
"Sejauh apa kamu mengenal Lily anak saya, Nathan? Saya yakin, sedikit banyak kamu mengetahui sebagian cerita tentang Lily juga, lalu sejauh apa yang kamu ketahui tentang anak kami? " Tanya Irvan. Nathan mengangkat wajahnya. membalas tatapan mata Irvan. Mencoba mencari tahu kemana arah pembicaraan mereka
"Kenapa Nathan? " Tanya Irvan. Nathan menggeleng. Dia sedikit berdehem sebelum menjawab pertanyaan Irvan.
"Maaf om. Sebelumnya saya dan lily tidak pernah dekat, kami hanya sekedar say Hi dan berbasa-basi antara penghuni dan pemilik rumah. Saya dan lily juga jarang berinteraksi hanya berdua,selalu bersama penghuni lain. Tapi Lily gadis yang baik, menyenangkan, walau terkadang saya sering melihat ada sesuatu yang berbeda dari Lily. Sampai waktu itu, saya di minta tolong bi Fatma saat Lily sakit. Saya mengetahui beberapa hal tentang Lily. Lily yang, maaf, korban broken home, Lily yang sering bermimpi buruk, terutama saat mengalami hal yang tidak menyenangkan, dan Lily yang sebenarnya memiliki trauma dan masalah terhadap psikologis nya! " Ucap Nathan pelan.
"Lalu? "
"Maaf, jika saya lancang, saya tau Lily juga sebenarnya diam-diam tengah menjalani terapi dan sedang dibawah kontrol seorang psikolog dan psikiater. Untuk hal yang terakhir, saya sama sekali tidak berniat memata-matai Lily. Tapi saya tidak sengaja saat melihat Lily keluar dari klinik milik sahabat saya yang seorang psikiater. Dari sana saya tahu, Lily sedang menjalani terapi dan konseling. Saya mohon maaf, saya sama sekali tidak ada maksud buruk untuk mencari tahu, tapi entah kenapa saat itu rasa ingin tahu saya sangat besar. Sekali lagi saya mohon maaf om, saya tahu, perbuatan saya benar-benar salah. Karena ini adalah hal yang sangat privacy. " Irvan mendesah mendegar penuturan Nathan.
"Saya sudah tahu dari awal kamu mencari tahu tentang Lily, Nathan. Kamu tahu? Bahkan Lily tidak memberi tahu kami tentang rasa sakitnya selama ini. Dia berusaha menutupi, menahan, bahkan mengobati sakitnya sendiri. Kamu tahu Nathan, saat ini saya merasa saya adalah orang tua yang buruk dan gagal untuk Lily. Bagaimana mungkin seorang Ayah membiarkan putrinya merintih seorang diri setiap saat karena kesalahan orang tuanya? "
"Dan saat saya tahu semuanya, saya hanya bisa berpura-pura tidak tahu, kami hanya bisa mencoba menghiburnya semampunya. Saya takut, saat Lily tahu hal ini, dia tidak akan merasa di sayang, tapi lebih dikasihani. Hal yang paling Lily tidak suka, bahkan sejak kecil adalah di kasihani. Dia tidak pernah suka di kasihani! "
"Dulu, kami percaya, bi Fatma bisa membantu kami mengawasi Lily, namun makin dewasa, ternyata makin banyak hal yang Lily simpan, dan bahkan di sembunyikan dari orang tuanya. Saat sakit sekalipun, Lily tak mengizinkan bi fatma memberitahu kami. Lily justru mengancam bi Fatma untuk tidak memberitahu apapun keadaannya. Lily tak pernah ingin kami tahu jika ia sedang sakit! " Suara Irvan terdengar sedih saat menceritakan putri tunggalnya.
"Dan untuk kamu Nathan, rasa peduli seperti apa yang sebenarnya kamu miliki untuk putri kami? Karena kami tahu, akhir-akhir ini kamu orang yang paling dekat dan peduli pada putri kami! " Tanya Irvan serius. Lama hening. sampai suara Nathan terdengar.
"Awalnya mungkin simpati, tapi saya sadar makin ke sini saya selalu ingin tahu banyak hal tentang Lily, saya mulai memikirkan Lily, mungkin terlalu cepat jika saya bilang saya mencintai Lily, tapi.. itu yang akhir-akhir ini saya rasakan! " Ucap Nathan sambil membalas tatapan Irvan.
"Karena itu foto Lily ada di ponsel kamu? " Tanya Irvan tersenyum. Nathan menatap layar ponselnya yang bercahaya saat ada notif yang masuk. Segera ia membalikan layar ponselnya.
"Oh, om maaf! " Ucap Nathan salah tingkah.
__ADS_1
"Apa Lily tahu ada berapa banyak fotonya di ponsel kamu? " Seringai Irvan. Wajah Nathan memerah karena malu. Dia yakin, om Irvan sudah tahu banyak tentangnya. Tidak ada yang perlu di sembunyikan.
"Maaf, om! saya beberapa kali memotret Lily diam-diam, tapi sisanya foto kita rame-rame pas ada acara sama anak-anak! " Ujar Nathan. Irvan mengangguk.
"Kamu tahu tentang Andika? " Tanya Irvan lagi. Nathan mengangguk.
"Lusa hari pernikahan Andika. Andika salah satu orang yang penting dalam hidup Lily. kami tahu status mereka hanya teman. Walaupun ada hal lain dalam hubungan mereka. Kamu tahu Nathan, Lily patah hati, setelah orang yang setia ia tunggu kembali, justru memiliki hubungan dengan gadis lain. Diam. Tapi Lily terluka kembali, kali ini karena perasaannya sendiri. Lily, sudah jauh lebih dulu mengetahui hubungan Andika dan calon istrinya. Sehingga saat orang-orang memberi tahu, Lily jauh lebih siap. Sekali lagi, dia berakting seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi kamu tahu, Nathan, dia patah hati, dan lagi, memilih sendiri. Lily memilih melarikan diri. Walau dalam pengawasan psikolog dan dokter yang menangani! "
"Om, kalau boleh saya tahu, Lily di mana? " Tanya Nathan.
"Lily tidak mengizinkan kami memberi tahu kepergiannya kepada siapapun Nathan! " Nathan mengangguk.
"Oom! " Panggil Nathan pelan. Irvan menatap Nathan yang menarik napas berlahan sebelum melanjutkan ucapannya.
"Saya ingin meminta Lily, pada om dan tante! "
"Apa jaminan nya agar saya percaya sama kamu? " Tanya Irvan.
"Profesi saya, om bisa laporkan saya atas tindakan saya yang mencari tahu rekam medis Lily di klinik tempat Lily melakukan pengobatan dan Konseling! " Irvan tersenyum.
"Baik, saya akan coba untuk memberi kepercayaan sama kamu, dan saya izinkan kamu mendekati putri saya! " Ucap Irvan tegas.
Nathan segera bangkit, meraih tangan kanan Irvan dan menciumnya!
__ADS_1
"Terima kasih om, Saya janji tidak akan melakukan perbuatan yang mengecewakan om dan tante, terutama Lily! " Janji Nathan.
"Baik, om pegang ucapan kamu! "
"Terima kasih, om! " Ucap Nathan lega. Dia tak menyangka bisa sedekat ini dengan papa Lily.
"Maaf, tadi telepon nya lama! " Ujar Sintia yang sudah kembali.
"Siapa? " Tanya Irvan pada Sintia.
"ini anak mu, katanya mau ke senua, tapi gak di kasih sama Ben, harus izin dulu, jadi dia kesal! " Jawab Sintia.
"Senua? Senua Natuna, tante? " Tanya Nathan. Irvan melirik Sintia. Sintia menutup matanya menyesal karena kelepasan ngomong.
"Nathan, tolong rahasiakan dari siapapun ya, karena Lily tidak mau ada yang tau! " Punya Sintia. Nathan mengangguk ragu.
"Tapi om, tan, kalau Nathan gak salah dengar, Ivana calon istrinya Andika ngomong, mereka akan honeymoon ke Natuna! " Ujar Andika yang membuat Irvan dan Sintia terhenyak dan bingung.
"Ya ampun, mas, gimana kalau mereka bertemu? mana anak kita masih lama baru mau pulang! " Ujar Sintia panik. Irvan memijat kepalanya. Bagaimana caranya meminta Lily untuk pulang atau pindah lokasi healingnya. Sementara Nathan hanya meremas jarinya bingung dengan situasinya. Irvan melirik Nathan.
"Nathan! Apa kamu bisa mengajukan cuti dalam waktu dekat? Susul Lily! " Ucap Irvan.
Membuat Sintia dan Nathan kompak menoleh.
__ADS_1