Janji Lily

Janji Lily
Rasa bersalah Andika


__ADS_3

"Mas Dika? Ada apa pagi-pagi kemari? " Sapa Bi Fatma ramah pada Andika yang duduk di kursi teras.


Andika memang sengaja pagi-pagi sekali ke rumah Lily. Dia ingin bertemu dan meminta maaf kepada gadis itu. Namun, Security bilang, Lily sedang tidak berada di rumah.


"Bi.. " Andika segera berdiri, meraih tangan tua bi Fatma mengalami wanita paruh baya itu.


"Mas Dika. ada apa kemari? " Tanya Bi Fatma lagi.


"Tadi, Dika mau ketemu Lily, Tapi security bilang Lily gak ada, apa benar, Bi? " Tanya Dika.


"Iya, Mas. Mbak Lily baru tadi subuh berangkat, di jemput ibu dan bapak. Tapi sayangnya ibu dan bapak ataupun mbak Lily sama sekali tidak memberi tahu akan kemana! " Terang bi Fatma. Andika menghela nafas.


"Dika ke sini, mau kasih undangan ini ke Lily. " Andika meletakkan sebuah undangan berwarna hitam gold di meja.


"Dika juga mau minta maaf bi sama Lily! " Ucap Dika pelan.


"Tapi Non Lily beneran gak ada, mas! "


"Lily kemana, by? Apa bibi bisa telepon Lily? Dika butuh bicara sama Lily, sebentaaaarrrr aja! " Pinta Dika. Bi Fatma tersenyum.


"Jangan ganggu Non Lily ya mas! " Dika menghela nafas.


"Dik jahat banget ya, bi? " Tanya Dika. Bi Fatma hanya menggeleng.


"Dika tau, Dika udah kelewatan, Dika sadar udah nyakitin Lily banget! Bi, Apa pantas Dika mengharap maaf Lily? Lusa Dika akan menikah! Tapi sekarang Dika ragu, bi! " Dik mengusap wajahnya frustasi. Bi Fatma mendekat, mengusap bahu Dika, agar pria muda itu merasa tenang.


"Non Lily pasti memaafkan mas Dika. Mas Dika gak perlu memikirkan Non Lily. Bibi yakin Non Lily baik-baik saja. Mas Dika fokus sama pernikahan mas Dika. Jangan pikirkan hal lain . Jangan melakukan sesuatu yang imbasnya nanti justru ke Non Lily. Mas Dika paham maksud bibi? " Andika tercenung. Dia mengerti apa yang bi Fatma maksud. Andika mengangguk lemah.


"Andika pamit ya, bi! " Ujar Andika. Lalu dia beranjak meninggalkan rumah Lily.

__ADS_1


---___---


"Bang, elo ngapain ke sini? " Tanya Abi yang baru tiba di depan gerbang rumah Lily. Pria itu masih berada di atas motornya.


"Tadinya mau anterin undangan, tapi Lily gak ada! " Jawab Andika lesu.


"Jangan temuin Lily lagi! Fokus sama pernikahan elo bang! Jangan buat masalah baru! " tegur Abi.


"Bi, abang cuma mau ketemu Lily. Abang mau minta maaf, abang coba telpon, tapi sepertinya abang di blokir. makanya abang kemari, tapi bibi bilang Lily gak ada. Abang belum ketemu dia. "


"Ya jelaslah, setelah semuanya elo pikir Lily mau ketemu elo gitu bang? Elo nyadar gak sih bang, selain Lily gak mau ketemu elo, kedatangan elo ke sini juga bisa buat masalah baru, gimana kalo Ivana tau? gimana kalo Ivana mikir macam-macam dan berbuat yang tidak-tidak sama Lily? "


"Ivana gak bakal tau! " Jawab Andika. Abi menggeleng.


" Elo salah bang! Bahkan gue sendiri mergoki Ivana berada tepat di mana saat ini elo berada! Berdiri di sini, mencari Lily!!" Andika terkejut mendengar itu.


Abi hanya menggeleng mendengar ucapan Andika.


"Kayaknya bakal percuma gue ngomong! Sekarang elo pergi, dan jangan berpikir untuk datang kemari lagi!! " Putus Abi. Dia kembali menghidupkan mesin motornya, masuk ke halaman rumah meninggalkan Andika di gerbang seorang diri.


---__---


"Andika.." Panggilan Riana mengagetkan Andika yang tengah melamun di balkon kamarnya.


"Eh, ma, ada apa? " Tanya Andika sambil menoleh ke arah ibunya.


Riana berjalan ke arah sofa yang ada di balkon. Andika mengikuti ibunya. Ibu dan anak itu sekarang duduk berdampingan.


"Lagi mikirin apa, bang? "

__ADS_1


"Gak mikirin apa-apa kok ma, Andika cuma merenung.


" Yakin?? mama lihat akhir-akhir ini kamu seperti berbeda, seperti orang kalut, kadang terlihat bingung! Beneran gak kenapa-napa? " Andika menjawab dengan gelengan.


"Dika.. Berapapun umurmu, setua apapun kamu, posisi kamu tetaplah anak mama. Kamu bebas bermanja-manja, bercerita, berkeluh kesah tentang apapun pada mama. Tak perlu malu atau sungkan, nak! Sebentar lagi kamu akan menikah, harusnya kamu penuh semangat menyiapkan segalanya. Tapi kamu justru terlihat sebaiknya. Kenapa, Dika? " Tanya Riana sambil mengusap pelan rambut putranya.


"Ma, Dika kepikiran Lily..! " Keluh Andika. Riana mengangguk paham.


"Dika.. berulang kali mama tanya tentang kejelasan hubungan kamu sama Lily, dari mulai kamu mengenalkan Ivana, sampai saat kamu memutuskan akan melamar Ivana. Kamu bilang kamu dan Lily hanya sebagai kakak adik. Kamu yakin sama Ivana. Lalu sekarang kenapa kamu seperti berat dengan keputusan kamu? "


"Dika cinta Lily, tapi Dika gak pernah bilang, karena Dika merasa Lily gak pernah punya rasa sama Dika. Dika pernah minta Lily janji buat nungguin Dika, buat jadi milik Dika. Lily menepati janjinya, karena Lily gak mau jadi penghianat, tapi Lily gak pernah sekalipun kasih hatinya buat Dika ma..Lily selalu menuruti kemauan Andika, tapi gak pernah pake perasaan. Sampai Dika akhirnya berubah fikiran. Dika ketemu Ivana yang selalu mengungkapkan perasaannya. Bukannya perempuan itu selalu mengungkapkan perasaan nya ma? Tapi kenapa Lily enggak ma?"


"Dika... gak semua perempuan itu ekspresif, dan Lily mungkin salah satunya. Lily buka perempuan yang bisa mengungkapkan perasaannya. Tapi dia menunjukkan dengan cara lain. Seperti Lily yang selalu nungguin kamu, nanya kabar kamu sama mama, Abi, bahkan papa sekalipun saat kamu sibuk. Saat kamu gak membalas pesannya. Mungkin, Dika yang kurang peka. apa lagi Dika tau, Lily anak broken home, seperti apa Lily saat perpisahan orang tuanya. Lily hilang kepercayaan terhadap semua orang, bahkan dirinya sendiri. Bisa saja Lily punya trauma di sana nak. Tapi saat ini, tidak ada gunanya membahas tentang Lily. Kamu sudah memilih Ivana, pernikahan kalian hanya menunggu hitungan hari, bahkan jam. Bahkan undangan kamu sudah disebar. Beberapa prosesi tengah berlangsung di kediaman Ivana saat ini. Bahkan besok kitapun akan melaksanakan acara buat kamu. Sekarang kamu fokus dengan pernikahan kamu. Jangan sampai kesalahan kamu menyakiti dan merugikan orang lain, nak! Paham maksud mama kan??" Andika mengangguk. Riana mengelus punggung tangan Andika. Dia baru saja akan beranjak, saat Andika menahan tangannya.


"Maa.. Tadi pagi Dika ke rumah Lily! " Ujar Andika pelan. Riana terkejut, Dia tahu pagi-pagi sekali Andika memang keluar rumah. Tapi tidak bertanya ada urusan apa.


"Lalu? " Tanya Riana penasaran.


"Dika gak ketemu Lily, ma. Hanya ada bi Fatma. Bi Fatma bilang Lily berangkat, subuh-subuh sudah dijemput om dan tante. Bi Fatma bilang beliau gak tahu Lily kemana. Dika juga ketemu Abi. Abi juga gak bilang Lily kemana. Dika sudah coba telepon Lily. Seperti nya nomor Dika sudah di blokir, atau Lily yang ganti nomor ponselnya. Dika mau minta maaf sama Lily ma. Dika salah sama Lily. Waktu itu Dika khilaf, Dika.. Dika.. hampir melecehkan Lily ma..! " Suara Dika terdengar serak dan pelan, bahkan bergetar saat mengakui perbuatan buruknya pada Lily kepada sang ibu.


"Ya ampun, Dika!!! kemana akal sehat kamu nak??!!! " Riana terlihat terkejut. Segera di raihnya anak sulung nya. Dipeluknya Dika erat. Dika terisak untuk pertama kali setelah ia dewasa di pelukan ibunya.


"Dika jahat sama Lily ma, Dika nyakitin Lily! " Isak Dika.


"Kenapa Dika? Kenapa sampai seperti itu? "


"Dika khilaf ma, Dika mau minta maaf! Tapi Lily gak bisa Dika temui! Dika nyesal ma! " Lirih Dika.


---___---

__ADS_1


__ADS_2