
"Malam, om, tan! " sapa Nathan yang memenuhi janji untuk datang ke rooftop.
"Hei, Than! ayo silahkan duduk!" Sintia mempersilahkan Nathan duduk di antara mereka.
"Maaf, sudah menunggu lama! " Basa-basi Nathan.
"Gak, kok, kita baru beberapa menit di sini! " Balas Sintia.
"Hmm, Jadi ada apa ya om tadi meminta saya kemari? " Tanya Nathan sesopan mungkin.
"Ingin ngobrol aja, karena dari semua anak kos, sepertinya baru kali ini kita ketemu, dan hanya kamu sama sekali belum saya ketahui dengan baik! " Ujar Irvan.
"Iya om, karena baru hari ini kita ketemu, tapi kalau dengan tante Sintia, saya sudah pernah bertemu sebelum nya! "
"Jadi, berapa usiamu Nathan? "
"Tahun ini 29 tahun, om! "
__ADS_1
"Sudah cukup matang, sudah ada calon? "
"Belum, om! "
"Kok belum? Kamun ganteng, dokter pula! "
"Belum ketemu nih kaya nya om, tan! "
"Dokter, bidan dan perawat di rumah sakit kan banyak, gak ketemu juga, Nathan? " Goda Sintia.
"Gak ada kayaknya tan! " Ujar Nathan sambil tertawa ringan.
"Papa sama mama aslinya indonesia, tapi saat ini stay di Singapura karena ada usaha di sana, tan! "
"Indonya di mana? "
"Surabaya, tan!" Sintia mengangguk dan saat bersamaan ponsel wanita itu berbunyi. Lalu beliau pamit dari sana.
__ADS_1
"Kalau om boleh tau, kenapa malah ngekos di sini? Ya bukan gak boleh, tapi om rasa gaji sebagai dokter si rumah sakit swasta, terkenal pula, itu lebih dari cukup untuk menyewa sebuah apartemen, misalnya! "
"Karena aku gak suka sepi om, makanya milih ngekos aja! ".
"Kan banyak kosan yang lebih elite, yang lebih privasi! "
"Justru itu om, di sini kita bukan hanya punya privasi, tapi sahabat, keluarga juga. Konsep kosan yang berbeda. Di rumah Lily, saya seperti gak pulang ke kos, tapi pulang ke rumah. Bertemu teman yang seperti saudara, mbak dan bibi yang sudah seperti orang tua. setiap pagi kita sarapan sama-sama, malamnya juga makan bersama-sama, di sini bener-bener gak kesepian, walau jauh dari keluarga. Terkadang kita ngumpul di Living room, dengan bermacam kegiatan, ada yang main game, nonton, ngerjain tugas kuliah, atau kerjaan. Hari libur pun kadang kita piknik di kebun belakang. Jadi rumah Lily sebenarnya gak hanya menyediakan tempat tinggal, tapi juga kekeluargaan nya kita dapat di sini! "
"Nathan, mungkin kamu bertanya-tanya ada urusan apa sampai om meminta kamu kemari! " Ucap Irvan. Nathan mengangguk mengiyakan.
"Mungkin kamu juga sudah tahu, saya dan Sintia, ibu nya Lily sudah lama berpisah, dan Lily hanya seorang diri di rumah ini, dalam artian tanpa pengawasan orang tuanya. Namun kenyataan nya tidak lah seperti itu. Kami masih mengawasi Lily dengan segala kemampuan yang kami miliki! " Irvan memberi jeda. Mengamati Nathan yang fokus memperhatikan ucapannya.
"Kami tahu, beberapa kali Lily mengalami hal yang tidak menyenangkan hingga jatuh sakit. Dan kami juga tahu beberapa kali kamu ikut menjaga dan merawat putri kami dengan baik!". Nathan mengangguk.
"Kebetulan saya seorang dokter, dan kewajiban saya sebagai seorang dokter untuk membantu jika ada yang membutuhkannya. " Irvan mengangguk.
"Terima kasih untuk hal itu, Nathan! Tapi yakin apa karena kewajiban? " Tanya Irvan sambil menatap Nathan intens. Nathan hanya diam. Irvan mengambil nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Sejauh apa kamu mengenal Lily anak saya, Nathan? Saya yakin, sedikit banyak kamu mengetahui sebagian cerita tentang Lily juga, lalu sejauh apa yang kamu ketahui tentang anak kami? " Tanya Irvan. Nathan mengangkat wajahnya. membalas tatapan mata Irvan. Mencoba mencari tahu kemana arah pembicaraan mereka.