Janji Lily

Janji Lily
Sakit Jiwa


__ADS_3

Andika memikirkan kata-kata Abi kemarin. Dia sedikit pusing, ingin istirahat tapi pasien sedang ramai. Seharian tadi Andika berusaha untuk fokus dan tetap profesional.


"Hai sayang, Lagi ngapain? Kerjaan kamu udah selesai? jadikan Dinner?" Tiba-tiba Ivana masuk ke ruang kerja Andika.


"Hmm, Van! Kalau misalnya kita ganti jadi besok aja Dinner nya, gimana? Soalnya tiba-tiba ada urusan penting banget, gak papa kan? " Tanya Andika hati-hati.


"Yah, gitu ya? " tampak raut Ivana yang terlihat kecewa, tapi dengan segera ia merubah ekspresi nya menjadi biasa saja.


"Ya udah deh, kalo urusan kamu penting! emang ada urusan apa? " Tanya Ivana ingin tau.


"Ada urusan keluarga aku, dadakan soalnya!" alasan Andika.


"Ya udah, kalau gitu aku pulang duluan aja ya! "


"Eh, kamu gak bawa mobil kan? aku antar pulang ya? " Tawar Andika.


"Gak usah, aku pesan taxi aja, nanti kamu telat lagi, bye sayang! aku duluan! Cup! " Pamit Ivana tak lupa memberikan sebuah kecupan di pipi Andika. Andika hanya tersenyum tipis.


"Hati-hati van! " pesan Andika yang di balas Ivana dengan senyumannya.


---___---


Andika melajukan mobilnya ke kediaman Lily. Abi benar, Dia harus menyelesaikan semua hal menyangkut Lily. Dia terlalu lama membiarkan semuanya berlarut. Andika harus memastikan semuanya. Dia tidak ingin ada penyesalan setelahnya.


----___----


"Loh! Kak Dika? tumben? Baru pulang dinas? " Tanya Lily. Dia terkejut saat melihat Andika sore itu sudah berada di depan pintu lantai tiga rumahnya.asih menggunakan kemeja dan celana bahan.


"Iya, dari rumah sakit langsung ke sini! Kamu sibuk? Aku gak ganggu kan?" Tanya Andika.


"Gak sih kak, emang ada apa? "


"Aku mau ngomong sama kamu, penting! bisa? "


Lily terdiam sejenak. Beberapa dugaan tentang apa yang akan di bicarakan Andika berputar di otaknya. Lalu ia mengangguk mengiyakan.


"Kita ke atas saja kak! " Lily memimpin berjalan di depan menaiki tangga menuju rooftoop.


Angin sepoi-sepoi dan langit yang mulai keemasan menyambut mereka ketika tiba di rooftop.


Beberapa bougenville berwarna warni di dalam pot berukuran besar tertata rapi, juga bunga matahari yang bermekaran, dan beberapa tambulapot jeruk.


Lily duduk di kursi panjang putih yang ada di sana, Andika mengikuti duduk di samping Lily. Sejenak ada kecanggungan dan suasana yang sepi karena belum ada yang memulai berbicara. Mereka sama-sama menatap lurus kedepan dengan pikirannya Masing-masing.


Andika menatap Lily, gadis itu tengah menarik nafas dalam dengan mata terpejam dan menghembuskannya perlahan. Tiupan angin memainkan anak rambutnya yang membuatnya sedikit berantakan. Andika segera membuang pandangannya ke arah lain saat di lihat nya Lily mulai membuka matanya. Menghentikan aktivitasnya indera penglihatannya untuk menikmati wajah gadis di sampingnya.


"Kak Dika mau ngomong apa? " Lily lebih dulu membuka suara. Andika diam sejenak. Menenangkan diri dan perasaannya yang tiba-tiba terasa sesak. Andika membuang nafas terlebih dahulu sebelum memulai bersuara.


"Abi bilang, kamu kemaren sakit? Kok gak ngabarin? " Tanya Andika mengulur waktu.


"Cuma demam biasa aja kak, gak perlu pake kabar-kabari segala, toh udah itu langsung sembuh juga! " Andika mengangguk-angguk mendengar jawaban Lily.


"Ly.. "


Lily menoleh menatap Andika, menunggu ucapan yang tergantung dari lelaki tersebut.


"Menurut kamu, hubungan kita ini seperti apa? " Lily sedikit tersentak, tidak membayangkan jika pertanyaan itu yang keluar dari bibir Andika. Dia menatap Andika tak percaya. Lalu tersenyum miris.

__ADS_1


"Kenapa baru nanya sekarang sih kak? udah banyak waktu yang terlewat, dan kakak nanya setelah semua akan berakhir sia-sia! "


"Maksud kamu? "


"Kak Dika yang tau jawabannya!" Dika menghela nafas.


"Beberapa hari lagi aku akan bertunangan, Ly! "


"Ya!"


"Kamu udah tau ini dari Abi kan? "


Lily mengangguk.


"Terus gimana dengan kamu, Ly? "


"Gimana aku? maksud kak Dika? "


"Apa kamu bisa menerima ini Ly? Apa kamu bakal baik-baik aja? "


"Apa aku punya alasan untuk tidak nerima keputusan kak Dika? Emang aku siapa kak? Dari dulu hidup aku udah gak baik-baik aja kak, tapi begitu banyak yang sudah aku lewati, aku rasa aku baik-baik saja. Lagi pula yang menjalani ini nantinya kak Dika, bukan aku, jadi pertanyaan itu buat kak Dika. Bukan buat aku. "


"Kamu gak marah? gak cemburu? "


"Aku gak punya hak buat itu kak! "


"Abi bilang, aku jahat Ly! Aku brengsek! aku egois! aku menjalin hubungan dengan orang saat hubungan aku dan kamu gak ada kejelasan! "


"Karena Abi gak tau apa-apa tentang kita kak! "


"Ly.. kamu cinta sama aku? " Tanya Andika serius. Lily tertawa mendengar pertanyaan itu.


"Terus apa yang membuat kamu bertahan selama ini Ly? Bahkan dari kata-kata Abi, aku bisa menangkap kamu gak pernah mau membuka hati. "


"Kak Dika yang minta!" jawab Lily lemah. Andika menoleh menatap Lily serius.


"Aku masih ingat. Sehari sebelum kakak berangkat untuk kuliah. Kakak kasih aku segudang nasihat. Aku sedih banget waktu itu. Lalu kak Dika peluk Lily! " Lily menghentika ceritanya. memejamkan mata mengenang kembali masa itu.


"A-aku suka kamu, gak tau sejak kapan, kamu bisa janjikan sesuatu buat kakak biar kakak bisa tenang ninggalin kamu di sini? Janji, kamu cuma buat aku, perasaan kamu buat aku, kamu hanya milik aku, sampai nanti aku kembali! Itu yang dulu kak Dika ucap kan. Dan aku berani untuk menjanjikan yang kak Dika minta. Sampai hari ini, aku gak pernah main-main sama janji aku! " Ucap Lily pelan. Sekuat tenaga ditahannya mata yang mulai berkaca-kaca.


Andika terhenyak. Dia ingat itu. Tapi saat itu Andika pikir itu hanya sebatas omongan, tak ada kejelasan dalam hubungan mereka. Lily pun tidak pernah menuntut atau membahas hal itu setiap mereka bertemu. Andika mengerjakan, matanya memanas. Abi benar! Dia benar-benar brengsek! Membiarkan Lily sendirian memegang janjinya tanpa kepastian! Dia yang meminta lalu mengabaikan begitu saja. Dada Andika terasa sakit! Dia merasa begitu jahat. Dika menarik Lily yang diam menahan perasaannya ke dalam pelukannya.


"Kenapa Ly? Kenapa aku gak minta kepastian dari aku, kenapa bertahan saat aku juga gak bisa kasih kepastian!" Bisik Andika.


"Aku fikir... janji itu adalah awal... aku gak tau perasaan aku saat itu seperti apa... bahkan sampai hari ini pun aku tidak tau... aku kira, janji itu sebuah komitmen... yang mengikat tanpa perlu melibatkan perasaan... tak perlu ada hubungan... karena aku sendiri gak tau perasaan apa yang bisa menyatukan dua orang yang berbeda. Dulu ada papa mama yang saling cinta... punya hubungan pernikahan... tapi tidak cukup menjadi pegangan mereka bertahan... aku fikir.. cukup dengan janji... kak Dika jadi milik aku... ternyata aku sadar sekarang... janji itu terjadi antara dua pihak yang berhubungan... Sementara..., di lain waktu kak Dika pernah bilang kita gak ada hubungan. Kenyataannya...hubungan di antara kita memang tidak pernah ada kak. Aku hanya terikat janji sama kak Dika... Gak ada hal lain... Dan aku udah penuhi janji itu sampai kak Dika kembali ke sini. Udah aku tepati semua janji.. Mungkin sekarang... Di sini... Ditempat ini janji aku akan berakhir kak... Bukan karena aku gak bisa memegang janji atau ingkar... Tapi... karena takdir yang menentukan... Sebentar lagi Kak Dika akan menikah, dan itu bukan dengan aku... Tapi aku do'ain kak Dika bahagia... Doain hal yang sama buat aku ya kak..." Ucap Lily perlahan, sambil menahan sesak di dadanya. Andika merenggangkan pelukannya. Di tangkup nya wajah Lily dengan kedua tangan agar melihat kepadanya.


"Sekali lagi aku tanya Ly, kamu cinta aku? atau kamu pernah cinta sama aku walau sebentar? " Lily menghela nafas.


"Aku gak tau kak, benar-benar gak tau! " jawab Lily putus asa.


"Apa yang kamu rasakan tentang aku, Ly?"


"Aku senang, ada kak Dika. "


"Terus? "


"Mungkin karena selama ini kak Dika tempat aku berbagi bercerita banyak hal. "

__ADS_1


"yang lain? "


"Aku gak tau lagi kak.. " Jawab Lily.


"Ly.. Sekaliii aja akui perasaan kamu, aku akan memilih kamu! sekali aja aku mau dengar perasaan kamu! aku akan tinggalkan semua buat kamu! "


"Kak, kakak sadar yang kakak omongin?" Lily merasa putus asa melihat Dika seperti ini.


"Tolong jawab Ly! " tekan Andika.


"Lily benar-benar gak tau kak! "


"Aaarghhh!!!! " Andika berteriak melepaskan tangannya dari wajah Lily. Bangkit dari duduknya berjalan menjauhi Lily. Dia mengusap kasar wajahnya sendiri. Lily terkejut melihat Andika yang seperti ini. Lily bahkan tak berani untuk sekedar melirik Andika.


"Tolong jawab Ly, gak mungkin sejauh ini kamu bertahan kalo kamu gak cinta sama aku! 9 tahun Ly!!!! Sekali lagi aku tanya, apa kamu gak pernah cinta sama aku, walau cuma sedetik? " Tanya Andika kembali sambil mencengkram bahu Lily.


Lily menggeleng ketakutan. Dia benar-benar baru kali ini melihat Andika yang seperti ini. ini buka Andika yang dia kenal selama ini.


"Jawab Lily!!! " Teriak Andika, matanya memerah dan tubuhnya bergetar. Lily berusaha menahan diri untuk tetap tegak.


"Mau kak Dika paksa aku gimanapun, aku memang gak tau kak, aku gak tau perasaan aku seperti apa! aku cuma tau terkadang aku bisa senang sedih, marah, kecewa, kalau kakak tanya cinta aku benar-benar gak ngerti aku gak tau!" Jawab Lily Frustasi.


"Kalau kak Dika ingin pergi aku gak papa, aku udah persiapkan diri jika akun kehilangan kakak! Tapi, tolong jangan paksa aku buat bilang cinta, aku gak tau, benar-benar gak tau!" isak Lily.


"Aku udah bilang aku gak akan pergi!! kamun paham??? " Teriak Andika.


"Tapi tolong sekali aja, Ly, kali ini akui perasaan kamu!! Ooh, atau aku harus melakukan sesuatu biar kamu mau mengetahui perasaa kamu seperti apa biar kamu bisa bilang! " Seringai Andika. Jari telunjuk nya menyusuri wajah Lily yang pucat.


perbuatan Andika membuat Lily mundur beberapa langkah, dia benar-benar di puncak ketakutan melihat Andika saat ini.


"Kenapa mundur sayang? " tanya Andika penuh penekanan. Dicekalnya pergelangan tangan Lily. Lily meringis menahan sakit.


"Kak, ini udah mulai malam, kak Dika pulang yaa! " Lily mati-matian berusaha tenang.


"Kamu ngusir aku? " Tanya Andika. Ditariknya tangan Lily hingga tubuh itu terdorong maju.


"Aku gak akan pulang, sebelum mencari tau seperti apa perasaan kamu! " Andika menahan tengkuk Lily, dan mendorong Lily terpojok ke sudut pembatas rooftop. Nafas Andika menderu meraba wajah Lily.


"maaf Lily, mungkin cuma cara ini satu-satunya yang membuat kamu mengerti! " Andika semakin merapat. Wajahnya semakin mendekat ke wajah Lily. Lily mencoba menahan tubuh Andika yang terlalu rapat.


"Kak, sadar kak, tolong jangan kaya gini! " tangis Lily.


"Kenapa? " Andika menyentuh bibir Lily dengan jarinya. Dia menunduk menyatukan bibirnya di bibir Lily.


"Kak Dika, Jangan!!!! " teriak Lily. Dia memalingkan wajahnya dan memukul kencang dada Andika.


"Andika!!!! berhenti!!!!" Terdengar teriakan seseorang. Lily segera melepaskan diri dan menjauh dari Andika yang sudah seperti orang kesetanan saat Andika menoleh melihat siapa yang sudah berteriak kepadanya. Nathan sudah berdiri di sana dengan ekspresi tegang.


"Jangan ikut campur! ini urusan gue sama Lily!!Gue minta elo pergi! " Hardik Andika.


"Elo gila yaaa!!! mau elo apain Lily? Elo udah mau tunangan Dika! sebentar lagi mau menikah! kenapa elo ganggu Lily! " Teriak Nathan.


"Ini bukan urusan elo! tolong elo pergi dan jangan ikut campur!!!" Usir Andika.


"Sory, tapi gue gak bisa gak ikut campur! gue harus kasih elo sedikit terapi! karena kelihatannya elo sedang sakit Dik! elo sakit jiwa!!!" Nathan memberi satu tonjokan di wajah Andika. Membuat Andika terhuyung.


Nathan segera menghampiri Lily, merangkul gadis yang tengah terisak di pojok sudut pembatas rooftop dan membawanya masuk ke dalam.

__ADS_1


"Sebaliknya elo pergi sekarang juga, atau aku minta anak- anak termasuk adek elo buat menyeret elo pergi dari sini! " Ancam Nathan sebelum menghilang di pintu tangga.


---___---


__ADS_2