
"Nak, nanti sore kamu gak ada acara kan? " Tanya Sintia yang pagi ini berada di kamar Lily.
"Gak ada sih ma, kenapa? "
"Nanti malam papa ngundang temannya buat makan malam di rumah. Papa mama mau ada kamu juga nanti, bisa kan? " Tanya Sintia penuh harap.
"Hmm, bisa sih, tapi emang harus ada Lily?"
"Ya, harus dong, kamu kan putri kamu, berarti kamu juga tuan rumah buat tamu papa dan mama! "
"Mama udah pesanan dress buat kamu pake, mungkin sebentar lagi bakal nyampe, nanti kamu pake ya! "
"Iih, kok sampe pesan baju segala ma, emang acara formal ya? baju Lily kan juga banyak! "
"Pokoknya Lily ikut aja, semua sudah papa mama atur! "
"Ya udahlah, ke serah mama papa aja! " Jawab Lily sambil bersandar ke baju ibunya. Sintia mengelus lembut rambut panjang sepundak milik putri nya itu.
"Sayang, mama boleh tanya sesuatu? "
"Bolehlah ma! mama mau tanya apa? "
"Tapi ini sedikit privasi, mama gak mau Lily jadi gak enak karena pertanyaan mama! "
"Tanya aja ma, Lily juga mau lebih terbuka sama papa mama sekarang, seperti saran dokter Yasmin dan mbak Erika!"
"Hmm, maaf, kalau misalnya pertanyaan mama membuat Lily gak nyaman. Tapi jujur, mama kepikiran sekali. Lily... masih memikirkan atau ada rasa dengan Andika? " Tanya Sintia hati-hati. Diperhatikan nya ekspresi anak gadis Satu-satunya itu. Gadis itu terdiam, wajahnya datar dan ekspresi nya juga biasa saja. Setelah hampir 1 menit. Lily menjawab pertanyaan ibunya.
"Sesekali Lily bisa kok kepikiran sama kak Dika. Gimanapun Lily sempat dekat sama kak Dika. Mungkin Lily kangen mau cerita atau jalan bareng lagi kaya dulu. Tapi Lily tau itu gak mungkin. Lily gak mau ada yang salah paham dan terluka kalau Lily dekat sama kak Dika. Tapi kalau rasa... Lily gak punya perasaan apapun ma, bahkan dengan sadar Lily sama sekali sudah gak sakit hati atau kecewa saat menyebut nama kak Dika! " Jawab Lily santai.
"Syukur lah, mau tak mau, kamu memang harus bisa menjaga jarak dengan Dika Nak, karena Dika sudah menikah. Dia mutlak milik istrinya, Sayang! " Sintia mengecup pelan ubun-ubun putrinya. Lily memeluk ibunya manja.
__ADS_1
"Hmm, mama masih boleh nanya lagi gak? "
"Apa? "
"Menurut Lily, Nathan seperti apa? "
"Kok nanya mas Nathan? " Tanya Lily.
"Yaa, mama cuma mau tau aja pandangan Lily tentang Nathan! "
"Hmm, Baik! " Jawab Lily singkat.
"Cuma baik, gitu? Kan Lily akhir-akhir ini dekat sama Nathan, maksud mama Nathan orang nya seperti apa? Kalau sama Lily dia seperti apa. "
"Ya gitu, bukannya mas Nathan di suruh papa buat ngintilin Lily? " Tanya Lily sambil menatap ibunya.
"Gak kok, Nathan sendiri yang ngajuin diri buat nyusul Lily waktu itu, kan papa dan Nathan udah jelasin semua waktu itu! " Ujar Sintia sambil mengacak pelan rambut Lily.
"Tapi sebenarnya Lily juga gak enak, tapi mau nolak juga gak bisa! " Ucap Lily lagi sambil menatap Sintia.
"Maksudnya seperti apa nak? Lily gak enak, tapi gak bisa nolak? " Tanya Sintia.
"Lily sebenarnya gak enak jadi kayak sering banget ngerepotin mas Nathan. Tapi mas Nathan itu suka maksa banget ma, kalau dia bilang a, pasti a, misalnya kayak mau nemanin Lily konseling, Lily udah bilang gak perlu, eh, mas Nathan nya ngotot, kadang jadi gak enak ma, Lily jadi takut mas Nathan repot, terbebani, padahal Lily udah larang. pokoknya apapun mau mas Nathan, Lily gak bisa larang, gak bisa gak izinin, karena pasti ya itu, kekeuh banget gitu, Lily takut gangguin kerjaan mas Nathan ma! " Keluh Lily.
"Lily gak enak, karena takut ngerepotin gitu? Tapi Lily nyaman gak sih ada yang nemani Lily? " Lily mengangguk.
"Iya gitu ma, kalau nyaman, sebenarnya Lily merasa nyaman, adanya mas Nathan banyak banget membantu Lily, sampai Lily sekarang merasa hidup Lily jauh lebih baik dari sebelumnya sejak ada mas Nathan. Tapi Lily juga khawatir! " Lily kembali berhenti, gadis itu tampak berfikir sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapanya.
"Lily gak kenal mas Nathan sebelum nya, Lily gak tahu mas Nathan seperti apa, Lily khawatir kedekatan Lily sama mas Nathan menimbulkan masalah! "
"Lily gak tanya atau gak cerita kekhawatiran Lily sama mas Nathan? " Tanya Sintia. Lily menggeleng.
__ADS_1
"Kenapa? "
"Aneh gak sih ma, pertanyaan kaya gitu terlalu pribadi buat di tanya, makanya Lily gak ngomong! " Sintia tersenyum. Dia mengangguk paham. Tak mudah memang berada di posisi Lily. Tapi paling tidak, ia tahu pengaruh Nathan cukup besar untuk putrinya. Dan ia bisa melihat Lily sama sekali tidak menolak keberadaan Nathan.
"Ya udah, Lily mau ngapain lagi? mama balik kesebelah lagi! " Pamit Sintia sambil berdiri dari duduk nya.
"Gak ngapa-ngapain sih ma, mama mau Lily bantuin juga ke sebelah? " Tawar Lily.
"Gak perlu sayang, mama udah suruh orang buat siapin semua. Mama paling tinggal ngecek aja! Lily di sini saja gak pa-pa! Mama balik dulu sayang! " Ujar Sintia lalu segera pergi.
----___----
Lily menatap pantulan dirinya di cermin. Dress kerah V berwarna gold selutut berlengan pendek sangat cocok di tubuhnya. wajahnya di rias make up tipis natural. Rambutnya di biarkan tergerai. Lily mengambil jepit rambut yang baru saja di belinya kemarin saat matanya justru tertuju pada bando dengan hiasan bunga lily yang di berikan oleh Nathan kemarin. Tangannya beralih meraih bando tersebut. Lily memasangnya di kepala. Bando itu terlihat mewah dengan beberapa kristal yang terdapat pada ukuran bunga yang tampak berkilauan diterpa cahaya. Setelah di rasa cukup, Lily segera beranjak untuk ke rumah orang tuanya.
---____---
"Ini papa ngundang siapa sih ma? Kok formal banget kayanya?" Tanya Lily saat berada di rumah orang tua nya. Lily menatap setiap sudut rumah yang di tata sedemikian rupa. Bunga yang tersusun rapi di setiap sudut. Beberapa dessert dan minuman yang sudah siap. Bahkan menu mewah di meja makan yang di hias sedemikian rupa dengan bunga dan lilin yang di tata selang seling sedemikian rupa.
"Memang bakal rame banget ya? " Tanya Lily lagi saat mama nya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan anaknya.
"Nanti Lily juga bisa lihat sendiri kok tamunya! " Lily mengangguk. Dia melihat baju Sintia yang senada dengan dirinya, hanya berbeda model.
"Ini dandanan Lily cocok gak sih ma? " Tanya Lily sambil melihat pada cermin yang ada di sudut ruang tengah.
"Cocok sayang, Lily terlihat jauh lebih cantik! " Jawab Irvan yang baru saja keluar dari kamar. Irvan sendiri menggunakan tuxedo berwarna navy yang terlihat pas di badannya yang masih terlihat muda dan terawat di usia yang hampir setengah abad.
"Ini acara apa sih pa? Kayaknya bukan makan malam biasa deh! " Tanya Lily lagi kepada ayahnya.
"Nanti Lily juga tau! " Jawab Irvan. Lily sedikit melengos. Jawaban kedua orang tua nya lebih kurang sama saja. 'Nanti juga Lily tahu! ' Itu aartinya ia harus sabar menanti hingga waktu makan malam tiba untuk mengetahui siapa tamu yang sebenarnya yang akan datang dan acara seperti apa tengah di persiapkan oleh orang tua nya.
---___---
__ADS_1