Janji Lily

Janji Lily
Membicarakan apa???


__ADS_3

Lily terpaku di tempat saat melihat tamu orang tuanya.


"Ly, ayo sini! " Panggil Irvan saat mereka berada di depan rumah bersama asisten keluarga menyambut tamu yang telah tiba. Sintia menarik pelan putrinya agar berdiri di tengah mereka. Sejak para tamu turun dari mobil yang mereka kendarai, Lily hanya terdiam kaget melihat beberapa tamu yang ia kenal. Ia tak beranjak dari tempat awal berdiri.


"Jadi, gadis ini yang bernama Lily? Cantik seperti namanya! " Sapa seorang pria yang terlihat lebih tua dari papa nya, namun aura kegagahan dan dibawa terpancar dari wajahnya. Pria itu juga menggunakan tuxedo yang hampir sama dengan ayahnya.Lily kembali menguasai dirinya. Lily mengangguk sembari tersenyum. Lily menyodorkan lebih dulu telapak tangan kanannya yang di sambut pria tersebut. Lily segera mencium punggung tangan tamu papanya itu seperti yang selalu di ajarkan orang tua nya dari niat kecil.


"Iya, saya Lily, putri papa Irvan dan mama Sintia! " Lily memperkenalkan diri. Pria itu terkekeh.


"Kalau begitu, Saya Darmawan, panggil saya papa Darmawan! " Ucap pria itu hangat sambil mengusap pelan puncak kepala Lily. Lily merasa sesuatu yang hangat mengalir di tubuhnya merasakan kehangatan tamu orang tuanya.


"Hai sayang, saya mama Elena, Istri papa Darmawan. Karena suami saya memperkenalkan dirinya dengan sebutan papa, jadi panggil saya mama! " Ujar Wanita yang berada di samping Darmawan.


"Hai mama Elena, anda sangat cantik sekali! " Puji Lily pada wanita yang terlihat awet muda dan bertubuh terawat itu ramah. Dress Navy panjang sangat pantas membalut tubuhnya. Wanita itu tersenyum, mendengar pujian Lily. Sama seperti pada Darmawan, Lily pun menyalim wanita tersebut yang juga di sambut pelukan hangat dan cipika cipiki dari wanita tersebut. Selanjutnya ada seorang pria yang lebih muda dari Irvan, juga dokter Yasmin dan suami yang juga turut serta, mbak Erika dan suami, dan terakhir Nathan. Tamu terkahir ini hanya tersenyum saat menatap Lily dan Lily benar-benar salah tingkah dengan situasi ini.


"Ayo, kalau gitu, kita masuk, makan malam sudah siap, kita bisa ngobrol hangat di dalam! " Irvan mempersilahkan tamunya masuk. Lily sengaja menunggu para tamu untuk masuk terlebih dahulu.


"Mas Nathan kok gak masuk? " Tanya Lily sambil menghampiri pria yang menggunakan tuxedo putih tulang dengan merah yang hampir senada dengan warna dress Lily yang terus menatapnya dengan pandangan yang tak bisa Lily artikan.


"Ini, baru masuk, ayo! " Ajak Nathan sambil menyentuh pelan punggung Lily merangkul gadis itu.

__ADS_1


"Kamu can


"Mas Nathan kok bisa di sini bareng tamu papa? Ada dokter Yasmin sama mbak Erika juga. Memang pak Darmawan itu siapa mas Nathan? terus ada hubungan apa sama dokter Yasmin dan mbak Erika? Kok semua bisa ada di sini! " Tanya Lily pelan sambil mengadahkan wajah menatap Nathan.


"Nanti bakal di jelasin! Ujar Nathan sambil melepaskan rangkulannya karena mereka telah tiba di ruang makan tempat semua berkumpul. Nathan dan Lily duduk bersebelahan di dua kursi yang masih kosong.


" Ayo, silahkan dinikmati makan malamnya! " Irvan mempersilakan para tamu untuk mencicipi makan malam yang telah tersedia.


"Wah, menunya menggiurkan sekali! "


"Ini saya tahu, pasti menu dari restoran jeng Sintia kan? " Sambung Elena.


"Iya mbak, sudah hapal sekali ya sama menu di restoran saya? " Canda Sintia. Karena ia pernah bertemu Elena yang tengah arisan atau sekedar makan di resto miliknya itu. Mereka semua tertawa. Karena ya, beberapa kali mereka pernah mengadakan makan malam di resto Sintia.


"Jangan bengong, habisin makannya Lily! " Bisik Nathan.


"Mereka ngomongin apa sih? " Bisik Lily.


"Makan Lily! " Tegas Nathan. Lily mengerucutkan bibirnya entah mengapa ia menjadi sebal sekali.

__ADS_1


----___----


"Terima kasih untuk makan malam nya yang lezat dan dengan suasana yang hangat sekali! " Ucap Darmawan saat mereka tengah duduk di ruang tengah setelah meninggalkan meja makan.


Suasana penuh canda seketika terlihat lebih serius sekarang. Lily melihat expresi tegang dari orang tua dan juga tamu. Pun Nathan yang duduk di seberang Lily.


"Jadi, kedatangan kami sekeluarga hari ini, selain bertemu dan memenuhi undangan Pak Irvan dan keluarga. Juga karena ingin bertemu dengan Ananda Lily! " Lanjut Darmawan sambil menatap Lily. Lily mencoba tersenyum dengan sedikit salah tingkah menjadi fokus semua orang.


"Mungkin nak Lily bertanya-tanya, siapa kami, kenapa ada di sini, bersama Nathan, juga Yasmin dan Erika, yang sudah Lily kenal sebelumya! " Lily mengangguk.


"Jadi, saya, istri saya, adalah orang tua Nathan, Papa dan Mama Nathan. Sementara, Yasmin kakak iparnya Nathan, dan Erika adalah sepupu Nathan! Maaf kalau ini membuat nak Lily kaget. " Darmawan dan Elena menatap Lily hangat. Jujur Lily kaget, Sintia meraih Lily dan mengusap punggung tangan anaknya yang tentu saja sedikit shock dengan informasi yang baru ia terima.


"Maaf, mungkin Nathan tidak pernah cerita sama Lily, iya? " Tanya Darmawan. Lily mengangguk sambil melirik Nathan sekilas yang terlihat gugup.


"Kami sudah mendengar banyak hal dan cerita tentang Lily, kami menyukai Lily terlepas dari kelebihan dan kekurangan seorang Lily, kami tau putri Bapak Irvan dan Ibu Sintia sangat istimewa. Seorang gadis yang hangat, santun, juga baik. Karena itulah kami ingin meminta putri cantik kalian, yaitu ananda Lily untuk putra Kami, Zayan Arkhanathan atau disapa Nathan! " Ucapan dan suara lembut Darmawan berbanding terbalik dengan reaksi Lily, gadis itu terlihat semakin shock. Dia menatap bingung dan nanar pada semua yang ada di ruangan ini.


"Maaf, kalau semua terlalu cepat, terlalu mendadak buat Lily, pasti Lily shock sekali mendengar semuanya. Tapi kami sangat mendukung niat baik Nathan, karena itu, kami ingin menyegerakan menyampaikan hal ini kepada Lily dan orang tua Lily!" Semua seperti angin yang melewati pendengaran Lily, Dia seperti berada di dimensi lain, semua yang terjadi di dalam hidupnya berubah drastis akhir-akhir ini, terkadang Lily sendiri masih tidak percaya dengan semua yang ia jalani, rasanya seperti mimpi, cepat berakhir dan silih berganti peristiwa demi peristiwa.


Lily tersentak saat merasakan tepukan pelan di pipinya, dia melihat Nathan yang berjongkok di hadapan nya.

__ADS_1


"Kita keluar sebentar, ada yang mau saya omongin! " Ucap Nathan pelan. Lily melihat sekitar, semua orang menatap dirinya. Lily melihat ke arah ayahnya, Irvan mengangguk, begitu pun Sintia. Nathan mengulurkan tangannya. Dengan ragu Lily meraih uluran tangan Nathan. Lalu berdua mereka meninggalkan ruangan.


---___---


__ADS_2