operasi besar seperti ini. Selain itu, dalam proses operasi, juga bisa muncul berbagai situasi darurat. Sebagai dokter, aku tidak bisa memberimu jaminan apa pun. Namun, kamu harus tenang. Ada aku, aku akan berusaha sebaik mungkin". Ucap zhou wei memberi senyum menenangkan.

__ADS_1


"Dokter zhou, aku serahkan pak Qin padamu". Ujar xiao li membungkuk pada zhou wei dengan senyum menahan pedih. Zhou wei mengangguk dan menghela nafas lega.


Di dalam kamar, pak Qin duduk di ranjang dengan memegang buah apel di tangan sambil melamun. Dia memikirkan ucapan zhou wei dan xiao li tadi dengan perasaan cemas.Ya, tadi pak Qin tidak sengaja memdengar perkataan mereka di depan pintu. Pak Qin sangat syok pas mendengarnya. Dia jadi mengingat kembali kejadian dulu yang marah pada zhou wei menuduhnya yang bukan-bukan. Keras kepala saat di ajak untuk pemeriksaan.


"(Alu sudah lihat laporan Gastroskopi. Kondisi tukak agak istimewa. Berdasarkan pengalamanku, aku sarankan kalian melakukan pemeriksaan lagi)". Saran zhou wei dulu.


"(Gara-gara kamu, asal bicara sampai membuat semua keluargaku gelisah)". Marah pak Qin pada zhou wei.


"(Jika terjadi sesuatu padamu suatu hari nanti, keluargamu akan menyesal seumur hidup)". Ucap zhou wei waktu yang membuat pak Qin mau melakukan pemeriksaan ulang.


"(Aku yang paling tau kesehatanku sendiri. Aku tidak apa-apa)". setelah pemeriksaan ulang tidak ada yang memberitahu hasil sebenarnya.


"(Benar, kami sudah salah cemas sembangan)". Kata bu Li menahan sakit di hatinya setelah melihat hasil Gastroskopi pak Qin.


Pak Qin mengingat semua perkataannya pada semuanya. Hatinya merasa cemas memikirkan semua itu.


"Lao Qin, kenapa kamu tidak makan apel itu?. Cepat makan, harus kamu habiskan, baru bisa makan yang kedua". Panggil xiao li sambil menggoda ayahnya.


Pak Qin bangun tidur, dan dengan panik memanggil istri dan putrinya.


"Hiu jian...Qin xiao li...Qin xiao li". Panggil pak Qin tidak ada yang menjawab. Lalu dia melihat tidak ada istri dan anaknya. Saat mau turun dari ranjang, bu Li dan xiao li masuk.


Lao Qin, kamu sudah bangun?". Kata bu Li menghampiri suaminya.


"Ada apa dengan kalian? Begitu aku bangun, aku tidak melihat siapa pun". Semprot pak Qin tiba-tiba marah.


"Ak...Aku lihat kamu sudah tertidur, jadi aku keluar sebentar". Jelas bu Li.

__ADS_1


"Aku pulang masak sup untukmu. Saat kembali kemari, jalanan agak macet". Xiao li menjelaskan melihat gelagat aneh pak Qin.


"Kalian tidak ada, bagaimana jika terjadi sesuatu padaku?. Siapa yang urus Ku?". Pak Qin tambah ngegas marahnya.


"Ada apa?. kenapa kamu marah begitu?". Tanya xiao li menatap aneh.


"Apakah kalian merasa menemaniku di rumah sakit adalah hal yang menyulitkan?. Kalian boleh pulang!". Marah pak Qin makin menjadi.


"Mana mungkin". Sahut bu Li cepat. " Sudah, ke depannya, aku beritahu kamu aku mau pergi kemana. Lili, masak sup untukmu, cicipilah sedikit". Kata bu Li mengalah tidak mau urusan jadi panjang.


"Tidak selera, tidak mau makan". Jawab pak Qin jutek.


"Minumlah sedkit, kamu belum makan seharian". Ucap xiao li memberikan semangkuk sup pada pak Qin.


"Sudah kubilang tidak mau, menyebalkan". Kesal pak Qin memukul tangan xiao li yang membuat mangkuk sup sampai jatuh ke lantai. Mata xiao li membulat dan mulut menganga dengan sikap pak Qin.


"Lao Qin...Apa yang kamu lakukan". Seru bu Li kesal melihat tingkah suaminya yang aneh.


"Bersihkan". Kata pak Qin langsung berbaring menutup mata.


"Kamu sendiri dulu disini, tenangkan diri dan baringlah. Aku ambil kain pel dulu, aku akan pel lantai saat kembali. Ayo, pergi bu Li, ayo pergi". Ucap xiao li pada pak Qin dan membawa ibunya keluar.


"Lili, kamu jangan marah pada ayahmu". Ujar bu Li saat sudah berada di luar ruangan.


"Untuk apa aku marah padanya?. Dia sedang sakit, emosinya buruk. Aku tidak akan marah padanya". Kata xiao li.


"Kenapa dia tiba-tiba jadi aneh?. Apakah dia sudah tau?". Pikir bu Li melihat sikap dan tingkah suaminya yang aneh.

__ADS_1


"Maksud ibu soal penyakitnya yang asli". Tanya xiao li, diangguki kepala sama bu Li. "Tidak, tidak mungkin. Dokter zhou sudah janji padaku, dia bilang pasti akan merahasiakannya. Lalu dia juga sudah bilang pada dokter Yan, nanti cukup bilang ini operasi Tukak Saluran Pencernaan saja. Tidak apa-apa, jangan cemas lagi". Terang xiao li menenangkan ibunya.


Di dalam kamar rawat, pak Qin krasak-krusuk dengan tindakannya barusan. Dia membuka laci nakas mengambil kotak yang di dalamnya tersimpan rokok. Saat ingin merokok, dia teringat ucapan bu Li yang marah-marah padanya. "(Apakah kamu tidak tau, merokok buruk bagi kesehatan dan lambung?. Apakah kamu tidak tau?.Aku akan cari baik-baik hari ini, jika ketemu lagi, akan kuhabisi kamu!)". Lalu pak Qin meletakkan kembali rokok pada kotak dengan kesal. Pak Qin stres memikirkan perkataan xiao li dan zhou wei tentang penyakit yang di idapnya, hatinya tidak tenang. Berbaring sebentar, duduk lagi, sampai berkali-kali di lakukan. Takut, panik, cemas semuanya bercampur jadi satu di hati dan pikirannya.


__ADS_2