
Andika menghentikan mobilnya di pinggir jalan tak jauh dari komplek perumahan Lily. Dia mengarahkan vision mirror ke wajahnya. Tampak sedikit lebam di pipi dan sudut bibir yang pecah bekas pukulan Nathan. Andika merasakan perih di bibir dan Rahangnya.
Andika memejamkan matanya kuat, mengingat apa yang sudah dia lakukan terhadap Lily. Pria itu menggeram dengan tangan yang begitu kuat mencengkram kemudi.
"Aaaarrrggghhhhh!!!!" Teriak Andika di dalam mobil.
Bayangan perbuatannya terhadap Lily terbayang nyata.
Niatnya ingin berbicara dari hati ke hati malah aku berbuat kasar pada gadis itu, bahkan aku hampir saja melakukan perbuatan yang merendahkan harga diri Lily.
Dan rasa bersalah ini, menghadirkan semua kenangan tentang Lily..
---___---
"Kak, Yang tadi itu siapa? " Tanya Lily. Saat itu aku dan teman-temanku baru saja merayakan Wisuda kami. Kini kami tengah berjalan memasuki sebuah rumah makan. Ayah dan ibu ku beserta Abi sudah berjalan terlebih dahulu. Sementara Lily menunggu ku memarkir mobil dan membuka atribut wisuda tadi.
Entah bagaimana caranya, gadis itu berada di tengah-tengah keluarga ku saat aku menjemput orang tua dan adikku di Bandara untuk menghadiri wisuda ku besok.
"Loh, kok kamu bisa ada di sini? " Tanyaku bingung saat itu. Gadis itu hanya tertawa sambil merangkul tangan ibu ku. Sementara ibu ku tampak tidak terganggu sama sekali dengan tingkah gadis SMA itu
"Gimana gak di ajak, orang tiap hari merengek minta ikut! " Adik ku Abi mendengus kesal saat itu. Aku tertawa mendengarnya.
"Soalnya kan lagi libur kak, tinggal nunggu pengumuman kelulusan kak, bosan tau di rumah gak kemana-mana!" Ucapnya membela diri.
Dan di sini lah dia sekarang, mengikuti semua kegiatan akun dan juga keluarga hari ini.
"Yang mana sih? "
__ADS_1
"Itu yang cewek, tiap kali foto selalu nempel dekat kak Dika! Nyebelin banget tau, udah mirip banget sama ulat bulu!"
"Kamu ini, ada-ada saja gelarin orang, masa cakep gitu di bilang ulat bulu! "Aku mengacak rambutnya, hal yang dari dulu aku senangi.
" isshhh aku serius loh! " protesnya
"Bukan siapa-siapa! " Jawab ku sambil melingkarkan lengan di lehernya seolah sedang memitingnya. Tentu saja dia protes, tapi jangan lupakan wajah yang tersipu itu.
---___---
"Hai, Kak Dika! Masih ingat aku? " Sapanya saat itu dengan dress lengan pendek bunga-bunga selutut. Aku sempat terpaku melihatnya saat itu sampai akhirnya aku tersadar dan menyuruhnya masuk dengan sikap yang salah tingkah.Ya, aku memang sudah lama sekali tidak bertemu dengan Lily, setelah lulus wisuda, aku harus menjalani koas di luar pulau sebelum mengikuti ujian KMPPD untuk meraih gelar dokter dan belum lagi di tambah masa internahip setelahnya. Tapi posisi ku saat ini, aku sudah menjalin hubungan dengan Ivana, teman seprofesi ku, kami jadian saat tahun pertama koas di rumah sakit yang sama.
"Ya ampun, Lily, kaget banget kamu gak ngabari dulu mau ke sini! " sambut ku sambil mempersilahkan gadis itu masuk.
"Habis nya kak Dika sibuk banget sejak jadi dokter, udah jarang telepon! Ini aja aku di kasih tau Abi kalau kak Dika ada di rumah! "
"Ya kan kamu juga lagi sibuk kuliah, udah di tingkat akhir, atau jangan-jangan udah skripsi?" Tanya Dika
"Semoga lancar ya, Ly! " Doaku tulus.
"Oya, Lily habis ini ada janji atau urusan lain gak?"
"Hmm, gak sih kak, tadi emang cuma main ke sini aja karena udah lama banget gak ketemu kak Dika! "
"Kita jalan yuk? Kak Dika juga lagi bosen gini, gimana kalau kita ke danau yang dulu kita pernah kesana itu? " Tanya Dika.
"Boleh, udah lama aku gak kesana! " Seru Lily senang. Aku segera berganti pakaian, lalu membawa Lily ke tempat tujuan kami dengan kendaraan roda empat milik ku.
__ADS_1
Kami sudah sampai di danau biru, begitu masyarakat sekitar menyebutnya, sebenarnya ini bukan danau pada umumnya, melainkan lokasi galian tambang pasir yang terbengkalai, namun entah bagaimana selanjutnya, lubang besar menganga tersebut terisi air, awal kami kemari, airnya tak sebiru ini, tapi kini jauh lebih indah, ada pondok-pondok terbuka dan meja tenda di sekitar danau, jangan lupakan beberapa hot spot yang disediakan untuk mereka yang senang berswafoto.
Aku dan Lily memilih duduk dekat pondok yang di pinggir danau.
"Kok bisa cantik gini sekarang? " Tanyaku menggoda gadis yang tengah duduk di hadapan ku saat ini.
"Ih, emang dari dulu udah cantik kok kak! "
"Enggak, dulu kamu itu kucel, pipinya tembem ngalahin bakpao, ingusan lagi! " Ledek ku.
"Ih gak ada yaa, dulu aku emang cabi, tapi selalu bersih, mana pernah aku kucel ingusan! " Protesnya.
"Haha, Iya-Iya. Jadi, Udah berapa cowok kira-kira yang nembak, hmm? " Tanyaku sambil mengaduk hot latte yang mulai dingin.
"Hmm, berapa yaa? banyak sih, tapi aku tolak semua!"
"Kok di tolak? emang gak ada yang kamu suka?"
"Sebenarnya ada sih yang aku suka, tapi kan aku punya Kak Dika! " Aku terbatuk mendengar ucapannya saat itu.
Aku memang selalu memajang foto Lily sebagai wallpaper hape, juga laptop ku. Bahkan beberapa foto kami pun ku posting di media sosial milikku, Aku memang tidak pernah berpikir untuk berpacaran sebelum gelar dokter kuraih. Bukan aku belok, tapi aku hanya tak ingin hal remeh percintaan akan mengganggu konsentrasi ku. Dan karena tak pernah terlihat dekat dengan gadis manapun, banyak temanku yang mengira jika Lily adalah pacarku, paling tidak aku jadi terbebas dari perempuan di sekitar ku yang mencoba menaruh harapan padaku. Sampai akhirnya, kepulanganku smsetahun lalu, merubah segala perasaanku pada Lily. Aku sempat pangling saat pertama melihatnya lagi setelah kian bulan tidak bertemu. Aku seperti merasakan jika kali ini, aku tak bisa memandangnya sebagai gadis kecilku lagi, dia benar-benar tumbuh menjadi seorang gadis sebenarnya. Lily jauh lebih cantik dari sebelumnya, pembawaannya lebih tenang dan dewasa, bahkan aku ingat saat ia tiba-tiba sudah berdiri di hadapan ku saat aku membuka pintu untuknya.
"Tapi kita kan gak pernah jadian? " Tanyaku setelah sedikit tenang. Lily terdiam sesaat sambil menatapku. Dan aku benar-benar tidak tahu ucapan ku saat itu menjadi patah hatinya Lily. Perlahan bibir itu bergerak. matanya menerawang menjawab ucapan ku saat itu.
"Hmm, kita memang gak pernah jadian. Tapi aku ingat kita pernah berjanji untuk selalu sama-sama, Aku pernah janji untuk menyimpan nama kakak di hati aku, aku juga udah janji untuk gak pernah lupakan kakak, Akun ingat saat itu kakak minta aku tetap jadi Lilynya kak, aku janji sampai kapanpun tetap jadi Lilynya kakak, kakak minta aku untuk bisa jaga diri, dan jaga posisi kakak di hati aku. Aku masih tepati janji aku sampai sekarang. Aku gak pernah menghianati semua yang pernah aku ucapkan sama kakak, karena aku bukan penghianat! " Lalu dia tersenyum miris.
--__--
__ADS_1
Kini, aku menyesal, harusnya dari dulu aku sadari, bahwa diam-diam aku telah mengikatnya, sayangnya saat itu aku abai pada Lily. Bukan.. bukan hanya itu aku juga terlalu pengecut saat itu, aku hawatir Lily hanya memegang janji yang harus ia tepati, tanpa cinta sama sekali. Karena aku sangat tau, ada trauma pada gadis itu tentang percintaan orang tuanya. Dan aku juga tak pernah bisa menolak permintaan Ivana yang tak bosan mengemis cinta. Sekarang, saat aku menyadari bahwa Lily yang aku inginkan, semuanya sudah terlambat.
---__---