Janji Lily

Janji Lily
Trauma Sebenarnya


__ADS_3

"Sttt!!! semua bakal baik-baik aja! Kamu yang tenang, jangan mikir macem-macem ya! " Bisik Nathan sambil terus memeluk erat Lily. Isakan Lily semakin lirih terdengar. Namun ada seseggukan sisa tangisan.


"Udah tenang??" Tanya Nathan. Tapi tak ada jawaban.


"Kalau kamu sudah tenang, kita ngomong dari hati ke hati yuk! Udah bisa di lepas pelukannya? " Tanya Nathan lirih. Lily mengangguk.


Nathan melepas pelukannya. Menuntun Lily duduk di sofa yang Lily duduki sebelumnya.


"Kamu kenapa sampai kaya gini? mau cerita hmm? " Tanya Nathan perlahan sambil menatap Lily yang menunduk memainkan jari-jarinya.


"Kenapa semua orang jahat? aku gak pernah nyakitin mereka, tapi kenapa mereka jahat." ujar Lily lirih sambil tetap menunduk.


Nathan meraih tangan kiri Lily dan menggenggam nya. Sementara tangan yang lain menyentuh dagu Lily. Lily mendongak menatap Nathan.


"Siapa yang sudah jahat? Kamu cerita sama saya ya, saya janji mulai saat ini saya akan melindungi kamu biar gak ada lagi yang jahatin kamu! " Ucap Nathan lembut menatap ke dalam mata Lily yang nanar tak bercahaya.


Lily menggeleng, kembali menundukan kepalanya.


"Yaudah, gak pa-pa kalau gak mau cerita. Sekarang lebih baik mandi dulu biar badan dan fikirannya lebih segar. Udah itu kita makan sama-sama ya. Mau makan di sini atau di luar? " Tanya Nathan lagi.


"Di sini saja, aku gak mau ketemu siapa-siapa! "


"Ya udah, kalau gitu saya keluar dulu pesan makanan. Nanti kembali lagi. Kamu mandi dulu gih! " Ujar Nathan.


"M-mas Nathan di sini aja ya? Please! " mohon Lily. Nathan tercenung melihat ekspresi memohon Lily kali ini. Ia mengangguk.

__ADS_1


"Ya udah, mandi gih! saya tungguin di sini! " Jawab Nathan. Lily mengangguk. Ia beranjak menuju kamar mandi.


---___---


Setelah tiga puluh menit. Lily keluar dari kamar mandi. Rambut panjangnya terlihat setengah basah. Nathan menunggu di sofa dengan beberapa hidangan makan malam yang sebelumnya memang sudah Nathan pesan sebelumnya.


"Yuk, sini, makan dulu!" Panggil Nathan saat melihat Lily keluar dari walk in closet. Lily segera menghampiri Nathan. Ada nasi goreng seafood, sup tomyam dan sate, puding coklat almond,salad buah, dua botol air mineral, dan lemon tea.


"Lily mau makan apa? " Tanya Nathan.


"Banyak banget? "


"Nanti makannya sambil ngobrol, jadi gak berasa bakal habis kok! "


"Aku makan sup aja mas! "Nathan mengangguk.


Nathan mencoba mencairkan suasana. Sambil makan Nathan menanyakan hal apa yang sudah Lily lakukan selama di sini, tempat apa saja yang sudah ia datangi. Lily menceritakan semuanya walau tanpa semangat.


"Mau ke pulau Laut? " Tanya Nathan.


"Awalnya ingin ke sana. Tapi, entahlah, ingin segera pulang rasanya! "


"Jangan dong, kita udah terlanjur di sini, sayang di lewatkan, nanti kita ke sana ya! " Hibur Nathan. Mereka sudah selesai makan malam. Hanya sate dan dessert yang tersisa. Lily hanya diam menanggapi sambil menatap ke langit-langit kamar.


Nathan beranjak, lalu berjalan ke nakas yang ada di samping tempat tidur. Lalu mengambil box kecil berisi butiran obat-obatan. Dan membawanya ke hadapan Lily.

__ADS_1


"Ini milik kamu kan? Jangan lupa di minum! " Ujar Nathan. Lily menatap benda yang di bawa Nathan.


"Mas Nathan tahu itu obat apa? " Tanya Lily sambil mengambil kotak yang ada di tangan Nathan. Nathan mengangguk.


"Saya dokter, jelas saya tahu ini obat apa. Emang kenapa nanya gitu? " Tanya Nathan.


"Mas Nathan tadi lihat kondisi saya seperti apa, saya sakit mas, saya gak sama kaya orang-orang! "


"Hei, ini hal biasa untuk kami tenaga medis Lily! Apa lagi setelah banyak hal yang kamu lewati, saya salut sama kamu. Kamu luar biasa Lily, kamu hebat, kamu kuat, kamu mampu bertahan sampai sejauh ini, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan untuk diri kamu! " Puji Nathan sembari memberi semangat.


"Aku gak sekuat itu, mas! " Keluh Lily.


"Oya? saya boleh dengar cerita kamu? Mau cerita sama saya? Kalau kamu gak percaya saya sebagai Nathan, kamu boleh percaya saya sebagai dokter, dokter wajib untuk menjaga privacy pasiennya, gimana? "


Lily menghela nafas kembali.


"Mas Nathan tahu cerita keluarga saya kan? "


Nathan mengangguk, "mungkin sebagian. "


"Pekerjaan mama sebagai selebritis yang di kenal banyak orang dan berita tentang mama yang selalu menarik minat masyarakat di masanya, membuat perceraian dan issue perselingkuhan papa dan mama gak bisa di tutupi. Beritanya menyebar cepat dan menjadi sasaran empuk awak media. Berita yang tayang bisa berkali-kali sehari. Sampai teman-teman sekolah saya tahu. Mereka membicarakan hal itu, gak hanya di belakang, bahkan di hadapan ku, terutama mereka yang dari awal sudah gak suka dengan saya tanpa saya tahu alasannya. Setiap hari, selama beberapa bulan, saya di cemooh, di ejek, bahkan sampai ada yang bilang, aku juga anak hasil perselingkuhan. saya malu, malu banget. Gak cukup sampai di situ mas. saya bahkan mengalami kekerasan fisik. Aku di dorong di jambak dengan alasan yang gak masuk akal. Saya dianggap mempermalukan nama baik sekolah karena kasus orang tua saya. Ya, saya di rudung secara fisik dan verbal hingga mentalku. Gak hanya malu, saya juga jadi takut, bahkan mengangkat wajah pun aku gak berani. Semua yang aku alami selalu n berputar di memori aku, sampai tidurpun saya gak pernah bisa tenang. saya marah sama papa mama yang membuat saya terjebak di situasi ini, saya marah sama keadaan. Papa mama yang saling berselingkuh, walaupun mereka menyangkal, dan saya yang awalnya gak percaya, tapi akhirnya harus melihat perpisahan mereka juga. pun hubungan saya dengan kak Dika. Perpisahan papa dan mama membuat Saya berantakan dan kehilangan semua kebahagian dan kepercayaan diri, mereka yang kompak, saling cinta, harmonis, bisa pisah, terus gimana dengan yang lain? saya kecewa kenapa harus melewati semua ini. Karena itu akhirnya saya memutuskan untuk tinggal sendiri, tidak memilih ikut mama dan papa lalu berpura-pura kuat. Padahal saya pernah nyoba untuk mengakhiri hidup! " Ucap Lily lirih.


"Saya menarik diri dari pergaulan, saya cuma punya kak Dika saat itu. Satu-satunya teman yang baik, yang bisa di percaya, yang selalu menjadi penyemangat. Sampai saya punya rasa sama kak Dika. saya ngelakuin apapun yang kak Dika minta. saya bahkan sampai berjanji untuk nungguin kak Dika. Walau kenyataannya kak Dika justru menjalin hubungan dengan orang lain. Rasanya sakit banget. saya terluka. Gak ada yang bisa saya percaya lagi saat semua orang yang dekat sama saya bergantian nyakitin saya, saya lelah! "


"Entah kenapa setiap kali saya kelelahan, banyak fikiran, semua kenangan itu pasti datang lagi, membawa rasa sesak, rasa takut, dan menjadi mimpi buruk yang gak berhenti menghantui tidur malam saya! Dan saya lelah dengan kondisi seperti ini. saya capek banget diikuti bayang-bayang masa lalu. Sampai akhirnya saya memberanikan diri mencari tau sedang dalam kondisi seperti apa saya ini. Dan akhirnya saya memutuskan untuk melakukan konseling!"

__ADS_1


---___---


__ADS_2