
"Papa sama mama gak bermaksud bohongin Lily, memang semuanya serba cepat dan terjadi saat Lily liburan kemarin. Papa dan mama memang tercatat sudah bercerai oleh pengadilan, tapi sekalipun papa gak pernah mengucapkan talak ke mama kamu, papa gak menikah lagi, karena setelah pengadilan memutuskan perceraian itu papa tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun, mama pun sama, kami menyadari yang terjadi di masa lalu adalah kesalah pahaman, papa memang pernah khilaf saat itu, hingga berani berbuat sesuatu yang menyakiti mama kamu. Tapi dari hati papa yang paling dalam, papa cuma cinta sama mama kamu, Ly! " Irvan menghela nafas sesaat.
"Dan akhir-akhir ini, kami, papa dan mama kembali dekat, mencoba berbicara dari hati ke hati. Dan memutuskan saling memaafkan dan melupakan hal buruk di masa lalu. Papa meminta mama untuk merajut kembali tali pernikahan dulu. Akhirnya secara sederhana kami menikah lagi tadi pagi di KUA, di tanggal dan bulan yang sama saat papa dan mama pertama kali menikah, di tanggal dan bulan yang sama saat Lily lahir. Papa ingin seperti dulu, merayakan pernikahan bersamaan dengan ulang tahun Lily."
" Dan rumah ini, menjadi rumah baru untuk papa, mama, juga Lily, rumah yang lama, itu milik Lily, papa mama tau Lily nyaman berada di sana dengan anak-anak kos, Lily punya teman, punya saudara yang sayang dan perhatian sama Lily. Karena itu papa sama mama akhirnya memutuskan membeli rumah ini. Nanti papa sama mama juga mau meminta persetujuan Lily untuk membuat akses penghubung rumah papa mama dan rumah Lily. "
"Papa gak akan memaksa, tapi semoga Lily bisa menerima semuanya dengan hati lapang. Maaf jika mendadak, membuat Lily kaget, bingung, dengan semua kondisinya. Tapi percayalah, tak ada niat untuk membohongi Lily atau menganggap pendapat Lily tidak penting. Tapi semua benar-benar mendadak, dan papa mama tidak ingin mengacaukan kesehatan Lily yang jauh lebih baik saat ini. Jadi, begitu papa dan mama mendapat informasi jika Lily sudah lebih baik, kami memutuskan untuk segera memberi tahu Lily! "
Lily mendengarkan semua ucapan papa nya dengan seksama. Dada nya serasa penuh, tapi bukan sesak seperti biasanya, Lily bingung harus mengucapkan apa dengan penjelasan papa yang panjang.
"Ly.. " Sintia menyentuh punggung tangan Lily. Lily mendongak menatap wajah ibunya.
"Lily marah? " Tanya Sintia pelan.
Lily mengangguk. Air matanya menetes.
"Lily marah kenapa? Papa sama mama harus apa biar Lily gak marah? " Tanya Irvan.
"Harusnya Lily di undang waktu papa sama nikah tadi! Tapi kenapa Lily gak di undang? padahal Lily mau lihat, kan dulu papa mama nikah Lily juga gak bisa lihat!! hikss!!! " Tangis Lily kejer.
Adita yang tak bisa menahan tawa nya dari awal, akhirnya meledak!!! yaa mereka berada di ruangan yang sama, sedikit menjauh, tapi. msh bisa mendengar semua obrolan itu. Lagi pula, mereka juga menyaksikan pernikahan om Irvan dan Sintia.
"Huaaaa!!! Kak Lily ada-ada aja! " Gadis itu tak dapat lagi mengontrol diri. Anak-anak lain yang juga awalnya senyam senyum mendengar ucapan Lily akhirnya ikutan tertawa. Hanya Sintia, Irvan, dan Nathan yang tampak menggelembungkan pipi menahan tawa.
"Kenapa ketawa? Papa mama juga mau ketawa?? mas Nathan juga ih!!" Lily mencubit pinggang Nathan yang sejak tadi duduk disamping Lily karena Lily tak ingin di tinggal.
__ADS_1
"Aww!! Gak! Sumpah saya gak ketawa kok! " Ujar Nathan pura-pura meringis merubah ekspresinya.
Irvan dan Sintia akhirnya juga tertawa. Sepasang suami istri itu segera menghampiri putrinya.
"Putri papa sudah kembali! " Ucap Irvan sambil memeluk Lily erat. Nathan yang tau diri, segera bergeser, membiarkan keluarga nyang telah bersatu tersebut menumpahkan kebahagiaan mereka.
"Jangan berubah lagi kak, anak mama gadis yang ceria dari dulu! " Isak Sintia.
"Papa mama juga, jangan pisah lagi! " isak Lily. Bertiga mereka berpelukan lalu tertawa bahagia.
"Kalau gitu ayo dong kita rayain ulang tahun kak Lily dan hari pernikahan om tante juga, laper nih nungguin! " Siapa lagi kalau bukan Adita. Dan yang lain ikut bersorak. Lily tertawa, bersama keluarganya yang kembali utuh mereka meniup lilin dan memotong kue ulang tahunnya bersama-sama di saksikan penghuni rumah Lily.
---___---
Lily melihat kado yang tersusun di kamarnya. Entah sejak kapan berada di sana. Saat Lily memasuki kamarnya setelah pesta usai kado itu sudah berada di sana, padahal sebelum pergi, Lily sama sekali tak melihatnya. Malam semakin larut, tapi Lily belum juga tertidur.
"Cantik sekali! " Pikir Lily.
"Mungkin mas Nathan membelikan buat seseorang, tapi malah lupa misahin! " Gmam Lily, lalu segera beranjak keluar dari kamar hendak mengembalikan benda tersebut. Lily turun melewati tangga menuju deretan kamar di lantai dua. Sejenak Lily ragu saat telah berdiri di depan kamar Nathan hendak mengetuk pintunya.
"Ckk! Apaan sih udah malam gini, besok pagi aja lah! " Lily baru akan berbalik saat tiba-tiba pintu kamar terbuka. Kedua orang tersebut sempat sama-sama terkejut.
"Lily? Ada apa? " Tanya Nathan yang lebih dahulu.
"Eh, gak, tadi saya cuma maun ngembaliin ini, kaya nya punya mas Nathan lupa di pisah saat membayar belanjaan saya tadi! " Ucap Lily sambil menunjukan bando yang ada di tangannya. Nathan melihat benda yang ada di tangan Lily, lalu mengambilnya. Diperhatikannya hiasan bunga Lily yang terdapat pada bando. Lalu kembali menatap Lily dan memasangkan bando tersebut di kepala gadis itu. Sementara Lily sedikit terjengkit karena kaget tak menyangka jika Nathan akan memasangkan bando itu di kepalanya.
__ADS_1
Nathan tersenyum saat berhasil memakaikan bando tersebut di kepala Lily. Dia merapikan rambut Lily yang sedikit berantakan.
"Buat kamu, tadi gak sengaja lihat saat sedang di kasir, saya pikir kamu akan suka karena ada hiasan Lily nya. Bandinya terlihat lebih cantik kalau kamu memakainya! " Ucap Nathan.
"B-buat saya? " Nathan mengangguk.
"Makasih mas! " Nathan mengangguk lagi. Sesaat hening sebelum akhirnya Lily pamit.
"Kalau gitu saya balik ke kamar, sekali lagi makasih! " Jawab Lily lalu berbalik tanpa menunggu balasan dari Nathan. Nathan n segera mencekal tangan Lily. Gadis itu kembali menoleh.
"Biar saya antar! " Ucap Nathan.
"Gak perlu, saya bisa.. !! "
"Sttt!!! Saya gak suka di tolak!" Ucap Nathan serak. Lily menghela nafas. Akhirnya dia membiarkan Nathan memegang pergelangan tangannya mengantar dirinya kembali ke lantai atas.
"Makasih mas! Saya masuk dulu! " Ucap Lily sambil menarik tangannya dari genggaman Nathan saat sudah tiba di tangga teratas lantai tiga.
"selamat malam Ly, langsung istirahat, mimpi indah! " Ucap Nathan. Lily mengangguk sedikit salah tingkah dengan perlakuan Nathan.
"i-iya, mas Nathan juga! " Ucap Lily sambil berbalik badan dari hadapan Nathan. Tapi tubuhnya segera di tahan oleh Nathan. Lily menatap wajah itu. Nathan mendekatkan wajahnya ke hadapan Lily. Lelaki itu sedikit menduduk. Lily merasakan tubuhnya sedikit menegang. Jantung nya berdetak kuat. Gadis itu menahan nafas saat Nathan semakin mendekat dan hanya tersisa beberapa senti jarak mereka. Nathan berhenti sejenak. Menikmati ekspresi wajah gadis di depannya. Dia tersenyum melihat ekspresi Lily. Lelaki itu kembali menegakkan badannya. Di acaknya pelan rambut Lily.
"Ayo masuk! Langsung tidur! " Ucap Nathan sambil membuka pintu di belakang Lily. Lily mengangguk dan segera masuk ke ruangannya.
---___---
__ADS_1
---___---