
"Ma.. di kamar tamu ada Lily! " Lapor Andika kepada ibunya.
"Lily? Dia di sini?" Tanya Mama Andika.
"Iya ma, kayaknya Lily ada masalah sama orang tuanya. Tadi Andika lihat dia jalan sendirian di perkampungan belakang komplek sebelah ma, pas Andika samperin ternyata dia lagi nangis. Tadi Andika udah bujuk dia buat pulang ke rumah, tapi dia gak mau, Andika hawatir kalo biarin dia jalan sendirian, makanya Andika bawa kesini. Gak apa kan, Ma?" Tanya Andika.
"Ya udah, gak pa-pa, nanti biar mama coba hubungi mama Lily, kasih tau kalo Lily ada di sini, kasian orang tuanya pasti cemas. "
"Bisa telponnya sekarang gak ma? sekalian minta tolong siapin bajunya Lily kalo orang tuanya izinin Lily di sini dulu. Biar nanti Dika jemput. " Ibunya Andika mengangguk memenuhi permintaan putranya. Ia segera menghubungi ibunya Lily.
---__---
Tok! tok!
"Ly.." Panggil Andika sambil mengetok pintu kamar ruang tamu yang Lily tempati. Tak lama terdengar suara gagang pintu terbuka.
Klik!
"Iya kak!" Lily keluar dari kamar masih dengan seragam sekolahnya. Andika menyerahkan sebuah paper bag besar yang langsung di Terima Lily.
"Itu baju ganti Lily! Tadi kakak ke rumah kamu minta bi Fatma ambilin baju kamu! "
"Jadi mama tau Lily di sini? Lily belum mau pulang kak! " rengek Lily.
"Iya, kakak udah bilang Lily nginap di sini. Ya udah Lily tenang aja ya. Itu bi Fatma juga ada titip makanan kesukaan Lily. Jadi habis mandi, ganti baju, Lily lekas makan ya. Makanannya ada di meja makan. " Ucap Andika sambil mengacak pelan puncak kepala Lily. Lily mengangguk. Lalu kembali menutup pintu kamar.
---___---
Lily duduk di bangku yang ada di halaman belakang kediaman keluarga Andika. Wajahnya mendongak ke langit malam yang berawan, sesekali awan melintasi bulan, menutup keindahan cahayanya.
Bayangan pertengkaran orang tua nya tadi siang masih menari-nari dipikirannya.
"Aku harus gimana? " Gumam Lily.Tidak pernah sekalipun dalam bayangannya Lily akan menjadi anak dari korban perceraian. Lily sangat sadar, sejak dia menginjakkan kaki di bangku SMP, dia tidak lagi melihat hubungan yang hangat antara ibu dan ayahnya. Semua berawal dari berita miring di televisi. Padahal sebelumnya, ayah dan ibunya terlihat penuh cinta dan harmonis, bagaimanapun kesibukan mereka, akhir pekan adalah waktu yang tak pernah bisa di ganggu gugat bersama keluarga. Tapi, sejak setahun belakangan ini, akhir pekan seperti sama seperti hari-hari lainnya.
Lily mengusap air matanya yang diam-diam jatuh.
"Ly... Kenapa belum tidur? udah malam masih disini nanti kamu masuk angin loh. " Tanya Andika sembari mengambil posisi duduk di samping Lily.
__ADS_1
Tadi, Andika hendak ke dapur untuk mengisi gelas air minum dan membawanya ke kamar, tak sengaja di lihatnya dari jendela dapur Lily duduk melamun seorang diri sambil menatap langit. Andika lalu menghampiri gadis itu.
"Belum ngantuk kak.. " Jawab Lily pelan.
"Kakak gak tau sebenarnya Lily ada masalah apa, kakak gak akan maksa Lily kalau Lily gak mau cerita, tapi kakak juga siap jadi pendengar buat Lily kalau Lily butuh teman cerita. Tapi apapun itu, kakak harap Lily bisa berpikir dengan baik, bisa mengambil sikap untuk diri Lily sendiri terlebih dahulu, jangan biarkan diri Lily hanyut dalam masalah, apalagi sampai membuat Lily sakit! "
"Iya kak! "
"Jadi, sekarang Lily mau cerita sama kakak, atau mau sendiri dulu di sini? Kalo mau cerita, kakak pasti dengerin, mungkin Kak Dika bisa kasih solusi, tapi kalo Lily lagi pengen sendiri, kak Dika bakal masuk, tapi jangan kelamaan di luar, kak Dika gak mau liat Lily sakit! " Andika memandang wajah sedih gadis kecil di sampingnya. Dia menunggu ucapan yang keluar dari Lily, namun setelah beberapa saat Lily hanya diam sembari menggigit bibir bawahnya. Andika menghela nafas.
"Ya sudah, kakak masuk dulu, Ingat, kamu harus segera tidur, jangan lama-lama di luar! " Pamit Andika sambil berdiri, mengacak pelan rambut Lily, dan pergi.
"Mama papa akan bercerai! " Ucap Lily serak. Andika yang baru selangkah pergi menghentikan langkahnya. Di sempat terpaku sebelum akhirnya kembali berbalik menatap Lily.
"Ly? "
"Mama papa akan bercerai kak, L-lily harus gimana? " kali ini suara Lily diikuti isakan dengan bahu yang berguncang."
Andika tak tau harus berbicara apa, Segera di peluknya tubuh Lily yang semakin berguncang karena tangisannya.
---__---
"Sekarang apa? mereka saling menghianati kak, mereka bahkan gak peduli dengan Lily yang mereka bilang buah cinta mereka."
"bulsh*t!!!" maki Lily.
"Sttt!! Lily yang tenang ya, kakak di sini buat Lily.. " Andika mengusap pelan punggung Lily mencoba memberikan ketenangan di sana.
"Mereka gak peduli sama Lily, gak sayang sama Lily." Isaknya.
" Lily gak pernah sendiri, Kak Dika Janji selalu ada buat Lily! " Bisik Andika.
---___---
"Ly, Lily! "
Andika memanggil Lily di dalam rumah besarnya, Tadi, saat bertemu Bi Fatma yang tengah membersihkan halaman depan bi Fatma bilang Lily ada di teras belakang. Andika tercekat melihat Lily yang tengah memegang botol liquid isi ulang anti nyamuk elektrik yang tutupnya terbuka.
__ADS_1
"Lily!!! " Teriak Andika. Segera di rampasnya botol liquid itu di lemparnya membanting tembok dan jatuh di tanah. Isi dari cairan itu tertumpah di atas rumput.
Andika menangkup wajah Lily, Bibir pucat itu terlihat bergetar.
Andika menggelengkan kepalanya.
"Jangan pernah Ly, jangan pernah! " Gumam Andika pelan. Di peluknya Lily erat. Jantung Andika berdetak kencang. Nyaris saja! Andika tidak bisa membayangkan jika ia telat sedikit saja. Entah mengapa sejak pulang dari bimbel perasaan Andika tidak enak. Dia kepikiran gadis itu. Gadis yang akhir-akhir ini selalu menyita perhatiannya.
---___---
"Ly, besok kakak harus sudah berangkat. Lily baik-baik di sini. Kalau ada apa-apa kabari kak Dika. Jangan marah atau ngambek kalo pesan atau telepon Lily tidak bisa kakak respon dengan cepat, tapi kak Dika janji begitu ada waktu kakak akan segera membalas dan menelpon Lily! " Andika menggenggam erat tangan Lily yang duduk di sampingnya.
Besok, Andika harus berangkat keluar kota karena dia akan menjalani kuliah di sana. Sebenarnya, berat Andika untuk meninggalkan Lily. Gadis ini masih labil. Andika hawatir sesuatu yang buruk kembali terjadi terhadap Lily.
"Janji sama kak Dika, Lily gak akan melakukan hal bodoh lagi. Janji nanti saat kakak pulang, Lily akan selalu menyambut kak Dika. Lily harus percaya, semua bakal baik-baik aja! "
"Iyaa, Lily janji kok, kak Dika udah kaya kaset rusak, dari kemaren kalimat yang sama terus di ulang-ulang! " Omel Lily.
"Karena kak Dika sayang sama Lily, kak Dika mau Lily jadi perempuan yang kuat, kak Dika mau Lily bisa melewati semuanya! "
"Kak Dika juga janji sama Lily, kuliah yang bener, jangan pacaran, jangan suka lirik-lirik mahasiswi!"
"Haha, Iyaa!! Lagi pula kak Dika udah punya Lily yang cantik di sini, jadi tenang aja Kak Dika bakal kuliah yang bener, biar cepat lulus cepat balik lagi biar bisa usilin Lily lagi!" Tawa Andika. Lily memasang ekspresi cemberut. Andika mengacak gemas rambut Lily.
"Cuma kak Dika yang Lily punya sekarang, yang Lily percaya buat cerita. sekarang kak Dika malah mau pergi! " ucap Lily sedih. Andika memeluk Lily erat. Dikecupnya pelan puncak kepala Lily. Lily membalas pelukan Dika.
"Ly, mungkin ini gila! Tapi boleh kak Dika minta satu hal sama kamu? " Lily mendongak.
"Apa? "
"A-aku suka kamu, gak tau sejak kapan, kamu bisa janjikan sesuatu buat kakak biar kakak bisa tenang ninggalin kamu di sini? "
" Janji, kamu cuma buat aku, perasaan kamu buat aku, kamu hanya milik aku, sampai nanti aku kembali! " pinta Andika. Lily mengangguk.
"Janji! " Bisiknya
---___---
__ADS_1