
Lily baru saja tiba di resort yang di pesan oleh orang tuanya saat menjelang makan siang. Karena kendala cuaca, penerbangan sedikit terganggu, hingga waktu tempuh di tambah waktu transit membuat perjalanan memakan waktu sedikit lebih lama.
Lily segera mengirim pesan ke kedua orang tuanya mengabarkan jika dirinya sudah tiba di tempat tujuan dengan selamat. Setelah beristirahat sebenta, dan merasa tubuhnya kembali segar, Lily ke luar dari kamar. suara ombak langsung menyambut Lily. Cuaca sangat cerah. Lily berjalan menuju restoran untuk makan siang yang terlambat.
Bebatuan besar yang unik menjadi salah satu pemandangan menarik. Tidak hanya di pinggiran pantai dan tengah laut, batuan itu juga ada di darat. Natuna merupakan kawasan geopark nasional. Lily memasuki restaurant. Seorang pelayan segera menyambut Lily, mengantarkan ke salah satu meja dengan spot yang Lily inginkan. Menghadap Laut.
Laut biru, langit cerah dan awan tipis seperti goresan, suara ombak yang berdebur, begitu mendamaikan. Lily meresapi semua keindahan alam di sekitarnya. Rasanya damai sekali. Pelayan mengantarkan pesanan Lily. Lily menikmati makan siangnya.
---___---
Di tempat yang berbeda.
"Bi, Lily ke mana? Kata Bang Dika Lily berangkat, udah lewat siang kok belum kembali? " Tanya Abi pada Bi Fatma.
"Non Lily subuh-subuh sekali dijemput ibu sama bapak, mas Abi. Bibi juga gak di kasih tahu kemana! "
"Lily di jemput om sama tante subuh-subuh, bi? "
"Iya, kemarin malam juga bapak sama ibu kemari, sempat makan malam dan ngobrol juga sama anak-anak. Terus ke atas sebentar sebelum pulang! "
"Tadi sebelum berangkat, Lily ada ngomong apa, bi? "
"non Lily cuma bilang gini, bi, titip rumah dan anak-anak ya, Lily mau pergi sebentar! Bi cuma iya-iya aja sih mas! "
"Tapi, Lily baik-baik aja kan bi?"
"Baik-baik aja kok mas, malah kemarin sempat foto-foto sama mas Arif dan temannya, buat project-project apa bibi juga gak ngerti, tapi Non Lily kayaknya seneng-seneng aja sih! "
"Soalnya ponsel Lily juga gak aktif sih, bi! Jadi Abi bingung ini Lily di mana, padahal Abi pengen ngomong sesuatu sama Lily! "
"Memang mau ngomong apa, Bi? " Terdengar suara berat yang bertanya, Abi dan bi Fatma kompak menoleh ke asal suara.
"Bapak! "
"Oom! "
Kompak Abi dan bi Fatma menyapa ayah Lily yang tiba-tiba sudah berada di antara mereka.
__ADS_1
"Jadi, mau ngomong apa sama Lily, kalau om boleh tau? " Tanya Irvan lagi.
"Abi cuma pengen curhat sama Lily kok om, tapi kata bibi Lily subuh-subuh sudah berangkat dengan om dan tante. Terus sekarang Lily di mana om? "
"Lily ada, cuma dia lagi pengen sendiri aja, ada apa? "
"Lily baik-baik aja kan om? "
"Lily baik, sangat baik kok! "
"Syukurlah, Abi cuma khawatir karena gak bisa hubungi Lily! "
"Tentu, mungkin sampai beberapa waktu ke depan, kamu gak bisa hubungi Lily! "
"Tapi, kenapa om? "
"Karena Lily berada di tempat yang signalnya cukup sulit! " Jawab Irvan. Padahal, Lily hanya sengaja mematikan ponselnya, dan hanya menggunakan private nomor selama berada di sana untuk menelpon ke dua orang tuanya.
"Tapi, Lily gak sendiri kan om? Maksudnya sama tante mungkin? " Tanya Abi.
"Gak Bi, Lily sendiri, tapi dia aman kok! Dia baik-baik aja! Jadi selama Lily gak di sini, tante yang akan menginal di sini, mengawasi rumah ini! " Tiba-tiba Sintia, ibu Lily pun sudah berada di tengah mereka. Membuat Abi terkejut.
"No, tidak seperti itu Abi, Lily hanya sedang ingin sendiri, jadi tidak perlu merasa bersalah. Justru tante makasih, karena kamu juga peduli sama Lily! " Jawab Sintia bijak.
"Tante, ini seragam bridesmaid untuk Lily, dari mama! " Abi menyerahkan paperbag merk sebuah butik yang telah dibawanya sejak tadi.
"Terima kasih, Abi! Tapi tante minta maaf, Lily sepertinya tidak bisa hadir, jadi, lebih baik kamu berikan kepada teman atau kerabat yang lain yang kira-kira juga bisa menggunakan pakaian ini! " Ujar Sintia sambil menyerahkan kembali paperbag tersebut. Abi mengangguk mengerti.
"Kalau begitu, Abi pamit ke atas, om, tante! Sampaikan salam untuk Lily saat Lily menelpon om dan tante! " pamit Abi sambil membawa kembali paperbag yang di bawanya. Irvan dan Sintia hanya mengangguk merespon Abi.
---___---
Nathan menatap foto yang ada di layar ponselnya. Foto dua orang yang sama-sama tersenyum menatap kamera dengan latar langit kemerahan, dan wajah yang merona karena cahaya matahari yang akan tenggelam. Foto selfi yang diambil beberapa hari yang lalu saat ia menjadi model dadakan bersama Lily. Nathan tersenyum tipis. Lalu menahan ujung bawah layar ponsel sehingga beberapa menu keluar di sana. Lalu menjadika foto tersebut wall paper ponselnya.
Nathan melihat jam, sudah waktunya pulang. Sepertinya pasiennya tidak banyak hari ini, sehingga Nathan sedikit lebih santai. Bersamaan dengan itu, asisten Nathan masuk ke ruangan memberi tahu tidak ada lagi pasien yang di tunggu. Segala urusan hari ini sudah selesai. Nathan bergegas pulang setelah sebelumnya melakukan absen
pulang.
__ADS_1
---__---
Nathan baru saja tiba di teras rumah, saat seseorang menyapanya.
"Baru pulang dinas, Nathan? " Sapa Sintia ramah.
"Oh, iya, tante. Apa kabar? " Balas Nathan ramah sambil menyalami Sintia.
"Baik Nathan, kamu gimana kerjaan lancar? "
"Baik tan, Alhamdulillah, lancar ya walau sesekali bisa jenuh sih! " Ujar Nathan sambil tertawa.
"Wajar kok, tante juga sering begitu! Silahkan kamu mau istirahat langsung saja, Tante hanya ingin menyapa karena dari kemarin kemari gak ada ketemu kamu. "
"Maaf tante, mungkin kebetulan pas jadwal saya di rumah sakit, jadi gak ketemu waktu tante kemari. Oh, ya tante udah ketemu Lily? " Tanya Nathan. Sintia tersenyum.
"Lily sedang tidak ada Nathan, jadi beberapa hari ke depan, tante akan di sini menggantikan Lily menjaga rumah! "
"Loh, Lily ke mana tan?" Tanya Nathan. Sintia hanya tersenyum.
"Ya udah, kamu bersih-bersih dulu gih, istirahat! " Ujar Sintia kemudian berlalu menuju kebun bunga samping rumah.
Nathan menatap Sintia sampai wanita itu hilang di balik tembok. Lalu segera berbalik menuju kamarnya. Di tangga, Nathan berpapasan dengan Irvan. Nathan tersenyum menganggukkan kepalanya memberi hormat. Nathan tahu pria ini ayah Lily. Tapi baru kali ini Nathan bertemu sedekat ini. Baru berselisih satu anak tangga, terdengar Irvan bersuara.
"Kamu Nathan? " Tanya Irvan.
Nathan segera menoleh, ia mundur dua anak tangga.
"Iya om, saya Nathan! " Nathan mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Saya Irvan, papa Lily! "
"Ya, saya tahu. "
"Nathan, bisa temui saya selepas makan di rooftop? Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan kamu. "
"Bisa om, nanti setelah makan malam saya ke atas! " Jawab Nathan. Irvan mengangguk. Lalu mempersilahkan Nathan naik kembali, sementara Irvan menemui Sintia.
__ADS_1
---___---